Thursday, December 30, 2010

SYABAS HARIMAU MALAYA

29 Desember 2010 Malaysia bawa pulang Piala Suzuki AFF menumpaskan Indonesia dengan agregat 4-2 di Stadium Utama Gelora. Terpegun dengan gol jaringan Mohd Safee Sali. Jaringan nya mengingatkan kita dengan Allahyarham Mokhtar Dahari dengan aksi nya lari dan rembat.



Tulisan dan komen ikhlas dari Kompas.com.
FAM juga perlu ambil iktibar dari tulisan ini.
Kamis, 30 Desember 2010 | 09:42 WIB

Sukacita selama hampir satu bulan itu berakhir sudah. Pesta sepak bola Piala AFF yang semula membuat bangsa Indonesia membubung ke langit ketujuh berakhir antiklimaks. Tim Garuda Indonesia yang begitu perkasa sejak babak penyisihan sampai semifinal tak sanggup membuat sejarah. Apa boleh buat, Malaysia-lah yang mengukir tinta emas, untuk pertama kalinya menjadi yang terbaik di festival sepak bola bangsa-bangsa Asia Tenggara ini.

Meski pahit, rasanya kita tak perlu larut dalam kesedihan. Sebaliknya, kegagalan untuk keempat kalinya di partai puncak Piala AFF ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh insan sepak bola, utamanya para pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), yang paling bertanggung jawab terhadap prestasi tim nasional Indonesia. Bukan hanya itu, kegetiran di Stadion Utama Gelora Bung Karno juga harus menjadi pelajaran bagi oknum-oknum politisi yang semula ingin mendompleng euforia yang diledakkan pasukan Merah-Putih asuhan Alfred Riedl.

Sebenarnya, di luar dua hal di atas, terlalu banyak hal harus dijadikan bahan renungan oleh persepakbolaan nasional. Di lain pihak, euforia yang begitu hebat seharusnya dijadikan momentum kebangkitan prestasi sepak bola nasional, yang sudah begitu lama mendambakan gelar juara di tingkat internasional. Belajar dari pengalaman Piala Asia 2007, saat pasukan Garuda Indonesia gagal tetapi tetap mendapat acungan jempol, pada akhirnya menang atau kalah bukan hal paling penting. Pada ujungnya, juara tidak lagi sebuah tujuan akhir. Jauh lebih penting, para pemain dan tim pelatih sudah berbuat yang terbaik. Kegagalan ini hanya sebuah keberhasilan yang tertunda.

Di luar stadion, sulit untuk tidak terharu menyaksikan para pendukung Merah-Putih tetap menari-nari, meneriakkan yel-yel ”Indonesia... Indonesia!” Hal itu bukan karena Firman Utina dan kawan-kawan berhasil membalas kekalahan di Bukit Jalil, tapi lebih karena pasukan Merah-Putih telah tampil gagah berani, mengeluarkan semua kemampuannya, dan terlebih mereka menunjukkan pantas membela nama Indonesia dengan memakai kostum ”sakral” berlambang Garuda.

Bagi para pengurus PSSI, inilah sebenarnya momen untuk kembali ke kenyataan, kembali ke Bumi, setelah selama dua pekan seakan-akan lupa akan segala tugas pokok pembinaan sepak bola. Bagaimanapun, kompetisi yang berkualitas adalah kunci dari sukses tim nasional. Kompetisi yang bergulir saja secara teratur belumlah cukup untuk membawa Indonesia ke tingkat elite percaturan sepak bola Asia Tenggara, apalagi Asia, apalagi dunia. Kompetisi yang bergulir haruslah mempunyai mutu yang baik, dan tiap musim menunjukkan peningkatan kualitas.

Banyak hal yang menopang kualitas kompetisi, tetapi yang paling utama adalah pembinaan usia dini. PSSI tak perlu malu untuk mengakui bahwa selama ini abai terhadap youth development. Ratusan miliar rupiah tiap tahun berputar dalam persepakbolaan nasional, tetapi nyaris tak ada yang menetes ke pembinaan usia dini. PSSI terlalu asyik masyuk mengurusi kompetisi paling top, Liga Super Indonesia, yang memang seksi, bergelimang uang, berlimpah sponsor, bermewah dengan liputan media. Sementara kompetisi usia dini bukan cuma anak tiri, tapi ibarat anak terbuang yang menggelandang di kolong jembatan.

PSSI lebih suka jalan pintas, mencari pemain dengan jalan ”berburu” ke daerah-daerah dan mencomotnya begitu saja tanpa tahu betul rekam jejak pemain muda. Tanpa ada kompetisi, pemain muda yang diambil tidak terasah secara teknis, apalagi mental. Mereka kemudian dikumpulkan dalam proyek-proyek jangka pendek tanpa konsep yang benar-benar matang. Proyek Uruguay, misalnya, hanya mengulang kegagalan lama yang tidak membuahkan hasil, seperti Primavera dan Barreti. PSSI tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman pahit tersebut.

Tanpa konsep pembinaan usia yang benar-benar diwujudkan dalam kompetisi berjenjang, pemain-pemain yang kemudian tampil di tingkat senior bukanlah atlet yang benar-benar matang. Ketika mereka tampil di liga senior, kemampuan mereka barangkali hanya 20 persen atau 30 persen dari kapasitas sebenarnya. Walhasil, tim nasional, terutama yang senior, tidak pernah memberikan prestasi yang membanggakan di tingkat internasional.

Ada baiknya, jajaran pengurus PSSI merenung sejenak. Mulailah bekerja dengan hati untuk menggerakkan roda kompetisi usia dini. Mulailah mencetak pelatih-pelatih berkualitas tinggi untuk menangani youth development. Sadarlah bahwa tak ada jalan pintas dalam sepak bola. Semua hasil terbaik harus dicapai dengan kerja keras, keringat dan pengorbanan.

Dalam pergelaran Piala AFF ini, PSSI sebenarnya sempat ”kembali ke jalan yang benar”, dengan membiarkan Alfred Riedl memilih sejumlah pemain muda untuk menyegarkan tim nasional. Pelatih asal Austria yang kenyang pengalaman menangani tim Asia Tenggara ini juga diberi keleluasaan untuk mengelola timnas secara mandiri, tanpa intervensi petinggi-petinggi PSSI—sesuatu yang sangat biasa dilakukan di masa lalu.

Namun, setelah sukses menembus final dengan lima kemenangan beruntun, otoritas Riedl dirampas. Timnya diobok-obok, dipolitisasi, dan ditunggangi demi pencitraan individu, kelompok, dan partai. Meski begitu, Riedl tetap mempersiapkan timnya dengan serius menjelang laga final pertama di Bukit Jalil. Pria yang hanya punya satu ginjal itu kemudian tidak tahan. ”Federasi mengganggu persiapan tim saya,” ujarnya di Bukit Jalil.

Maka, kalaupun ada satu-satunya hal yang patut disesali dari kegagalan ini adalah perjuangan hebat Firman cs telah dinodai oleh ambisi kotor para politisi. Selebihnya, kita patut bangga pada pasukan Merah-Putih yang telah berjuang keras. Kita harus memberikan apresiasi kepada penonton yang terus memberikan dukungan meski mereka sudah teraniaya saat mengantre tiket. Kita harus berterima kasih kepada Riedl dan timnya yang memberikan energi dan nuansa baru pada tim nasional.

Bagi bangsa Indonesia, inilah saatnya kembali ke kenyataan, untuk menyadari masih banyak pekerjaan rumah pembinaan sepak bola yang harus dikerjakan. Marilah kita bekerja keras!

Sumber : Kompas Cetak

Monday, December 27, 2010

HIJRAH IMAM AL-MUHAJIR KE YAMAN

Mengapa Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman?

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam bukunya Risalatul Muawanah mengatakan, 'Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali bin al-Imam Ja’far Shadiq, ketika menyaksikan munculnya bid’ah, pengobralan hawa nafsu dan perbedaan pendapat yang makin menghangat, maka beliau hijrah dari negerinya (Iraq) dari tempat yang satu ke tempat yang lain hingga sampai di Hadramaut, beliau bermukim di sana hingga wafat.
Mengapa Imam al-Muhajir memilih Hadramaut yang terletak di Negara Yaman sebagai tempat hijrah ?
Imam al-Muhajir memilih Hadramaut sebagai tempat hijrahnya, dikarena beberapa faktor, pertama peristiwa hijrahnya al-Husein dari Madinah ke Kufah, dimana Ibnu Abbas memberikan nasehat kepada Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ketika hendak berangkat ke Kufah. Ibnu Abbas menasehati agar beliau pergi ke Yaman karena di negeri itu para penduduknya menyatakan siap untuk mendukung Imam Husein. Sejarah membuktikan bahwa keturunan Imam Husein sampai saat ini mendapat dukungan di sana.
Kedua, keistimewaan penduduk Yaman yang banyak disebut dalam alquran dan hadits. Allah swt berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah maha luas (pemeberian-Nya) lagi maha mengetahui.
[1] Dari Jabir, Rasulullah saw ditanya mengenai ayat tersebut, maka Rasul menjawab, 'Mereka adalah ahlu Yaman dari suku Kindah, Sukun dan Tajib'.
[2] Ibnu Jarir meriwayatkan, ketika dibacakan tentang ayat tersebut di depan Rasulullah saw, beliau berkata, 'Kaummu wahai Abu Musa, orang-orang Yaman'. Dalam kitab Fath al-Qadir, Ibnu Jarir meriwayat dari Suraikh bin Ubaid, ketika turun ayat 54 surat al-Maidah, Umar berkata, 'Saya dan kaum saya wahai Rasulullah'. Rasul menjawab, 'Bukan, tetapi ini untuk dia dan kaumnya, yakni Abu Musa al-Asy'ari'.
[3] Ketika Allah berfirman dalam surat al-Hajj ayat 27 yang berbunyi :
Dan serukanlah kepada umat manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang ke (rumah Tuhan) mu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang berbagai jenis unta yang kurus, yang datangnya dari berbagai jalan yang jauh.

Ayat ini turun kepada nabi Ibrahim as, setelah menerima wahyu tersebut beliau pergi menuju Jabal Qubays dan menyeru untuk menunaikan haji. Dan orang pertama yang menjawab dan datang atas seruan Nabi Ibrahim as adalah orang-orang'.
Allah swt berfirman dalam surah al-Nashr ayat 2 :
'Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan beramai-ramai'.
Berkata Shadiq Hasan Khan dalam tafsirnya dari Ikrimah dan Muqatil, 'Sesungguhnya yang dimaksud dengan manusia pada ayat itu adalah orang-orang Yaman, mereka berdatangan kepada Rasulullah untuk menjadi kaum mu'minin dengan jumlah tujuh ratus orang'.
4] Dari Ibnu Abbas berkata : Nabi kita ketika berada di Madinah berkata, 'Allahu Akbar, Allahu Akbar, telah datang bantuan Allah swt dan kemenangannya dan telah datang ahlu Yaman. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah ahlu Yaman itu ? Rasulullah saw menjawab : Suatu kaum yang suci hatinya dan lembut perangainya. Iman pada ahlu Yaman, kepahaman pada ahlu Yaman dan hikmah pada ahli Yaman'.
[5] Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani telah meriwayatkan suatu hadits dalam kitabnya berjudul Fath al-Bari, dari Jabir bin Math’am dari Rasulullah saw berkata, 'Wahai ahlu Yaman kamu mempunyai derajat yang tinggi. Mereka seperti awan dan merekalah sebaik-baiknya manusia di muka bumi'.
[6] Dalam Jami' al-Kabir, Imam al-Suyuthi meriwayatkan hadits dari Salmah bin Nufail, 'Sesungguhnya aku menemukan nafas al-Rahman dari sini'. Dengan isyarat yang menunjuk ke negeri Yaman. Masih dalam Jami’ al-Kabir, Imam al-Sayuthi meriwayatkan hadits marfu’ dari Amru ibnu Usbah , berkata Rasulullah saw, 'Sebaik-baiknya lelaki, lelaki ahlu Yaman'.
[7] Faktor lain yang menjadi pertimbangan Imam al-Muhajir hijrah ke Yaman dikarenakan masyarakat Yaman mempunyai hati yang suci dan tabiat yang lembut serta bumi yang penuh dengan keberkahan, sehingga Rasulullah saw memerintahkan hijrah ke negeri Yaman jika telah terjadi fitnah. dari Ibnu Abi al-Shoif dalam kitab Fadhoil al-Yaman, dari Abu Dzar al-Ghifari, Nabi saw bersabda, 'Kalau terjadi fitnah pergilah kamu ke negeri Yaman karena disana banyak terdapat keberkahan'.
[8] Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah al-Anshari, Nabi saw bersabda, 'Dua pertiga keberkahan dunia akan tertumpah ke negeri Yaman.
Barang siapa yang akan lari dari fitnah, pergilah ke negeri Yaman, Sesungguhnya di sana tempat beribadah'.
[9] Abu Said al-Khudri ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, 'Pergilah kalian ke Yaman jika terjadi fitnah, karena kaumnya mempunyai sifat kasih sayang dan buminya mempunyai keberkahan dan beribadat di dalamnya mendatangkan pahala yang banyak'.
[10] Abu Musa al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah saw, 'Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai-Nya dan mereka mencintai Allah. Bersabda Nabi saw : mereka adalah kaum mu Ya Abu Musa, orang-orang Yaman'. Ali bin Abi Thalib, Rasulullah saw bersabda, 'Siapa yang mencintai orang-orang Yaman berarti telah mencimtaiku, siapa yang membenci mereka berarti telah membenciku'.

Friday, December 24, 2010

FBM KLCI...MORE ECHOES ON SUPER BULL RUN

The three magical words of Super Bull Run seem to be hogging more limelight in the local investment world now.

Yet another article featuring some brokers...
http://www.btimes.com.my/Current_News/BTIMES/articles/MRT20/Article/

For perspective to the meaning of a Super Bull Run, a double-digit return can be only be considered as modest, more is possible... Of course, unlikely to be the case for blue-chips.

Wednesday, December 15, 2010

SURVIVING THE COMING HARD TIME !!

By Stanley Koh
COMMENT
It turns out that the government you voted in will not hold your hand to see you through hard times. Instead, it will make sure to add to your suffering because that is the easiest way it can avoid going bankrupt.
Barisan Nasional has apparently decided that the time has come to remove or cut subsidies — the kind of subsidies that poor people depend on, not the kind enjoyed by big corporations and monopolistic suppliers of utilities and infrastructural support.
So what is the use of a government that will eagerly shake your hand during election time but will not hesitate to pull the rug from under your feet when it needs to save itself?
Few believe that the removal of subsidies on essential food items and fuels can save the Malaysian government from possible bankruptcy. If it does go bankrupt, it will be because it has failed to cleanse a corrupt system.
It is better for Malaysians to be rich and to control a bankrupt government than to be poor and controlled by a corrupt government. Many countries have rich citizens with bankrupt governments.
You do not need an economist to tell you that RM100 in Malaysia today does not buy as much as it did last year.
In what we may call the Malaysian Misery Index, we can see that food prices have been spiralling upwards for years. For example, fresh tenggiri, which was RM13.23 a kilo in 1997, now costs RM40 a kilo. A roasted duck cost RM13.47 in 1997, but is now at least RM38. And Malaysians have become used to the doubling in price of some food items during festive seasons.
Most Malaysians do not expect the situation to improve. Food prices will continue to go up and there is little hope that they will come down again.
Two years ago, the BN government announced that it had set up a US$1.25 billion fund to increase food production and that it was targeting 100% self-sufficiency in rice consumption. What has happened to the fund and the target?
Double whammy
When the GST (goods and services tax) is fully implemented in 2011, it will be a double whammy for poor and middle-income households, pensioners, the unemployed and single parents.
Some have argued that imposing GST on Malaysian does not make much economic sense when only 6.8% of the population are taxpayers and a large majority earn low incomes. Furthermore, it is acknowledged that most of us are paying hidden taxes in highway tolls and electricity tariffs.
Indeed, the future looks bleak.
Yet, quite a number of us are gullible enough to think that the government will protect consumers. Are we not being stupid? Isn't it better to be wiser and brace for tougher times ahead?
Instead of believing the promises of a government that has a dismal performance record, we should believe the law of inflation, which says, “Whatever goes up will go up some more.”
Ronald Reagan once described inflation as a violent mugger, a threatening armed robber and a deadly hit man. In the Malaysian context, that is an apt description not of inflation, but of the BN government’s behaviour and policies.
So how do we fight the inflation of food prices?
Economists generally agree that the average Malaysian household spends about 75% of its income on food. Food price hikes will therefore have an adverse impact upon disposable income and force us to make a lifestyle change.
To fight inflation
Here are some of the things we can do:

- Stop eating at expensive restaurants.
- Boycott traders, hypermarkets and hawker stalls that charge unreasonable prices.
-Shop intelligently for value and do not be too impressed by branding.
-Work out a budget before buying. Look out for special sales.
- Prevent wastage by not buying more than you can eat.
- Tell friends and acquaintances about shops that charge excessively.
- Avoid buying expensive beverages or foodstuff and find alternatives for nutritional value.
- Boycott chained markets and fast-food joints. They are monopolised by a few large companies and can therefore raise prices at whim.
Perhaps economist Milton Friedman was right when he said, “If you put the federal government in charge of the Sahara desert, in five years there will be a shortage of sand.”
Malaysians do not take the official Consumer Price Index (CPI) seriously. They know it does not accurately reflect price rises in essential foodstuffs.
Many suspect that the government uses it as an instrument to deceive the public into thinking that things are hunky-dory when they are not. The government develops statistics so that the inflation-weary public would direct its hostility towards businesses, and not blame official mismanagement.
The average household consumption expenditure over the last 20 years has increased by 181.8%. In 1973, it was RM412. By 1993-94, it had gone up to RM1,161. In 1999, it touched RM1,631.
According to Prof Lim Teck Ghee, real household income has been growing, but at the snail-pace rate of 0.9% per year. More than half of the population are in the low-income category.
Today, a family of five spends 50% to 60% of household income on food compared with 20% in 1998 and 15% in 1988.
Not long ago, there was official acknowledgement that 95% of families are finding it hard to cope with the rise in food prices.
In fact, the biggest failure of the Ninth Malaysia Plan is that it did not help Malaysians improve their quality of living. Inflation, whether it is imported or locally generated, raises the cost of living and lowers the quality of living.
'Why not change the government?'
In 2006, when Najib Tun Razak was Deputy Prime Minister, he asked Malaysians to change their lifestyle in the face of the rising cost of living.
A blogger by the name of Chong wrote in response: “Perhaps, the prime minister should have done some simple calculations himself. People like us basically have no lifestyle, just merely surviving with our earnings. So how are we going to change (our lifestyle)?
“Inflation has gone up 4.5% (and above) and the government is pushing the cost of living higher by increasing electricity tariffs, but our income remains the same.”
Others felt it would be easier to change the government than to change a non-existent lifestyle.
“Instead of listening to Najib asking us to change,” one critic remarked, “why not we change the government at the next general election?”
To me, that makes a lot of sense. Any government that is willing to build air-conditioned toilets around a city at more than RM100,000 each has no business planning a national economy.
When such a government decides to cut subsidies, many of us will wonder whether the so-called “savings” will instead go towards more majestic arches, fanciful lampposts, refurbishments of VIP residences, luxurious government bungalows and fruitless overseas trips by ministers.
Any government that stands accused of having wasted RM320 billion in 20 years — through corruption, wastage and mismanagement — definitely does not deserve to be re-elected.
Stanley Koh was the head of research unit at MCA.

Saturday, December 11, 2010

GHOHING

Tengku Rahim Bin Tengku Othman atau Ghohing satu nama yang akan aku kenang. Seorang sahabat yang akan bersama didalam susah dan senang. Seorang yang sangat setia dalam berkawan. Semangat setiakawan ini adalah kekuatan dan kelemahan diri nya. Dia lah yang bertanggungjawab memperkenalkan Gayung Syed Hamid kepada aku.

Ghohing telah kembali ke rahmatullah pada tahun 2007 ketika berumur 42 tahun. Berita ini baru saja aku ketahui dari kiriman emel daripada seorang pengunjung blog ini yang juga merupakan anak saudara Ghohing. Terbayang masa-masa aku dan Ghohing bersama terutama di rumah sewa di Lorong Kiri, Keramat, Kuala Lumpur. Ghohing ketika remaja adalah peminat tegar Led Zepp dan Pink Floyd. Apa khabar yer dengan kawan-kawan kita di Kampung Ladang seperti Awang ARK, Shang Gemok (mungkin dah slim dan dah beranak pinak di Canada) dll..."aperkabo llening???"


Selamat jalan sahabat!
Nikmat dan rahmat dirasai.


Lagu kegemaran Ghohing!!. Hanya aku yang tahu kenapa lagu 'Shine On You Crazy Diamond' diletakkkan didalam posting 'Ghohing' ini.

Friday, December 10, 2010

TAUHID DAN MAKRIFAT

Hampir seminggu tidak di update kan blog ini, bermakna hampir seminggu aku tidak melayari internet. Dibaca tadi beberapa kiriman emel yang persoalan nya hampir sama iaitu mengenai bab mengenal diri.

Sebelum seseorang itu pergi jauh mengembara dalam bab tersebut, seseorang itu mesti membeza kan yang mana bab tauhid dan yang mana bab makrifat. Kelihatan ramai tidak dapat membeza kan antara kedua nya. Contoh nya Ana Al-Haq dari Al-Hallaj, apakah khalimah itu didalam bab tauhid atau bab makrifat? Kiranya tidak dapat membeza antara kedua nya, pasti akan timbul kekeliruan dan tidak berjumpa hujung pangkal nya. Ada yang tauhid nya masih goyang tapi perkataan makrifat sentiasa terpacul dari mulut nya.

Bila diberi Kitab contoh nya karangan Hamzah Fansuri kepada dua orang, seorang yang tidak dapat membezakan bab tauhid dan makrifat dan seorang lagi yang dapat membezakan bab tauhid dan makrifat, pasti kupasan kitab tersebut dari kedua orang ini berbeza. Seorang itu berguru dengan kitab atau manusia dan seorang lagi berguru dengan Tuhan sendiri. Kitab dan manusia tidak boleh mengajar makrifat.

Ramai yang membaca kitab-kitab dari Hamzah Fansuri, Ibn Arabi, Al-Hallaj, Rumi dll tidak lebih dalam kefahaman bab tauhid sahaja. Dikatakan Ana Al-Haq adalah bab tauhid yang tertinggi. Kalau lah tauhid tertinggi itu gagal di yakini, bagaimana ingin menyentuh bab makrifat yang membicarakan Qadim dan Muhaddas sifat Tuhan?

Friday, December 3, 2010

BAHAUDDIN WALAD

Muhammad ibn Husyain al-Khatibi alias Bahauddin Walad ialah seorang ulama terkenal di Balkh dan bergelar Sultan al-`Ulama. Ibu beliau ialah ahli keluarga raja Khwarizmi. Pada tahun 1210, beberapa tahun sebelum kerajaaan Khwarizmi ditakluk tentara Mongol, keluarga Rumi pindah ke Khurasan, kemudian Nisyapur. Pada ketika tentara Mongol menakluki kerajaan Khwarizmi pada tahun 1220 keluarga Rumi mengungsi ke Baghdad dan kemudian ke Mekkah. Dari Mekkah mereka pindah ke Damaskus, Syria, dan akhirnya menemui tempat tinggal yang selamat di Kunya, Turki.

Tidak diketahui secara pasti mengapa Bahauddin Walad dan keluarganya pindah dari Balkh, provinsi Parsi bahagian Timur, menuju Khurasan. Ada dua pendapat mengenai sebab-sebab keluarga itu mengungsi ke Barat: pertama ialah invasi tentara Mongol. Kedua, masalah politik dalaman kerajaan Khwarizmi.Menurut anlisis beberapa ahli sejarah pada masa itu raja Khwarizmi yang sangat berkuasa Muhammad Khwarazmisyah menentang Tariqat Kubrawiyah yang dipimpin oleh Bahauddin Walad.

Namun pendapat ini diragui karena pada waktu itu Bahauddin Walad mempunyai kedudukan yang tinggi dalam lingkungan kerajaan Khwarizmi. Para sufi sendiri berpendapat bahwa invansi Mongollah yang mendorong Bahauddin Walad pindah ke Khurasan, kemudian ke Nisyapur. Di Nisyapur keluarga Bahauddin Walad bertemu dengan Fariduddin `Attar. `Attar sangat terkesan pada Rumi yang pada waktu itu berusia 7 tahun, malahan `Attar meramalkan bahwa pada suatu ketika nanti Rumi akan menjadi seorang guru spiritual agung yang masyhur. `Attar memberi hadiah buku Asrar-namah (Kitab Rahsia Ketuhanan) kepada Rumi kecil.

Kedatangan Bahauddin Walad karena mendapat jemputan dari Sultan `Ala`uddin al-Kayqubad, penguasa Anatolia. Keluarga Bahauddin Walad tinggal mula-mula tinggal di Laranda selama 4 tahun pada tahun 1211-1215. Di Laranda Jalaluddin Rumi menikahi Jauhar Khatun, putri seorang ulama terkenal. Dari perkawinannya itu Rumi memperolehi anak lelaki yang kemudiannya masyhur sebagai seorang sufi dan pemimpin Tariqat Maulawiyah, iaitu Sultan Walad.

Pada tahun 1215 Sultan Kayqubad mengundang Bahauddin Walad tinggal di Kunya, ibukota kerajaan Anatolia. Pada waktu Kunya merupakan pusat kebudayaan Islam menggantikan peranan Baghdad yang pada tahun 1256 M diduduki dan dihancurkan oleh tentara Mongol di bawah pimpinan panglimanya Hulagu Khan. Sebagai pusat kebudayaan Kunya merupakan tempat pertemuan kebudayaan Barat dan Timur, serta pusat pertemuan berbagai agama khususnya Yahudi, Kristen dan Islam. Sebagai pusat pengajian ilmu Kunya menarik perhatian kaum cerdik cendekia dan pelajar dari berbagai-bagai negeri.. Selepas Baghdad ditaklukkan oleh tentara Mongol pimpinan Jengis Khan, banyak golongan terpelajar dari negeri Islam bahagian Timur mengungsi ke Kunya, sehingga kota ini segera berkembang menjadi pusat pengajian yang penting pada akhir abad ke-13 M. Di kota ini banyak sekali terdapat lembaga-lembaga pendidikan Islam dan Kristian. Penduduk Kunya, sebagaimana penduduk Anatolia (Turki), terdiri dari berbagai bangsa. Di kota ini dapat dijumpai banyak orang Arab, Parsi, Turk, Yunani, Armenia dan Kurdi.

Pada waktu Bahauddin Walad tiba di Kunya beliau mendapat sambutan hangat dari masyarakat Muslim. Dengan mendapat bantuan dari Sultan Kayqubad Bahauddin Walad mendirikan sebuah madrasah yang cukup besar. Dalam masa satu tahun ratusan murid berdatangan untuk belajar kepada ulama terkenal itu. Pada tahun 1331 M Bahauddin Walad meninggal dunia. Pengurusan madrasahnya dipegang oleh Jalaluddin Rumi yang baru berusia 24 tahun.

Di dalam buku Maarif, kumpulan tulisannya, Walad menuangkan pemikirannya tentang perbedaan agama:
Kau selalu kebingungan dan menghabiskan waktumu dengan berbagai pertanyaan tentang tentang takdir Tuhan, tentang perbedaan ajaran dalam berbagai
agama dan kepercayaan, tentang ketololan para pemuja api, tentang kebodohan
para penyembah berhala, dan seterusnya. Padahal, kau sendiri jarang menilai
dirimu. Apakah kau telah benar-benar mengenal Tuhan?

Lupakanlah perbedaan antar berbagai agama dan kepercayaan. Janganlah kau sibuk memperdebatkan berbagai cara peribadatan. Ikutilah jalan yang benar, yaitu jalan yang pernah dilalui oleh para Nabi. Itulah Jalan-Kerajaan-Ilahi yang terbentang dari timur sampai ke barat.

Jalan apa pun yang kaulalui adalah bagian dari Jalan-Kerajaan-Ilahi, dan pasti akan mengantarkan dirimu kepada Kebenaran. Jika kau tak menyadariadanya Jalan-Kerajaan-Ilahi ini, maka kau hanya akan berpura-pura mengikuti para Nabi,dan semakin jauh dari Kebenaran.

Orang-orang yang selalu memperdebatkan perbedaan ajaran antara berbagai
agama dan kepercayaan, hanya akan menimbulkan pertikaian dan kerusakan
di muka bumi. Batin mereka telah dibakar dengan doktrin-doktrin fanatik,
tetapi mereka akan hancur karena kepicikan pikiran mereka sendiri.

Lalu Walad menawarkan bahasa cinta yang menyejukkan, seperti setetes embun di padang gersang:

Hasrat terbesar di dalam diri para pecinta adalah untuk menyatu dengan Cinta Yang Lebih Luas, menyatu dengan gairah yang menggelorakan seluruh semesta,
menyatu dengan setiap bentuk yang ada dan larut bersama dalam tarian bahagia, dalam perayaan yang tiada akhirnya. Aku seperti seuntai benang yang dirajut oleh tangan-tangan kehidupan. Keberadaanku hanya bermakna, jika telah terajut bersama benang lainnya pada selembar selendang yang tersampir di pundak-Nya.

Jalan cinta Bahauddin Walad diteruskan oleh anaknya, Jalaluddin Rumi. Puisi-puisi Rumi juga khas karena memahami dunia dengan cinta. Seperti salah satu puisinya ini.

Cinta Maha Dasyat

Karena cinta duri menjadi mawar
Karena cinta cuka menjelma anggur segar
Karena cinta pentungan menjadi mahkota penawar
Karena cinta kemalangan menjadi keberuntungan
Karena cinta rumah penjara nampak bagaikan kedai mawar
Karena cinta timbunan debu kelihatan sebagai taman
Karena cinta api berkobar menjadi cahaya menyenangkan
Karena cinta Saytan berubah menjadi bidadari
Karena cinta batu keras menjadi lembut bagaikan mentega
Karena cinta duka menjadi riang gembira
Karena cinta hantu berubah menjadi malaikat
Karena cinta singa tidak menakutkan bagaikan tikus
Karena cinta sakit menjadi sihat
Karena cinta amarah berubah menjadi keramah-tamahan
------------------------------------------------------------------------------------------------------------