Thursday, December 30, 2010

SYABAS HARIMAU MALAYA

29 Desember 2010 Malaysia bawa pulang Piala Suzuki AFF menumpaskan Indonesia dengan agregat 4-2 di Stadium Utama Gelora. Terpegun dengan gol jaringan Mohd Safee Sali. Jaringan nya mengingatkan kita dengan Allahyarham Mokhtar Dahari dengan aksi nya lari dan rembat.



Tulisan dan komen ikhlas dari Kompas.com.
FAM juga perlu ambil iktibar dari tulisan ini.
Kamis, 30 Desember 2010 | 09:42 WIB

Sukacita selama hampir satu bulan itu berakhir sudah. Pesta sepak bola Piala AFF yang semula membuat bangsa Indonesia membubung ke langit ketujuh berakhir antiklimaks. Tim Garuda Indonesia yang begitu perkasa sejak babak penyisihan sampai semifinal tak sanggup membuat sejarah. Apa boleh buat, Malaysia-lah yang mengukir tinta emas, untuk pertama kalinya menjadi yang terbaik di festival sepak bola bangsa-bangsa Asia Tenggara ini.

Meski pahit, rasanya kita tak perlu larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kegagalan untuk keempat kalinya di partai puncak Piala AFF ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh insan sepak bola, utamanya para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi tim nasional Indonesia. Bukan hanya itu, kegetiran di Stadion Utama Gelora Bung Karno juga harus menjadi pelajaran bagi oknum-oknum politisi yang semula ingin mendompleng euforia yang diledakkan pasukan Merah-Putih asuhan Alfred Riedl.

Sebenarnya, di luar dua hal di atas, terlalu banyak hal harus dijadikan bahan renungan oleh persepakbolaan nasional. Di lain pihak, euforia yang begitu hebat seharusnya dijadikan momentum kebangkitan prestasi sepak bola nasional, yang sudah begitu lama mendambakan gelar juara di tingkat internasional. Belajar dari pengalaman Piala Asia 2007, saat pasukan Garuda Indonesia gagal tetapi tetap mendapat acungan jempol, pada akhirnya menang atau kalah bukan hal paling penting. Pada ujungnya, juara tidak lagi sebuah tujuan akhir. Jauh lebih penting, para pemain dan tim pelatih sudah berbuat yang terbaik. Kegagalan ini hanya sebuah keberhasilan yang tertunda.

Di luar stadion, sulit untuk tidak terharu menyaksikan para pendukung Merah-Putih tetap menari-nari, meneriakkan yel-yel ”Indonesia... Indonesia!” Hal itu bukan karena Firman Utina dan kawan-kawan berhasil membalas kekalahan di Bukit Jalil, tapi lebih karena pasukan Merah-Putih telah tampil gagah berani, mengeluarkan semua kemampuannya, dan terlebih mereka menunjukkan pantas membela nama Indonesia dengan memakai kostum ”sakral” berlambang Garuda.

Bagi para pengurus PSSI, inilah sebenarnya momen untuk kembali ke kenyataan, kembali ke Bumi, setelah selama dua pekan seakan-akan lupa akan segala tugas pokok pembinaan sepak bola. Bagaimanapun, kompetisi yang berkualitas adalah kunci dari sukses tim nasional. Kompetisi yang bergulir saja secara teratur belumlah cukup untuk membawa Indonesia ke tingkat elite percaturan sepak bola Asia Tenggara, apalagi Asia, apalagi dunia. Kompetisi yang bergulir haruslah mempunyai mutu yang baik, dan tiap musim menunjukkan peningkatan kualitas.

Banyak hal yang menopang kualitas kompetisi, tetapi yang paling utama adalah pembinaan usia dini. PSSI tak perlu malu untuk mengakui bahwa selama ini abai terhadap youth development. Ratusan miliar rupiah tiap tahun berputar dalam persepakbolaan nasional, tetapi nyaris tak ada yang menetes ke pembinaan usia dini. PSSI terlalu asyik masyuk mengurusi kompetisi paling top, Liga Super Indonesia, yang memang seksi, bergelimang uang, berlimpah sponsor, bermewah dengan liputan media. Sementara kompetisi usia dini bukan cuma anak tiri, tapi ibarat anak terbuang yang menggelandang di kolong jembatan.

PSSI lebih suka jalan pintas, mencari pemain dengan jalan ”berburu” ke daerah-daerah dan mencomotnya begitu saja tanpa tahu betul rekam jejak pemain muda. Tanpa ada kompetisi, pemain muda yang diambil tidak terasah secara teknis, apalagi mental. Mereka kemudian dikumpulkan dalam proyek-proyek jangka pendek tanpa konsep yang benar-benar matang. Proyek Uruguay, misalnya, hanya mengulang kegagalan lama yang tidak membuahkan hasil, seperti Primavera dan Barreti. PSSI tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman pahit tersebut.

Tanpa konsep pembinaan usia yang benar-benar diwujudkan dalam kompetisi berjenjang, pemain-pemain yang kemudian tampil di tingkat senior bukanlah atlet yang benar-benar matang. Ketika mereka tampil di liga senior, kemampuan mereka barangkali hanya 20 persen atau 30 persen dari kapasitas sebenarnya. Walhasil, tim nasional, terutama yang senior, tidak pernah memberikan prestasi yang membanggakan di tingkat internasional.

Ada baiknya, jajaran pengurus PSSI merenung sejenak. Mulailah bekerja dengan hati untuk menggerakkan roda kompetisi usia dini. Mulailah mencetak pelatih-pelatih berkualitas tinggi untuk menangani youth development. Sadarlah bahwa tak ada jalan pintas dalam sepak bola. Semua hasil terbaik harus dicapai dengan kerja keras, keringat dan pengorbanan.

Dalam pergelaran Piala AFF ini, PSSI sebenarnya sempat ”kembali ke jalan yang benar”, dengan membiarkan Alfred Riedl memilih sejumlah pemain muda untuk menyegarkan tim nasional. Pelatih asal Austria yang kenyang pengalaman menangani tim Asia Tenggara ini juga diberi keleluasaan untuk mengelola timnas secara mandiri, tanpa intervensi petinggi-petinggi PSSI—sesuatu yang sangat biasa dilakukan di masa lalu.

Namun, setelah sukses menembus final dengan lima kemenangan beruntun, otoritas Riedl dirampas. Timnya diobok-obok, dipolitisasi, dan ditunggangi demi pencitraan individu, kelompok, dan partai. Meski begitu, Riedl tetap mempersiapkan timnya dengan serius menjelang laga final pertama di Bukit Jalil. Pria yang hanya punya satu ginjal itu kemudian tidak tahan. ”Federasi mengganggu persiapan tim saya,” ujarnya di Bukit Jalil.

Maka, kalaupun ada satu-satunya hal yang patut disesali dari kegagalan ini adalah perjuangan hebat Firman cs telah dinodai oleh ambisi kotor para politisi. Selebihnya, kita patut bangga pada pasukan Merah-Putih yang telah berjuang keras. Kita harus memberikan apresiasi kepada penonton yang terus memberikan dukungan meski mereka sudah teraniaya saat mengantre tiket. Kita harus berterima kasih kepada Riedl dan timnya yang memberikan energi dan nuansa baru pada tim nasional.

Bagi bangsa Indonesia, inilah saatnya kembali ke kenyataan, untuk menyadari masih banyak pekerjaan rumah pembinaan sepak bola yang harus dikerjakan. Marilah kita bekerja keras!

Sumber : Kompas Cetak

Monday, December 27, 2010

HIJRAH IMAM AL-MUHAJIR KE YAMAN

Mengapa Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman?

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, 'Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.
Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ?
Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, dikarena beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, dimana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.
Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui.
[1] Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, 'Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib'.
[2] Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, 'Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman'. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, 'Saya dan kaum saya wahai Rasulullah'. Rasul menjawab, 'Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy'ari'.
[3] Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi :
Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh.

Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang'.
Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 :
'Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai'.
Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, 'Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu'minin dengan jumlah tujuh ratus orang'.
4] Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, 'Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman'.
[5] Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, 'Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi'.
[6] Dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, 'Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini'. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, 'Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman'.
[7] Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, 'Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan'.
[8] Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, 'Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman.
Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah'.
[9] Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, 'Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak'.
[10] Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, 'Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaum mu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman'. Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, 'Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencimtaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku'.

Friday, December 24, 2010

FBM KLCI...MORE ECHOES ON SUPER BULL RUN

The three magical words of Super Bull Run seem to be hogging more limelight in the local investment world now.

Yet another article featuring some brokers...
http://www.btimes.com.my/Current_News/BTIMES/articles/MRT20/Article/

For perspective to the meaning of a Super Bull Run, a double-digit return can be only be considered as modest, more is possible... Of course, unlikely to be the case for blue-chips.

Wednesday, December 15, 2010

SURVIVING THE COMING HARD TIME !!

By Stanley Koh
COMMENT
It turns out that the government you voted in will not hold your hand to see you through hard times. Instead, it will make sure to add to your suffering because that is the easiest way it can avoid going bankrupt.
Barisan Nasional has apparently decided that the time has come to remove or cut subsidies — the kind of subsidies that poor people depend on, not the kind enjoyed by big corporations and monopolistic suppliers of utilities and infrastructural support.
So what is the use of a government that will eagerly shake your hand during election time but will not hesitate to pull the rug from under your feet when it needs to save itself?
Few believe that the removal of subsidies on essential food items and fuels can save the Malaysian government from possible bankruptcy. If it does go bankrupt, it will be because it has failed to cleanse a corrupt system.
It is better for Malaysians to be rich and to control a bankrupt government than to be poor and controlled by a corrupt government. Many countries have rich citizens with bankrupt governments.
You do not need an economist to tell you that RM100 in Malaysia today does not buy as much as it did last year.
In what we may call the Malaysian Misery Index, we can see that food prices have been spiralling upwards for years. For example, fresh tenggiri, which was RM13.23 a kilo in 1997, now costs RM40 a kilo. A roasted duck cost RM13.47 in 1997, but is now at least RM38. And Malaysians have become used to the doubling in price of some food items during festive seasons.
Most Malaysians do not expect the situation to improve. Food prices will continue to go up and there is little hope that they will come down again.
Two years ago, the BN government announced that it had set up a US$1.25 billion fund to increase food production and that it was targeting 100% self-sufficiency in rice consumption. What has happened to the fund and the target?
Double whammy
When the GST (goods and services tax) is fully implemented in 2011, it will be a double whammy for poor and middle-income households, pensioners, the unemployed and single parents.
Some have argued that imposing GST on Malaysian does not make much economic sense when only 6.8% of the population are taxpayers and a large majority earn low incomes. Furthermore, it is acknowledged that most of us are paying hidden taxes in highway tolls and electricity tariffs.
Indeed, the future looks bleak.
Yet, quite a number of us are gullible enough to think that the government will protect consumers. Are we not being stupid? Isn't it better to be wiser and brace for tougher times ahead?
Instead of believing the promises of a government that has a dismal performance record, we should believe the law of inflation, which says, “Whatever goes up will go up some more.”
Ronald Reagan once described inflation as a violent mugger, a threatening armed robber and a deadly hit man. In the Malaysian context, that is an apt description not of inflation, but of the BN government’s behaviour and policies.
So how do we fight the inflation of food prices?
Economists generally agree that the average Malaysian household spends about 75% of its income on food. Food price hikes will therefore have an adverse impact upon disposable income and force us to make a lifestyle change.
To fight inflation
Here are some of the things we can do:

- Stop eating at expensive restaurants.
- Boycott traders, hypermarkets and hawker stalls that charge unreasonable prices.
-Shop intelligently for value and do not be too impressed by branding.
-Work out a budget before buying. Look out for special sales.
- Prevent wastage by not buying more than you can eat.
- Tell friends and acquaintances about shops that charge excessively.
- Avoid buying expensive beverages or foodstuff and find alternatives for nutritional value.
- Boycott chained markets and fast-food joints. They are monopolised by a few large companies and can therefore raise prices at whim.
Perhaps economist Milton Friedman was right when he said, “If you put the federal government in charge of the Sahara desert, in five years there will be a shortage of sand.”
Malaysians do not take the official Consumer Price Index (CPI) seriously. They know it does not accurately reflect price rises in essential foodstuffs.
Many suspect that the government uses it as an instrument to deceive the public into thinking that things are hunky-dory when they are not. The government develops statistics so that the inflation-weary public would direct its hostility towards businesses, and not blame official mismanagement.
The average household consumption expenditure over the last 20 years has increased by 181.8%. In 1973, it was RM412. By 1993-94, it had gone up to RM1,161. In 1999, it touched RM1,631.
According to Prof Lim Teck Ghee, real household income has been growing, but at the snail-pace rate of 0.9% per year. More than half of the population are in the low-income category.
Today, a family of five spends 50% to 60% of household income on food compared with 20% in 1998 and 15% in 1988.
Not long ago, there was official acknowledgement that 95% of families are finding it hard to cope with the rise in food prices.
In fact, the biggest failure of the Ninth Malaysia Plan is that it did not help Malaysians improve their quality of living. Inflation, whether it is imported or locally generated, raises the cost of living and lowers the quality of living.
'Why not change the government?'
In 2006, when Najib Tun Razak was Deputy Prime Minister, he asked Malaysians to change their lifestyle in the face of the rising cost of living.
A blogger by the name of Chong wrote in response: “Perhaps, the prime minister should have done some simple calculations himself. People like us basically have no lifestyle, just merely surviving with our earnings. So how are we going to change (our lifestyle)?
“Inflation has gone up 4.5% (and above) and the government is pushing the cost of living higher by increasing electricity tariffs, but our income remains the same.”
Others felt it would be easier to change the government than to change a non-existent lifestyle.
“Instead of listening to Najib asking us to change,” one critic remarked, “why not we change the government at the next general election?”
To me, that makes a lot of sense. Any government that is willing to build air-conditioned toilets around a city at more than RM100,000 each has no business planning a national economy.
When such a government decides to cut subsidies, many of us will wonder whether the so-called “savings” will instead go towards more majestic arches, fanciful lampposts, refurbishments of VIP residences, luxurious government bungalows and fruitless overseas trips by ministers.
Any government that stands accused of having wasted RM320 billion in 20 years — through corruption, wastage and mismanagement — definitely does not deserve to be re-elected.
Stanley Koh was the head of research unit at MCA.

Saturday, December 11, 2010

GHOHING

Tengku Rahim Bin Tengku Othman atau Ghohing satu nama yang akan aku kenang. Seorang sahabat yang akan bersama didalam susah dan senang. Seorang yang sangat setia dalam berkawan. Semangat setiakawan ini adalah kekuatan dan kelemahan diri nya. Dia lah yang bertanggungjawab memperkenalkan Gayung Syed Hamid kepada aku.

Ghohing telah kembali ke rahmatullah pada tahun 2007 ketika berumur 42 tahun. Berita ini baru saja aku ketahui dari kiriman emel daripada seorang pengunjung blog ini yang juga merupakan anak saudara Ghohing. Terbayang masa-masa aku dan Ghohing bersama terutama di rumah sewa di Lorong Kiri, Keramat, Kuala Lumpur. Ghohing ketika remaja adalah peminat tegar Led Zepp dan Pink Floyd. Apa khabar yer dengan kawan-kawan kita di Kampung Ladang seperti Awang ARK, Shang Gemok (mungkin dah slim dan dah beranak pinak di Canada) dll..."aperkabo llening???"


Selamat jalan sahabat!
Nikmat dan rahmat dirasai.


Lagu kegemaran Ghohing!!. Hanya aku yang tahu kenapa lagu 'Shine On You Crazy Diamond' diletakkkan didalam posting 'Ghohing' ini.

Friday, December 10, 2010

TAUHID DAN MAKRIFAT

Hampir seminggu tidak di update kan blog ini, bermakna hampir seminggu aku tidak melayari internet. Dibaca tadi beberapa kiriman emel yang persoalan nya hampir sama iaitu mengenai bab mengenal diri.

Sebelum seseorang itu pergi jauh mengembara dalam bab tersebut, seseorang itu mesti membeza kan yang mana bab tauhid dan yang mana bab makrifat. Kelihatan ramai tidak dapat membeza kan antara kedua nya. Contoh nya Ana Al-Haq dari Al-Hallaj, apakah khalimah itu didalam bab tauhid atau bab makrifat? Kiranya tidak dapat membeza antara kedua nya, pasti akan timbul kekeliruan dan tidak berjumpa hujung pangkal nya. Ada yang tauhid nya masih goyang tapi perkataan makrifat sentiasa terpacul dari mulut nya.

Bila diberi Kitab contoh nya karangan Hamzah Fansuri kepada dua orang, seorang yang tidak dapat membezakan bab tauhid dan makrifat dan seorang lagi yang dapat membezakan bab tauhid dan makrifat, pasti kupasan kitab tersebut dari kedua orang ini berbeza. Seorang itu berguru dengan kitab atau manusia dan seorang lagi berguru dengan Tuhan sendiri. Kitab dan manusia tidak boleh mengajar makrifat.

Ramai yang membaca kitab-kitab dari Hamzah Fansuri, Ibn Arabi, Al-Hallaj, Rumi dll tidak lebih dalam kefahaman bab tauhid sahaja. Dikatakan Ana Al-Haq adalah bab tauhid yang tertinggi. Kalau lah tauhid tertinggi itu gagal di yakini, bagaimana ingin menyentuh bab makrifat yang membicarakan Qadim dan Muhaddas sifat Tuhan?

Friday, December 3, 2010

BAHAUDDIN WALAD

Muhammad ibn Husyain al-Khatibi alias Bahauddin Walad ialah seorang ulama terkenal di Balkh dan bergelar Sultan al-`Ulama. Ibu beliau ialah ahli keluarga raja Khwarizmi. Pada tahun 1210, beberapa tahun sebelum kerajaaan Khwarizmi ditakluk tentara Mongol, keluarga Rumi pindah ke Khurasan, kemudian Nisyapur. Pada ketika tentara Mongol menakluki kerajaan Khwarizmi pada tahun 1220 keluarga Rumi mengungsi ke Baghdad dan kemudian ke Mekkah. Dari Mekkah mereka pindah ke Damaskus, Syria, dan akhirnya menemui tempat tinggal yang selamat di Kunya, Turki.

Tidak diketahui secara pasti mengapa Bahauddin Walad dan keluarganya pindah dari Balkh, provinsi Parsi bahagian Timur, menuju Khurasan. Ada dua pendapat mengenai sebab-sebab keluarga itu mengungsi ke Barat: pertama ialah invasi tentara Mongol. Kedua, masalah politik dalaman kerajaan Khwarizmi.Menurut anlisis beberapa ahli sejarah pada masa itu raja Khwarizmi yang sangat berkuasa Muhammad Khwarazmisyah menentang Tariqat Kubrawiyah yang dipimpin oleh Bahauddin Walad.

Namun pendapat ini diragui karena pada waktu itu Bahauddin Walad mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan kerajaan Khwarizmi. Para sufi sendiri berpendapat bahwa invansi Mongollah yang mendorong Bahauddin Walad pindah ke Khurasan, kemudian ke Nisyapur. Di Nisyapur keluarga Bahauddin Walad bertemu dengan Fariduddin `Attar. `Attar sangat terkesan pada Rumi yang pada waktu itu berusia 7 tahun, malahan `Attar meramalkan bahwa pada suatu ketika nanti Rumi akan menjadi seorang guru spiritual agung yang masyhur. `Attar memberi hadiah buku Asrar-namah (Kitab Rahsia Ketuhanan) kepada Rumi kecil.

Kedatangan Bahauddin Walad karena mendapat jemputan dari Sultan `Ala`uddin al-Kayqubad, penguasa Anatolia. Keluarga Bahauddin Walad tinggal mula-mula tinggal di Laranda selama 4 tahun pada tahun 1211-1215. Di Laranda Jalaluddin Rumi menikahi Jauhar Khatun, putri seorang ulama terkenal. Dari perkawinannya itu Rumi memperolehi anak lelaki yang kemudiannya masyhur sebagai seorang sufi dan pemimpin Tariqat Maulawiyah, iaitu Sultan Walad.

Pada tahun 1215 Sultan Kayqubad mengundang Bahauddin Walad tinggal di Kunya, ibukota kerajaan Anatolia. Pada waktu Kunya merupakan pusat kebudayaan Islam menggantikan peranan Baghdad yang pada tahun 1256 M diduduki dan dihancurkan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan panglimanya Hulagu Khan. Sebagai pusat kebudayaan Kunya merupakan tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur, serta pusat pertemuan berbagai agama khususnya Yahudi, Kristen dan Islam. Sebagai pusat pengajian ilmu Kunya menarik perhatian kaum cerdik cendekia dan pelajar dari berbagai-bagai negeri.. Selepas Baghdad ditaklukkan oleh tentara Mongol pimpinan Jengis Khan, banyak golongan terpelajar dari negeri Islam bahagian Timur mengungsi ke Kunya, sehingga kota ini segera berkembang menjadi pusat pengajian yang penting pada akhir abad ke-13 M. Di kota ini banyak sekali terdapat lembaga-lembaga pendidikan Islam dan Kristian. Penduduk Kunya, sebagaimana penduduk Anatolia (Turki), terdiri dari berbagai bangsa. Di kota ini dapat dijumpai banyak orang Arab, Parsi, Turk, Yunani, Armenia dan Kurdi.

Pada waktu Bahauddin Walad tiba di Kunya beliau mendapat sambutan hangat dari masyarakat Muslim. Dengan mendapat bantuan dari Sultan Kayqubad Bahauddin Walad mendirikan sebuah madrasah yang cukup besar. Dalam masa satu tahun ratusan murid berdatangan untuk belajar kepada ulama terkenal itu. Pada tahun 1331 M Bahauddin Walad meninggal dunia. Pengurusan madrasahnya dipegang oleh Jalaluddin Rumi yang baru berusia 24 tahun.

Di dalam buku Maarif, kumpulan tulisannya, Walad menuangkan pemikirannya tentang perbedaan agama:
Kau selalu kebingungan dan menghabiskan waktumu dengan berbagai pertanyaan tentang tentang takdir Tuhan, tentang perbedaan ajaran dalam berbagai
agama dan kepercayaan, tentang ketololan para pemuja api, tentang kebodohan
para penyembah berhala, dan seterusnya. Padahal, kau sendiri jarang menilai
dirimu. Apakah kau telah benar-benar mengenal Tuhan?

Lupakanlah perbedaan antar berbagai agama dan kepercayaan. Janganlah kau sibuk memperdebatkan berbagai cara peribadatan. Ikutilah jalan yang benar, yaitu jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi. Itulah Jalan-Kerajaan-Ilahi yang terbentang dari timur sampai ke barat.

Jalan apa pun yang kaulalui adalah bagian dari Jalan-Kerajaan-Ilahi, dan pasti akan mengantarkan dirimu kepada Kebenaran. Jika kau tak menyadariadanya Jalan-Kerajaan-Ilahi ini, maka kau hanya akan berpura-pura mengikuti para Nabi,dan semakin jauh dari Kebenaran.

Orang-orang yang selalu memperdebatkan perbedaan ajaran antara berbagai
agama dan kepercayaan, hanya akan menimbulkan pertikaian dan kerusakan
di muka bumi. Batin mereka telah dibakar dengan doktrin-doktrin fanatik,
tetapi mereka akan hancur karena kepicikan pikiran mereka sendiri.

Lalu Walad menawarkan bahasa cinta yang menyejukkan, seperti setetes embun di padang gersang:

Hasrat terbesar di dalam diri para pecinta adalah untuk menyatu dengan Cinta Yang Lebih Luas, menyatu dengan gairah yang menggelorakan seluruh semesta,
menyatu dengan setiap bentuk yang ada dan larut bersama dalam tarian bahagia, dalam perayaan yang tiada akhirnya. Aku seperti seuntai benang yang dirajut oleh tangan-tangan kehidupan. Keberadaanku hanya bermakna, jika telah terajut bersama benang lainnya pada selembar selendang yang tersampir di pundak-Nya.

Jalan cinta Bahauddin Walad diteruskan oleh anaknya, Jalaluddin Rumi. Puisi-puisi Rumi juga khas karena memahami dunia dengan cinta. Seperti salah satu puisinya ini.

Cinta Maha Dasyat

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan
Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan
Karena cinta Saytan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus
Karena cinta sakit menjadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan

Thursday, November 25, 2010

JALAN BERAMAL DENGAN NUR

Sambungan dari posting lepas yang bertajuk NUR.
Jalan beramal yang terkandung didalam kitab Tokku Paloh ini juga terdapat didalam Kitab Mat Kilau dibawah tajuk yang pertama di muka surat 1 didalam kitab itu iaitu 'Salinan daripada wali Allah'. Diketahui Pahlawan-pahlawan Pahang pernah berguru dengan Tokku Paloh ketika berlindung dari buruan Inggeris.



















Salinan dari Kitab Mat Kilau

Jalan beramal :
1- Nazar didalam batin (fuad) huruf khalimah Allah dengan kedudukan huruf Alif disebelah kanan kita dahulu kemudian dituruti dengan huruf Lam, Lam, Ha' dan sabdu dan fatah.

2- Huruf khalimah Allah hendaklah nampak betul-betul dan berwarna kuning berkilat atau merah berkilat atau putih berkilat.

3- Cahaya terang bersinar-sinar daripada huruf khalimah Allah memancar-mancar seperti warna emas baru disempuh atau merah matahari pagi baru keluar atau cahaya bulan atau cahaya embun air.

4- Cerahnya atau terangnya cahaya gilang gemilang itu melimpah dan bersebati dengan badan kita.

5- Cahaya daripada huruf fatah diatas dan sabdu didalam fuad itu memancar keluar antara dua kening.

6- Jika nyata terang benderang segala nazar tersebut dari 1 sampai 5. Maka sempurnalah diri dan jasad kita tiada malang menimpa kita pada hari itu atau malam itu dan bolehlah kita berjalan kemana-mana.

7- Amalan ini hendaklah diamalkan setiap hari dan setiap malam supaya tidak binasa jasad kita.

8- Setelah kita amal dengan lazim (selalu) tiba-tiba kita tidak nampak huruf khalimah Allah itu kurang satu, dua atau tiga. Maka hendaklah kita berhenti jangan pergi berjalan kerana mungkin binasa akan menimpa.

9- Jika kelima-lima huruf khalimah Allah itu tidak nampak sama sekali, janganlah kita berjalan. Kalau berjalan juga, ia akan mati. Kalau duduk pun akan mati pada malam atau hari itu.

10- Jika huruf khalimah Allah itu cahayanya hitam semuanya maka akan mati juga pada siang atau malam itu.

11- Sebelum kita berjalan (***berjalan dalam loghat terengganu bermaksud keluar dari rumah) hendaklah kita bersiap memakai pakaian, kain, baju, seluar dan senjata kita. Kemudian kita nazarkan atau kita gambarkan diri kita seperti tubuh kita dengan pakaian dan kita nazarkan huruf khalimah Allah seperti kenyataan yang tersebut diatas tadi yakni huruf khalimah Allah yang bercahaya dan cerahnya meliputi jasad kita. Setelah nyata sekalian itu barulah kita pergi berjalan.

Bersambung

PETRONAS CHEMICALS GROUP BERHAD-JANGKAAN HARGA

INVESTORS and analysts were generally bullish on Petronas Chemicals Group Bhd's (PCG) listing on Bursa Malaysia tomorrow 26 November 2010, saying Southeast Asia's largest initial public offering (IPO) to date will hold its ground although tension in the Korean peninsula continues to threaten.

Research Companies and
the Target Price (RM):
Mayban Inv- 6.70
CIMB Inv- 6.70
TA- 5.70
Affin- 5.70
JF Apex- 5.70
OSK- 5.51 BUY
K&N-5.72
RHB Inv-6.00
-------------------------------------------------

PETRONAS CHEM SHARE WORTH RM6.64-RM6.70
Maybank IB Research believes the share prices for Petronas Chemicals Group Bhd (PCG), worth between RM6.64 and RM6.70 per share, using discounted cash flow and price earning ratio (PER) valuation metrics.

PCG enroute for listing tomorrow is Southeast Asia''s biggest initial public offering (IPO), set to outshine that of other big-capitalised firms on Bursa Malaysia Securities.

The company's retail IPO price of RM5.04 is very attractive with deep discounts compared with global peers: one year forward PER and enterprise value/earnings before interest, taxes, depreciation, and amortisation is 24 per cent and 53 per cent lower.

The research house said the listing was a new big show and a golden opportunity not to be missed.

It said the petrochemical industry is in the recovery stage of a cyclical uptrend; 2009 was the last trough, the next boom would be in three to five years.

"Product volume growth to GDP correlation is 1.0 to 2.0 times, positive for PCG as its customers are in the high growth Asia-Pacific region," it said.

Maybank IB Research also said in the next upcoming cyclical peak, within the next five years, PCG is likely to surpass its previous net income record of RM3.9 billion achieved in financial year 2008. - Bernama

Sunday, November 21, 2010

MARTIN LINGS

Martin Lings, Hidayah Allah untuk Sang Penyair : Menyebut nama Abu Bakr Siraj Ad-Din, mungkin tak banyak orang yang mengenalnya. Ketika disebut nama Martin Lings, tentu hanya sebagian umat Islam yang mengetahuinya. Namun, bagi kebanyakan pelajar, peneliti, dan tokoh muslim, nama Martin Lings sangat populer. Karena, tulisan dan karya-karyanya mampu memberi inspirasi banyak orang dalam mempelajari Islam. Padahal, sang penulis dulunya seorang pemeluk Kristen yang taat. Berkat hidayah Allah, ia pun memeluk Islam dan menjadi mualaf.
Salah satu karyanya yang sangat fenomenal berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources), diterbitkan tahun 1983. Buku yang berisikan biografi Rasulullah SAW ini didedikasikan untuk pemimpin Pakistan, Zia ul-Haq.

Dengan gaya narasi (bertutur) yang halus dan mudah dipahami, Martin Lings mampu menghadirkan sebuah riwayat hidup dan perjalanan seorang tokoh inspiratif bagi dunia, yakni Nabi Muhammad SAW. Ia menulisnya dengan sangat detail dan mengagumkan.

Oleh banyak kalangan, buku ini dinilai sebagai salah satu buku biografi Rasulullah SAW yang terbaik dan pernah diterbitkan. Tentunya, hanya seseorang yang berkemampuan istimewa yang bisa menghasilkan sebuah buku yang berkualitas dan menyentuh. Itulah yang dilakukan Martin Lings karena kecintaannya pada Sang Uswatun Hasanah, Nabi Muhammad SAW.

Banyak sudah pembaca yang memuji karya cendekiawan Inggris ini. Orang menyebutnya tour de force, karya nan tiada bandingannya. Ditulis dari perspektif seorang cendekiawan-sejarawan yang juga mempraktikkan Islam dalam keseharian, buku tersebut cepat terkenal dan menjadi salah satu bacaan wajib mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa serta memperoleh sejumlah penghargaan dari dunia Islam.

Profesor Hamid Dabashi dari Columbia University mengungkapkan kekagumannya. ”Ketika membaca buku Muhammad karya Lings, kita akan bisa merasakan semacam efek kimia pada narasi dan komposisi bahasa yang terkombinasi dengan keakuratan serta gairah syair. Lings adalah cendekiawan-penyair,” katanya.

Selain buku di atas, nama Martin Lings juga banyak dikenal dari berbagai karya-karyanya yang lain. Di antaranya adalah terjemahan teks Islam, puisi, seni, dan filsafat. Dari tulisan-tulisannya itu, Lings kerap disejajarkan dengan peneliti seni berkebangsaan Swiss-Jerman, Titus Burckhardt; tokoh filsuf abadi dan metafisikawan Prancis, Rene Guenon; serta cendekiawan Jerman, Fritjhof Schuon. Martin Lings sangat identik dengan seorang sufi yang gigih dalam menyebarkan Islam di Barat melalui tulisan-tulisan dan artikel-artikelnya yang tajam dan kritis.

Namun, hal yang paling berkesan dari Lings adalah keterkaitan karya dengan jiwa ihsan (keindahan dan kecemerlangan) yang dimilikinya. Ia mencurahkan jiwa dan hatinya dalam menghasilkan sebuah karya yang inspiratif, jelas, dan berkualitas.

Kini, sang tokoh sudah tiada. Pada 12 Mei 2005 lalu, Lings mengembuskan nafas terakhir dalam usia 96 tahun di kediamannya di kawasan Westerham, Kent County, Inggris. Umat Islam di seluruh dunia pun berkabung atas wafatnya penyair sufi modern terkemuka ini.

Berasal dari keluarga pemeluk Kristen Protestan, Lings lahir di Burnage, Lancashire, Inggris, pada 24 Januari 1909. Meski begitu, dia menghabiskan masa kecilnya di Amerika Serikat, mengikuti ayahnya. Ketika keluarganya kembali ke Inggris, dia didaftarkan ke Clifton College, Bristol. Kemudian, Lings melanjutkan pendidikannya di Magdalen College, Oxford. Ia belajar literatur Inggris dan memperoleh gelar BA tahun 1932. Tahun 1935, dia memutuskan pergi ke Lithuania untuk menjadi pengajar studi Anglo-Saxon dan Inggris Tengah di Universitas Kaunas.



















During its first 25 years, Studies on Comparative Religion had its offices in a wing of the Clive-Ross home in Pates Manor, Bedfont, near London, which dates its origins to the 15th century. Standing in front Pates Manor are, from left: Francis Clive-Ross, Catherine Schuon, Frithjof Schuon, Martin Lings, Leslie Lings, Whitall Perry, Barbara Perry and Olive Clive-Ross. Photograph c. 1965.

Mengenal Islam
Pada tahun 1939, Lings datang ke Mesir mengunjungi seorang teman dekatnya yang kebetulan mengajar di Universitas Kairo. Temannya ini juga merupakan asisten filsuf Prancis, Rene Guenon. Akan tetapi, pada saat kunjungannya itu, sang teman meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Kemudian, Lings diminta untuk mengisi posisi yang ditinggalkan oleh temannya ini. Dia menerima tawaran tersebut.

Lings pun mulai aktif belajar bahasa Arab dan mempelajari Islam. Setelah banyak berhubungan dengan ajaran Sufi Sadzililiyah, dia berketetapan hati untuk masuk Islam. Sejak saat itu, ia menjadi pribadi baru dengan nama Abu Bakr Siraj Ad-Din.

Bagi Lings, Islam bukan hanya sekadar agama. Islam menjadi petunjuk hidup umat manusia. Ia sangat terkesan dengan Alquran dan pribadi Rasulullah SAW. Baginya, tak ada tokoh yang melebihi Nabi Muhammad SAW, baik dalam akhlak maupun kepribadiannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, bukunya yang berjudul Muhammad, Kisah Hidup Nabi merupakan salah satu bukti kecintaannya kepada Rasulullah SAW.

Komitmennya dalam Islam terbawa sepanjang hayat. Bahkan, sepuluh hari sebelum meninggal dunia, Lings masih sempat menjadi pembicara di depan tiga ribu pengunjung pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertajuk Bersatu untuk Sang Nabi yang diadakan di Wembley, Inggris. Lings mengatakan, itu adalah pertama kalinya dia berbicara mengenai makna kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam waktu 40 tahun.

Setelah masuk Islam, Lings makin dekat dengan Rene Guenon yang juga sudah memeluk Islam. Dia lantas menjadi asisten pribadi serta penasihat spiritual Guenon.

Pada saat tinggal di Mesir, ia menikah dengan Lesley Smalley. Keduanya lantas tinggal di sebuah kamp pengungsi di dekat piramid. Namun, ketika revolusi anti-Inggris oleh kaum nasionalis yang berujung pada kerusuhan melanda Mesir, Lings memutuskan kembali ke Inggris pada 1952.

Sekembali dari negara di kawasan Afrika ini, ia melanjutkan pendidikan ke School of Oriental and African Studies, London, hingga mendapat gelar doktor. Tesisnya mengenai seorang sufi terkenal asal Ajazair, Ahmad al-Alawi, yang kemudian ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul A Sufi Saint of the Twentieth Century. Sementara itu, sang istri yang berprofesi sebagai psikoterapis bekerja sesuai bidangnya itu.

Kemudian, tahun 1955, dia bekerja sebagai asisten ahli naskah kuno dari kawasan Timur pada British Museum. Pekerjaan itu dilakoninya hingga hampir dua dasawarsa.

Tahun 1973, Lings merangkap kerja di British Library, di mana dia memfokuskan perhatiannya terhadap kaligrafi Alquran. Beberapa tahun kemudian, dia memublikasikan karya klasiknya pada subjek yang sama, yaitu The Qur’anic Art Of Calligraphy And Illumination, bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Dunia Islam tahun 1976.

Sejak itu, Lings pun mulai menulis secara teratur. Karya-karyanya, selain sufisme dan buku-buku lainnya, meliputi artikel mengenai tasawuf pada terbitan Cambridge University, Religion in the Middle East dan The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy, serta banyak artikel untuk jurnal kuartalan, Studies in Comparative Religion. Jurnal itu turut andil dalam memperluas cakrawala dunia Barat dalam memahami ketinggian Islam.

Pengagum Shakespeare
Selain berkutat dalam bidang filsafat, Lings juga berkiprah di bidang seni. Kiprah awalnya di bidang seni dimulai pada tahun 1944 dengan memproduksi sandiwara Shakespeare. Para pemainnya tak lain adalah para muridnya sendiri.

Ia memang senang mempelajari karya-karya pujangga itu. Ketertarikannya pada karya-karya Shakespeare lantas membawanya, sekitar 40 tahun kemudian, membuat buku berjudul The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things. Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karya Lings, Putra Mahkota Kerajaan Inggris Pangeran Charles pun bersedia memberikan kata pengantar dalam buku ini.

Dalam kata pengantarnya, Pangeran Charles menulis, ”Kejeniusan khusus yang dimiliki Lings terletak pada kemampuannya untuk menyampaikan, seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain sebelumnya. Teks-teks dasar yang ia sajikan dalam karya teater ini telah meninggalkan kesan yang mendalam, tidak hanya kepada para pecinta karya seni, tetapi juga kepada para pembaca awam.” nidia zuraya

Biodata :

Nama : Martin Lings
Nama Muslim : Abu Bakr Siraj Ad-Din
TTL : Burnage, Lancashire, Inggris, 24 Januari 1909
Wafat : 12 Mei 2005
Profesi : Pengajar dan Seniman
Istri : Lesley Smalley
Beberapa karyanya :
1. Muhammad: His Life Based On The Earliest Sources
2. The Sacred Art of Shakespeare: To Take Upon Us the Mystery of Things
3. A Sufi Saint of the Twentieth Century
4. The Qur’anic Art Of Calligraphy And Illumination
5. Religion in the Middle East
6. The Eleventh Hour: The Spiritual Crisis of the Modern World in the Light of Tradition and Prophecy




Sumber: cintaislam.org

Thursday, November 18, 2010

UNTUK MU TERKASIH

INSAF LAH!!!
Klip video dari Iwan Fals 'Untuk mu terkasih' ini telah ada di posting 'Setahun SBY'. Aku rasakan klip video ini terlalu istimewa dan terkesan. Moga keinsafan akan dan terus muncul disudut hati. Jangan dibohongi mereka lagi dengan janji-janji. Janji-janji mu hai 'orang politik' adalah harapan rakyat yang bagaikan mimpi indah untuk mereka terus tidur semalaman sebelum mata tercelik diesok pagi untuk terus menghadapi realiti hidup. Ramai yang telah hilang harapan nya diluar sana. Semangat adalah harta terakhir mereka namun semangat juga telah mati.




Untukmu Terkasih

Kasih ketika hati rasa dan jiwa
Serta apa saja yang tersembunyi
Di dada ini mulai tergetar
Karena keindahan matamu
Karena kelembutan senyummu
Karena taburan kasihmu
Justru bayang hatimu sulit kurenggut
Sementara gelombang rindu
Gelombang kasih sayang terus mengalir
Bagai air di musim penghujan
Bagai gelombang samudra
Yang mengguncang pantai kehidupan

Kasih ini nyanyian cinta untukmu
Yang entah ada dimana kini
Biar engkau mengerti apa yang terjadi
Dalam hidupku

Kabut sunyi mulai merayap di hati
Bayangmu smakin sulit ku cari
Aku tak tahu harus berbuat apa
Angin dan burung-burung pun membisu
Ketika ku tanya tentangmu
Tentang getaran hatimu
Tentang apa saja yang bertalian dengan jiwamu

Wednesday, November 17, 2010

SALAM EIDUL ADHA

















Selamat Hari Raya Aidil Adha
Untuk Semua.
17 November 2010

Ibn Arabi menyusun kata :- Pembukaan Kota Mekah adalah merupakan wushul yang tidak lagi hijrah setelah memenangkan atas kota Mekah. Setelah itu tiada lagi 'kepada' atau 'kemana'. Kota Mekah adalah lambang dari apa yang dirumuskan dengan Baitir-Rab (rumah Tuhan)....

Saturday, November 13, 2010

RAPAT ANAK MUDA

Beri PKR peluang teruskan pemilihan pusat, kata Wan Azizah

TERKINI @ 08:41:23 PM 12-11-2010
November 12, 2010
Dr Wan Azizah berkata pemandangan bahawa JPP gagal mengambil tindakan adalah palsu. — gambar fail

PETALING JAYA, 12 Nov — Datuk Seri Dr Wan Azizah Wan Ismail menolak dakwaan bahawa Jawatankuasa Pemilihan Pusat (JPP) tidak mengambil tindakan menyelesaikan aduan mengenai kepincangan dan kecacatan dalam proses pemilihan pusat sambil merayu agar diberikan peluang untuk meneruskan proses pengundian yang sedang berlangsung.

“Kita serah kepada JPP untuk mengenal pasti aduan dan masalah yang dikemukakan dalam pemilihan parti. Dakwaan kata JPP tidak ambil tindakan adalah tidak benar.

“JPP telah kenal pasti aduan tersebut dan kita harap parti diberi peluang untuk meneruskan pemilihan kali ini,” kata Presiden PKR selepas mengadakan pertemuan dengan Datuk Fauzi Abdul Rahman dan calon jawatan ketua Angkatan Muda Keadilan (AMK) Badrul Hisham Shaharin di ibu pejabat PKR di sini.

Ia merupakan kenyataan rasmi pertama sejak kontroversi pemilihan pusat tercetus awal minggu ini, yang menyaksikan Datuk Zaid Ibrahim menarik diri daripada bertanding dan melepaskan kesemua jawatan dalam parti.

Selain itu, seorang lagi calon mengemukakan memorandum memberi kata dua kepada parti agar menyelesaikan kesemua aduan termasuk membatalkan dan mengadakan semula pemilihan.

Bagaimanapun beliau pagi tadi memutuskan untuk kekal dalam saingan manakala JPP pula berkata pemilihan pusat akan diteruskan.

Kumpulan Badrul pula malam kelmarin mengadakan perhimpunan meluluskan enam resolusi antara lain melantik Fauzi, Pengerusi PKR Pahang dan membawa perutusan meminta pucuk kepimpinan parti menangguhkan pemilihan yang diadakan sekarang.

Resolusi yang diluluskan malam kelmarin termasuklah meminta agar media tidak harus digunakan sebagai medan perdebatan, pemilihan parti seharusnya berasaskan idea segar, nilai dan rekod ke arah memperkasa anggota dan rakyat, memperakui pemilihan kali ini mempunyai banyak masalah, parti dengan segera memperberhentikan proses pemilihan yang sedang berlangsung sehingga semua aduan disiasat dan meminta semua calon atau pemimpin di semua peringkat tidak mengambil tindakan meletakkan jawatan atau menarik diri daripada bertanding.

The Malaysian Insider difahamkan Dr Wan Azizah akan mengeluarkan kenyataan rasmi hasil pertemuan itu, esok.

Pertemuan itu turut dihadiri oleh Bendahari Agung PKR William Leong dan Pengerusi Biro Pemahaman dan Pemantapan Agama Dr Muhammad Nur Manuty, mewakili Biro Politik.

Biro Politik telah mengadakan mesyuarat khas malam kelmarin dan memutuskan pemilihan pusat akan diteruskan.

Sementara itu, Fauzi yang ditemui selepas menyerahkan resolusi kepada Dr Wan Azizah berkata pertemuan kira-kira satu jam itu adalah satu usaha lebih kepada untuk memperkukuhkan parti.

“Pertemuan ini berjalan dengan baik, saya hanya posmen bagi menghantar resolusi kepada beliau (Dr Wan Azizah).

“Resolusi yang dihantar itu lebih untuk membawa suara di peringkat akar umbi tentang masalah-masalah yang dialami, itu sahaja.

“Bagaiamanapun beliau mengakui bahawa parti ada kelemahan, tapi ia bukan alasan yang boleh membantutkan parti.

“Kita akan usaha mencari jalan penyelesaian,” kata beliau yang enggan mendedahkan isi kandungan resolusi yang diserahkan kepada Dr Wan Azizah hari ini.

Badrul Hisham dalam pertemuan yang dinamakan sebagai “Himpunan Anak Muda Selamatkan Keadilan” malam kelmarin melantik Fauzi sebagai “orang tengah” untuk membawa resolusi tersebut kepada pucuk kepimpinan.

Pertemuan yang disertai sekitar 200 ahli AMK, penyokong Badrul Hisham meluluskan enam resolusi — antaranya dipercayai mendesak parti menangguhkan dan mengadakan semula pemilihan sebagai langkah keluar daripada isu semasa yang beliau sifatkan sebagai “krisis”.

Badrul Hisham pula berkata, resolusi tersebut lebih untuk memperkuatkan dan memperkukuhkan parti dalam menghadapi ancaman politik sedia ada.

“Kita hanya mahu memperkuatkan parti, cari jalan penyelesaian untuk memperkukuhkan parti. Tidak guna kalau kita menang jika parti lemah.

“Dalam pertemuan ini, saya melihat ada signal positif, jadi saya minta semua ahli tidak harus meletakkan jawatan, tarik diri tapi gunakan jawatan yang ada untuk memperkasakan parti.

“Dalam resolusi itu juga tiada tekanan terhadap presiden parti, tiada ugutan kepada parti, hanya niat untuk memperkasakan parti,” katanya.

Jawatan ketua AMK disaingi penyandang Shamsul Iskandar Mohd Akin dan Badrul Hisham.

Saingan jawatan ketua AMK masih didahului Shamsul Iskandar dengan 1,849 undi manakala Badrul Hisham mengekori rapat dengan 1,818 undi selepas 87 cabang mengadakan pengundian sehingga 7 November lalu.

Proses pengundian pemilihan pusat diteruskan hari ini buat hari keenam dan esok dan lusat untuk minggu ini.

Hari ini enam cabang melangsungkan pengundian, 41 esok dan 28 lagi Ahad ini.

Badrul Hisham ketika dihubungi kemudian memberitahu The Malaysian Insider bahawa “saya sifatkan pertemuan ini membawa harapan positif, ada tanda-tanda yang positif.”

“Walaupun tidak memutuskan sama ada pemilihan ditangguh atau tidak, kita boleh putuskan bahawa ia ada membawa petanda positif,” kata beliau.

“Bagaimanapun kita tunggu kenyataan rasmi Presiden, yang saya difahamkan akan dikeluarkan seawal pagi esok,” kata Badrul Hisham yang turut memberitahu, salah satu keputusan yang dicapai ialah “tiada sesiapa pun sama ada pemimpin ataupun calon harus meletakkan jawatan ataupun menarik diri daripada kedudukan mereka.”

Ketua PKR Rembau ini menjelaskan kesemua calon dan pemimpin parti perlu bersama parti demi memperkukuhkan kedudukan komponen Pakatan Rakyat ini.


The Malaysian Insider

------------------------------

Enam resolusi penting :

1. MEDIA TIDAK HARUS DIGUNAKAN SEBAGAI MEDAN PERDEBATAN.
Rapat Anak Muda mengambil pendirian sesiapa juga; selepas ini yang menyerang atau menjawab serangan menggunakan media dianggap khianat dan pembawa masalah kepada parti. Menjawab serangan juga akan dilihat sebagai usaha untuk memanjangkan isu. Demi anggota dan rakyat, seharusnya selaku pemimpin besar kita juga mampu memilih isu untuk dijawab atau diabaikan.

2. PEMILIHAN PARTI SEHARUSNYA BERASASKAN IDEA SEGAR, NILAI DAN REKOD KE ARAH MEMPERKASA ANGGOTA DAN RAKYAT.
Rapat Anak Muda menyarankan anggota parti seharusnya memilih calon berdasarkan perkara ini; menolak calon yang menyerang lawan; menolak calon yang tidak punya idea; malah menolak calon yang hanya “bergantung atau bergayut” kepada individu tertentu sahaja.

3. RAPAT ANAK MUDA MEMPERAKUI BAHAWA SESUNGGUHNYA PEMILIHAN PARTI KALI INI MEMPUNYAI BANYAK MASALAH.
Oleh yang demikian rapat ini mendesak agar parti (yang berjiwa besar) memperakui wujudnya masalah ini. Sejarah besar yang kita ingin cipta melalui sistem pemilihan yang diperkenalkan akan lebih unggul dan dihormati jika kita sanggup memperakui kelemahan diri (termasuk berhenti menuding jari) dan bersama-sama memperbaiki kelemahan tersebut.

4. PARTI MESTI DENGAN SEGERA MEMBERHENTIKAN PROSES PEMILIHAN YANG SEDANG BERLANGSUNG SEHINGGA SEMUA ADUAN DISIASAT. Satu Jawatankuasa Penyiasat Bebas yang turut dianggotai wakil calon bertanding mesti dibentuk serta merta untuk mencari jalan terbaik memperbaiki keadaan. Rapat Anak Muda mendesak Presiden agar bertindak segera dengan kuasa yang ada padanya agar mengarahkan pemilihan yang sedang berlangsung dihentikan serta merta. Pemilihan semula harus dilakukan dengan sistem yang telah diperbaiki dan dipersetujui bersama. Rapat Anak Muda mencadangkan Dato’ Fauzi Abdul Rahman dilantik sebagai Pengerusi Jawatankuasa tersebut.

5. RAPAT ANAK MUDA JUGA MEMUTUSKAN AGAR SEMUA CALON DAN/ATAU PEMIMPIN DI SEMUA PERINGKAT TIDAK MENGAMBIL TINDAKAN MELETAKKAN JAWATAN DAN/ATAU MENARIK DIRI DARI BERTANDING BERIKUTAN KRISIS YANG MELANDA. Rapat ini menyeru agar semua calon dan pemimpin berlapang dada bersatu menggunakan semua kedudukan sedia ada sepenuhnya untuk mendesak resolusi ini dilaksanakan oleh parti.

6. ATAS SIFATNYA SEBAGAI SEORANG TOKOH YANG DISEGANI DAN TIDAK BERTANDING, RAPAT ANAK MUDA BERSETUJU AGAR DATO’ FAUZI ABDUL RAHMAN, PENGERUSI MPN, KEADILAN PAHANG, MENJADI JURUCAKAP DAN MEMBAWA RESOLUSI INI UNTUK DISERAHKAN KEPADA PRESIDEN PARTI. Rapat Anak Muda meminta Presiden Parti memberikan maklumbalas pertama terhadap resolusi ini dalam tempoh 24 jam selepas penyerahannya. Presiden juga dituntut agar memainkan peranan utama di dalam menangani krisis yang sedang melanda; bersikap adil kepada semua pihak yang bertanding dan seluruh anggota parti.


***Saham-saham 'Selangor State Gov' di Bursa tengah murah sekarang ; KPS, KHSB, Puncak Niaga juga Lebar Daun. Kalau lah Selangor jatuh balik ke BN pada PRU akan datang, pasti harga saham-saham itu akan mengarah ke utara. Akan jatuh balikkah kepada BN ??? Kalau macam ini lah keadaan PKR, ada kemungkinan besar perkara itu berlaku!

Ada yang berkata dengan nada perli dan bosan, daripada pening tengok kerenah orang politik, lebih baik pening tengok turun naik harga saham! lol***



















Gambar Piihan : Gaya Robert De Niro atau Sivaji 'The Boss'???

Thursday, November 11, 2010

NUR MUHAMMAD

Hadits tentang Nur Muhammad

Sebagaimana Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dengan sanadnya sampai ek Jaabir bin Abdullah Al An-shaari; bahwasanya ia pernah bertanya :”Demi Ayah Ibuku ya Rasulullah, Beritahukanlah padaku tentang suati yang dicipta Allah sebelum segala yang lain1”
Jawab beliau; “Wahai Jabiir, Sesungguhnya Allah telah menciptakan Nur Nabimu :Muhammad, dari Nur-Nya sebelum sesuatu yang lain (didalam kitab maulid Simtud Duror)

Hadits Jabir berhubung Nur Muhammad s.a.w. yang diriwayatkan oleh Imam 'Abdur Razzaq terus menjadi pertikaian. Sebahagian mentsabitkannya, manakala sebagian lagi menolaknya dengan alasan tidak dijumpai termaktub dalam Musannaf beliau. Sebagian menjadikan ketakwujudan atau mungkin ketakjumpaan hadits tersebut dalam Musannaf sebagai alasan untuk menolak dan membid'ah konsep Nur Muhammad. Akan tetapi di sebagian yang menolak tsabitnya hadits Jabir tersebut, ada juga yang tidak menolak konsep Nur Muhammad, mereka cuma menolak pentsabitan hadits tersebut.
Walau apa pun, wujudnya perbedaan pendapat ini jelas menunjukkan bahawa perkara ini termasuk dalam perkara khilafiyyah yang berlaku di kalangan ulama. Maka sewajarnya kita menjaga adab dalam perkara ini demi keutuhan ukhuwwah dan kesatuan umat.

Majalah Dakwah Bulanan yang dibawah penyeliaan dan pimpinan Habib Taufiq as-Segaf, "Cahaya Nabawiy" edisi No. 63 Tahun VI Rajab 1429, turut memuatkan jawapan pengasuh ruangan Istifta'nya, Ustaz Muhibbul Aman Aly, berhubung hadits Nur Muhammad ini.

Hadits tentang Nur Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq ini diantaranya disebutkan oleh Syekh Sa'dud Din at-Taftazani dalam kitab "Syarh Burdatul Madikh", Syekh Sulayman al-Jamal dalam kitab "Syarh al-Syamail", Syaikh Ibnu Hajar al-Haytami dalam kumpulan fatwa haditsnya, Syekh Ahmad al-Showi al-Maliki dalam kitab "Bulghotus Salik", Syekh Abdulloh al-Khifaji dalam kitab "al-Siroh al-Halabi" dan ulama-ulama lainnya.
Ada sebagian orang yang meragukan keberadaan hadits ini, karena redaksi hadits ini tidak ditemukan dalam kitab Musnad (kumpulan hadits) Abdur Rozaq yang beredar saat ini, tetapi alasan ini tidak kuat, karena terbukti para ulama dahulu banyak mengutip hadits ini dari riwayat Abdur Rozaq. Ini berarti redaksi hadits ini termuat dalam manuskrip kitab Musnad Abdur Rozaq yang beredar pada zaman dahulu, dan yang beredar saat ini bukan manuskrip yang lengkap sebagaimana yang diterima oleh para ulama pada masa dahulu.

Pada tahun 1428H / 2007M, Syekh 'Isa bin Abdulloh al-Khimyari, seorang ulama ahli hadits, mengaku telah menemukan manuskrip kuno kitab Musnad Abdur Rozaq yang didalamnya tertulis beberapa hadits yang tidak ditemukan dalam cetakan yang beredar saat ini. Termasuk di dalamnya hadits tentang Nur Muhammad SAW ini. Meskipun penemuan ini masih diragukan oleh sebahagian kalangan, yang jelas hadits ini telah banyak dinukil oleh para ulama terdahulu. Ini sudah cukup membuktikan keberadaannya. Terlepas dari perbedaan pendapat para ahli hadits tentang kesahihannya.
Beginilah kedudukan hadits Nur Muhammad yang diriwayatkan oleh Sayyidina Jabir r.a. Dalam penolakan sebahagian, sebahagian pula menerima dan mentsabitkannya. Dan yang jelas, para ulama daripada kalangan habaib Bani 'Alawi dan Ahli Sunah WAl jamaah pada umumnya menerima dan berpegang dengan hadits tersebut sebagaimana termaktub dalam karya Habib 'Ali bin Muhammad al-Habsyi yang termasyhur "Simthud Durar" diatas.

Dari: sufiroad.blogspot.com


Halang kait
halangkait23@gmail.com :

Huruf alif allah dalam kalimat بســـم الله الرحمن الرحيم di awali dengan titik huruf ب bermakna noktah/ titik air mani/ adam/ nur muhammad/ awal kehidupan & benda. Setiap Titik bisa dibentuk menjadi huruf/angka apa saja di dunia ini. Sama dg setitik mani{maaf}/ sebutir telur yg mengawali kehidupan didunia ini bs berbentuk apa saja.Begitu jg dg Allah yg mengawali penciptaan jagat raya dg titik BIGBANG/dalam istilah sufi disebut NUR MUHAMMAD.

Karena titik, maka huruf ب jadi hidup & dpt dkenal dg hrf ba’ tdk menjd huruf NUN. Dibalik hrf ba’ ada huruf alif yg bersembunyi menjadi bayangan huruf Ba. Disebabkan huruf ba’ zahir/hidup, krn seharusnya kalimat basmallah adalah بإســـم الله = BI ISMILLAH. Huruf ب bertemu س, maka alif diwashal menjadi bersembunyi.

Hakikat huruf ba’ yg bersemayam didalamnya adalah hrf ا /1/ahad/esa/الله yg mengatur perjalanan hidup huruf ba’. Dalam perjalanan ب bertemu huruf س yg digitnya turun naik melambangkan garis kehidupan. yang bermakna kadang di atas kadang dibawah. kadang senang kadang susah. kadang sabar kadang syukur.


Wednesday, November 10, 2010

THE DIVINE FEMININE IN ISLAM ?

Few people will know, that the religion considered to be most patriarchal actually has a very deep rooted feminine core. It is one of the best hidden secrets. The reasons are manyfold. Obviously, ruling clerics have no interest to undermine their position by revealing the feminine character of their religion. Nevertheless some brave hearts are trying to do just that*. It all starts with the description of the Essence of Allah. As you know the core Name of Allah is al-Rahman, al-Rahim. It is the most important Name among the other 99 Names attributed to Allah. The common translation is "Allah the Merciful e.g. the Mercy-Giver". Literally, however, "rahman" means "womb". This puts everything in the right perspective. Allah proves to be both the Source of Mercy as well as Mercy itself. The former is equal to the unmanifest formless Essence, while the latter symbolizes His (Her!) Being, His active, outgoing, creative outpouring. It is easily to understand, that the Essence corresponds with the Eternal Feminine Aspect of Allah, while His (Her!) creative "part" can be called Masculine. It is emphasized by the word for Divine Essence: al-Dhat, which is also feminine. The similarity with our own position is striking. The Essence as the Womb from which the Divine is evolving.

So the unique thing about Islam is, that Allah includes both aspects simulataneously. In Him (Her!) the Unmanifest Essence and Being prove to be "two sides of the same coin". It makes the understanding of God a very truthful and complete one. That the femininity of Allah is deeply rooted in Islamic faith is also becoming clear, through the fact that Allah is never called "father". It is something Westerners may surprise as well. Rather Allah may be addressed as "Mother". For instance, Rumi in a passage of his Masnavi says: "Mother, return us to Your breast".

Apart from the Qur'an in which Allah's 99 Names are recited, the experiences of Islamic mystics- the Sufi's - also bear witness of the Divine as feminine. Obviously this is a very reliable source, since the Sufi's speak directly from the Source, (as Mohammed did). Rumi has already been named. Ibn al-Arabi, an equally important master wrote that "I sometimes employ the feminine pronoun in addressing Allah, keeping in view the Essence".* Moreover, he repeatedly talks about the "abysmal Darkness" and "The ultimate ground of everything is the Mother (umm)". Therefore he says that Allah can be referred to as both "huwa" (He) and "hiya" (She).* The ultimate Divine Reality as essentially Feminine was and is the Source of inspiration for Sufism in general. The famous poet Umar Ibn-al-Farid repeatedly used the feminine connotation when talking about Allah. Generally in Islam and in contrast to Christianity, the Sufi mystic defines the Divine as feminine Beauty, the subject of his quest*. The love story of Layla and Majnun illustrates this. Every year in Egypt there is the festival of the "Great Night" (originally attributed to the Great Mother), dedicated to al-Sayyida Zaynab, the granddaughter of the Prophet Mohammed. It is a week of celebration in which women come out to the open, nay are the centre of it all, the play of Layla and Majnun is being performed, while the segregation between men and women is (temporarily) lifted.

The next source of information about the feminine aspect of Islam is the shari'ah or teaching, a compilation of the life of the Prophet Mohammed, including all kinds of wise lessons for life. First he was employed by Hadiga, a rich widow. Later Hadiga made it possible for him to exclusively dedicate himself to the spreading the word of Allah. His whole life remained woman-centered. It is said that the Prophet's soul was feminine, a striking similarity with all great spiritual teachers of all times, like Lao Tze, Buddha, Jesus and countless others. Confronted with the necessity to fight, Mohammed said to his followers: ""I see that I cannot stop this, so if you have to fight, fight. But don’t forget that from now on the burden of your deeds will be upon you, and your religion will not be pure unless you become responsible for the burden of your deeds." Actually, the Prophet wasn't very secretive about his love for women, especially his wife A'ishah. More than once he used examples from the real world in which he compared the Mercy of Allah with the love of a woman for her child. Indirectly he underlined the motherly aspect of Allah. Moreover, lacking sons Allah gave him instead "al-Kawthar", which symbolizes the promise of the abundance of Divine Feminine.
---------------------------------------------------------

Islam and the Divine Feminine

So often has Islam been portrayed as an exclusively masculine, patriarchal faith that many have never suspected the central importance of the Feminine in Islam and would be astonished to realize that it has been there from the beginning. Perhaps in part due to the metaphysical interiority of the Feminine, this aspect of Islam has lived a largely hidden existence — but it is no less vital for that. In recent years there has been much discussion and controversy over how to reshape Christianity to include the Feminine on the divine level, but in Islam that has never been an issue, for the feminine element in Islam has always been present, especially in Sufism.


Although both masculine and feminine equally have their origin in the Divine, I would like to take a special look at the feminine in Islam to help redress the balance because the feminine side of Islam has been mostly overlooked so far. Moreover, in the sources of Islam and in the Sufi tradition growing from there, we find a distinct, explicit preference for the feminine aspect of Allah, especially the nature of ultimate Divine Reality as essentially feminine.


The Polarity of Divine Majesty and Beauty

The distinction between male and female is not just a biological accident but a very profound element of the human state. It goes back from the biological through the psychological and the spiritual to the Divine Reality itself. On the highest level of the Divine Reality, Allah is perfectly One. The root of the duality between the masculine and feminine is found in the divine nature itself. Allah's Essence transcends all duality, all relationality, so it is beyond male or female. But even on the level of the Divine Nature, there are the roots of the masculine and the feminine. On the highest level, Allah is at once Absolute and Infinite. These two attributes are the supreme archetypes of the masculine and the feminine. "Masculine" and "feminine" are not simply equivalents of the human male and female, since all men and women have elements of both masculinity and femininity within them. That Allah is Absolute is the principle of masculinity, and that Allah is Infinite is the principle of femininity. Allah has revealed Himself in the Qur’ân in the names of rigor and mercy, known as the names of Majesty (jalâl) and Beauty (jamâl). The Generous, the Merciful, the Forgiving are names of mercy or Beauty, while the Enumerator and the Just are names of rigor or Majesty. On the level of the names are the principles of the masculine and the feminine: the names of Majesty are the prototype of masculinity, while the names of Beauty are the prototype of femininity.

Vis-à-vis the world, Allah is Creator. This divine function is on the masculine side, representing the aspects of action force, movement, rigor; Allah as Lawgiver. But then there is the uncreating aspect of Allah. Allah is not exhausted by His creation of the world. Allah is more than the creator of the world: al-Khâliq, the Creator, is only one of the divine names. The Divine Reality did not completely participate in the act of creation. Allah is Infinite and the world is finite. The non-creating aspect of Allah corresponds to the Divine Femininity. It is this to which Sufi poetry so often refers in the feminine. The images of the beautiful Beloved are referring to the metacosmic aspect of the Divine, not the creating aspect.

That is why Ibn al-‘Arabî says Allah can be referred to as both huwa (He) and hiya (She).


Feminine Terms of Divinity

Some of the key terms associated with the Divine are in the feminine gender in Arabic. Three of them are essential to understand the feminine dimension in Islam. One of Allah's names is al-Hakîm, the Wise; Wisdom is hikmah. In Arabic to say, for example, "Wisdom is precious," you could repeat the feminine pronoun: al-hikmah hiya thamînah, literally "Wisdom, she is precious." This has resonance with the forgotten Christian mystical tradition, in which Wisdom is personified as a woman, the divine Sophia, associated with the Virgin Mary. The second term is rahmah (mercy), related to the most important name of God after Allâh: al-Rahmân, the All-Merciful, related to the word for 'womb', rahim, the source of life. The source of life is the Divine Mercy and the feminine aspect of it is very evident. The third, the most remarkable of all, is the word for the Divine Essence itself: al-Dhât, which is also feminine. In that the Divine Essence is Beyond-Being, unmanifest and transcending all qualities, it may be understood as Feminine. The renowned Sufi master Najm al-Din Kubra wrote of the Dhât as the "Mother of the divine attributes." According to a commentary on Ibn al-‘Arabî's Fusûs al-hikam, a hadith of Prophet Muhammad "gave priority to the true femininity that belongs to the Essence." Ibn al-‘Arabî himself wrote that "I sometimes employ the feminine pronoun in addressing Allah, keeping in view the Essence."

On this metaphysical plane, femininity corresponds to interiority and masculinity to manifestation. In the traditional Islamic city, beauty is interiorized. All human beings contain both elements within themselves, in their souls and bodies and psyches. The perfection of the human state, al-insân al-kâmil, means the perfection of both masculine and feminine qualities together, the prototype of both male and female. In Sufism, men and women perform exactly the same rites and worship, so the perfection of human spirituality is equally accessible to men and women—unlike in Theravada Buddhism, in which a woman must be reborn as a man to attain nirvana.


Female Imagery of the Divine Beloved in Sufi Poetry

Sufi literature has the greatest discussion of femininity in Islam. Sufi stories have transformed ordinary love stories into the most sublime levels of meaning. The love story of Layla and Majnun is the best-known of all. It originated as a simple love story in Arabia, but Sufi literature elaborated it into the most beautiful love story ever put into Persian poetry. It symbolizes not only the love of man and woman in Allah, but the love of man for Allah. In these poems the heroine is elevated to symbolize the Divine Reality itself. The Divine Reality is spoken of in terms of female beauty. The hero goes in quest of the Divine, which is a masculine act. In contrast to Christian mysticism, in which God is actively masculine and the devotee is passively feminine, Sufi love stories depict the Beloved as a woman who is a Presence waiting in stillness while the hero is in quest for her.

The name Laylá comes from the word layl meaning 'night'. Night represents the Unmanifest. In the Arabian desert, the night is a reality without boundaries: forms are dissolved, no sand dunes or camels or anything else visible, all is formless, nothing but darkness. This is direct symbolism of the unmanifested aspect of the Divine Nature, Allah as Unmanifest. Blackness absorbs all light, as it is above manifestation, so it symbolizes the Beyond-Being. In the poem, Layla was named for the blackness of her hair and the beauty of the night. By extension, it in fact refers to the beauty of the Divine Reality beyond this world, beyond the act of creation, and therefore the supreme goal that the Sufi seeks to reach. The name of Majnûn literally means 'crazy', but here it means someone not in an ordinary state of mind, symbolizing a person in quest of Allah. In this world in which most people forget Allah, the person who remembers Him is considered crazy. As the male figure, Majnûn symbolizes the aspect of yearning and striving, going out in quest of Layla, while she is just sitting and combing her hair. The one who undertakes the journey, longing and crying for Layla, is the soul of the Sufi.

Allah as the Beloved in Sufi literature, the ma‘shûq, is always depicted with female iconography. Although Islam is aniconic and does not make images of Allah, verbal depiction exists. Sufi literature is replete with this imagery of our experience of Allah as the vision of the Beloved and union with the Beloved. An elaborate vocabulary developed in which every part of a woman's body, especially the face, symbolizes the Divine Reality. For example, the eyebrows are likened to a bow that shoots the arrow of the eye's glance, the arrow of the love of Allah into our hearts and makes us go beyond ourselves. Like the eyes of veiled women in traditional Islamic culture, where all you can see are their beautiful dark eyes: their whole vocabulary of love has to be expressed through a single glance. The ruby-red lips with their red color symbolize wine. Wine is used in Sufi literature to symbolize going beyond our ordinary consciousness into union with the Divine. Although wine is forbidden in Islamic law, there will be pure wine to drink in Paradise. Since Sufis experience Paradise here in this world by having inner experience of the higher levels of reality, the wine of Paradise is accessible symbolically through Sufism. Here, the redness of this wine is conjoined with the color of a woman's lips. At the same time, the kiss of the lips is an erotic symbol of union and intimacy.

For example, Rumi said in the Masnavi:

Kings lick the earth of which our body is made;
it is that spirit breathed into this body
that thou art kissing with a thousand ecstasies—
just imagine what it will be when it is undefiled!

The Vision of God

There was a question long debated in Islam: can we see Allah? The Prophet said in a hadith: "In Paradise the faithful will see Allah with the clarity with which you see the moon on the fourteenth night (the full moon)." Theologians debated what this could mean, but the Sufis have held that you can see Allah even in this world, through the "eye of the heart." al-Hallaj said in a poem: "ra’aytu rabbi bi-‘ayni qalbî" (I saw my Lord with the eye of my heart). The Sufis said that since you can have the experience of Paradise even in this world, you can have the vision (ru’yah) of Allah. They have always described this theophanic experience as the vision of a woman, the female figure as the object of ru’yah.

The Tarjumân al-ashwâq, Ibn al-‘Arabî's collection of love poems composed after meeting the learned and beautiful Persian woman Nizam in Mecca, is filled with images pointing to the Divine Feminine. The last chapter in his book Fusûs al-hikam relates that man's supreme witnessing of Allah is in the form of the woman during the act of sexual union. The contemplation of Allah in woman is the highest form of contemplation possible:

As the Divine Reality is inaccessible in respect of the Essence, and there is contemplation only in a substance, the contemplation of God in women is the most intense and the most perfect; and the union which is the most intense (in the sensible order, which serves as support for this contemplation) is the conjugal act.

In contrast to Christianity, Islam has never depicted God as Father. Such a comparison is completely outside the boundaries of Islamic discourse. However, Muslims have always found it easy and natural to speak of the maternal qualities of Allah.

Prophet Muhammad was the first to use the example of mothers to illustrate Allah's mercy. After a battle, the Prophet and his Companions came upon a group of women and children. One woman had lost her child and was going around looking for him, her breasts flowing with milk. When she found her child, she joyfully put him to her breast and nursed him. The Prophet asked his Companions, "Do you think that this woman could throw her son in the fire?" They answered "No." He then said: "Allah is more merciful to His servants than this woman to her son." (From the hadith collection of al-Bukhari).

Another al-Bukhari hadith describes how during the Muslim conquest of Mecca a woman was running about in the hot sun, searching for her child. She found him, and clutched him to her breast, saying, "My son, my son!" The Prophet's Companions saw this, and wept. The Prophet was delighted to see their mercy, and said, "Do you wonder at this woman's mercy (rahmah) for her child? By Him in Whose hand is my soul, on the Day of Judgment, Allah shall show more rahmah toward His believing servant than this woman has shown to her son."

Jalal al-Din Rumi, in an amazing passage of the Masnavi on the Return to Allah, made reference to the story of the infant Moses and addressed Allah directly as "Mother":

On Resurrection Day, the sun and moon are released from service:
and the eye beholds the Source of their radiance,
then it discerns the permanent possession from the loan,
and this passing caravan from the abiding home.
If for a while a wet nurse is needed,
Mother, return us to your breast.
I don't want a nurse; my Mother is more fair.
I am like Moses whose nurse and Mother were the same.

(Masnavi, V:701)

The Ka‘bah in Mecca, the very heart and pivot of the Islamic world, naturally is associated with feminine imagery, veiled in the black color of the Feminine Beyond-Being. Medieval writers and poets have often compared the holiest shrine of Islam to a veiled bride or a desired virgin, especially when on the pilgrimage. Their goal was to touch and kiss her beauty mark, the black stone. Khaqani was the Persian poet who most frequently employed this symbolism in his pilgrim poems. But another look at the Ka‘bah can come from the root of its name in the Arabic language. Although the word ka‘bah itself means 'cube', it is very close to the word ku‘b meaning 'woman's breast'. This turns out to be an appropriate metaphor, as indeed the Ka‘bah nurtures with the milk of spiritual blessing all the faithful who come to touch and kiss it. Consider also the eminently feminine Yoni form of the Black Stone's setting.

The Prophet's Feminine Soul

Prophet Muhammad's soul had a deeply feminine nature within. When his Companions asked him whom he loved most in the whole world, he answered it was his wife, 'Â'ishah. They were surprised to hear him announce love for a woman, as this was a new concept to them; they had been thinking in terms of the manly camaraderie between warriors. So they asked him which man he loved most. He answered Abû Bakr, 'Â'ishah's father, a gentleman who was known for his sensitivity. These answers confounded the Companions who until then had been brought up on patriarchal values. The Prophet was introducing reverence for the Feminine to them for the first time.

Surah 109 in the Qur'ân, al-Kawthar, gives an especially revealing look into the Prophet's feminine soul. It was revealed because his enemies had been taunting him that he had no sons, only daughters, while they had been given sons to perpetuate their patriarchal ways. Allah revealed this message of consolation to the Prophet: "We have given thee al-Kawthar ... surely the one who hates thee will be cut off (from progeny)." What is al-Kawthar? A sacred pool of life-giving water in Paradise-a profoundly feminine symbol. It represents a heavenly exaltation of the Feminine over patriarchal society. The name of Kawthar is derived from the same root as kathîr 'abundance', a quality of the supernal Infinite, the Divine Feminine.

Woman as Creator

One of the most outright declarations of the Divine Feminine in all Sufi literature is in Rumi's Masnavi. In a passage praising the feminine qualities of kindness and gentleness, a passage that is increasingly well-known in these days of the resurgent Feminine, he says:

Woman is the radiance of God, she is not your beloved.
She is the Creator—you could say that she is not created.
(Masnavi, I:2437)

The Primacy of the Feminine in Islam

Seen from the exterior, Islam may appear as a masculine-dominated faith. That is because its external aspects, such as the sacred law that governs the social order, are a manifestation of Allah's jalâl attributes. The hidden side of Islam, little known to the outside world, lives and breathes the values of interiority, the loving, forgiving, merciful Divine Presence that draws hearts closer, the infinite jamâl aspects of Allah's Beauty. The eternal primacy of Allah's feminine nature is established in a hadith qudsi: "My mercy precedes My wrath" (rahmatî sabaqat ghadabî).

Beyond all, the infinite eternal mystery of Allah's uncreated Essence is the Divine Feminine that is the ultimate spiritual Reality, calling to the souls who love Allah to come home and find perfect peace.

-www.adishakti.org-