Tuesday, August 28, 2012

BAB SEJATI NYA WANITA

Manuskrip Jawa (terjermahan) :
Perdebatan Dewi Sulasikin dengan Seh Madal didalam bab Sejati nya Wanita
Daripada Alang Kumitir 





Pupuh I
Dhandhanggula
Bismillahirrahmanirrahim
1 Berdiam diri yang sedang laku prihatin, Ki Seh Madal tadi yang diceritakan, terlunta-lunta perjalanannya, keluar masuk hutan yang lebat, dan tidak ada tujuan dalam hatinya, selalu wira-wiri, dalam perjalanan, kalau siyang kepanasan, kalau hujan Ki Seh Madal basah karena air, selalu terlunta-lunta.

2 Perjalanannya sudah sangat lama, Ki Seh Madal tidak ada keinginan, nasi beserta airnya, yang ia selalu dibawa, hendak minum air, meminta di sepanjang jalan, tidak mendapatkan air, bahasanya yang diminta, kamu mintalah kepada Dewi Sulasikin, itu yang kaya akan air.

3 Diceritakan Dewi Sulasikin, ketika pagi hari keluar semua mengahadap, empat puluh abdinya, semua cantik-cantik, seperti bintang bersinar di tanah, yang merupakan bulan, sang kusuma putri, busananya hanya biasa, kain yang dipakai bermotif wulung, kemben raja asmara.

4 Berkata Dewi Sulasikin, saya tadi malam bermimpi, kelihatannya itu seperti ini, lama sekali saya duduk, saya melihat ular tampar, lama-lama ular itu, dapat berubah besar, berdiri ular itu, seperti melilit tubuhku, saya lalu di telannya.

5 Pengasuh (pelayan) berkata lembut, iya gusti yang menyerupai ular, sebenarnya akan menjadi jodoh tuan putri, tersenyum sang raja putri, itu sudah menjadi kehendak saya, nanti apabila saya menikah, pasti memilih laki-laki, yang tidak suka kepada harta benda, keinginanku dari dunia hingga akhirat, dan orang menikah hanya sekali.

6 Pengasuh (pelayan) berkata sambil menyembah, kalau diperbolehkan gusti saya minta, Ratu Bardangin saja, tersenyum sang kusuma putri, bukan itu yang saya inginkan, benar menurut dirimu, rupanya tampan, itu akan jadi racun, sebenarnya tidak dapat dijadikan guru, itu sebagai penghalang.

7 Para abdi beserta sang dewi, sedang asik bercengkrama, tiba-tiba kedatangan, Kyai santri yang datang, meminta air dan berdiam sejenak, sang santri sudah tuwa, warnanya sangat kumel, dan memakai tokat kayu jelek, lantas duduk dan jawabnya meminta air, tersenyum sang kusuma putri.

8 Itu siapa yang meminta air, pelayan coba tanyakan, semua abdi mendatangi, ada yang membawa kayu, dan ada yang membawa tongkat/cambuk, ada yang membawa gelagah (rumput yang tinggi), semua ramai bertanya,  kakek kamu minta apa, menjawab orang tua tersebut saya ini santri, hendak meminta air.

9 Semua abdi serentak menjawab, kakek kamu apa kekurangan air, diluar sana ada air, Ki Seh Madal berkata, saya tadi meminta diluar, berpindah-pindah tidak mendapatkan, tidak menpunyai air, disuruh meminta kepada sang putri, kaya air yaitu Dewi Sulasikin, saya segara pergi.
10 Berkatalah Dewi Sulasikin, cepatlah kamu kasih air, kasihan sekali kamu, kakek siapa namamu, serta dimana rumahmu, saya Ki Seh Madal, rumah saya di gunung, silahkan kamu masuk, Ki Seh Madal berbicara dalam hati, kelihatannya seperti siapa.

11 Ki Seh Madal ucapnya pelan, orang gunung tidak dapat duduk bersila, ratu mas disini saja, iya sang putri cantik, segera berganti busana yang bagus, serba kelihatan air mata, sang putri cantik, berkata kepada para abdi, ambilkan kursi segera, dua ketiga meja.

12 Ki Seh Madal dipersilahkan duduk, sejajar dengan sang kusuma putri, duduk dikursi sendiri-sendiri, mejanya berada didepan, dan makanan semua telah tersedia, iya sang kusuma rara, ucapannya lembut, ki tamu silahkan dimakan, makanan mana yang kamu sukai, sedangkan badan saya.

13 Ibarat seperti sarah hanyut, siapa yang bisa memberikan pakaian ragaku, sungguh akan jadi jodohku, Ki Seh Madal berkata, saya bersedia tuan putri, saya duduk sejajar, dengan sang putri, saya ini orang yang nista, jika saya menulari, kepada sang putri.

14 Berkata Dewi Sulasiki, tidak kakek silahkan duduk, kalau kamu tidak suka nanti, terus apa kekurangannya, tikarnya sudah saya bayar, kenapa tidak mau duduk, kakek itu tamu, kalau tetap tidak mau duduk, apa tujuan kakek datang kesini, apa saya hancurkan biar letih.

15 Ki Seh Madal barkata dengan lembut, orang gunung tidak bisa duduk bersila, ratu mas saya disini saja, Ki Madal berkata lagi, saya sangat takut duduk sejajar, kembali raja putri, yang berupa air, itu air apa, menjawab Dewi Sulasikin, bukan air dari mata air.

16 Ki Seh Madal berbicara dalam hati, anak ini memang sangat layak, aslinya memang sangat cantik wajahnya, dan bagus tata bahasanya, segala tingkahnya menarik hati, saya duga pasti sang raja putri, kalau dikehendaki, sebenarnya pasti menyerah, sang putri sesuka-sukanya berkehendak, sedangkan saya orang yang sudah tuwa.

17 Ki Seh Madal lama terdiam, dan selalu berbicara dalam hati, di bolak-balik pemikirannya, susah benar hati saya, anak ini apabila saya kasih tahu, kawruh (pengetahuan) saya yang sebenarnya, pasti di kemudian hari, di dunia sampai akherat, anak ini pasti akan jadi penghalang, ini sang raja putri.

18 Ki Seh Madal ucapnya lembut, benar itu jangan sampai kering, sebenarnya dirimu itu, sifat jalal itu, yang berupa air itu, merupakan asal kejadianmu, Ni mas sang raja putri, jadi otot gelang-gelang, iya daging sifatnya Allah sebenarnya, sang dyah mengusap sang raja.

Pupuh II
Sinom
1.Sang raja putri yang cantik, berbicara didalam hati, ini cuma wujudnya saja, yang dapat saya ikuti, dan semoga bisa sampai akhir, sang putri ucapnya pelan, iya kyai, saya akan bertanya lagi, tunjukkan sebenarnya yang disebut wanita.   
2.Ki Seh Madal ucapnya, sang putri yang jelita, susah sebenarnya wanita, pendapat saya gusti, kalau sampai silahkan, kalau tidak sampai juga tidak masalah, hanya lafal bissmillah, sebenarnya laki-laki dan perempuan, tersenyum putri dari Pawah.
3.Saya belum paham, iya tuwan (saya) akan bertanya kembali, di mana yang murah di dunia ini, tuwan saya ingin mengetahui, yang ada wujudnya, kalau tidak ada jadi rugi, kalau yakin pasti ada, Ki Seh Madal menjawab, iya anakku besok hari jum’at.
4.Berkata sang putri jelita, iya tuwan akan saya tunggu, kembali yang mencintai akherat, tuwan saya ingin mengetahui, serta sejatinya perempuan, tuwan saya ingin mengetahui, rupa yang sebenarnya, Ki Seh Madal menjawab, iya Ni Mas besuk pada hari jum’at.
5.Bertanya kembali sang putri, tuwan saya ingin mengetahui, dimana tuwan yang menjaga, di alam tunjukkanlah saya, serta sejatinya perempuan, Ki Seh Madal ucapnya, besok hari jum’at, sang putri bertanya kembali, di mana tuwan puji yang tidak pernah putus.
6.Serta yang mencintai Muhammad, tuwan saya ing mengetahui, Ki Seh Madal ucapnya, besok saja jadi satu, pada hari anggara kasih, semua saya jelaskan, jika sang putri, meminta ada disini, yaitu wilayahnya ilmu rasa.
7.Kalau terdengar yang membaca, akibatnya memalukan, itu kumpulnya alam, empat alam jadi satu, arwah dan insan kamil, alam ajesam itu, kemudian alam misal, bersatu sejatinya perempuan, makam empat itu juga demikian.
8.Makam baka yang pertama, makam jamal yang kedua, bersatu keduanya itu, makam PAREK itu lagi, itu sejatinya perempuan, namun itu hanya isyarat, makam jami’ul jamak, makam jamak yang mengusai, ya itu tuwan sejati laki-laki.
9.Bila gusti merasakan, martabat itu gusti, martabat ketujuh itu, yang kadim hannya tiga, yang empat semuanya baru, berkata sang putri terkasih, yang kadim dan yang baru, Ki Seh Madal anauri, perbedaanya pada sifat dua puluh.
10.Yang terdapat di akhidiyat, itu wujud nimas putri, martabatnya itu Dzat, sedangkan ilmu itu, martabat sifat gusti, hakekat kalimahnya, wahidiyat itu, nur merupakan martabatnya sang putri, iya asama (nama) martabat tarekatnya.
11.Yaitu yang ketiga, yang berada pada martabat kadim, berkata sang kusuma ayu, tuwan saya ing mengetahui, wujudnya satu persatu, tuwan saya ingin mengetahui, Ki Seh Madal itu, aduh pujaanku gusti, besuk saja jangan mendesak nanti ada yang mendengar ketika diucapkan.
12.Sedangkan yang baru, yang berada di syariat gusti, alam arwah yang pertama, itu martabatnya gusti, af’al itu namanya, syariat kalimahnya, yang berada sir (hati) api, yang mempunyai ruh nabati, aluamah nafsunya syariat.
13.Jalannya selalu api, sifatnya kahar, artinya api itu, bukan api yang bisa mati, sifat kahar itu, artinya api itu, iya jadinya seperti, jadi iman dengan tauhid, dan makrifat yang keempat Islam.   
14.Dzikirnya Allah taala, sifatnya dua puluh gusti, yaitu sifat kadiran, muridan ngaliman itu, hayat wahdaniyat, menyebar menjadi beribu-ribu, serta yang seperti angin, bukan angin yang seperti di dunia ini, tempatnya pada sifat dua puluh.
15.Itulah kodrat iradat, sang putri berkata lembut, saya ingin mengetahui, iradanya dimana, tersenyum didalam hati, Ki Seh Madal tertawa tersengal-sengal, tuan putri saya sudah tuwa, saya malu untuk menjalani, orang yang  sudah tuwa (jangan disuruh) memakai caranya anak muda.
16.Bertanya kembali sang putri, saya mau bertanya lagi, iya benar empat alam, hasilnya belum tahu, Ki Seh Madal menjawab, alam insan kamil itu, jadi ratunya sifat, menguasai dua sifat, yaitu ratunya semua sifat.
17.Sedangkan alam arwah, menjadi ratu tersendiri, memerintah semua rasul (utusan), alam misal yang menguasai, alam misal itu, dengan ajesam itu, mengusai alam misal, alam misal menguasai, itu nimas yang disebut alam ajesam.
18.Itu berdiri menjadi raja, menguasai semua alam, memerintah semua ilmu (kawruh), alam missal yang mengusai, bertanya lagi sang dewi, mana tuan wujudnya, saya ingin mengetahui, wujudnya satu persatu, keempat alam apa ada perbedaannya.
19.Ki Seh Madal berkata, susah benar kamu tuan putri, besok pada hari jum’at saja, wahai jelita nanti saya ajari, terburu lupa nanti yang baca, semua abdi sudah tidur, bertanya lagi sang putri, iya tuwan saya tunggu, kembali tuwan saya ini putranya siapa.
20.Ki Seh Madal pelan berucap, sang putri yang jelita, merupakan anak dari seorang raja, sungguh benar seorang raja putri, sejatinya kamu ini, kodratullah yang diturunkan, berkata sang putri, walaupun demikian juga, saya selalu berdoa namun tidak mempunyai anak.
21.Berkatalah Ki Seh Madal, lepas juga ketampananya gusti, keturunannya bapakmu, hanya dua macam, yang pertama itu mani, madi yang keduanya, sedangkan keturunan dari ibumu, yang pertama itu wadi, yang kedua manikem nimas namanya.
22.Sesudah diturunkan didunia, yang (namanya) manikem jadi darah, wadi menjadi, yaitu jadi ari-ari, sedangkan mani, itu keturunan dari bapakmu, itu jadinya kawah (air ketuban), sedangkan yang (namanya) madi, yaitu menjadi bungkus bayi.
23.Bertanya kembali sang putri, darah dan ari-ari, saya mohon penjelasan, wujudnya satu persatu, wujud yang sebenarnya, tuwan saya ingin mengetahui, walaupun itu keturunan dari bapak, bungkus kawah itu, tunjukkan waujudnya setelah didunia.
24.Ki Seh Madal berkata, darah dan ari-ari, apa kebiasaan orang tidur, laki-laki berada diatas, waulupun keturunan dari gusti, pasti kalau terbang keatas, keturunan dari ibumu, apa kebiasaan yang pertama, berada dibawah tidak bisa terbang (berkelana).
25.Bertanya lagi sang putri, ari-ari jadi apa, saya ingin tahu, serta jadinya darah, wujudnya yang sekarang, tuwan saya ingin mengetahui, jadinya kawah, kalau tidak mengerti percuma, jadi haram di dunia sampai akhirat.

Pupuh III
Asmaradana
1.Itu ilmu (kawruh) yang sudah jadi, kenyataan ilmu itu, bukan johar jisim sekarang, bukan nyawa bukan suksma, dan bukan hidupmu, dan kamu harus waspada pada ilmu, syahadatmu sedang tidak ada.
2.Bergurulah yang benar, sedangkan kamu tanpa bapak, serta tanpa ibu sekarang, itu yang disebut syahadat, syahadatmu ketika tidak ada, serta ucapanmu, itu yang disebut syahadat.
3.Dan tempatmu dahulu, harus kamu tanyakan kepada guru, tiada berbeda jangan salah melihat, sebab waktumu ada, lihatlah dengan sesungguhnya, itu pengetahuanku, pembelajaranku padamu.
4.Itu gaibnya orang yang bersungguh-sunguh, sabda (kata) ini dilarang, sungguh kamu adalah tuwan saya, itu harus hati-hati, dan gaibnya pandhita (orang suci), lebih baik bergurulah, yang tepat dan berhati-hati.
5.Apalagi yang disebut jisim, jisim itu disebut syahadat, dan suksmalah itu sekarang, didalam sifatmu ketika belum ada, itu harus kamu ketahui, lihatlah dengan sebenarnya, itu pesannya orang suci (pandhita).
6.Janganlah kamu menghitung jisim, jangan takluk pada lagu, serta pada sifatnya sekarang, jangan kamu mengucap iman, tauhid serta makrifat, itu keliru besar, takluk pada Dzat dan sifat.
7.Sebelum kamu tanpa jisim, waspadalah kamu pada penglihatan, ketahuilah saat sekarang, itu bertapa (tirakat) pada kehidupan, sempurnanya mati (meninggal), serta tanpa jasad ini, itu tanyakanlah pada ahlinya.
8.Itu gaibnya orang punya kelebihan, dan disuruh waspada pada perbuatan, memilih yang yang dari sana, carilah yang sengguhnya, bila perlu bergurulah, sebenarnya waspada terhadap ilmu (kawruh), yang disebut syahadat sakarat.
9.Bila hendak mengetahui semua, kembalikanlah penglihatanmu, ketika dalam keadaan sekarang, didalam perut ibumu, doamu dahulu, disebut syahadat itu, apakah  sandang panganmu (kebutuhan hidup jasmani).
10.Itu yang disebut kawruh (pengetahuan), sebaiknya ketahuilah, yang disebut hari gaib, waspada (serta) bergurulah (tanyakan pada ahlinya), pesan (tanda-tanda) dari Pandhita (orang suci), harus sempurna kewaspadaanmu,segala tikah/gerak orang sembahyang.
11.Jika waspada pada petunjuk ini, tidak mengetahui di dalam  sholat, serta syahadat sakaratnya, tidak mengetahui di dalam sembah, itu semua tanyakan, jika sudah waspada disitu, kembalilhah sebelum menginginkan.
12.Mampirlah di jalan yang syirik, jauhkanlah jalan yang salah, selamatlah selamanya, waspadalah pada arah tujuanmu, yaitu tempatmu, yaitu saling memperhatikan, sebelum  badan (ini) bernyawa.
13.Dan dimanakah yang melihat, bukanlah nafsumu, kamu tanyakan pada ahlinya sekarang, sholat daim pelajari hukumnya, bila kamu tidak mengerti tanyakanlah, ketika masih anak-anak kamu itu,  yaitu pengetahuanmu (kawruhmu)
14.Telitilah suluk ini, ingatlah pada yang utama,  menyerahkan pada matinya, waspadalah kamu dalam melihat, sejatinya sempurna, perhatikan supaya ketemu, mana nyawa dan mana suksma.
15.Ibaratnya berlian yang bagus, pengikatmu juga berlian, jika emas itu pengikatnya, kurang bagus berlianya, sebenarnya badan/raga, yang (merupakan) berlian umpamanya, itu sederajat (dengan) sukma.
16.Jika emas sederajat (dengan) jisim, sedangkan berlian itu sebenarnya, badan/raga sejati hidupnya, dan tidak dengan nyawa, mengucap tanpa lidah, mendengar tanpa telingan, melihat tidak dengan mata.
17.Sedangkan jisim ini, dibuat (untuk) pengikat yang Muliya, itu nanti bercahaya, dan ingatlah di dalam batin, sejatinya badan/raga, pengikatmu yang baik sekali,  untuk pengikat yang terbaik.
18.Jika mengetahui dua cara,  siapa yang akan berdusta, yang tunggal di dalam kawruhnya/pengetahuannya, yang meliwati para utusan, tingkahnya suksma itu, disebut bêstu (nyata), hidupnya diakui Allah.
19.Sedangkan antaranya kamu yang polah dan yang bertingkah, tiada bedanya sekarang, tidak pisah  dan nyata tidak berkumpul, merepokat ikhtiarmu, jika telah sampai disitu, sebenarnya sangat gaib sekali.


Pupuh IV
Sinom

1.Yang pasti dilarang, tidak mudah dibuat gampang (disepelekan), sedangkan kamu sudah waspada, jika sudah sampai pada larangan, anugrahnya Hyang Widi, yang sudah waspada pada kawruh (pengetahuan/ilmu), rasanya itu satu,  menyatu dengan hidup (dan) menyatu dengan mati, menyatu dengan wujud Muhammad yaiku Allah.
2.Bersatunya keduanya bersatu, bersatunya masih ada dua, Muhammad yaitu Allah, Allah Muhammad sejati, luar dalam tidak kelihatan, Muhammad hilang tidak kelihatan, terhalangi sifat kidam, kembali seperti sediakala, yaitu sempurnanya sembah puji.
3.Maka dari itu jagalah, ucapan yang dilarang ini, tidak boleh diucapkan, tanpa merasa Nini, itu syahadat sejati, sempurnanya terletak pada penglihatan, melihat yang sesungguhnya, yaitu sempurnanya rasanya Dzat.
4.Dan hanya pada santri itu, sungguh padangannya tidak terpengaruh, keduanya itu jadi syahadat, tidak mengetahui letaknya sembah, tidak tahu Pangeran ini, yang disembah sudah pasti kosong, berlebihan dalam menyembah, dalam sunyi hidup keduanya, tekadnya sangat keliru sekali.
5.Di percaya aksara itu, dipercaya dan tidak goyah, syahadanya sangat keliru, diyakini kabar yang tertulis, mudah sekali dalam berbakti, setiap penglihatanya jadi puji jadi sembah.
6.Lahirnya yang kelihatan, Muhammad dengan Hyang Widi (Tuhan), dilihat akrab seperti diawasi, ibarat kaca berisi hiasan emas yang indah, luar dalam kelihatan, hilang kacanya kelihatan, terhalangi manisnya itu, yang melihat dengan sebenarnya, hilang Muhammad terhalangi suksma.
7.Didalam batin Muhammad, ya Muhammad lair batin, ya Allah batinnya (yang) nyata, iya batin iya lahir, ibarat ombaknya samudra, tunggal adanya air, iya tidak boleh mati, tidak mati tidak boleh mati, hidup itu menghidupi yang mati.
8.Itu kamu harus waspada, harus bisa  menerima, jangan kamu sombong, diperjelas kamu mengetahui, itu yang disebut ilmu (kawruh), yaitu yang disebut rasul, kekasihnya Hyang Suksma, sebenarnya yang lebih, yaitu yang diaku utusanya Hyang (Allah).
9.Tidak jelas asalnya, menyembahnya tidak tulus, sebenar-benarnya penglihatan, yang kufur tidak ada yang ketinggalan, sembah pujinya sudah habis, adanya hilang tak berbekas.
10.Sebenarnya kafir yang nyata, kafir luhur sebenarnya, artinya kafir itu, tidak melihat keduanya, tidak mengetahui lainnya, adanya hamba itu, hancur tidak terhitung, sudah habis tidak ada yang tertinggal, terhalang adanya kamu didalam dzatullah.
11.Sempurnanya pada penglihatan, yang nyata dan kafir, serta musyrik itu, kosong mlopong sebenarnya, yang dari Allah, itu yang merupakan ucapan, artinya, kufur itu, serta kafir harus diketahui, bila kamu tidak tahu sedang bersalaman.

                                                                          Pupuh V
Dhandhanggula
1.Jika demikian diterima juga, jika kamu tanpa guru suka dipuji, jangan menyanggupi (itu) banyak jeleknya, ketahuilah semuanya, mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, dan jadinya sakarat, lima jumlahnya, pasti ketemu semua, orang sakarat jika kamu melihat, didalam kelima cahaya.
2.Dan telah habis janjinya, bila belum melihat, kelima cahaya jumlahnya, masih panjang umurnya, cahaya yang berwana-warni, hitam merah dan kuning, hijau putih itu, jika telah melihat cahaya, yang hitam cepatlah kamu membaca, lailaha ilallah.
3.Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasulullah, Nabi Muhammad sebenarnya, utusannya Allah, cahaya yang hitam itu, sebenarnya cahayanya setan, jika kamu melihat, pada cahaya yang merah, itu cahayanya setan mardudi, segara kamu membaca.
4.Lailaha ilallaha lagi, ya Allahu, artinya demikian, tidak ada Tuhan lagi, hanya Allah yang Agung, ya Pangeran saya yang sebenarnya, jika kamu melhat, cahaya yang berwarna kuning, itu cahayanya setan, yang disebut setan nasrani, segera kamu membaca.
5.Lailaha illahu lagi uhu itu artinya demikian, tidak ada Tuhan lagi, hanya Allah yang Agung, Pangeran saya yang sebenarnya, jika kamu melihat, hijau cahayanya, itu yang memiliki cahaya, Jibril segera kamu mambaca, seperti ini bacaannya.
6.Ya taqoballahu dan lagi, uhu itu arti yang sebenarnya, semoga nanti menerima, Allah Kang Maha Agung, ya Allah Yang Maha Suci, uhu yang ketiga, artinya itu, uhu yang mengusai alam semesta, yang menciptakan seluruh makhluk, sendiri tanpa pembantu.
7.Jika ingat syahadat ini, ketika cayaha hitam datang, orang mukmin pasik (tak beragama) sebutannya, jika lupa orang itu, pada syahadat yang diucapkan pertama kali (dahulu), kitika cahaya hitam datang, kafir matinya, disebut kafir jahiliyah, sesekali perbanyaklah dzikirnya, memusatkan pikiran pada Hyang Suksma.
8.Jika ingat syahadat bersamaan, cahaya merah orang yang mati (disebut) mukmin ngam (asal-asalan), jika lupa pada syadatnya, yang terucap itu, jadi mati kafir yahudi, harus berhati-hati, orang Islam itu, diperbanyak membaca sholawat, jika ingat syahadat itu sungguh-sungguh, cahaya kuning kelihatan.
9.Yaitu matinya orang mukmin, jika lupa pada syahadatnya, syahadat yang diucapkan, mati kafir orang itu, kafirnya disebut nasrani, kamu harus berhati-hati, jangan lupa itu, kepada Allah Nabi Muhammad, jika ingat syahadat (maka) cahaya hijau, yaitu yang dimanakan.
10.Mukmin kasusulan matinya nanti, jika lupa pada syahadatnya, yang terucap adalah, mati kafir orang itu, kafir namanya, makanya harus berhati-hati, jangan mudah menyerah, kenikmatan di dunia, membuat lupa semua untuk menyembah, yang wajib dan sunahnya ditinggal.
11.Jika kamu nanti melihat, pada cahaya yang sangat putih, nur Muhammad itu namanya, segaralah membaca, hu hu adinda artinya, ya hu ya hu ya Allah, ya Muhammad Rasul, itu cahaya yang sangat indah, sesekali peganglah kuat-kuat adinda, itu mati utama.
12.Jika ada orang meninggal, melihat cahaya sangat putih, lebih utama matinya, ingat-ingatlah itu, pada syahadat yang diucapkan dahulu, sebabnya demikian, wajib yang sesungguhnya, dan itu yang sebenarnya adinda, sudah dipastikan oleh Nabi yang dua ribu, serta dua puluh empat tambahnya.

Pupuh VI
Asmaradana
1.Jika kamu menyembak dan memuji, pujinya diperuntukkan siapa, jika diperuntukkan kepada Pangeran, dia tidak berwarna dan berupa, jika tidak diperuntukkan, tiada guna sembahnya, lebih baik tidak memuji.
2.Jika memberikan puji, kepada Allah semata, bukan kepada yang menyerupai, dan itula yang menguasai, dan berkuasa pada dirimu, ketahuilah asalnya, yang menyembah dan yang disembah.
3.Puji/doa siapa yang mempunyai, dan puji-pujinya Allah, kawula (umat) tidak memiliki, kawula tidak berkuwasa, serta perbuatanmu, dan semua badan/raga seluruhnya, hanya Allah yang membuat.
4.Manakah yang disebut sembah puji, artinya puji itu, anugrah sebenarnya, yang diberikan kepada hambanya, manakah yang disebut anugrah, yaitu hidup artinya, ya hidup-hidupnya siapa.
5.Jika hidupnya Hyang Widi, tidak hidup dengan nyawa, artinya nyawa yang susungguhnya, yang diberikan kepada hambanya, yang disebut anugrah, artinya anugrah itu, yaitu hidupnya manusia.
6.Manakah artinya hidup, orang hidup harus mengetahui, berterimakasihlah yang tulus, susah yang namanya hidup, artinya hidup itu, berhati-hati pada tiga hal, iman tauhid dan makrifat.
7.Artinya iman dan tauhid, iman itu harus percaya, percaya kepada Pangeran, artinya Allah itu, Yang Agung Maha Muliya, bukan dua atau tiga, hanya Allah semata.
8.Manakah yang disebut tauhid, sesungguhnya bersatu, melebur keduanya, tiada Gusti dan hamba, jika bersatu dimana tempatnya, jika berpisah pasti kosong, sebab bukan yang sesungguhnya.
9.Selamat jika kamu mengetahui, artinya tauhid itu, bersatu dengan hambanya, hamba sebetulnya tidak ada, yang dinamakan hamba, sesungguhnya kosong, tiada tingkah laku.
10.Diberinya sembah dan puji, diberikan kepada dirinya sendiri, sebetulnya Allah dirinya, dan bukan saling menyembah, manakah yang disebut Allah, yaitu wajibul wujud, sesungguhnya itu ada.
11.Yang menyembah dengan yang memuji, sesungguhnya pada dzatullah, bukan ucapanya sendiri, pasti namanya pemberian, dan itu ketahuilah, tanpa polah tanpa wujud, ibarat sampah dilautan.
12.Namanya sembah dan puji, tidak lain hanya pemberian, tidak mengetahui selamanya, jika Pangeran Yang Muliya, dari kecil sampai tuwa, tulus dalam menerima pemberian, sulit yang namanya menerima.

Pupuh VII
Pangkur
1.Jika kamu berguru, carilah guru yang sesungguhnya, yang sudah putus ilmunya, syariat dan tarekat, dan hakekat makrifat selamanya, serta kamu bertanyalah, ketujuh bumi adinda,
2.Dan ketujuh langit itu, letakkanlah dadalamnya jisim (raga), itu yang harus kamu ketahui, menjadi sebenarnya manusia, jika belum mengetahui belum Islam manusia itu, hanya sekedar Islam-islaman, sebenarnya orang tua yang tuli.
3.Jika kamu ingin mengetahui, yang disebut ketujuh bumi adinda, bumi yang pertama itu, yang disebut bumi retna (emas), yang kedua yang disebut bumi kalbu, sanubari itu yang ketiga, yang keempat bumi budi.
4.Bumi jinem yang kelima, yang kenam bumi suksma itu, bumi rasa yang ketujuh, sudah lengkap tujuh perkara, dengan penjelasan artinya ketujuh bumi, sedangkan bumi retna, didalam dada letak yang sesungguhnya.
5.Yaitu gedung kastuba, tempatnya seluruh manusia ini, istananya Islam itu, hanya satu bumi adinda, yang kedua bumi kalbu sebutannya, iya istananya Islam, yang ketiga sanubari.
6.Itu istananya tunggal, yang keempat yang disebut bumi budi, istananya fikiran, bumi jinem yang kelima, istananya yang sesungguhnya welas asih sebenarnya, yang keenam bumi suksma, istananya Hyang Widi.
7.Yang ketujuh bumi rasa, artinya yaitu yang hidup, artinya hidup sebenarnya, disebut wujud Allah, berhati-hatilah pada semua yang kamu dengar, jika kamu mengetahui Islam, kasmaran membangun asmara / akan tergila-gila. 


Pupuh VIII
Asmaradana
1.Kamu ketahui lagi, sebutan ketujuh lagit itu, waspadalah kamu anakku, letaknya pada badan, itu yang dinamakan nyawa, langit jasmani itu, diperintah oleh Hyang Suksma.
2.Adinda itu yang pertama, yang kedua yang dinamakan,  ruh sebenarnya, memenuhi didalam badan, yang disebut yang ketiga, langit nafsani namanya, memenuhi badanmu.
3.Yang keempat langit rohani, memenuhi pengetahuanmu (ilmu), diseluruh badanmu, langit rohmani yang kelima, memenuhi pada cahaya, didalam badanmu itu, langit nurani yang Muliya.
4.Yaitu yang memenuhi, menghadap diseluruh badan, langit ruh ilafi nanti, itu kenyataannya pasrah, di seluruh badannya, itu harus kamu ketahui,  menjadi manusia yang Muliya.
5.Kamu ketahui lagi, yang disebut ke-Muliyaan, serta sebenarnya anugrah, keistemewaan letaknya pada hamba, sedangkan anugrah Hyang Suksma, ibarat bedug ditabuh, pemukulnya ke-Muliyaan.
6.Bunyinya anugrah yang sejati, yang menabuh manusia Muliya  (suci), yang ikhlas menerima, orang (yang) terang pada ketiga perkara, mendapat nama manusia, itu manusia yang utama/dihormati, orang mengetahui kepada Pangeran.
7.Itu sholat yang sejati, orang yang terang pada ketiga perkara, ibarat air mengalir sembahnya, pantas untuk diketahui, dan itu perintahnya Hyang, hilang tak berbekas yang didapati, pengabdiannya sudah bersatu.
8.Serta ketahui kembali, siksa kubur berhati-hatilah, apa yang disiksan nanti, apa kulit dagingingmu, apakah badan nyawa, tulang ruh dzatullah itu, raga itu hanya menurut.
9.Seluruh badan ini, iabarat sampah dilautan, perbuatan dan anugrahnya, sebenarnya hanya sekedar saya, bergerak kendaknya suksma, sekehendaknya menurut, tidak mempunyai kehendak sendiri.
10.Yang disiksa sesungguhnya, bukan jasad bukan nyawa, bukan suksma sebenarnya, buka rasa yang disiksa, sebenarnya yaitu, sifatullah yang tampak, jasad itu hanya menurut.
11.Yang disiksa sesungguhnya, yaitu cerita kamu, yaitu adinda pada saatnya nanti, tempatmu yang Muliya, ditengahnya pohon beringin yang terbalik, itulah yang harus kamu ketahui, tempatnya rasa manusia yang bersatu.

Pupuh IX
Kinanthi
1. Kinanthi yang terucap, yang tertinggal didalam Negara, berhati-hatilah dirimu, seperti melihat suksma sejati, badannya yang kelihatan, yaitu ada dua perkara.
2.Badan lahiriyah yang kelihatan, serta kedua hati, hati lahiriyah kelihatan, serta kedua hati, lahir batin harus dibedakan, namun kenyataannya yang lahir.
3.Yang lahir pasti kelihatan, serta dengan batinmu, yang batin pasti kelihatan, sedangkan adanya yang batin, memerintahkan kepada lahiriyahmu, yang lahiriyah terhalang yang batin.
4.Sabdanya HYang Agung, kepada Rasulullah Nabi, yang sebagai istananya Hyang, gedung rahasia mukmin, membuka semua rasa, Muhammad itu kekasih.
5.Muhammad wujudnya itu,  wujud rijalul gaib, dan sudah dikehendaki Hyang, pengantinya Suksma sejati, yang disebut wujud tunggal, tidak ada wujud keduanya.
6.Jika kamu hendak berjalan, memakailah rasul yang sesungguhnya, ucapanmu hakkullah, penciuman serta penglihatanmu, penglihatanmu makrifat, dan mejadi badan rohani.
7.Ruh ilafi sebutannya, rohani badan sesungguhnya, dan itu lebih baik, jadi penglihatannya terpelihara, terhadap Suksma Maha Muliya, dengan yang dikasihi.
8.Nabi wali mukmin itu, semua sama-sama dibelakang, dan menjadi ucapannya pribadi, beserta nabi yang terkasih, terhadap Suksma Maha Muliya, tanpa berhenti kepada jisim.
9 Pengamatan itu berhati-hatilah kamu melihat, seperti melihat bulan, sewaktu kamu di malam hari, seperti bulan kesiangan, makrifat penglihatanmu.
10.Jika kamu ingin melihat, terhadap Suksma Maha Suci, dengan mata kepala, pada waktunya nanti tidak bisa melihat, pasti buta penglihatanmu, tidak mengetahui kepada Hyang Widi.
11.Jika menginginkan tajam dalam penglihatan, kepada wujudnya Suksma sejati, waspadalah pada wajahmu, itu warnanya Hyang Widi, waspadanya menggunakan apa, kamu bercerminlah di depan kaca.
12.Kalbu mukminkah itu, sebagai perhiasan indah, tempat sifatnya penglihatan, dengan adanya Widi, iya ketiga hati, bukan hati yang berada dalam jisim.
13.Hati yang golongan luhur, sebagai adanya Widi, ada rupa tiga macam,  kadim yang pertama, yang kedua kadim mudas, yang ketiga murdas sesungguhnya.
14.Yaitu ibaratnya, dalam wayang beserta layar, dalangnya merupakan wujud tunggal, wayangnya itu ruh ilafi, layarnya akyan sabitah, keduanya nyata di dalam layar.
15.Makanya disebut, layar sudah dipasangi wayang, dalangnya menjelma menjadi wayang, wayangnya mejelma di layar, layarnya menjelma pada pribadinya sendiri, itulah wujud gejolak asmara.
16.Sudah sampai pada bercinta, susah dalam membahasakan, jika merasa sebagai hamba, jadi wujudmu ada dua, jika kamu merasa sebagai Pangeran, bersatu dengan Hyang Widi.
17.Makanya itu salah, sedangkan bersatu dengan Hyang Widi, mangeran yang bersifat abadi/kekal, langgeng sifatnya Hyang Widi, tidak dapat bersatu dalam kehendak, dan tidak saling bertemu.
18.Jika sudah bukan tingkahnya, suatu saat akan merasakan mati, sebenarnya pertapa itu mengarang, mengarang kepada Hyang Widi, jangan kamu itu sekali-kali, bertanya tentang rasa sejati.