Sunday, November 7, 2010

SYARIF HADRAMAUT DAN ACEH

Seperti diketahui daerah pertama yang dimasuki Islam terletak di Pulau Sumatera, khususnya di bahagian Utara. Yang demikian itu dapat kita perhatikan pada bab dua hasil seminar di kota Medan bahawa Aceh adalah daerah pertama di Indonesia yang dimasuki Islam. Kitab-kitab Melayu menyebutkan bahawa raja muslim pertama yang memerintah Aceh adalah Jehan Syah pada tahun 1205M. Ia bukan penduduk asli negeri tersebut, melainkan datang dari luar dan menikah dengan penduduk asli. Lalu mereka menerimanya sebagai raja.

Syarif Hadramaut yang termasuk pertama datang ke Aceh adalah Syarif Ahmad bin Muhammad bin Abu Bakar Asy-Syili. Kerajaan Aceh memuliakannya pada masa itu dan salah seorang menterinya menikahkannya dengan seorang anak gadisnya. Lalu ia tinggal dan mempunyai keturunan disana. Sebelum itu telah ada beberapa orang syarif Hadramaut yang telah memasuki Aceh. Diantara mereka adalah Syarif Abu Bakar bin Hussein yang wafat pada 1000M. Juga Syarif Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Alwi Asy-Syathiri. Pada masanya banyak yang masuk ke Aceh dan tersebar disana pada awal abad ke sebelas. Kurang lebih pada masa yang sama Syarif Ali bin Umar bin Ali Ba'mar masuk ke pulau Jawa, lalu menyebarkan dakwah Islamiyah disana. Sayid Ibrahim yang dikuburkan di Gresik dan ditangannya penduduk Jawa memeluk Islam juga dari kalangan Alawiyin.

Dimana pangkal sejarah nasab yang dikarang oleh Abul Hasan Ali bin Abu Bakar bin Syeikh As-Saqqaf yang bernama ‘Al-Jawahir As-Saniyyah fi nasabah Al-‘Itrah Al-Husainiyyah’ yang dikumpulkan dan diperbaiki setelah itu oleh Sayid Ali bin Ahmad bin Ali bin Hasan Abu Jabhat dan yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Tajul-Ariffin Zainal Abidin Al-Aydrus???

Memang sejarah nasab yang sebelumnya diterbitkan oleh Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus disangka hilang. Tetapi kemudian dijumpai oleh Sayid Abdurrahman bin Syeikh Al-Kaff. Selain itu terdapat satu naskah yang berharga yang didapatkannya pada koleksi Syarif Alawiyin dari kalangan Al-Aydrus di India. Didalamnya disebutkan tentang banyak orang yang pindah dari Hadramaut dari kalangan para syarif.

Disamping itu disebutkan dalam kitab ‘Al-Masyra’ Al-Rawi’ sejumlah nama ulama syarif Alawiyin Hadramaut yang masuk ke Indonesia beberapa abad sebelum kedatangan Belanda, khususnya ke daerah Aceh. Diantara yang terkenal adalah Syarif Hashim yang memainkan peranan yang penting dalam peperangan yang terkenal dengan perang Bugis sebelum penjajah Belanda dan yang lainnya menduduki Indonesia. Keluarga Hashim adalah termasuk dari kalangan Syarif Alawiyin ‘Aal Ammul Faqih Al-Muqaddam’ bin Shohib Mirbath dari Zhufar. Banyak terdapat dari mereka di daerah Banjar, Pulau Kalimantan dan di Sri Lanka.

Nasab mereka berpangkal kepada Syarif Hasyim bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi yang dikenal dengan 'Ammul Faqih'. Ada orang yang lebih dahulu dari mereka masuk ke Aceh iaitu Sayid Hashim bin Muhammad( yang wafat pada tahun 678H) bin Abdullah bin Mubarak bin Abdullah(yang wafat tahun 884H) bin Muhammad bin Abdullah Ra 'Alawi.

Didaerah Aceh ada beberapa pemakaman yang terdiri dari banyak makam Syarif Alawiyin. Ada sejumlah sultan dari kalangan syarif yang memegang pemerintahan di daerah itu yang dikenal oleh penduduknya sampai sekarang dengan sebutan 'Habib' yang merupakan kata yang digunakan untuk setiap orang Arab dari kalangan Syarif.

Di daerah itu didapati kuburan beberapa sultan dan raja, diantaranya kubur Al-Malik Al-Kamil yang memerintah Aceh. Kemudian setelah itu Al-Malik Ash-Sholih yang menggantikannya di kampung Blang Mey dengan kuburan-kuburan lain yang banyak. Pada batu nisan sebahagian kubur itu terdapat tulisan-tulisan yang dipahat, sebahagiannya dari marmar, sebahagian lagi dari batu granit.

Diatas kubur Al-Malik Al-Kamil tertulis keterangan bahwa ia wafat pada Ahad 7 Jamadil Ula 607H bertepatan dengan 1210M. Juga terdapat kubur sepupunya seorang panglima dimana penduduk daerah Kayu dan daerah-daerah yang terletak disebelah Barat Sumatera masuk Islam melalui perantaraan, iaitu Al-Malik Ash-Shalih yang wafat pada 8 Ramadhan 696H bertepatan dengan 1296M. Diantara yang tertulis diatas kuburnya adalah kalimat-kalimat berikut :

Sesungguhnya dunia itu fana, tidak ada yang tetap didunia
Sesungguhnya dunia itu bagaikan rumah, yang dibuat laba-laba
Cukuplah bagimu wahai penuntut ilmu, makanan darinya
Yang sedikit saja, karena setiap yang berada didunia akan mati

Setelah ia wafat yang memegang pemerintahan adalah anaknya, Sultan Muhammad Ash-Zahir yang wafat pada malam Ahad 12 Zulhijjah 726H/1325M. Setelah Sultan Muhammad Ash-Zahir wafat yang memerintah Sultan Ahmad bin Muhammad Ash-Zahir. Ia wafat pada Jumaat 4 Jamadil Akhir 809H/1407M. Setelah itu yang memegang pemerintahan adalah Ali Zainal Abidin, kemudian saudara kandungnya Shalahuddin, kemudian Abdullah bin Shalahuddin dan isterinya iaitu Ratu Bahiyyah binti Zainal Abidin yang wafat 811H/1408M, kemudian saudaranya Johan Parabu yang wafay pada 848H/1444M dan lain-lain.

Dari keluarga-keluarga Al-Alawiyah lah berasal keturunan raja-raja Brunei, Carmen, Serawak, Sulu, Cebu, Mindanao, Kanawi sebagaimana yang disebut oleh Dr. Najeeb Shaliby pada fasal menerangkan tentang kumpulan pulau-pulau yang jumlah nya mencapai 1700 pulau dan juga menyebutkan perbatasan-perbatasan negeri.


Sumber :
Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus
Pengajar Sejarah di Universiti Uni Emirat Arab
Buku : Penyebaran Islam di Asia Tenggara 'Asyraf Hadhramaut dan peranannya'
Cetakan kedua 1997
----------------------------------------------
























Sayid Abdurrahman Az-Zahir

Perang Aceh
Diantara peperangan melawan Belanda dalam abad XIX itu, Perang Aceh merupakan peperangan yang paling lama dan dahsyat, dari tahun 1873-1903, tidak kurang dari 30 tahun. Dalam Perang Aceh ini beberapa nama menjadi sangat terkenal sebagai pahlawan penentang penjajahan Belanda seperti Tengku Umar, Panglima Polim, Cut Nya Din dan banyak nama Aceh lainnya. Terdapat beberapa orang dari keturunan Syarif Hadramaut diantara para pemimpin Perang Aceh itu yang kurang diketahui umum.

Nama yang disebut oleh Snouck Hurgronje, antara lain adalah Habib Tengku Teupin Wan. Nama-nama lain yang berketurunan sama yang disebutnya adalah Habib Long, Habib Samalanga dan sebagainya. Tetapi, kata Snouck, yang paling terkenal diantara pemimpin Perang Aceh adalah Habib Abdurrahman (gambar diatas) yang lahir di Aceh dari Teupin Wan dekat Lamjong. Kemunculan Habib Abdurrahman paling membimbangkan, kata Snouck. Habib ini juga dikenali sebagai Habib Itam atau Abdurrahman Teupin Wan. Dia diakui sebagai pemimpin tertinggi orang Aceh. Dibawah nya dibarisi beberapa pemimpin terpenting seperti Tengku Id, Tengku Abas, Tjut Rang, Imam Saidi dari Lambaro, Tengku Soepi putra Tengku di Langgaet dan sebagainya.