Saturday, January 15, 2011

ISLAM JAWA

Islam Jawa tidak terlepas dari tuduhan sebagai agama "sempalan". Konsep santri,abangan dan priyayi yang sebenarnya sudah dimunculkan pada masa awal kemunculan Islam politis, kembali diusung dikalangan akademis, sejak penelitian Clifford Geertz dipublikasikan. Islam jawa diposisikan hanya sebagai lapisan tipis yang mengemas ajaran Hindu, Buddha dan paham animisme-dinamisme dalam masyarakat Jawa. Antropolog Robert Wolff juga menyatakan bahwa Islam Jawa ibarat suatu almari yang didalamnya tersimpan aneka ragam pajangan budaya luar. Atas dasar ini pula, kebanyakan sarjana Barat seperti Richard Winstedt, Wilconsin, William Maxwell dan Snouck Hurgronje dan juga peneliti tempatan berkesimpulan bahawa Islam Jawa tidak mencerminkan sebagai kelompok muslim yang komited atau istiqomah.

Ditengah serangan bertubi-tubi itulah lahir karya monumental Marshal Hodgson, The Venture of Islam; Conscience and History in a World Civilization, yang mengkritik pedas pendapat-pendapat tersebut. Selanjutnya Mark R. Woodward dalam Islam In Java sampai pada kesimpulan bahwa kalau ditelaah secara mendalam dan ditinjau dari segi perspektif Islam secara luas, didapati bahawa hampir seluruh ajaran, tradisi dan penekanan yang bersifat spiritual yang selama ini berkembang dalam Islam Jawa, pada dasarnya bersumber dari ajaran Islam Timur Tengah atau Islam Universal.

Sampai pada apa yang dikenal dalam upacara keagamaan di Jawa seperti gerebeg, selametan, kalimasada adalah bahagian dari ajaran Islam. Demikian pula doktrin manunggaling kawula Gusti dan martabat tujuh, dapat ditelusuri asal-usulnya dari tradisi tasauf Islam. Selanjutnya, terma-terma kalipatullah, panatagama, lahir, batin, wali, kasekten, makrifat dan sebagainya adalah istilah-istilah yang tidak asing dalam sufisme. Kesemuanya adalah ajaran Islam yang bersifat universal, namun disesuaikan dengan iklim Jawa. Atau substansinya Islami, dengan format dan penampilan versi Jawa. Dalam kaitan ini Nieuwenhuize, penulis Belanda, sebagaimana dikutip Alwi Shihab, dengan sangat indah mengatakan, "Kalau masyarakat ini (Islam Jawa) menganggap diri mereka muslim, maka sangat sulit untuk mempertahankan suatu temuan ilmiah yang berkesimpulan bahawa masyarakat tersebut tidak demikian." (Shihab, 1998:315)

Secera genealogis, Islam Jawa dengan corak khas sufimistiknya, memang menjadi bahagian penting dari ketulenan Islam Universal. Dalam tubuh sufisme Islam, terdapat dua spektrum ekstrem tasauf: bermula dari tasauf ortodoks yang berorientasikan syariat (eksoterik) sampai ke titik hujung pada tasauf heterodoks-teosofi yang berorientasi pada mistik dan filsafat (esoterik).

Islam Jawa dengan corak mistiknya pada hematnya dapat dikategorikan ke dalam kelompok tasauf filsafat-esoteris Islam. Sebagai bukti, dalam ajaran Islam Jawa, dapat kita temukan pokok-pokok fikiran esoteris dari sufi-sufi besar Islam yang beraliran filsafat.

Perbezaan pandangan antara Syekh Siti Jenar (pelopor Islam Jawa yang beraliran filsafat) dengan Walisongo (pelopor tasauf Sunni-ortodoks) kita dapati kesamaannya dalam sejarah perkembangan tasauf di Timur Tengah, yang terjadi pada diri Abu Mansur Al-Hallaj. Tragedi berdarah kepada dua tokoh mistik ini menggambarkan betapa dalamnya antagonisme antara ortodoksi dan heterodoksi dalam sufisme Islam, sejak abad 14 hingga abad 17, yang juga terjadi pada masyarakat Islam di Indonesia.

K.H. Muhammad Sholikin