Friday, June 4, 2010

ILMU PERANG MAT KILAU


Mat Kilau pernah berguru kepada seorang wali Allah iaitu Tukku Paloh seorang ulama terbilang di Terengganu. Sebagai seorang pahlawan Melayu dan pejuang , Mat Kilau banyak mengamalkan amalan-amalan seperti mantera, jampi serapah, doa, isim dan silat untuk mempertahankan diri sendiri dan untuk menewaskan musuh. Mat Kilau merupakan seorang pahlawan Melayu yang berjuang, pantang menyerah kalah walau nyawa menjadi galang ganti.

Oleh kerana dianggap sebagai penderhaka oleh penjajah British, Mat Kilau terpaksa bersembunyi dan berpindah randah sehingga akhirnya menetap di Gambang Kuantan dengan memakai nama samaran iaitu Mat Siam. Akhirnya pada 26 Disember 1969, Mat Siam menggemparkan seluruh Malaysia dengan mendakwa bahawa beliaulah sebenarnya Mat Kilau. Tepat jam 10.30 pagi hari Khamis, 6hb Ogos 1970 Mat Siam diisytiharkan sebagai Mat Kilau oleh Menteri Besar Pahang. Empat hari selepas pengiktirafan itu, beliau kembali ke rahmatullah ketika berusia 122 tahun.

Berikut adalah antara amalan-amalan yang pernah beliau miliki:

Amalan 1:Untuk Kebal (Aman dari Senjata Musuh):
Bismillah Lam Zat Kam sifat Lam Ghat rohku jaga-jaga Ya Hu Ujud Allah Ya Hu Rahimallah Ya Hu sifat Allah Ya Hu Ya Allah hai Jibril Israfil Izrail Mikail hadangkan aku selitkan nyawa di dalam kandang La ilaha illa Allah binasa Allah binasa aku tiada binasa Allah tiada binasa Aku menyelamatkan aku Allah Muhammad bersertaku dengan berkat La ilaha ilLa Allah Ahlikum Nabaz si berkat besi sampai semua yang bernyawa tidak dapat menentang mataku aku berdiri di dalam kandang La ilaha ilLa Allah dengan berkat guru-guruku La ilaha illa Allah


Amalan 2:Ilmu Limunan (Menghilangkan Diri dari Penglihatan Musuh):
Wa Atbaaka Palaka Kun suaraku Kairun rahsiaku hai alam akulah yang bernama Nakad yang tiada berlawan Satakun AH AH AH Summun Bukmum Bania Bikum (3 kali) Ah lenyap aku di dalam zat Allah Ah hilang aku di dalam zat Allah Ah senang aku di dalam zat Allah Ah ghaib aku di dalam badan Zat Allah yang tiada bersifat AH AH AH HU


Amalan 3:Untuk Kuat dan Gagah :
Hai Besi Putih Besi Khursani Besi Pelilit di pinggangku Kuat aku seperti Saidina Ali Gagah aku seperti Saidina Hamzah Alhamdu, Alhamdu, Alhamdu Jangan engkau makan hati yang putih Engkau makan darah dan daging Jikalau engkau makan hati yang putih Derhaka engkau kepada Allah,Hai Kaddam Kuddim Keluarlah engkau daripada tempat yang jahat Ketujuh petala langit dan ketujuh petala bumi Keluarlah engkau daripada tempatnya Berkat doa La ilaha Illa Allah Muhammad rasulullah(Catatan : ibu jari pegang buah pinggang, urut ke depan tiga kali)

--Manafaat Inti Besi Khursani:
Meningkatkan kepercayaan diri sehingga keupayaan positif yang terpendam dapat dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan mutu kehidupan yang lebih baik.Mendapatkan ketenteraman jiwa, mampu mengendalikan tenaga negatif dalam diri, mampu mengoptimakan tenaga positif dalam diri, serta mendorong perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, rumah-tangga, maupun dimasyarakat.
Meningkatkan mutu sistem metabolisme tubuh.
Meningkatkan mutu sistem ketahanan tubuh.
Meningkatkan mutu sistem regenerasi organ tubuh.
Meningkatkan mutu susunan syaraf pusat.
Meningkatkan kesegaran tubuh sehingga tubuh tidak mudah merasa letih.
Menghindarkan diri dari serangan jantung dan stroke.
Memperlambat proses penuaan kulit.
Mempertahankan kesegaran tubuh, muka, perut, dan buah dada.
Meningkatkan pertumbuhan dan kecerdasan.
Meningkatkan libido sex.
Kemampuan memagar metafisik (pagaran tenaga meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari tindak kejahatan seperti rompakan,penculikan ataupun pembunuhan.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari serangan tenaga negatif (ilmu hitam) yang dikirimkan seseorang seperti teluh, tenung, sihir, guna-guna.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari serangan hipnotis, magnetis, gendam, dan telepati negatif yang dikirimkan orang lain kepada kita.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) pada rumah, pejabat, kebun, kenderaan , dan benda-benda berharga lainnya sehingga terhindar dari tindakan kecurian, rompakan .
Kemampuan membantu proses penyembuhan pada penderita yang terserang tenaga negatif dan pengaruh hipnotis, gendam, dan magnetis negatif, sehingga pulih dan normal semula.
Kemampuan melakukan terapi penyembuhan pada penderita yang terasuk roh halus/jin hitam sehingga pulih dan sedar kembali.
Kemampuan membantu penyembuhan bagi penderita insomnia (susah tidur) sehingga normal kembali, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa.
Keselamatan tubuh yang lebih prima dari serangan senjata tajam seperti tusukan, tebasan senjata tajam :pedang, golok, badik, dll.
Keselamatan dari serangan senjata api.
Keselamatan dari ledakan bom, pecahan mortar, dan pecahan bom yang kerap terjadi .
Keselamatan dalam perjalanan darat, laut, udara, maupun pendakian gunung, serta keselamatan dari bahaya hutan.
Menambah padu pukulan tangan sehingga mampu meningkatkan pertahanan dari serangan kejahatan lawan.--

Amalan 4:Pendinding Diri dan Meringankan Badan:
Khursani menggantikan diriku Khursani menggantikan nyawaku Alung memaling badanku yang menjadikan Nabi Adam Mustajab bagiku siang dan malam dengan berkat doa La ilaha Illa Allah


Helaian muka surat dalam Kitab Mat Kilau :





















































Nusantara telah dijajah selama beratus tahun dan kemudian dipecah dan dipisah-pisahkan menjadi beberapa negara yang berasingan dengan tujuan untuk melemahkan orang-orang Melayu. Mereka menyusun strategi untuk melemahkan Melayu kerana mereka dapat tahu (dari teks-teks silam) bahawa orang-orang Malai ini akan sekali lagi menjadi pemimpin atau peneraju dunia .

Amalan Mat Kilau yang dicatat di atas itu termasuk dalam ‘ilmu perang’ orang-orang Melayu zaman dahulu. Di Nusantara ini terdapat ramai pahlawan Melayu yang tinggi ilmunya, dan pada pendapat saya, ciri kepahlawanan ini akan terus wujud dan subur di kalangan bangsa Melayu, selagi bangsa Melayu masih bernafas.

Mudah-mudahan dapat membangkitkan kesedaran kepada kita semua betapa pentingnya kita berada dalam keadaan sentiasa bersedia menghadapi sebarang kemungkinan.

Sunday, May 30, 2010

ALFATIHAH

13 Mei 2010-Telah kehilangan dua insan istimewa.Gambar diletakkan di blog ini sebagai satu kenangan dan sebagai tanda dan rasa kasih walau tidak pernah bersua.

Habib Ali Bin Jafar Bin Ahmad Al Aydrus 'Batu Pahat'


Kembali dengan tenang
Abuya Ashaari Muhammad 'Darul Al-Arqam'

Saturday, May 29, 2010

SYEIKH ABDUL KARIM IBNU IBRAHIM AL JAILI

Al-Jili: adalah seorang sufi terkenal dari Baghdad,lahir pada 1365 M (767 H) dan meninggal dunia 1409 M (811 H). Al-Jili rh adalah dari keturunan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rh yang nasab nya bersambung kepada Al-Hasan cucu Rasulullah SAWW, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah dan murid Syaikh Syarafuddin Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti rh, seorang tokoh tasawuf terkenal di negeri Zabit Yaman. Dalam dunia tulis menulis al-Jili termasuk seorang sufi yang cukup kreatif, karangannya tentang tasawuf tidak kurang dari 20 buah, yang paling terkenal diantaranya: al-Insān al-Kāmil dan al-Kahf wa al-Raqīm:

**Allah Ta'ala telah menurunkan Taurat atas Nabi Musa AS. dengan sembilan alwāh (lembaran naskah kitab suci), dan Dia memerintahkan agar Nabi Musa menyampaikan kepada kaumnya tujuh naskah saja dan meninggalkan dua naskah yang tersisa, demikian ini karena ketika itu daya intelektual kaum beliau belum mampu untuk menerima ajaran-ajaran yang ada pada kedua lembaran naskah itu. Seandainya Nabi Musa AS. mengemukakan kedua lembaran naskah itu (pada umatnya) maka pasti risalah yang beliau kehendaki akan dibuat berantakanlah karena tidak akan ada satu orangpun dari umat beliau yang akan mempercayainya. Pada masa itu dua lauh (lembaran naskah) itu dikhususkan buat Nabi Musa dan bukan untuk orang lain.

Dan adalah lembaran-lembaran naskah yang diperintahkan kepada beliau untuk menyampaikannya terdiri dari ilmu-ilmu kaum awalin dan kaum akhirin, terkecuali ilmu Nabi Muhammad SAW, ilmu Nabi Ibrahim AS, dan ilmu Nabi Isa AS, dan ilmu tentang waratsah (ilmu waris) Nabi Muhammad SAW. Demikian ini karena kandungan isi Taurat itu tidak mencakup kepada keistimewaan-keistimewaan dan waratsat Nabi Muhammad SAW, keagungan tentang Nabi Ibrahim AS dan Isa AS. Dan adalah lembaran tujuh naskah yang diperintahkan kepada Musa AS. untuk menyampaikannya itu terbuat dari batu marmer, lain halnya dengan dua lembaran naskah yang tersisa lainya dimana keduanya terbuat dari nur (cahaya). Oleh karena hal ini (menggambarkan) bahwa hati kaum Nabi Musa telah menjadi keras (laksana batu) karena lembaran-lembaran naskahnya sendiri terbuat dari bebatuan.

Semua ajaran (ilmu) yang tercakup oleh ketujuh lembaran naskah itu terdiri dari tujuh kebutuhan-kebutuhan umat beliau tentang al-ilahiyyah (ketuhanan) dan ini pun terbagi kepada beberapa alwāh; lembaran pertama adalah an-nur (cahaya), lembaran kedua al-huda (petunjuk) sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.."[1], ketiga al-hikmah (kebijaksanaan), keempat al-qawiyy (power), kelima al-hukmu (hukum), keenam al-'ubudiyyah (peribadahan) dan ketujuh adalah penjelasan tentang jalan kebahagiaan dan kemalangan serta penjelasan apa yang diutamakan dari ketujuh lembaran naskah yang harus disampaikan Nabi Musa AS. itu.

. Adapun dua lembaran naskah yang dikhususkan untuk Nabi Musa AS. adalah lauh (lembaran) pertama tentang rububiyyah (sifat ketuhanan) dan lauh kedua tentang al-qudrat (kekuasaan), mengenai masalah ini tidak ada seorangpun dari kaum Musa AS. yang menggenapi kedua lauh ini karena memang Nabi Musa AS. tidak mendapat perintah untuk menyampaikan sembilan lauh itu semuanya, dan tidak pula ada orang dari umat beliau yang menggenapinya setelah beliau wafat sekalipun.

Lain halnya dengan Nabi Muhammad SAW. dimana beliau benar-benar tidak meninggalkan sesuatu risalahpun kecuali menyampaikannya kepada kita, Allah Ta'ala berfirman: "...Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab..."[2], juga firman-Nya: "..dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas".[3] Oleh karena ini pula agama Nabi Muhammad SAW. adalah khairul milal (sebaik-baik agama), beliau telah menghapuskan semua agama dengan agama Islam karena agama ini datang dengan membawa seluruh ajaran yang telah diberikan kepada segenap para nabi sebelum beliau dan menambahnya dengan apa-apa yang belum pernah diberikan kepada para nabi itu. Maka agama-agama mereka (para nabi terdahulu) pun telah dihapuskan karena ketidak sempurnaa agama-agama mereka itu.

Rasulullah SAW. telah menjadikan agama yang beliau bawa menjadi termasyhur dengan segala kesempurnaanya. Allah Ta'ala berfirman: " ...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku..."[4]. Ayat ini belum pernah diturunkan Allah Ta'ala kepada nabi selain Nabi Muhammad SAW, dan seandainya ayat ini diturunkan kepada salah seorang nabi sebelum beliau tentu dia akan menjadi khātaman nabiyīn, akan tetapi hal itu tidak valid (sah) kecuali kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini telah diturunkan kepada beliau maka jadilah beliau sebagai khātaman nabiyīn (nabi yang paling sempurna).

Allah Ta'ala tidak meninggalkan satu hikmah , satu petunjuk, satu ilmu dan satu rahasiapun kecuali Dia memberitahukannya kepada Nabi Muhammad SAW. Allah Ta'ala juga telah memberikan isyarat kepada beliau atas dikaruniakannya satu qadr (pangkat khātaman nabiyīn) yang berkenaan dengan para nabi, untuk yang demikian ini terdapat rahasia yang terkadang berlaku sebagai tashrīh (pengakuan), talwīh (pemberian isyarat dari jauh), isyārat (penuturan), kināyah (metonimi), isti'ārah (metapora), muhkam (keputusan yang tepat), mufassar (yang ditafsirkan), muawwal (yang harus ditakwil), mutasyābih (yang samar) atau kepada istilah lain dari istilah balaghah bahasa Arab.

Tidak tersisa satu pintu masuk kepada (derajat khātaman nabiyīn) pun bagi seseorang selain bagi Nabi Muhammad SAW. karena beliau telah datang dengan membawa perintah Tuhan dan khatmu nubuwwat (pengakhiran kenabian syari'at), hak itu karena dia tidak meninggalkan satu hukum pun yang dibutuhkan umat beliau kecuali beliau SAW. telah membawakan (mengajarkannya)nya. Tidak pula akan didapati suatu kesempurnaan yang akan datang setelah beliau dari ajaran-ajaran yang semestinya Allah Ta'ala ajarkan kepada beliau.

Rasulullah SAW. benar-benar telah melaksanakan ajaran-ajaran yang demikian itu dan mengikuti kesempurnaannya sebagaiman yang telah Allah ajarkan kepada beliau. Dan jadilah beliau SAW. sebagai tābi'an (orang yang mengikui) ajaran-ajaran yang sempurna itu. Fa-inqotho'a hukmu nubuwwati at-tasyri' ba'dahu wa kāna Muhammadun shollallohu 'alaihi wa sallam "khātaman nabiyīn" (Maka terputuslah hukum kenabian tasyri'[pembawa syari'at/hukum baru] setelah beliau, oleh karena itu pula beliau (mendapat gelar) sebagai khātaman nabiyīn, karena beliau telah datang dengan membawa kesempurnaan yang tidak pernah dibawakan oleh seorang rasul manapun.[5]



** Dari al-Insān al-Kāmil fī ma'rifati al-awākhir wal al-awāil, bab as-sādis wa ats-tsalatsūn, hal 132-133.



--------------------------------------------------------------------------------

[1] Al-Maidah [05]:44

[2] Al-An'am [06]:38

[3] Al-Isra [17]:12

[4] Al-Maidah [05]:3

[5] Dari pernyataan Syaikh Al-Jili dapat kita mengambil kesimpulan bahwa pintu kenabian yang tertutup setelah Nabi Muhammad SAW. hanyalah pintu kenabian tasyri' (pembawa hukum baru) dan bukan pintu kenabian ghair tasyri' (tidak membawa hukum/syari'at baru), karena Nabi SAW. telah menjanjikan akan datangnya seorang nabi yang akan diberi gelar Isa Ibnu Maryam di akhir zaman ini, yang bertugas hanya semata-mata mengikuti dan mengadakan tajdid atas ajaran Islam.

Thursday, May 27, 2010

MAT KILAU

Nama penuh beliau adalah Mat Kilau bin Imam Rasu @ Tok Gajah bin Tengku Ali (Tok Sharom).Datuk nya, Tengku Ali meninggalkan takhta Kerajaan Bilah Paning,Sumatera setelah kemangkatan ayahandanya. Tengku Ali sukarela menyerahkan takhta nya kepada adinda nya. Sesudah itu Tengku Ali melarang memanggil beliau dengan gelaran Tengku.Tengku Ali berkahwin dengan Wan Siti Hajar juga dikenali Tok Dina. Tengku Ali dikurniakan lima anak ,Ranting Mas,Maimunah,Khatib Rasu (Tok Gajah), Min dan Khatib Mohd Arif.

Ibu Mat Kilau adalah Teh Mahda (isteri ke 3 kpd Tok Gajah) iaitu anak kepada Tok Kaut Burau. Mat Kilau dipercayai lahir dalam tahun 1847 di Kampung Kedondong,Pulau Tawar,Jerantut. Mat Kilau pandai mengaji, berzanji dan berdikir maulud serta belajar berdikir rebana yang dikenali sebagai ‘Dikir Pahang’. Hobi Mat Kilau adalah bermain gasing dan berlaga buah keras sehingga sentiasa menjadi juara di kampung beliau.

Apabila berusia lebih kurang 20 tahun, Mat Kilau berkahwin dengan seorang gadis yang bernama Yang Chik binti Imam Daud, Kampung Kedondong. Hasil perkahwinan ini Mat Kilau telah dikurniakan tiga orang anak. Setelah berkahwin barulah Mat Kilau belajar bersilat dan menuntut ilmu kebatinan. Mat Kilau bukan sahaja belajar bersilat sebagaimana sahabatnya yang lain, bahkan beliau lebih mendalami silat dengan menggunakan senjata seperti keris dan parang.Mat Kilau juga banyak menuntut ilmu daripada ayahnya sendiri iaitu Tok Gajah. Ilmu kebatinan secara agama banyak dituntutnya daripada Haji Osman yang dikenali juga sebagai Haji Muntuk sebelum dia berpindah ke Pekan sebagai Mufti Negeri Pahang.

Mat Kilau mempunyai sifat-sifat seorang pemimpin dan pemikiran yang matang telah menjadikan beliau seorang pemuda yang sangat disegani dan dihormati. Mat Kilau mempunyai cara pemikiran yang matang. Pada bulan Oktober 1888 semasa Tok Gajah berada di Pekan, Hugh Clifford telah datang ke Pulau Tawar dan berunding dengan Mat Kilau. Ini menunjukkan Clifford mempercayai idea-idea Mat Kilau. Beliau suka bergaul dengan setiap lapisan masyarakat dan ini membuatkan beliau menjadi seorang yang luas pandangan dan mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat. Mat Kilau adalah seorang yang jujur dan tegas, justeru itu dia sangat disegani dan amat dikasihi oleh pengikutdan sahabat nya. Sahabat nya terlalu ramai,tetapi yang diketahui namanya ialah Awang Nong,Teh Ibrahim (kedua nya anak Tok Gajah), Mat Kelubi (anak saudara Tok Gajah), Mat Ali(khatib), Awang(Imam) dan Mat Tahir. Mereka ini sanggup sehidup semati dengan Mat Kilau.

Mat Kilau memakai beberapa gelaran seperti Mat Siam,Mat Dadu,Muhamad Ibrahim.Bersama-sama pahlawan lain berjalan kaki menuju ke Golok,Selatan Siam. Ketika itu Selatan Siam dibawah Sultan Abdullah.Dari Golok berjalan kaki pula selama 5 hari 5 malam ke Chiengmai dan tinggal di Chiengmai selama 3 bulan sebelum berpindah ke Patani. Disini menuntut ilmu agama dengan Syed Ahmad Fadzullah yang berasal dari Bandung,Indonesia.

Kepada anak murid yang juga menantu nya Pakcik Abu Bakar, beliau membuka rahsia siapa sebenarnya Mat Siam ketika hendak memutuskan ilmu Mat Siam kepada Pakcik Bakar dan terpaksa membuka rahsia siapa beliau sebenarnya.Mat Siam bertanya kepada Pakcik Bakar "Kamu kenal tak aku? "Kenal,Aki lah Mat Siam" jawab Pakcik Bakar. Sambil menuding jari ke dada nya Mat Siam berkata " Aku lah Mat Kilau anak Tok Gajah".Namun rahsia itu disimpan oleh Pakcik Bakar. Silat yang diajarkan kepada Pakcik Bakar dinamai Tapak Setia Suci. "Silat ini Silat Mat Kilau dan buah nya dari Datuk Bahaman" kata Mat Kilau.

Haji Abu Bakar Awang menantu Mat Kilau

Khabar yang menyatakan Mat Kilau mati tersiar di dalam akhbar-akhbar Inggeris yang diterbitkan di Singapura. The Straits Times dan The Free Press menyatakan "Ketua Pendehaka, iaitu Dato' Bahaman telah jatuh ke tangan pemerintahan Siam pada bulan Oktober,1895. The Free Press pula memberitahu bahawa "Mat Kilau telah melawan apabila hendak ditawan dan akibatnya dia telah cedera di muka dan di kepalanya. Luka-luka itu sangat parah dan dia telah mati di dalam perjalanan ke hilir Kota Bharu disebabkan kehilangan banyak darah".

Dengan tersiarnya berita kematian Mat Kilau oleh akhbar The Free Press keluaran 22 Oktober 1895, maka pada pendapat umum tamatlah sudah riwayat Mat Kilau.akan tetapi apa yang sebenarnya berlaku tiada diketahui kecuali beberapa orang sahabatnya seperti Mustafa bin Awang Mat(Jusoh Rimau), Pendekar Tok Demali ,Raja Ibrahim(Pak Him), Mat Kelantan dan beberapa orang lain. Disebabkan Mat Kilau dicop sebagai 'penderhaka' oleh Inggeris,maka terpaksalah Mat Kilau mengasingkan diri dan berpindah dari satu tempat ke satu tempat dan akhirnya bermastautin di Batu 5,Jalan Kuantan-Gambang. Semenjak 1930 Mat Kilau juga terpaksa menukar namanya buat beberapa kali dan akhirnya dia memakai nama Mat Siam.
Bersama Mek Munah,Mat Kelantan (berkaca mata hitam) dan Raja Ibrahim

Dalam bulan Disember 1969,Tuhan telah menggerakkan hati Mat Kilau yang pada itu memegang kad pengenalan diri K/P 2044778 dan bernama Mohamad bin Ibrahim,memperkenalkan dirinya yang sebenar.Untuk mengelakkan dirinya dari menjadi tumpuan ramai,maka Mat Kilau telah bersetuju mengumumkan dirinya di kampung kelahirannya. Atas daya usaha Omar bin Mat Kilau,maka Mat Kilau dibawa ke Kampung asalnya iaitu Kampung Masjid,Pulau Tawar. Pada hari Jumaat 26 Disember 1969, Mat Kilau telah pergi ke Masjid di Kampung Masjid untuk bersembahyang Jumaat. Selepas sembahyang, Mat Kilau telah mebaca Quran dan kemudiannya mengistiharkan dirinya sebagai Mat Kilau.

Setelah Pengumuman ,Mat Kilau dibawa pulang kerumahnya semula di Batu 5 Jalan Gambang,Kuantan. Ketika itu kedengaran pula di Peramu,Kuantan akan seorang tua yang bergelar Tok Peramu.Pernah menantu nya Pakcik Bakar bertanya siapa gerangan Tok Peramu.Mat Kilau menjawab orang hanyut. Sebetul nya orang hanyut bermaksud orang dari hulu semantan yang kehilir ke Kuantan. Bermakna Tok Peramu adalah Datuk Bahaman. Pakcik Bakar telah membawa Mat Kilau berjumpa Tok Peramu. Bila dihadapan rumah Tok Peramu,Tok Peramu menuding jari kearah Mat Kilau dgn mengatakan Mat Kilau 'orang jahat mulut' yang bermaksud Mat Kilau telah membuka rahsia dirinya yang mana tidak disenangi oleh Tok Peramu.Selepas itu mereka berpelukan seperti orang yang sudah lama tak berjumpa atau mungkin berpelukan kerana tau ajal Mat Kilau sudah dekat.Mat Kilau dianggap seorang pahlawan yang engkar kerana telah melanggar sumpah yang pernah dibuat bersama sahabat-sahabat yang lain. Tok Peramu pernah berkata,kalau Mat Kilau hidup tak selamat,kalau selamat tak hidup,agaknya Mat Kilau itu nak pendek umur.Selepas pengakuan itu, Mat Kilau jatuh sakit,bengkak kaki dan mulut nya herot/senget.

Menurut cerita Pakcik Bakar, ketika nazak, Mat Kelubi pun datang menziarahi Mat Kilau walaupun mengikut catatan sejarah Mat Kelubi telah mati ditembak Inggeris sewaktu sedang berperahu.Orangnya kecil tidak sampai 5 kaki. Jelas Pakcik Bakar, pada suatu malam seorang yang tidak dikenali diiringi dua orang yang lengkap berpakaian hulubalang zaman dahulu datang menziarahi Mat Kilau. "Waktu tu saya agak letih dan tidak menghiraukan mereka. Orang itu mengucapkan terima kasih kepada saya kerana menjaga Mat Kilau. Mereka meminta izin untuk pulang dan terus hilang dari pandangan".

Pengisytiharan ini telah mengemparkan orang ramai sehingga Kerajaan Pahang menubuhkan sebuah jawatankuasa untuk menyiasat. Jawatankuasa itu dibentuk pada 8 Januari 1970. Beberapa orang telah ditemuramah bagi membuktikan bahawa Mat Siam itu adalah Mat Kilau. Mek Munah dari Pasir Nering,Kuala Brang dan rombongan dari Kelantan yang terdiri Mat Kelantan yang ketika itu berusia 150 tahun (telah buta) dan Raja Ibrahim Tan Kecik dipanggil utk pengesahan. Mat Kelantan dan Raja Ibrahim pernah sama2 berjuang menentang Inggeris di Kuala Tembeling pada 1894.Setelah disahkan maka pada pukul 10.30 pagi hari Khamis,6 Ogos 1970, Mat Siam diisytiharkan sebagai Mat Kilau oleh Menteri Besar Pahang. Setelah pengumuman pengiktirafan terhadap dirinya dibuat, Mat Kilau meninggal dunia kerana keuzuran diatas pangkuan menantu nya Pakcik Bakar pada jam 6.46 pagi,Ahad 16 Ogos 1970. Usianya ketika itu dipercayai berusia 122 tahun.(Tok Guru Peramu/ Datuk Bahaman meninggal lewat 7 tahun dari tarikh Mat Kilau meninggal iaitu 23 Julai 1977).

Tekanan perasaan yang dialami membuatkan Mat Kilau terpaksa berterus terang walaupun tahu berhadapan dengan maut. Mat Kilau tidak mahu nanti anak-anak nya berkahwin sesama sendiri.Anak-anak tidak mengetahui siapa ayah mereka selagi pengakuan tidak dibuat.

'Pakaian' Mat Kilau:
Mat Kilau memakai buntat embun. Seseorang yang memakai buntat embun susah mati kecuali buntat itu keluar dari tubuh pemakai. Walaupun terpisah kepala dengan tubuh sekalipun tetapi pemakai buntat embun boleh hidup balik. Menurut Pawang Nong iaitu Pawang Diraja, Mat Kilau mendapat buntat embun daripada orang asli di Bukit Raya,Mukim Budu,Kuala Lipis. Pawang Nong dan adiknya Bilal Abu mengatakan juga Mat Kilau mempunyai buntat embun dicelah kaki kirinya diantara jari kelinking dan jari manis. Pernah seorang bomoh patah bernama Pak Tunggal mengintip pergerakan Mat Kilau dan ayah nya. Pak Tunggal dapati Mat Kilau bersama ayah nya sedang mandi embun. Mereka berdua duduk diatas daun pisang diatas pokok.

Wednesday, May 26, 2010

TOK GAJAH

TOK GAJAH ??

Tok Gajah menjadi Orang Besar Pahang dizaman pemerintahan Sultan Ahmad AlMuazzam Shah. Tok Gajah atau Khatib Rasu diberi pegangan sempadan oleh Sultan dari Bau Redap sampai ke Kuala Piul. Dari Tanjung Sakti sampai ke Kangsa,dari Pedah sampai ke Tanjong Lindong dan juga lembahan Sg Budu di Lipis. Beberapa gelaran lain : Sultan Garang, Imam Perang Rasu, Datuk Imam Perang Pahang, Orang Kaya Imam Perang Indera Gajah Pahang.

TOK GAJAH DAN TOK BAHAMAN DI KAKI TENGKU BESAR MAHMUD IBNI SULTAN AHMAD MUADZAM SHAH


Keratan akhbar 'Media Terkini,10 September 2002' yang masih aku disimpan :



LIHAT PADA PERSAMAAN RUPA DI AKHBAR DAN GAMBAR BERSAMA TOK BAHAMAN.

MARTABAT 7








Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal. Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi,seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan keinsankamilan. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.

1. ALAM AHDAH

Dalam memperkatakan Alam Qaibull-Quyyub iaitu pada martabat Ahdah di mana belum ada sifat, belum ada ada asma', belum ada afaal dan belum ada apa-apa lagi iaitu pada Martabat LA TAKYIN, Zat UlHak telah menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberi tanggungjawab ini kepada manusia dan di tajallikanNya akan DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Martabat Ahdah ini terkandung ia di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertama iaitu{QulhuwallahuAhad), iaitu Sa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat Zat. Pada martabat ini diri Empunya Diri (Zat Ulhaki) Tuhan RabbulJalal adalah dengan dia semata-mata iaitu dinamakan juga Diri Sendiri. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya iaitu Wujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada masa ini tiada sifat, tiada Asma dan tiada Afa'al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak semata-mata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata di dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR dan diri zat dinamakan Ahdah jua atau di namakan KUNNAH ZAT.

2. ALAM WAHDAH

Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pentajalliannya diri Empunya Diri telah mentajallikan diri ke suatu martabat sifat iaitu "La Tak Yin Sani" - sabit nyata yang pertama atau disebut juga martabat noktah mutlak iaitu ada permulaannya.
Martabat ini di namakan martabat noktah mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Juga pada menyatakan martabat ini dinamakan martabat ini Martabat Wahdah yang terkandung ia pada ayat "Allahus Shomad" iaitu tempatnya Zat Allah tiada terselindung sedikit pun meliputi 7 petala langit dan 7 petala bumi.

Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan boleh diumpamakan sepohon pokok besar yang subur yang masih di dalam biji , tetapi ia telah wujud, tidak nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertama martabat La Takyin Awwal iaitu keadaan nyata tetapi tidak nyata (wujud pada Allah) tetapi tidak zahir.
Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Berasma' dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata iaitu di dalam keadaan apa yang di kenali ROH-DDHAFI. Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat. (Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang di tajallikannya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala. Ianya terhimpun dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.

3. ALAM WAHDIAH

Pada peringkat ketiga setelah ditajalli akan dirinya pada peringkat "La takyin Awal", maka Empunya Diri kepada Diri rahsia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat As'ma iaitu pada martabat segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) iaitu keadaan terhimpun lagi bercerai-cerai atau di namakan "Hakikat Insan." Martabat ini terkandung ia didalam "Lam yalidd" iaitu Sifat Khodim lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahsia pada masa ini telah terhimpun pada hakikinya Zat, Sifat Batin dan Asma' Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi bercerai-cerai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing - masing tetapi pada masa ini ianya belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah Iaitu dalam keadaan "Ainul Sabithaah". Ertinya sesuatu keadaan yang tetap dalam rahsia Allah, belum terzahir, malah untuk mencium baunya pun belum dapat lagi. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am kerana wujud di dalam sekelian bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah.
Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahsia Allah dalam hakiki dalam batin iaitu bolehlah dikatakan juga roh di dalam roh iaitu pada menyatakan Nyata tetapi Tetap Tidak Nyata.

4. ALAM ROH

Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamaka roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afa'alnya. Ianya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota-anggota batinnya, tiada cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia "Jisim Latiff" iaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan "KholidTullah."
Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Walam Yalidd". Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakikat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam Diri Manusia.

5. ALAM MITHAL

Alam Misal adalah peringkat kelima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahsia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula oleh bapa iaitu dinamakan Alam Mithal.
Untuk menjelaskan lagi Alam Mithal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum bercamtum dengan badan kebendaan. Alam mithal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Mithal di mana proses peryataan ini, pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.
Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun-ubun bapa, iaitu perpindahan dari alam roh ke alam Bapa (mithal).

Alam Mithal ini terkandung ia di dalam "Walam yakullahu" dalam surah Al-Ikhlas iaitu dalam keadaan tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi "DI", "Wadi", "Mani" yang kemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu. Maka terbentuklah apa yang di katakan "Maknikam" ketika berlakunya bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)
Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

6. ALAM IJSAN

Pada peringkat keenam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Mithal yang di kandung oleh bapa , maka berpindah pula diri rahsia ini melalui "Mani" Bapa ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam Ijsan. Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat "InssanulKamil" iaitu batang diri rahsia Allah telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi "KamilulKamil". Iaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabat kanak-kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan "InnsanulKamil". Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Kuffuan" iaitu bersekutu dalam keadaan "KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.
Selepas cukup tempuhnya dan ketikanya maka diri rahsia Allah yang menjadi "KamilulKamil" itu dilahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia Martabat Alam Insan.

7. ALAM INSAN

Pada alam ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam "Ahad" iaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsia Allah S.W.T. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat.
Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam - alam lain, maka mulai alam maya yang fana ini, bermulalah tugas manusia untuk mengembalikan diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermula dari alam Maya ini lantaran itu persiapan untuk balik kembali asalnya mula kembali hendaklah disegerakan tanpa berlengah-lengah lagi.

TUJUAN MARTABAT ALAM INSAN

Ada pun tujuan utama pengkajian dan keyakinan Martabat Alam Insan ini bertujuan memahami dan memegang satu keyakinan Mutlak bahawa diri kita ini sebenar-benarnya bukanlah diri kita, tetapi kembalikan semula asalnya Tuhan.

Dengan kata lain untuk memanjangkan kajian, kita juga dapat mengetahui pada hakikatnya dari mana asal mula diri kita sebenarnya hinggalah kita zahir di alam maya ini.
Dalam pada itu dapat pula kita mengetahui pada hakikatnya ke mana diri kita harus kembali dan apakah tujuan sebenar diri kita di zahirkan.

Dalam memperkatakan Martabat Alam Insan dengan memahami Martabat Alam Insan ini , maka sudah pastilah kita dapat mengetahui bahawa diri kita ini adalah SifatNya Allah Taala semata-mata. Diri sifat yang di tajallikan bagi menyatakan SifatNya Sendiri yakni pada Alam Saghir dan Alam Kabir. Dan Allah Taala Memuji DiriNya dengan Asma'Nya Sendiri dan Allah Taala menguji DiriNya Sendiri dengan Afa'alNya Sendiri.

Dalam memeperkatakan Martabat Alam Insan kita memperkatakan diri kita sendiri. Diri kita daripada Sifat Tuhan yang berasal daripada Qaibull-Quyyub (Martabat Ahdah) iaitu pada martabat Zat hinggalah zahir kita bersifat dengan sifat bangsa Muhammad. Oleh yang demikian wujud atau zahirnya kita ini bukan sekali-kali diri kita, tetapi sebenarnya diri kita ini adalah penyata kepada diri Tuhan semesta alam semata-mata.

Seperti FirmanNya:

"INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJI'UN"

Yang bermaksud; "Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali".

atau pun bermaksud : "Sesungguhnya kita milik Allah dan kepadaNya kita dikembalikan"

Setelah mengetahui dan memahami secara jelas lagi terang bahawa asal kita ini adalah Tuhan pada Martabat Ahdah dan Nyatanya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan dan pada Alam Insan inilah kita memulakan langkah untuk mensucikan sifat diri kita ini pada martabat Sifat kepada Martabat Tuhan kembali iaitu asal mula diri kita sendiri atau Martabat Zat.

Sesungguhnya Allah S.W.T diri kita pada Martabat Ahdah menyatakan diriNya dengan SifatNya Sendiri dan memuji SifatNya Sendiri dengan AsmaNya Sendiri serta menguji SifatNya dengan Afa'alNya Sendiri. Sesungguhnya tiada sesuatu sebenarnya pada diri kita kecuali diri Sifat Allah, Tuhan semata-mata.

PROSES MENGEMBALIKAN DIRI
Dalam proses menyucikan diri dan mengembalikan rahsia kepada Tuan Empunya Rahsia, maka manusia itu semestinya mempertingkatkan kesuciannya sampai ke peringkat asal kejadian rahsia Allah Taala.
Manusia ini sebenarnya mesti menerokai dan melalui daripada Alam Insan pada nafsu Amarah ke Martabat Zat iaitu nafsu Kamaliah iaitu makam "Izzatul-Ahdah". Lantaran itulah tugas manusia semestinya mengenal hakikat diri ini lalu balik untuk mengembalikan amanah Allah S.W.T. tersebut sebagaimana mula proses penerimaan amanahnya pada peringkat awalnya.

Sesunggunya Allah dalam mengenalkan diriNya melalui lidah dan hati manusia, maka Dia telah mentajallikan DiriNya menjadi rahsia kepada diri manusia. Sebagaimana diperkatakan dalam hadis Qudsi;

"AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU"

Maksudnya; "Manusia itu adalah rahsiaKu dan aku adalah rahsia manusia itu sendiri".

MARTABAT TUJUH ( PENGUJUDAN )

Mengenai martabat pengujudan diri rahsia Allah S.W.T atau di kenali juga Martabat Tujuh, itu terbahagi ia kepada 7 Alam;
Ke tujuh-tujuh martabat atau alam ini terkandung ia di dalam surah -Al Ikhlas..

Qulhuwallahu Ahad - Ahdah
Allahushomad - Wahdah
Lamyalidd - Wahdiah
Walamyuladd - Alam Roh (Alam Malakut)
Walamyakullahu - Alam Mithal (Alam Bapa)
Kuffuan - Alam Ijsan
Ahad - Alam Insan

Seperti FirmanNya lagi dalam Al- Quran:
Setelah diketahui demikian maka tidaklah patut disamakan Allah Tuhan yang berkuasa mengawas tiap-tiap diri dan mengetahui akan apa yang telah diusahakan oleh diri-diri itu, (dengan makhluk yang tidak bersifat demikian). Dalam pada itu, mereka yang kafir telah menjadikan beberapa makhluk sebagai sekutu bagi Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) : "Namakanlah kamu akan mereka (yang kamu sembah itu). Atau adakah kamu hendak memberi tahu kepada Allah akan apa yang tidak diketahuiNya di bumi? Atau adakah kamu menamakannya dengan kata-kata yang lahir (sedang pada hakikatnya tidak demikian)? Bahkan sebenarnya telah diperhiaskan oleh Iblis bagi orang-orang yang kafir itu akan kekufuran dan tipu daya mereka (terhadap Islam) dan mereka pula disekat oleh hawa nafsu mereka daripada menurut jalan yang benar dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah) maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya."
( Surah Al-A'Rad Ayat:33)

MUNGKIN ADA YANG TERUS MENCARI YAKNI MARTABAT LAPAN YANG MENJADI RAHSIA

Tuesday, May 18, 2010

THAILAND OH BANGKOK


















Apakah ini ketaksuban politik melampau?
Atau apakah ini kebodohan yang diperkuda kan orang politik?
Thaksin bergoyang kaki di kerusi empuk
Berkira strategi untuk kembali
Kembali untuk harta nya yang dibekukan
Untuk kekayaan biarlah rakyat dikorban kan
Dengan alasan nya
Untuk demokrasi
Untuk kebebasan
Untuk rakyat!
Sering terdengar rakyat dikorban dan terkorban atas nama tuhan
Kini rakyat juga jadi mangsa
Tapi atas nama demokrasi
Tuhan dan demokrasi bukan lagi milik rakyat
Sudah jadi milik eksklusif orang politik

Baju Merah..Baju Biru
Ditunggang
Untuk kepentingan politik peribadi
Itulah tipudaya orang politik!

**The Sun,Thursday 20-5-2010-'As they surrounded the main protest site,top protest leaders offered to surrender,as supporters urged them to fight on....'**
RAKYAT RELA BERKORBAN NYAWA UNTUK PEMIMPIN TETAPI APAKAH PEMIMPIN RELA BERKORBAN NYAWA UNTUK RAKYAT??

ASIK NGGAK ASIK dari Iwan Fals:
Dunia politik penuh dengan intrik
Cubit sana cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran
Kalau nggak nyubit nggak asik

Dunia politik penuh dengan intrik
Kilik sana kilik sini itu sudah wajar
Seperti orang adu jangkrik
Kalau nggak ngilik nggak asik

Rakyat nonton jadi supporter
Kasih semangat jagoannya
Walau tau jagoannya ngibul
Walau tau dapur nggak ngebul

Dunia politik dunia bintang
Dunia hura hura para binatang
Berjoget dengan asik

Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong colongan
Seperti orang nyolong mangga
Kalau nggak nyolong nggak asik

Rakyat lugu kena getahnya
Buah mangga entah kemana
Tinggal biji tinggal kulitnya
Tinggal mimpi ambil hikmahnya

Dunia politik dunia bintang
Dunia pesta pora para binatang
Asik nggak asik

Dunia politik memang asik nggak asik
Kadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya)
Seperti orang main catur
Kalau nggak ngatur nggak asik

Pion bingung nggak bisa mundur
Pion pion nggak mungkin kabur
Menteri, luncur, kuda dan benteng
Galaknya melebihi raja

Raja tenang gerak selangkah
Sambil menyematkan hadiah

Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik
Asik nggak asik

Saturday, May 15, 2010

WIRID TOKKU SYED ALWI


Wirid Tokku (tulisan tangan Abah)

Tidak tahu apa gelaran wirid diatas. Semasa kecil,sering terdengar murid2 Tokku melagukan wirid tersebut.Walaupun nampak ringkas dan senang difahami,tetapi bukan semudah itu untuk difahami kerana banyak metafora atau kiasan yang mesti disingkap. Kiranya gagal disingkap,wirid ini hanya khalimah yang setakat dibaca dan diucap..tidak lebih dari itu.

Almarhum Tokku Syed Alwi Al-Baraqbah sangat terkenal sebagai guru ilmu Hakikat di Besut dan Kuantan.Salah seorang yang pernah berguru dengan Tokku ialah Abang Nuar,Guru Seni Silat Gayung Zahir 9 di Kuantan.

Nukilan Ringkasan Asal Usul Seni Silat Gayung Zahir Sembilan (9)




Syair Ringkas Asal Usul Seni Silat Gayung Zahir Sembilan (9)


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulliah
Segala Puji Bagi Allah Pencipta Sekelian Alam.

Nama Guru Asal;
Tuan Guru Abdullah Ladunni
Pak Muda Mas Tunggal
Tok Ayah Hassan Anak Harimau
Pak Shah Bin Ali


Asal Usul Alam Persilatan
Seni Silat Gayung Zahir Sembilan
Terlalu Panjang Untuk Di Ceritakan
Kata Tuan Guru Awal Bualan

Tahun Berapa Silat Gayung Datang
Tiada Di Hitung Malam Dan Siang
Beribu Tahun Bagai Bulan Dan Bintang
Telah Ujud Di Sarung Pahlawan

Gayung Zahir Sembilan Di Usulkan
Tiada Dapat Aku Nyatakan
Kerana Tiada Di Dalam Catitan
Maklum Sejarah Di Zaman Silam

Biodata Abad Berkurun-Kurun
Lagenda Lama Tiada Tersusun
Asal Satu Pecah Berduyun
Diharap Kembali Menjadi Serumpun

Seni Silat Gayung Alam Budaya
Segala Jenis Silat Diguna Tipu Daya
Menumbangkan Musuh Yang Amat Merbahaya
Jaga Diri Yang Lemah Tak Berdaya

Cerita Tuan Guru Yang Dikasihi
Silat Gayung Ujud Tahun A.D. Masihi
Di Zaman Nabi Sudah Digagahi
Semasa Berperang Walau Berkelahi

Tuan Guru Abdullah Ladunni
Berkaki Ayam Merantau Ke Sini
Mencari Ilmu Berguni-Guni
Demi Menghidupkan Alam Seni

Pak Muda Mas Tunggal Merasa Sangsi
Abdullah Ladunni Diajak Bergusti
Nasib Baik Lempang Tak Mati
Berguru Biar Berhati-Hati

Mula Mengajar Di Tanah Seberang
Menyusun Buah Di Waktu Siang
Jasa Guru Tetap Dikenang
Sampailah Baka Ke Negeri Pahang

Hatta Gayung Zahir Sembilan
Prinsip Tidak Mencari Lawan
Biar Disumpah Berkoyan-Koyan
Belum Bijak Selagi Berlawan

Mari Dengar Aku Bercerita
Walau Samar Tiada Nyata
Hanya Ini Yang Dapat Ku Kata
Gayung Zahir Sembilan Tempat Mula Bertahta

Abdullah Ladunni Guru Asal
Pak Muda Mas Tunggal Guru Awal
Tok Ayah Hassan Anak Harimau Guru Pembekal
Pak Shah Ali Pula Guru Bangsal

Cerita Mulut Tok Ayah Hassan Anak Harimau
Berduyung Murid Datang Untuk Berlimau
Di Kota Bharu Kampung Limau
Nyusun Silatnya Sungguh Terpukau

Hassan Anak Harimau Menuntut Dengan Lanun
Duduk Beruzlah Bertahun-Tahun
Luar Dalam Ilmu Telah Diperturun
Musuh Melihat Terasa Gerun

Sekampung Tuduh Menuntut Ilmu Sesat
Di Panggil Mufti Kadi Untuk Siasat
Mufti Kadi Kata, Betul Ia Jalan Makrifat
Salah Dan Silap Pada Yang Otak Kurang Sihat

Seni Silat Gayung Zahir Sembilan
Perak Kelantan Pahang Jadi Kacukan
Timur Barat Utara Selatan
Hanya Di Pahang Mula Disebarkan

Pak Shah Ali Asal Perak
Datang Ke Pahang Untuk Bertapak
Mengajar Silat Setapak Setapak
Di Anggap Dia Sebagai Bapak

Mengajar Silat Tahun Empat Puluhan
Gurunya Banyak Dari Baka Pahlawan
Bermula Aku Belajar Dengan Kawan
Kenal Lah Sudah Silat Gayung Zahir Sembilan

Berbelas Tahun Sudah Berlalu
Ujian Bertubi Dan Bertalu-Talu
Mendapat Keizinan Dari Pak Guru
Membuka Gelanggang Sembilan Tahun Dahulu

Tujuh Puluhan Mula Berbangsal
Kuantan Pahang Tempat Awal
Kurang Sambutan Bukan Gagal
Adat Memakai Ilmu Hukum Akal

Serba Ringkas Dalam Catitan
Permainan Gayung Zahir Sembilan
Belebat Satu Pecah Sembilan
Dalam Sembilan Ada Rahsia Sembilan

Takbur Jirin Buat Kita Binasa
Sebesar Biji Sawi Mesti Berjaga
Firman dan Hadis Sudah Nyata
Ada Sifat Takbur Tak Masuk Syurga

Gayung Sembilan Zahir Dan Batin
Turun Lah Mempedu Di Bawah Ketin
Jampi Mentera Tidaklah Asing
Jangan Belajar Jika Takut Ising

Petua Jelas Lagi Berpati
Dulu Mati Sebelum Mati
Duduk Dalam Rahsia Amat Dihajati
Fahamlah Sudah Pada Yang Mengerti

Sedar Dan Bangunlah Wahai Melayu
Dunia Menampakkan Sudah Layu
Berperang Bermusuh Hilir Dan Hulu
Asahlah Ilmu Mana Yang Tahu
Marilah Bangsa Ku Bersatu-Padu
Dengan Aku Persatuan Dan Kamu
Tak Mahu Dengar Nasihat Aku
Buka Radio Dengarlah Lagu

Ooo….Hoi Kawan Yang Bijak Bistari
Ini Bukan Syair Hamzah Fansuri
Emas Sepuluh Menyusun Jejari
Berperang Nanti Janganlah Lari

Biar Berkubur Bertandakan Nisan
Asal Hidup Di Masa Hadapan
Cerita Lama Berdekan-Dekan
Masakan Habis Dalam Lisan

Kalau Hendak Puaskan Hati
Datanglah Berjumpa Dari Hati Ke Hati
Bertapak Sudah Di Balai Seni
Segala Matlumat Boleh Di Dapati

Dalam Kitab Kamus Disiarkan
Semoga Jadi Satu Pedoman
Kota Silat Gayung Zahir Sembilan
Agar Cucu Cicit Buat Pegangan...

'KETURUNAN' DATUK BALAI TRENGGANU


Terpanggil meletak kan wajah arwah datuk (ayah kepada ibu ) yang aku panggil 'Bak' di blog ini. Setelah membaca coretan Awang Goneng di blog nya http://kecek-kecek.blogspot.com berkenaan Datuk Balai ( Friday-June 17,2005 'Burying the Past', Monday-Sept 19,2005 'Man with The Pom Pom Hat' and Thursday-August 17,2006 'Flower of Trengganu' : Sultan Zain al Abidin refused to recognise the Bangkok Agreement, rejected a British ‘adviser’ but grudgingly accepted a British agent. The gesture did not save him from the stranglehold of this western colonial power, but it saved him until his death in 1919 from having to scrape his state coffers for three more orders to his goldsmiths for the troublesome Bunga Mas.

One morning, when I was up in time to walk with father to the White Mosque (the Masjid Zain al Abidin, as it happened) for the dawn prayer, we met the man in our slow walk home, and father urged me to shake his hand. Father knew the man well as he had a jovial friend who signed himself Awang bin Datuk Balai, and the pompon hatted nonagenarian who was slowly emerging from the haze of the Kuala Trengganu morn was the Datuk Balai himself, the man who hobnobbed with and probably shook the hands of panjandrums in the imperial court and probably caught a glimpse of the Siamese king himself as he peeked through his royal curtains to look with satisfaction at yet another consignment of Trengganu gold.

Datuk Balai in his heyday served in the Royal House of Trengganu, father said, and was part of Sultan Zain al Abidin’s Bunga Mas mission. I was too clueless than to be capable of any intelligent conversation with the Datuk, but I remember him for his gleeful take on life as he saw it, and father, I remember, was always taking home some gleeful anecdotes about the man. He once told father that the head of jet black hair under his woolen hat was largely attributed to his diligent watering of the roots from within, with glasses of milk from local cows. I remember the words that father quoted from him, sirang dalang (standardspeak, siram dalam, watering from within). And then once, father said, he simply disappeared from sight, only to be found in the darat (hinterland), merrily watering a gaggle of ducks, a business idea that soon floundered but which brought him back to the White Mosque of his former master Zain al Abidin.

Once when father asked the venerable Datuk Balai about his trips to Siam with the Bunga Mas he made great comedy of how Siamese men and women in the street made a show of throwing themselves to the ground in prostration on seeing the arrival of this precious gift. Such was their veneration for their king).

........terasa kehilangan yang amat sangat kepada Arwoh Bak.



Buku Awang Goneng

Bak ialah seorang yang jarang melenting dan suka 'nngayor' dengan cucu-cucu nya. Pernah dikenali 'Che Mat Pintas' dikalangan kawan-kawan nya semasa muda. Meski pun ayah nya Ibrahim bin Umat ' Che Heng' seorang panglima Silat yang bersama-sama abang nya Salim Bin Umat ' Datuk Balai' membawa Bunga Mas ke Siam, darah persilatan tiada didalam tubuh arwoh Bak. Masih teringat Arwoh Bak memberitahu, Che Heng amat rapat dengan Habib Bucu (Syed Abdul Rahman Bin Alwi Al Haddad) yang dikatakan Wali yang betapa di Bukit Bucu,Batu Rakit. Ilham petapaan itu diajar kepada adik nya Syed Abdul Hamid, maka lahir lah persilatan yang dikenali sekarang Gayong Syed Hamid. Gayongan ini dikembangkan oleh Ayohsu Mezoh di Ladang dan Tok Lebai Awang di sekitar Jeram.

Salim Bin Umat dianugerahkan gelaran Datuk Balai oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah pada tahun 1924 iaitu 2 tahun sebelum bah merah dan 4 tahun selepas baginda tuanku naik takhta. Pada majlis yang sama Tengku Long (Raja terakhir Besut) yang juga digelar Ku Long Ddekar atau Ku Long Gagoh turut dikurniakan gelaran Tengku Seri Indera Segera . Gelaran Datuk Balai dianugerahkan khusus bagi amanah mewakili kerajaan dalam misi penghantaran bunga emas ke Siam. Kemungkinan Salim Bin Umat hidup dalam pemerintahan 3 orang Sultan, bermula Sultan Zainal Abidin 3, Sultan Muhammad 2 dan Sultan Sulaiman. Sejak zaman Sultan Mansur 1 lagi jawatan Datuk Balai ini ujud.

Arwoh Bak mempunyai hati yang sangat baik. Ilmu 'Penunduk' yang ada pada nya tiada lain ada lah mulut nya yang sentiasa tersenyum. Hingga sekarang, kepada generasi-generasi lama di Kuala Trengganu ..keturunan ini dikenali 'Keturunan' Datuk Balai.

Aku yakin dan percaya, dengan ilmu 'rahsia diri' yang Bak pegang..nikmat dan rahmat yang dirasa.

AL-FATIHAH UNTUK ARWOH BAK
MUHAMMAD BIN IBRAHIM
1912-9 NOV 1988

***Gelaran Che dikatakan berasal dari Champa. Gelaran Che bermakna Sri.***

SARUNG FATIHAH DAN HURUF HIJAIYAH

Sarung Fatihah (tulisan tangan Abah)

Sarung Fatihah sangat terkenal sebagai 'pakaian' pahlawan-pahlawan Melayu dahulu. Sarung Fatihah juga dijadikan wirid kepada setengah2 kumpulan ilmu Hakikat. Dikatakan Sarung Fatihah juga dipakai oleh Selendang Merah?(Hanya sebahagian sahaja Sarung Fatihah dipaparkan!)

Susunan huruf-huruf pula diterima aku daripada Tok Kelana (semasa menuntut di ITM Cawangan Kuantan) yang mempunyai hubungan kekeluargaan dan diterima oleh nya dari Pawang Nong.Ada sedikit kelainan bila dibandingkan dari susunan huruf yang aku terima daripada Abah.


Pawang Nong

Dikatakan Datuk Bahaman juga 'memakai' Huruf Hijaiyah ini. Didalam buku Anwarud Daqaiq 'Syeikh Syamsuddin bin Abdullah as Sumathra-i'ada juga diterangkan berkenaan dengan huruf-huruf ini.

Alif tertulis diantara dua kening
Ba dikening kanan
Ta dikening kiri
Tha di dahi
jim di ubun-ubun
Ha di dada kanan
Kho di dada kiri
Dal di rusuk kanan
Zal di rusuk kiri
Ro di kaki kanan
Zai di kaki kiri
Sin di susu kanan
Syin di susu kanan
Sod di telinga kanan
Dhad di telinga kiri
To di mata kanan
Dzo di mata kiri
'Ain di tangan kanan
Ghain di tangan kiri
Pa di bahu kanan
Kof di bahu kiri
Kaf di lutut kanan
Lam di lutut kiri
Mim di halkum
Nun di otak
Wau di pusat
Lam Alif di tulang selangka
Haa' RAHSIA
Amzah di mulut
Ya di nyawa

Saturday, May 8, 2010

SHAMSUDDIN PASAI

Lembaran pertama satu kitab karangan Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatrani


Sheikh Shamsuddin al-Sumatrani yang hidup abad 16-17 Masihi. Beliau adalah Sheikhul Islam atau Mufti besar Aceh semasa zaman pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Shah Sayyid al-Mukammil (1589-1604). Beliau juga terkenal sebagai salah seorang pendokong kuat fahaman Martabat Tujuh .
Mungkin ramai yang tidak menyedari ini, ulamak yang termasuk di dalam kumpulan empat orang ulamak agung Aceh ini telah meninggal dunia dan dimakamkan di Melaka, bukannya di Indonesia! Ini kerana beliau dipercayai terlibat sama dalam serangan Aceh ke atas Portugis yang dilakukan tahun 1629, semasa Aceh berada di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Johan Berdaulat (1607-1636). Tarikh wafat nya ada dicatatkan oleh musuh pegangannya,Nuruddin ar-Raniri,iaitu pada malam Isnin,12 Rejab 1039H/1630M. Dikatakan makamnya masih ada lagi di Kampung Ketek, juga dikenali dengan nama Kampung Pali, tidak jauh daripada Masjid Kampung Hulu yang berusia hampir 300 tahun??

Sufi Legendaris dari Nangroe Aceh :
Sejak lama Aceh telah dikenal sebagai satu-satunya daerah yang aksentuasi keislamannya paling menonjol. Selain menonjolnya warna keislaman dalam kehidupan sosio-kultur di sana, ternyata di Serambi Mekah ini pernah tersimpan pula sejumlah Sufi ternama semisal Samsuddin Sumatrani.

Syamsuddin Sumatrani adalah salah satu tokoh sufi terkemuka yang telah turut men corak esoteris pada wajah Islam di Aceh. Sayangnya perjalanan hidup sang sufi ini sulit sekali untuk dirangkai secara utuh. Hal ini selain karena tidak ditemukannya catatan otobiografinya, juga karena sukarnya mendapat sumber-sumber tepat yang dapat dirujuk. Bahkan tidak kurang peneliti seperti Prof. Dr. Azis Dahlan yang pernah mengadakan penelitian untuk disertasinya, merasa kesulitan mencari sumber-sumber mengenai tokoh sufi yang satu ini. Diantara sumber tua yang dapat dijumpai mengenai potret Syamsuddin Sumatrani adalah Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan kitab Bustanu al-Salathin. Itupun tidak memotret perjalanan hidupnya secara terperinci. Meski demikian, dari serpihan-serpihan data sejarah yang terbatas itu, cukuplah bagi kita untuk sekedar memperoleh gambaran siapa Syamsuddin Sumatrani dari spektrum pemikirannya.

Mengenai asal-usulnya, tidak diketahui secara pasti bila dan di mana ia lahir. Perihal sebutan Sumatrani yang selalu diiringkan di belakang namanya, itu merupakan penisbahan dirinya kepada “negeri Sumatra” alias Samudra Pasai. Sebab memang di kepulauan Sumatra ini dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan yang cukup ternama, yakni Samudra Pasai. Itulah sebabnya ia juga adakalanya disebut Syamsuddin Pasai.

Menurut para sejarawan, penisbahan namanya dengan sebutan Sumatrani ataupun Pasai mengisyaratkan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian maka bisa diduga bahwa ia sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Pasai. Jika pun ia tidak lahir di Pasai, maka kemungkinan kedua bahwa sang ulama terkemuka pada zamannya ini telah lama bermukim di Pasai .

Berbicara tentang peranan Sumatra sebagai pusat pengajaran dan pengembangan Islam, Negeri Pasai itu memang lebih dahulu terkemuka daripada Banda Aceh. Paling tidak Samudera Pasai lebih dulu terkemuka pada kisaran abad ke-14 dan 15 M, yakni sebelum akhirnya Pasai dikuasai oleh Portugis pada tahun 1514. Sementara beralihnya tampuk kekuasaan Negeri Pasai kepada Kerajaan Aceh Darussalam baru berlangsung pada tahun 1524.

Peranan dan Pengaruh :
Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604), Syamsuddin Sumatrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Sayang dalam kitab Bustan al-Salathin sendiri tidak disingkapkan bagaimana perjalanan Syamsuddin Sumatrani sehingga ia menjadi ulama yang paling dipercaya dalam lingkungan istana kerajaan Aceh selama tiga atau empat dasawarsa.
Syamsuddin Sumatrani wafat pada tahun 1039 H/1630 M, dan selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya ia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Ia berada dalam lindungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.
Syamsuddin Sumatrani adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka. Ia berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada kisaran abad ke-l7 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri (?-?), Syamsuddin Sumatrani (?-1630), Nuruddin Raniri (?-1658), dan Abdur Rauf Singkel (1615/20-1693). Mengenai ada tidaknya hubungan antara Syamsuddin Sumatrani dengan ketiga ulama lainnya, ada baiknya disinggung seperlunya.

Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin Sumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Sumatrani sebagai murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya tulis Syamsuddin Sumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran Hamzah Fansuri. Kedua karya tulis Syamsuddin Sumatrani itu adalah Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.

Adapun hubungannya dengan Nuruddin ar-Raniri, hal ini tidak diketahui secara pasti. Yang jelas adalah bahwa tujuh tahun setelah Syamsuddin Sumatrani wafat, Raniri memperoleh kedudukan seperti sebelumnya diperoleh Syamsuddin Sumatrani. Ia diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1637 oleh Sultan Iskandar Tsani. Karena fatwanya yang men-zindiq-kan (mengkafirkan) paham wahdatul wujud Syamsuddin Sumatrani, maka para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dihukum oleh pihak penguasa dengan hukuman bunuh. Bahkan literatur-literatur yang mereka miliki dibakar habis. Namun demikian, para pengikut paham Sumatrani itu ternyata tidak punah semuanya.Ada juga pendapat menyebut bahawa Syamsuddin Sumatrani pernah belajar dengan Sunan Bonang, seorang Wali Allah di Tanah Jawa.

Pada kisaran tahun 1644 Raniri disingkirkan dari kedudukannya selaku mufti kerajaan Aceh Darussalam. Ia pun terpaksa pulang ke Ranir, Gujarat. Sebagai penggantinya, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) kemudian mempercayakan jabatan mufti kerajaan kepada Saiful Rijal. Saiful Rijal adalah seorang Minang yang juga penganut faham wahdatul wujud. Pada waktu itu ia baru pulang kembali ke Aceh dari pendalaman kajian agama di India. Dengan demikian, faham tasawuf Syamsuddin Sumatrani itu kembali mewarnai corak keislaman di Kerajaan Aceh Darussalam.

Karya-karya :
Aktiviti penulisan pengetahuan keislaman di Aceh memang dimulai oleh Hamzah Fansuri, yang dilanjutkan oleh Syamsuddin Sumatrani sebagai murid nya. Apa yang ditulis oleh Syamsuddin Sumatrani adalah senada dan seirama dengan fahaman dan tulisan Hamzah Fansuri. Pengetahuan sufi tahap muntahi kedua tokoh ini tidak pernah ditentang oleh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri (Syiah Kuala) sepertimana diputarbelitkan dari sudut sejarah dan ilmiyah oleh setengah penulis yang mengatakan Abdul Rauf Fansuri memihak kepada Nuruddin ar-Raniri. Pembicaraan Martabat 7 yang dimulai dari Hamzah Fansuri turun kepada Syamsuddin Sumatrani,turun kepada Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri, kemudian kebelakang disokong oleh beberapa orang ulama nusantara seperti Abdus Shamad al-Falimbani. Didalam karya nya 'Siyarus Salikin', Abdus Shamad al-Falimbani mengiktiraf karya-karya Syamsuddin Sumatrani sebagai ajaran tasauf peringkat muntahi.

Karya-karya Syamsuddin Sumatrani ditulis sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi berbahasa Melayu (Jawi). Diantara karya tulisnya adalah seperti berikut:

1. Jawhar al-Haqa'iq (30 halaman; berbahasa Arab), merupakan karyanya yang paling lengkap yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze. Kitab ini menyajikan pengajaran tentang martabat tujuh dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah (8 balaman; berbahasa Arab). Karya yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze ini, kendati relatif singkat, cukup penting karena mengandung penjelasan tentang perbedaan pandangan antara kaum yang mulhid dengan yang bukan mulhid.

3. Mir’at al-Mu'minin (70 halaman; berbahasa Melayu). Karyanya ini menjelaskan ajaran tentang keimanan kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Jadi pengajarannya dalam karya ini membicarakan butir-butir akidah, sejalan dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah (tepatnya Asy'ariah-Sanusiah).

4. Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri (24 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan terhadap 39 bait (156 baris) syair Hamzah Fansuri. Isinya antara lain menjelaskan pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud). Karya ini bukti yang cukup kuat bahawa Syamsuddin Sumatrani adalah penyambung aktiviti dan bertanggungjawab menyebarkan ajaran guru nya Hamzah Fansuri.

5. Syarah Sya'ir Ikan Tongkol (20 balaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan (syarh) terbadap 48 baris sya'ir Hamzah Fansuri yang mengupas soal Nur Muhammad dan cara untuk mencapai fana' di dalam Allah.

6. Nur al-Daqa'iq (9 halaman berbahasa Arab; 19 halaman berbahasa Me1ayu). Karya tulis yang sudah ditranskripsi oleh AH. Johns ini (1953) mengandung pembicaraan tentang rahasia ilmu makrifah (martabat tujuh).

7. Thariq al-Salikin (18 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, 'adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.

8. Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur (12 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh dan tentang ruh.

9. Kitab al-Harakah (4 halaman; ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.


Ajaran Tasawufnya :

Syamsuddin Sumatrani dikenal sebagai seorang sufi yang mengajarkan faham wahdatul wujud (keesaan wujud) dengan mengikuti faham wahdatul wujud Ibnu Arabi. Dari hasil penelitian WC. Chittick, Sadr al-Din al-Qunawi (w. 673/1274) adalah orang pertama yang menggunakan istilah wahdatul wujud, hanya saja al-Qunawi tidak menggunakannya sebagai suatu istilah teknis yang independen. Selain al-Qunawi, masih banyak lagi yang menggunakan istilah wahdatul wujud. Namun tokoh yang paling besar peranannya dalam mempopulerkan istilah wahdatul wujud adalah Taqi al-Din Ibn Taymiyyah (w. 728/1328). Ia adalah pengecam keras ajaran Ibnu Arabi dan para pengikutnya.

Di antara kaum sufi yang mengikuti jejak pemikiran Ibnu Arabi tersebut adalah Syamsuddin Sumatrani. Pengajaran Syamsuddin Sumatrani tentang Tuhan dengan corak faham wahdatul wujud dapat dikenal dari pembicaraannya tentang maksud kalimat tauhid la ilaha illallah, yang secara harfiah berarti tiada Tuhan selain Allah. Ia menjelaskan bahwa kalimat tauhid tersebut bagi salik (penempuh jalan tasawuf) tingkat pemula (al-mubtadi) dipahami dengan pengertian bahwa tiada ada ma’bud (yang disembah) kecuali Allah.Sementara bagi salik yang sudah berada pada tingkat menengah (al-mutawassith), kalimat tauhid tersebut dipahami dengan pengertian bahwa tidak ada maksud (yang dikehendaki) kecuali Allah. Adapun bagi salik yang sudah berada pada tingkat penghabisan (al-muntaha), kalimat tauhid tersebut difahami dengan pengertian bahwa tidak ada wujud kecuali Allah. Menetapkan makna kalimat tauhid la ilaha illallah, yakni tiada wujud selain Allah. Kesatuan hakikat dalam kejamakan alam tanpa membedakan antara martabat Tuhan dengan martabat alam.

Bagi Syamsuddin Sumatrani, sebagaimana faham Ibnu Arabi, adalah Keesaan Wujud berarti tidak ada sesuatu pun yang memiliki wujud hakiki kecuali Tuhan. Sementara alam atau segala sesuatu selain Tuhan keberadaannya adalah karena wujud (maujud) Tuhan. Karena itu dilihat dari segi keberadaanNya dengan diriNya sendiri.Tulisnya:

I’lam, ketahui olehmu bahwa (se)sungguhnya martabat wujud Allah itu tujuh martabat; pertama martabat ahadiyyah, kedua martabat wahdah, ketiga martabat wahidiyyah, keempat martabat alam arwah, kelima martabat alam mitsal, keenam martabt alam ajsam dan ketujuh martabat alam insan.

Maka ahadiyyah bernama hakikat Allah Ta’ala, martabat Dzat Allah Ta’ala dan wahdah itu bernama hakikat Muhammad, ia itu bernama sifat Allah, dan wahidiyyah bernama (hakikat) insan dan Adam ‘alaihi al-Salam dan kita sekalian, ia itu bernama asma Allah Ta’ala, maka alam arwah martabat (hakikat) segala nyawa, maka alam mitsal martabat (hakikat) segala rupa, maka alam ajsam itu martabat (hakikat) segala tubuh, maka alam insan itu martabat (hakikat) segala manusia. Adapun martabat ahadiyyah, wahdah dan wahidiyyah itu anniyyat Allah Ta’ala, maka alam arwah, alam mitsal alam ajsam dan alam insan itu martabat anniyyat al-makhluk.


Atas uraian Syamsuddin Sumatrani tersebut Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan berpendapat dan memberikan ulasan: terhadap tiga martabat pertama yang disebutnya dengan ‘anniyyat Allah, maksudnya adalah martabat wujud aktual Tuhan; Sedang terhadap empat martabat berikutnya yang disebut martabat anniyyat al-makhluk, maka yang dimaksudkannya adalah wujud aktual makhluk.

Dengan demikian, tiga martabat pertama adalah qadim (dahulu tanpa permulaan) dan baqa (kekal tanpa kesudahan); Sedang empat martabat berikutnya disebut muhdats (yang dijadikan/diciptakan). Karena itu pula istilah ‘alam tidak digunakan untuk tiga martabat pertama, tapi jelas dipergunakan untuk empat martabat berikutnya. Dari semua itu dapatlah dipahami bahwa martabat ketuhanan itu tidak lain dari tiga martabat pertama, sedang martabat alam atau makhluk mengacu pada empat martabat berikutnya.