Friday, June 4, 2010

ILMU PERANG MAT KILAU


Mat Kilau pernah berguru kepada seorang wali Allah iaitu Tukku Paloh seorang ulama terbilang di Terengganu. Sebagai seorang pahlawan Melayu dan pejuang , Mat Kilau banyak mengamalkan amalan-amalan seperti mantera, jampi serapah, doa, isim dan silat untuk mempertahankan diri sendiri dan untuk menewaskan musuh. Mat Kilau merupakan seorang pahlawan Melayu yang berjuang, pantang menyerah kalah walau nyawa menjadi galang ganti.

Oleh kerana dianggap sebagai penderhaka oleh penjajah British, Mat Kilau terpaksa bersembunyi dan berpindah randah sehingga akhirnya menetap di Gambang Kuantan dengan memakai nama samaran iaitu Mat Siam. Akhirnya pada 26 Disember 1969, Mat Siam menggemparkan seluruh Malaysia dengan mendakwa bahawa beliaulah sebenarnya Mat Kilau. Tepat jam 10.30 pagi hari Khamis, 6hb Ogos 1970 Mat Siam diisytiharkan sebagai Mat Kilau oleh Menteri Besar Pahang. Empat hari selepas pengiktirafan itu, beliau kembali ke rahmatullah ketika berusia 122 tahun.

Berikut adalah antara amalan-amalan yang pernah beliau miliki:

Amalan 1:Untuk Kebal (Aman dari Senjata Musuh):
Bismillah Lam Zat Kam sifat Lam Ghat rohku jaga-jaga Ya Hu Ujud Allah Ya Hu Rahimallah Ya Hu sifat Allah Ya Hu Ya Allah hai Jibril Israfil Izrail Mikail hadangkan aku selitkan nyawa di dalam kandang La ilaha illa Allah binasa Allah binasa aku tiada binasa Allah tiada binasa Aku menyelamatkan aku Allah Muhammad bersertaku dengan berkat La ilaha ilLa Allah Ahlikum Nabaz si berkat besi sampai semua yang bernyawa tidak dapat menentang mataku aku berdiri di dalam kandang La ilaha ilLa Allah dengan berkat guru-guruku La ilaha illa Allah


Amalan 2:Ilmu Limunan (Menghilangkan Diri dari Penglihatan Musuh):
Wa Atbaaka Palaka Kun suaraku Kairun rahsiaku hai alam akulah yang bernama Nakad yang tiada berlawan Satakun AH AH AH Summun Bukmum Bania Bikum (3 kali) Ah lenyap aku di dalam zat Allah Ah hilang aku di dalam zat Allah Ah senang aku di dalam zat Allah Ah ghaib aku di dalam badan Zat Allah yang tiada bersifat AH AH AH HU


Amalan 3:Untuk Kuat dan Gagah :
Hai Besi Putih Besi Khursani Besi Pelilit di pinggangku Kuat aku seperti Saidina Ali Gagah aku seperti Saidina Hamzah Alhamdu, Alhamdu, Alhamdu Jangan engkau makan hati yang putih Engkau makan darah dan daging Jikalau engkau makan hati yang putih Derhaka engkau kepada Allah,Hai Kaddam Kuddim Keluarlah engkau daripada tempat yang jahat Ketujuh petala langit dan ketujuh petala bumi Keluarlah engkau daripada tempatnya Berkat doa La ilaha Illa Allah Muhammad rasulullah(Catatan : ibu jari pegang buah pinggang, urut ke depan tiga kali)

--Manafaat Inti Besi Khursani:
Meningkatkan kepercayaan diri sehingga keupayaan positif yang terpendam dapat dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan mutu kehidupan yang lebih baik.Mendapatkan ketenteraman jiwa, mampu mengendalikan tenaga negatif dalam diri, mampu mengoptimakan tenaga positif dalam diri, serta mendorong perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari baik dalam pekerjaan, rumah-tangga, maupun dimasyarakat.
Meningkatkan mutu sistem metabolisme tubuh.
Meningkatkan mutu sistem ketahanan tubuh.
Meningkatkan mutu sistem regenerasi organ tubuh.
Meningkatkan mutu susunan syaraf pusat.
Meningkatkan kesegaran tubuh sehingga tubuh tidak mudah merasa letih.
Menghindarkan diri dari serangan jantung dan stroke.
Memperlambat proses penuaan kulit.
Mempertahankan kesegaran tubuh, muka, perut, dan buah dada.
Meningkatkan pertumbuhan dan kecerdasan.
Meningkatkan libido sex.
Kemampuan memagar metafisik (pagaran tenaga meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari tindak kejahatan seperti rompakan,penculikan ataupun pembunuhan.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari serangan tenaga negatif (ilmu hitam) yang dikirimkan seseorang seperti teluh, tenung, sihir, guna-guna.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) untuk diri pribadi dan orang lain sehingga terhindar dari serangan hipnotis, magnetis, gendam, dan telepati negatif yang dikirimkan orang lain kepada kita.
Kemampuan membuat pagaran metafisik (pagaran energi meta) pada rumah, pejabat, kebun, kenderaan , dan benda-benda berharga lainnya sehingga terhindar dari tindakan kecurian, rompakan .
Kemampuan membantu proses penyembuhan pada penderita yang terserang tenaga negatif dan pengaruh hipnotis, gendam, dan magnetis negatif, sehingga pulih dan normal semula.
Kemampuan melakukan terapi penyembuhan pada penderita yang terasuk roh halus/jin hitam sehingga pulih dan sedar kembali.
Kemampuan membantu penyembuhan bagi penderita insomnia (susah tidur) sehingga normal kembali, baik pada anak-anak ataupun orang dewasa.
Keselamatan tubuh yang lebih prima dari serangan senjata tajam seperti tusukan, tebasan senjata tajam :pedang, golok, badik, dll.
Keselamatan dari serangan senjata api.
Keselamatan dari ledakan bom, pecahan mortar, dan pecahan bom yang kerap terjadi .
Keselamatan dalam perjalanan darat, laut, udara, maupun pendakian gunung, serta keselamatan dari bahaya hutan.
Menambah padu pukulan tangan sehingga mampu meningkatkan pertahanan dari serangan kejahatan lawan.--

Amalan 4:Pendinding Diri dan Meringankan Badan:
Khursani menggantikan diriku Khursani menggantikan nyawaku Alung memaling badanku yang menjadikan Nabi Adam Mustajab bagiku siang dan malam dengan berkat doa La ilaha Illa Allah


Helaian muka surat dalam Kitab Mat Kilau :





















































Nusantara telah dijajah selama beratus tahun dan kemudian dipecah dan dipisah-pisahkan menjadi beberapa negara yang berasingan dengan tujuan untuk melemahkan orang-orang Melayu. Mereka menyusun strategi untuk melemahkan Melayu kerana mereka dapat tahu (dari teks-teks silam) bahawa orang-orang Malai ini akan sekali lagi menjadi pemimpin atau peneraju dunia .

Amalan Mat Kilau yang dicatat di atas itu termasuk dalam ‘ilmu perang’ orang-orang Melayu zaman dahulu. Di Nusantara ini terdapat ramai pahlawan Melayu yang tinggi ilmunya, dan pada pendapat saya, ciri kepahlawanan ini akan terus wujud dan subur di kalangan bangsa Melayu, selagi bangsa Melayu masih bernafas.

Mudah-mudahan dapat membangkitkan kesedaran kepada kita semua betapa pentingnya kita berada dalam keadaan sentiasa bersedia menghadapi sebarang kemungkinan.

Sunday, May 30, 2010

ALFATIHAH

13 Mei 2010-Telah kehilangan dua insan istimewa.Gambar diletakkan di blog ini sebagai satu kenangan dan sebagai tanda dan rasa kasih walau tidak pernah bersua.

Habib Ali Bin Jafar Bin Ahmad Al Aydrus 'Batu Pahat'


Kembali dengan tenang
Abuya Ashaari Muhammad 'Darul Al-Arqam'

Saturday, May 29, 2010

SYEIKH ABDUL KARIM IBNU IBRAHIM AL JAILI

Al-Jili: adalah seorang sufi terkenal dari Baghdad,lahir pada 1365 M (767 H) dan meninggal dunia 1409 M (811 H). Al-Jili rh adalah dari keturunan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani rh yang nasab nya bersambung kepada Al-Hasan cucu Rasulullah SAWW, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah dan murid Syaikh Syarafuddin Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti rh, seorang tokoh tasawuf terkenal di negeri Zabit Yaman. Dalam dunia tulis menulis al-Jili termasuk seorang sufi yang cukup kreatif, karangannya tentang tasawuf tidak kurang dari 20 buah, yang paling terkenal diantaranya: al-Insān al-Kāmil dan al-Kahf wa al-Raqīm:

**Allah Ta'ala telah menurunkan Taurat atas Nabi Musa AS. dengan sembilan alwāh (lembaran naskah kitab suci), dan Dia memerintahkan agar Nabi Musa menyampaikan kepada kaumnya tujuh naskah saja dan meninggalkan dua naskah yang tersisa, demikian ini karena ketika itu daya intelektual kaum beliau belum mampu untuk menerima ajaran-ajaran yang ada pada kedua lembaran naskah itu. Seandainya Nabi Musa AS. mengemukakan kedua lembaran naskah itu (pada umatnya) maka pasti risalah yang beliau kehendaki akan dibuat berantakanlah karena tidak akan ada satu orangpun dari umat beliau yang akan mempercayainya. Pada masa itu dua lauh (lembaran naskah) itu dikhususkan buat Nabi Musa dan bukan untuk orang lain.

Dan adalah lembaran-lembaran naskah yang diperintahkan kepada beliau untuk menyampaikannya terdiri dari ilmu-ilmu kaum awalin dan kaum akhirin, terkecuali ilmu Nabi Muhammad SAW, ilmu Nabi Ibrahim AS, dan ilmu Nabi Isa AS, dan ilmu tentang waratsah (ilmu waris) Nabi Muhammad SAW. Demikian ini karena kandungan isi Taurat itu tidak mencakup kepada keistimewaan-keistimewaan dan waratsat Nabi Muhammad SAW, keagungan tentang Nabi Ibrahim AS dan Isa AS. Dan adalah lembaran tujuh naskah yang diperintahkan kepada Musa AS. untuk menyampaikannya itu terbuat dari batu marmer, lain halnya dengan dua lembaran naskah yang tersisa lainya dimana keduanya terbuat dari nur (cahaya). Oleh karena hal ini (menggambarkan) bahwa hati kaum Nabi Musa telah menjadi keras (laksana batu) karena lembaran-lembaran naskahnya sendiri terbuat dari bebatuan.

Semua ajaran (ilmu) yang tercakup oleh ketujuh lembaran naskah itu terdiri dari tujuh kebutuhan-kebutuhan umat beliau tentang al-ilahiyyah (ketuhanan) dan ini pun terbagi kepada beberapa alwāh; lembaran pertama adalah an-nur (cahaya), lembaran kedua al-huda (petunjuk) sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah.."[1], ketiga al-hikmah (kebijaksanaan), keempat al-qawiyy (power), kelima al-hukmu (hukum), keenam al-'ubudiyyah (peribadahan) dan ketujuh adalah penjelasan tentang jalan kebahagiaan dan kemalangan serta penjelasan apa yang diutamakan dari ketujuh lembaran naskah yang harus disampaikan Nabi Musa AS. itu.

. Adapun dua lembaran naskah yang dikhususkan untuk Nabi Musa AS. adalah lauh (lembaran) pertama tentang rububiyyah (sifat ketuhanan) dan lauh kedua tentang al-qudrat (kekuasaan), mengenai masalah ini tidak ada seorangpun dari kaum Musa AS. yang menggenapi kedua lauh ini karena memang Nabi Musa AS. tidak mendapat perintah untuk menyampaikan sembilan lauh itu semuanya, dan tidak pula ada orang dari umat beliau yang menggenapinya setelah beliau wafat sekalipun.

Lain halnya dengan Nabi Muhammad SAW. dimana beliau benar-benar tidak meninggalkan sesuatu risalahpun kecuali menyampaikannya kepada kita, Allah Ta'ala berfirman: "...Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab..."[2], juga firman-Nya: "..dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas".[3] Oleh karena ini pula agama Nabi Muhammad SAW. adalah khairul milal (sebaik-baik agama), beliau telah menghapuskan semua agama dengan agama Islam karena agama ini datang dengan membawa seluruh ajaran yang telah diberikan kepada segenap para nabi sebelum beliau dan menambahnya dengan apa-apa yang belum pernah diberikan kepada para nabi itu. Maka agama-agama mereka (para nabi terdahulu) pun telah dihapuskan karena ketidak sempurnaa agama-agama mereka itu.

Rasulullah SAW. telah menjadikan agama yang beliau bawa menjadi termasyhur dengan segala kesempurnaanya. Allah Ta'ala berfirman: " ...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku..."[4]. Ayat ini belum pernah diturunkan Allah Ta'ala kepada nabi selain Nabi Muhammad SAW, dan seandainya ayat ini diturunkan kepada salah seorang nabi sebelum beliau tentu dia akan menjadi khātaman nabiyīn, akan tetapi hal itu tidak valid (sah) kecuali kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat ini telah diturunkan kepada beliau maka jadilah beliau sebagai khātaman nabiyīn (nabi yang paling sempurna).

Allah Ta'ala tidak meninggalkan satu hikmah , satu petunjuk, satu ilmu dan satu rahasiapun kecuali Dia memberitahukannya kepada Nabi Muhammad SAW. Allah Ta'ala juga telah memberikan isyarat kepada beliau atas dikaruniakannya satu qadr (pangkat khātaman nabiyīn) yang berkenaan dengan para nabi, untuk yang demikian ini terdapat rahasia yang terkadang berlaku sebagai tashrīh (pengakuan), talwīh (pemberian isyarat dari jauh), isyārat (penuturan), kināyah (metonimi), isti'ārah (metapora), muhkam (keputusan yang tepat), mufassar (yang ditafsirkan), muawwal (yang harus ditakwil), mutasyābih (yang samar) atau kepada istilah lain dari istilah balaghah bahasa Arab.

Tidak tersisa satu pintu masuk kepada (derajat khātaman nabiyīn) pun bagi seseorang selain bagi Nabi Muhammad SAW. karena beliau telah datang dengan membawa perintah Tuhan dan khatmu nubuwwat (pengakhiran kenabian syari'at), hak itu karena dia tidak meninggalkan satu hukum pun yang dibutuhkan umat beliau kecuali beliau SAW. telah membawakan (mengajarkannya)nya. Tidak pula akan didapati suatu kesempurnaan yang akan datang setelah beliau dari ajaran-ajaran yang semestinya Allah Ta'ala ajarkan kepada beliau.

Rasulullah SAW. benar-benar telah melaksanakan ajaran-ajaran yang demikian itu dan mengikuti kesempurnaannya sebagaiman yang telah Allah ajarkan kepada beliau. Dan jadilah beliau SAW. sebagai tābi'an (orang yang mengikui) ajaran-ajaran yang sempurna itu. Fa-inqotho'a hukmu nubuwwati at-tasyri' ba'dahu wa kāna Muhammadun shollallohu 'alaihi wa sallam "khātaman nabiyīn" (Maka terputuslah hukum kenabian tasyri'[pembawa syari'at/hukum baru] setelah beliau, oleh karena itu pula beliau (mendapat gelar) sebagai khātaman nabiyīn, karena beliau telah datang dengan membawa kesempurnaan yang tidak pernah dibawakan oleh seorang rasul manapun.[5]



** Dari al-Insān al-Kāmil fī ma'rifati al-awākhir wal al-awāil, bab as-sādis wa ats-tsalatsūn, hal 132-133.



--------------------------------------------------------------------------------

[1] Al-Maidah [05]:44

[2] Al-An'am [06]:38

[3] Al-Isra [17]:12

[4] Al-Maidah [05]:3

[5] Dari pernyataan Syaikh Al-Jili dapat kita mengambil kesimpulan bahwa pintu kenabian yang tertutup setelah Nabi Muhammad SAW. hanyalah pintu kenabian tasyri' (pembawa hukum baru) dan bukan pintu kenabian ghair tasyri' (tidak membawa hukum/syari'at baru), karena Nabi SAW. telah menjanjikan akan datangnya seorang nabi yang akan diberi gelar Isa Ibnu Maryam di akhir zaman ini, yang bertugas hanya semata-mata mengikuti dan mengadakan tajdid atas ajaran Islam.

Thursday, May 27, 2010

MAT KILAU

Nama penuh beliau adalah Mat Kilau bin Imam Rasu @ Tok Gajah bin Tengku Ali (Tok Sharom).Datuk nya, Tengku Ali meninggalkan takhta Kerajaan Bilah Paning,Sumatera setelah kemangkatan ayahandanya. Tengku Ali sukarela menyerahkan takhta nya kepada adinda nya. Sesudah itu Tengku Ali melarang memanggil beliau dengan gelaran Tengku.Tengku Ali berkahwin dengan Wan Siti Hajar juga dikenali Tok Dina. Tengku Ali dikurniakan lima anak ,Ranting Mas,Maimunah,Khatib Rasu (Tok Gajah), Min dan Khatib Mohd Arif.

Ibu Mat Kilau adalah Teh Mahda (isteri ke 3 kpd Tok Gajah) iaitu anak kepada Tok Kaut Burau. Mat Kilau dipercayai lahir dalam tahun 1847 di Kampung Kedondong,Pulau Tawar,Jerantut. Mat Kilau pandai mengaji, berzanji dan berdikir maulud serta belajar berdikir rebana yang dikenali sebagai ‘Dikir Pahang’. Hobi Mat Kilau adalah bermain gasing dan berlaga buah keras sehingga sentiasa menjadi juara di kampung beliau.

Apabila berusia lebih kurang 20 tahun, Mat Kilau berkahwin dengan seorang gadis yang bernama Yang Chik binti Imam Daud, Kampung Kedondong. Hasil perkahwinan ini Mat Kilau telah dikurniakan tiga orang anak. Setelah berkahwin barulah Mat Kilau belajar bersilat dan menuntut ilmu kebatinan. Mat Kilau bukan sahaja belajar bersilat sebagaimana sahabatnya yang lain, bahkan beliau lebih mendalami silat dengan menggunakan senjata seperti keris dan parang.Mat Kilau juga banyak menuntut ilmu daripada ayahnya sendiri iaitu Tok Gajah. Ilmu kebatinan secara agama banyak dituntutnya daripada Haji Osman yang dikenali juga sebagai Haji Muntuk sebelum dia berpindah ke Pekan sebagai Mufti Negeri Pahang.

Mat Kilau mempunyai sifat-sifat seorang pemimpin dan pemikiran yang matang telah menjadikan beliau seorang pemuda yang sangat disegani dan dihormati. Mat Kilau mempunyai cara pemikiran yang matang. Pada bulan Oktober 1888 semasa Tok Gajah berada di Pekan, Hugh Clifford telah datang ke Pulau Tawar dan berunding dengan Mat Kilau. Ini menunjukkan Clifford mempercayai idea-idea Mat Kilau. Beliau suka bergaul dengan setiap lapisan masyarakat dan ini membuatkan beliau menjadi seorang yang luas pandangan dan mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat. Mat Kilau adalah seorang yang jujur dan tegas, justeru itu dia sangat disegani dan amat dikasihi oleh pengikutdan sahabat nya. Sahabat nya terlalu ramai,tetapi yang diketahui namanya ialah Awang Nong,Teh Ibrahim (kedua nya anak Tok Gajah), Mat Kelubi (anak saudara Tok Gajah), Mat Ali(khatib), Awang(Imam) dan Mat Tahir. Mereka ini sanggup sehidup semati dengan Mat Kilau.

Mat Kilau memakai beberapa gelaran seperti Mat Siam,Mat Dadu,Muhamad Ibrahim.Bersama-sama pahlawan lain berjalan kaki menuju ke Golok,Selatan Siam. Ketika itu Selatan Siam dibawah Sultan Abdullah.Dari Golok berjalan kaki pula selama 5 hari 5 malam ke Chiengmai dan tinggal di Chiengmai selama 3 bulan sebelum berpindah ke Patani. Disini menuntut ilmu agama dengan Syed Ahmad Fadzullah yang berasal dari Bandung,Indonesia.

Kepada anak murid yang juga menantu nya Pakcik Abu Bakar, beliau membuka rahsia siapa sebenarnya Mat Siam ketika hendak memutuskan ilmu Mat Siam kepada Pakcik Bakar dan terpaksa membuka rahsia siapa beliau sebenarnya.Mat Siam bertanya kepada Pakcik Bakar "Kamu kenal tak aku? "Kenal,Aki lah Mat Siam" jawab Pakcik Bakar. Sambil menuding jari ke dada nya Mat Siam berkata " Aku lah Mat Kilau anak Tok Gajah".Namun rahsia itu disimpan oleh Pakcik Bakar. Silat yang diajarkan kepada Pakcik Bakar dinamai Tapak Setia Suci. "Silat ini Silat Mat Kilau dan buah nya dari Datuk Bahaman" kata Mat Kilau.

Haji Abu Bakar Awang menantu Mat Kilau

Khabar yang menyatakan Mat Kilau mati tersiar di dalam akhbar-akhbar Inggeris yang diterbitkan di Singapura. The Straits Times dan The Free Press menyatakan "Ketua Pendehaka, iaitu Dato' Bahaman telah jatuh ke tangan pemerintahan Siam pada bulan Oktober,1895. The Free Press pula memberitahu bahawa "Mat Kilau telah melawan apabila hendak ditawan dan akibatnya dia telah cedera di muka dan di kepalanya. Luka-luka itu sangat parah dan dia telah mati di dalam perjalanan ke hilir Kota Bharu disebabkan kehilangan banyak darah".

Dengan tersiarnya berita kematian Mat Kilau oleh akhbar The Free Press keluaran 22 Oktober 1895, maka pada pendapat umum tamatlah sudah riwayat Mat Kilau.akan tetapi apa yang sebenarnya berlaku tiada diketahui kecuali beberapa orang sahabatnya seperti Mustafa bin Awang Mat(Jusoh Rimau), Pendekar Tok Demali ,Raja Ibrahim(Pak Him), Mat Kelantan dan beberapa orang lain. Disebabkan Mat Kilau dicop sebagai 'penderhaka' oleh Inggeris,maka terpaksalah Mat Kilau mengasingkan diri dan berpindah dari satu tempat ke satu tempat dan akhirnya bermastautin di Batu 5,Jalan Kuantan-Gambang. Semenjak 1930 Mat Kilau juga terpaksa menukar namanya buat beberapa kali dan akhirnya dia memakai nama Mat Siam.
Bersama Mek Munah,Mat Kelantan (berkaca mata hitam) dan Raja Ibrahim

Dalam bulan Disember 1969,Tuhan telah menggerakkan hati Mat Kilau yang pada itu memegang kad pengenalan diri K/P 2044778 dan bernama Mohamad bin Ibrahim,memperkenalkan dirinya yang sebenar.Untuk mengelakkan dirinya dari menjadi tumpuan ramai,maka Mat Kilau telah bersetuju mengumumkan dirinya di kampung kelahirannya. Atas daya usaha Omar bin Mat Kilau,maka Mat Kilau dibawa ke Kampung asalnya iaitu Kampung Masjid,Pulau Tawar. Pada hari Jumaat 26 Disember 1969, Mat Kilau telah pergi ke Masjid di Kampung Masjid untuk bersembahyang Jumaat. Selepas sembahyang, Mat Kilau telah mebaca Quran dan kemudiannya mengistiharkan dirinya sebagai Mat Kilau.

Setelah Pengumuman ,Mat Kilau dibawa pulang kerumahnya semula di Batu 5 Jalan Gambang,Kuantan. Ketika itu kedengaran pula di Peramu,Kuantan akan seorang tua yang bergelar Tok Peramu.Pernah menantu nya Pakcik Bakar bertanya siapa gerangan Tok Peramu.Mat Kilau menjawab orang hanyut. Sebetul nya orang hanyut bermaksud orang dari hulu semantan yang kehilir ke Kuantan. Bermakna Tok Peramu adalah Datuk Bahaman. Pakcik Bakar telah membawa Mat Kilau berjumpa Tok Peramu. Bila dihadapan rumah Tok Peramu,Tok Peramu menuding jari kearah Mat Kilau dgn mengatakan Mat Kilau 'orang jahat mulut' yang bermaksud Mat Kilau telah membuka rahsia dirinya yang mana tidak disenangi oleh Tok Peramu.Selepas itu mereka berpelukan seperti orang yang sudah lama tak berjumpa atau mungkin berpelukan kerana tau ajal Mat Kilau sudah dekat.Mat Kilau dianggap seorang pahlawan yang engkar kerana telah melanggar sumpah yang pernah dibuat bersama sahabat-sahabat yang lain. Tok Peramu pernah berkata,kalau Mat Kilau hidup tak selamat,kalau selamat tak hidup,agaknya Mat Kilau itu nak pendek umur.Selepas pengakuan itu, Mat Kilau jatuh sakit,bengkak kaki dan mulut nya herot/senget.

Menurut cerita Pakcik Bakar, ketika nazak, Mat Kelubi pun datang menziarahi Mat Kilau walaupun mengikut catatan sejarah Mat Kelubi telah mati ditembak Inggeris sewaktu sedang berperahu.Orangnya kecil tidak sampai 5 kaki. Jelas Pakcik Bakar, pada suatu malam seorang yang tidak dikenali diiringi dua orang yang lengkap berpakaian hulubalang zaman dahulu datang menziarahi Mat Kilau. "Waktu tu saya agak letih dan tidak menghiraukan mereka. Orang itu mengucapkan terima kasih kepada saya kerana menjaga Mat Kilau. Mereka meminta izin untuk pulang dan terus hilang dari pandangan".

Pengisytiharan ini telah mengemparkan orang ramai sehingga Kerajaan Pahang menubuhkan sebuah jawatankuasa untuk menyiasat. Jawatankuasa itu dibentuk pada 8 Januari 1970. Beberapa orang telah ditemuramah bagi membuktikan bahawa Mat Siam itu adalah Mat Kilau. Mek Munah dari Pasir Nering,Kuala Brang dan rombongan dari Kelantan yang terdiri Mat Kelantan yang ketika itu berusia 150 tahun (telah buta) dan Raja Ibrahim Tan Kecik dipanggil utk pengesahan. Mat Kelantan dan Raja Ibrahim pernah sama2 berjuang menentang Inggeris di Kuala Tembeling pada 1894.Setelah disahkan maka pada pukul 10.30 pagi hari Khamis,6 Ogos 1970, Mat Siam diisytiharkan sebagai Mat Kilau oleh Menteri Besar Pahang. Setelah pengumuman pengiktirafan terhadap dirinya dibuat, Mat Kilau meninggal dunia kerana keuzuran diatas pangkuan menantu nya Pakcik Bakar pada jam 6.46 pagi,Ahad 16 Ogos 1970. Usianya ketika itu dipercayai berusia 122 tahun.(Tok Guru Peramu/ Datuk Bahaman meninggal lewat 7 tahun dari tarikh Mat Kilau meninggal iaitu 23 Julai 1977).

Tekanan perasaan yang dialami membuatkan Mat Kilau terpaksa berterus terang walaupun tahu berhadapan dengan maut. Mat Kilau tidak mahu nanti anak-anak nya berkahwin sesama sendiri.Anak-anak tidak mengetahui siapa ayah mereka selagi pengakuan tidak dibuat.

'Pakaian' Mat Kilau:
Mat Kilau memakai buntat embun. Seseorang yang memakai buntat embun susah mati kecuali buntat itu keluar dari tubuh pemakai. Walaupun terpisah kepala dengan tubuh sekalipun tetapi pemakai buntat embun boleh hidup balik. Menurut Pawang Nong iaitu Pawang Diraja, Mat Kilau mendapat buntat embun daripada orang asli di Bukit Raya,Mukim Budu,Kuala Lipis. Pawang Nong dan adiknya Bilal Abu mengatakan juga Mat Kilau mempunyai buntat embun dicelah kaki kirinya diantara jari kelinking dan jari manis. Pernah seorang bomoh patah bernama Pak Tunggal mengintip pergerakan Mat Kilau dan ayah nya. Pak Tunggal dapati Mat Kilau bersama ayah nya sedang mandi embun. Mereka berdua duduk diatas daun pisang diatas pokok.

Wednesday, May 26, 2010

TOK GAJAH

TOK GAJAH ??

Tok Gajah menjadi Orang Besar Pahang dizaman pemerintahan Sultan Ahmad AlMuazzam Shah. Tok Gajah atau Khatib Rasu diberi pegangan sempadan oleh Sultan dari Bau Redap sampai ke Kuala Piul. Dari Tanjung Sakti sampai ke Kangsa,dari Pedah sampai ke Tanjong Lindong dan juga lembahan Sg Budu di Lipis. Beberapa gelaran lain : Sultan Garang, Imam Perang Rasu, Datuk Imam Perang Pahang, Orang Kaya Imam Perang Indera Gajah Pahang.

TOK GAJAH DAN TOK BAHAMAN DI KAKI TENGKU BESAR MAHMUD IBNI SULTAN AHMAD MUADZAM SHAH


Keratan akhbar 'Media Terkini,10 September 2002' yang masih aku disimpan :



LIHAT PADA PERSAMAAN RUPA DI AKHBAR DAN GAMBAR BERSAMA TOK BAHAMAN.

MARTABAT 7








Sejarah mencatat, pada akhir abad ke-8, muncul aliran Wahdatul Wujud, suatu faham tentang segala wujud yang pada dasarnya bersumber satu. Allah Ta’ala. Allah yang menjadikan sesuatu dan Dialah a’in dari segala sesuatu. Wujud alam adalah a’in wujud Allah, Allah adalah hakikat alam. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan antara wujud qadim dengan wujud baru yang disebut dengan makhluk. Dengan kata lain, perbedaan yang kita lihat hanya pada rupa atau ragam dari hakikat yang Esa. Sebab alam beserta manusia merupakan aspek lahir dari suatu hakikat batin yang tunggal. Tuhan Seru Sekalian Alam.

Faham wahdatul wujud mencapai puncaknya pada akhir abad ke-12. Muhyidin Ibn Arabi,seorang sufi kelahiran Murcia, kota kecil di Spanyol pada 17 Ramadhan 560 H atau 28 Juli 1165 M adalah salah seorang tokoh utamanya pada zamannya. Dalam bukunya yang berjudul Fusus al-Hikam yang ditulis pada 627 H atau 1229 M tersurat dengan jelas uraian tentang faham Pantheisme (seluruh kosmos adalah Tuhan), terjadinya alam semesta, dan keinsankamilan. Di mana faham ini muncul dan berkembang berdasarkan perenungan fakir filsafat dan zaud (perasaan) tasauf.

Faham ini kemudian berkembang ke luar jazirah Arab, terutama berkembang ke Tanah India yang dipelopori oleh Muhammad Ibn Fadillah, salah seorang tokoh sufi kelahitan Gujarat (…-1629M). Di dalam karangannya, kitab Tuhfah, beliau mengajukan konsep Martabat Tujuh sebagai sarana penelaahan tentang hubungan manusia dengan Tuhannya. Menurut Muhammad Ibn Fadillah, Allah yang bersifat gaib bisa dikenal sesudah bertajjali melalui tujuh martabat atau sebanyak tujuh tingkatan, sehingga tercipta alam semesta dengan segala isinya. Pengertian tajjali berarti kebenaran yang diperlihatkan Allah melalui penyinaran atau penurunan — di mana konsep ini lahir dari suatu ajaran dalam filsafat yang disebut monisme. Yaitu suatu faham yang memandang bahwa alam semesta beserta manusia adalah aspek lahir dari satu hakikat tunggal. Allah Ta’ala.

1. ALAM AHDAH

Dalam memperkatakan Alam Qaibull-Quyyub iaitu pada martabat Ahdah di mana belum ada sifat, belum ada ada asma', belum ada afaal dan belum ada apa-apa lagi iaitu pada Martabat LA TAKYIN, Zat UlHak telah menegaskan untuk memperkenalkan DiriNya dan untuk diberi tanggungjawab ini kepada manusia dan di tajallikanNya akan DiriNya dari satu peringkat ke peringkat sampai zahirnya manusia berbadan rohani dan jasmani.

Adapun Martabat Ahdah ini terkandung ia di dalam Al-Ikhlas pada ayat pertama iaitu{QulhuwallahuAhad), iaitu Sa pada Zat semata-mata dan inilah dinamakan Martabat Zat. Pada martabat ini diri Empunya Diri (Zat Ulhaki) Tuhan RabbulJalal adalah dengan dia semata-mata iaitu dinamakan juga Diri Sendiri. Tidak ada permulaan dan tiada akhirnya iaitu Wujud Hakiki Lagi Khodim.

Pada masa ini tiada sifat, tiada Asma dan tiada Afa'al dan tiada apa-apa pun kecuali Zat Mutlak semata-mata maka berdirilah Zat itu dengan Dia semata-mata di dalam keadaan ini dinamakan AINUL KAFFUR dan diri zat dinamakan Ahdah jua atau di namakan KUNNAH ZAT.

2. ALAM WAHDAH

Alam Wahdah merupakan peringkat kedua dalam proses pentajalliannya diri Empunya Diri telah mentajallikan diri ke suatu martabat sifat iaitu "La Tak Yin Sani" - sabit nyata yang pertama atau disebut juga martabat noktah mutlak iaitu ada permulaannya.
Martabat ini di namakan martabat noktah mutlak atau dipanggil juga Sifat Muhammadiah. Juga pada menyatakan martabat ini dinamakan martabat ini Martabat Wahdah yang terkandung ia pada ayat "Allahus Shomad" iaitu tempatnya Zat Allah tiada terselindung sedikit pun meliputi 7 petala langit dan 7 petala bumi.

Pada peringkat ini Zat Allah Taala mulai bersifat. SifatNya itu adalah sifat batin jauh dari Nyata dan boleh diumpamakan sepohon pokok besar yang subur yang masih di dalam biji , tetapi ia telah wujud, tidak nyata, tetapi nyata sebab itulah ia di namakan Sabit Nyata Pertama martabat La Takyin Awwal iaitu keadaan nyata tetapi tidak nyata (wujud pada Allah) tetapi tidak zahir.
Maka pada peringkat ini tuan Empunya Diri tidak lagi Berasma' dan di peringkat ini terkumpul Zat Mutlak dan Sifat Batin. Maka di saat ini tidaklah berbau, belum ada rasa, belum nyata di dalam nyata iaitu di dalam keadaan apa yang di kenali ROH-DDHAFI. Pada peringkat ni sebenarnya pada Hakiki Sifat. (Kesempurnaan Sifat) Zat Al Haq yang di tajallikannya itu telah sempurna cukup lengkap segala-gala. Ianya terhimpun dan tersembunyi di samping telah zahir pada hakikinya.

3. ALAM WAHDIAH

Pada peringkat ketiga setelah ditajalli akan dirinya pada peringkat "La takyin Awal", maka Empunya Diri kepada Diri rahsia manusia ini, mentajallikan pula diriNya ke satu martabat As'ma iaitu pada martabat segala Nama dan dinamakan martabat (Muhammad Munfasal) iaitu keadaan terhimpun lagi bercerai-cerai atau di namakan "Hakikat Insan." Martabat ini terkandung ia didalam "Lam yalidd" iaitu Sifat Khodim lagi Baqa, tatkala menilik wujud Allah. Pada martabat ini keadaan tubuh diri rahsia pada masa ini telah terhimpun pada hakikinya Zat, Sifat Batin dan Asma' Batin. Apa yang dikatakan berhimpun lagi bercerai-cerai kerana pada peringkat ini sudah dapat di tentukan bangsa masing - masing tetapi pada masa ini ianya belum zahir lagi di dalam Ilmu Allah Iaitu dalam keadaan "Ainul Sabithaah". Ertinya sesuatu keadaan yang tetap dalam rahsia Allah, belum terzahir, malah untuk mencium baunya pun belum dapat lagi. Dinamakan juga martabat ini wujud Ardhofi dan martabat wujud Am kerana wujud di dalam sekelian bangsa dan wujudnya bersandarkan Zat Allah Dan Ilmu Allah.
Pada peringkat ini juga telah terbentuk diri rahsia Allah dalam hakiki dalam batin iaitu bolehlah dikatakan juga roh di dalam roh iaitu pada menyatakan Nyata tetapi Tetap Tidak Nyata.

4. ALAM ROH

Pada peringkat ke empat di dalam Empunya Diri, Dia menyatakan, mengolahkan diriNya untuk membentuk satu batang tubuh halus yang dinamaka roh. Jadi pada peringkat ini dinamakan Martabat Roh pada Alam Roh.Tubuh ini merupakan tubuh batin hakiki manusia dimana batin ini sudah nyata Zatnya, Sifatnya dan Afa'alnya. Ianya menjadi sempurna, cukup lengkap seluruh anggota-anggota batinnya, tiada cacat, tiada cela dan keadaan ini dinamakan (Alam Khorijah) iaitu Nyata lagi zahir pada hakiki daripada Ilmu Allah. Tubuh ini dinamakan ia "Jisim Latiff" iaitu satu batang tubuh yang liut lagi halus. Ianya tidak akan mengalami cacat cela dan tidak mengalami suka, duka, sakit, menangis, asyik dan hancur binasa dan inilah yang dinamakan "KholidTullah."
Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Walam Yalidd". Dan berdirilah ia dengan diri tajalli Allah dan hiduplah ia buat selama-lamanya. Inilah yang dinamakan keadaan Tubuh Hakikat Insan yang mempunyai awal tiada kesudahannya, dialah yang sebenarnyanya dinamakan Diri Nyata Hakiki Rahsia Allah dalam Diri Manusia.

5. ALAM MITHAL

Alam Misal adalah peringkat kelima dalam proses pentajallian Empunya Diri dalam menyatakan rahsia diriNya untuk di tanggung oleh manusia. Untuk menyatakan dirinya Allah S.W.T., terus menyatakan diriNya melalui diri rahsiaNya dengan lebih nyata dengan membawa diri rahsiaNya untuk di kandung pula oleh bapa iaitu dinamakan Alam Mithal.
Untuk menjelaskan lagi Alam Mithal ini adalah dimana unsur rohani iaitu diri rahsia Allah belum bercamtum dengan badan kebendaan. Alam mithal jenis ini berada di Alam Malakut. Ia merupakan peralihan daripada alam Arwah (alam Roh) menuju ke alam Nasut maka itu dinamakan ia Alam Mithal di mana proses peryataan ini, pengujudan Allah pada martabat ini belum zahir, tetapi Nyata dalam tidak Nyata.
Diri rahsia Allah pada martabat Wujud Allah ini mulai di tajallikan kepada ubun-ubun bapa, iaitu perpindahan dari alam roh ke alam Bapa (mithal).

Alam Mithal ini terkandung ia di dalam "Walam yakullahu" dalam surah Al-Ikhlas iaitu dalam keadaan tidak boleh di bagaikan. Dan seterusnya menjadi "DI", "Wadi", "Mani" yang kemudiannya di salurkan ke satu tempat yang bersekutu di antara diri rahsia batin (roh) dengan diri kasar Hakiki di dalam tempat yang dinamakan rahim ibu. Maka terbentuklah apa yang di katakan "Maknikam" ketika berlakunya bersetubuhan diantara laki-laki dengan perempuan (Ibu dan Bapa)
Perlu diingat tubuh rahsia pada masa ini tetap hidup sebagaimana awalnya tetapi di dalam keadaan rupa yang elok dan tidak binasa dan belum lagi zahir. Dan ia tetap hidup tidak mengenal ia akan mati.

6. ALAM IJSAN

Pada peringkat keenam, selepas sahaja rahsia diri Allah pada Alam Mithal yang di kandung oleh bapa , maka berpindah pula diri rahsia ini melalui "Mani" Bapa ke dalam Rahim Ibu dan inilah dinamakan Alam Ijsan. Pada martabat ini dinamakan ia pada martabat "InssanulKamil" iaitu batang diri rahsia Allah telahpun diKamilkan dengan kata diri manusia, dan akhirnya ia menjadi "KamilulKamil". Iaitu menjadi satu pada zahirnya kedua-dua badan rohani dan jasmani dan kemudian lahirlah seoarang insan melalui faraj ibu dan sesungguhnya martabat kanak-kanak yang baru dilahirkan itu adalah yang paling suci yang dinamakan "InnsanulKamil". Pada martabat ini terkandung ia di dalam "Kuffuan" iaitu bersekutu dalam keadaan "KamilulKamil dan nyawa pun di masukkan dalam tubuh manusia.
Selepas cukup tempuhnya dan ketikanya maka diri rahsia Allah yang menjadi "KamilulKamil" itu dilahirkan dari perut ibunya, maka di saat ini sampailah ia Martabat Alam Insan.

7. ALAM INSAN

Pada alam ke tujuh iaitu alam Insan ini terkandung ia di dalam "Ahad" iaitu sa (satu). Di dalam keadaan ini, maka berkumpullah seluruh proses pengujudan dan peryataan diri rahsia Allah S.W.T. di dalam tubuh badan Insan yang mulai bernafas dan di lahirkan ke Alam Maya yang Fana ini. Maka pada alam Insan ini dapatlah di katakan satu alam yang mengumpul seluruh proses pentajallian diri rahsia Allah dan pengumpulan seluruh alam-alam yang di tempuhi dari satu peringkat ke satu peringkat dan dari satu martbat ke satu martabat.
Oleh kerana ia merupakan satu perkumpulan seluruh alam - alam lain, maka mulai alam maya yang fana ini, bermulalah tugas manusia untuk mengembalikan diri rahsia Allah itu kepada Tuan Empunya Diri dan proses penyerahan kembali rahsia Allah ini hendaklah bermula dari alam Maya ini lantaran itu persiapan untuk balik kembali asalnya mula kembali hendaklah disegerakan tanpa berlengah-lengah lagi.

TUJUAN MARTABAT ALAM INSAN

Ada pun tujuan utama pengkajian dan keyakinan Martabat Alam Insan ini bertujuan memahami dan memegang satu keyakinan Mutlak bahawa diri kita ini sebenar-benarnya bukanlah diri kita, tetapi kembalikan semula asalnya Tuhan.

Dengan kata lain untuk memanjangkan kajian, kita juga dapat mengetahui pada hakikatnya dari mana asal mula diri kita sebenarnya hinggalah kita zahir di alam maya ini.
Dalam pada itu dapat pula kita mengetahui pada hakikatnya ke mana diri kita harus kembali dan apakah tujuan sebenar diri kita di zahirkan.

Dalam memperkatakan Martabat Alam Insan dengan memahami Martabat Alam Insan ini , maka sudah pastilah kita dapat mengetahui bahawa diri kita ini adalah SifatNya Allah Taala semata-mata. Diri sifat yang di tajallikan bagi menyatakan SifatNya Sendiri yakni pada Alam Saghir dan Alam Kabir. Dan Allah Taala Memuji DiriNya dengan Asma'Nya Sendiri dan Allah Taala menguji DiriNya Sendiri dengan Afa'alNya Sendiri.

Dalam memeperkatakan Martabat Alam Insan kita memperkatakan diri kita sendiri. Diri kita daripada Sifat Tuhan yang berasal daripada Qaibull-Quyyub (Martabat Ahdah) iaitu pada martabat Zat hinggalah zahir kita bersifat dengan sifat bangsa Muhammad. Oleh yang demikian wujud atau zahirnya kita ini bukan sekali-kali diri kita, tetapi sebenarnya diri kita ini adalah penyata kepada diri Tuhan semesta alam semata-mata.

Seperti FirmanNya:

"INNALILLAHI WAINNA ILAIHI RAJI'UN"

Yang bermaksud; "Sesungguhnya diri mu itu Allah (Tuhan Asal Diri Mu) dan hendaklah kamu pulang menjadi Tuhan kembali".

atau pun bermaksud : "Sesungguhnya kita milik Allah dan kepadaNya kita dikembalikan"

Setelah mengetahui dan memahami secara jelas lagi terang bahawa asal kita ini adalah Tuhan pada Martabat Ahdah dan Nyatanya kita sebagai SifatNya pada Martabat Alam Insan dan pada Alam Insan inilah kita memulakan langkah untuk mensucikan sifat diri kita ini pada martabat Sifat kepada Martabat Tuhan kembali iaitu asal mula diri kita sendiri atau Martabat Zat.

Sesungguhnya Allah S.W.T diri kita pada Martabat Ahdah menyatakan diriNya dengan SifatNya Sendiri dan memuji SifatNya Sendiri dengan AsmaNya Sendiri serta menguji SifatNya dengan Afa'alNya Sendiri. Sesungguhnya tiada sesuatu sebenarnya pada diri kita kecuali diri Sifat Allah, Tuhan semata-mata.

PROSES MENGEMBALIKAN DIRI
Dalam proses menyucikan diri dan mengembalikan rahsia kepada Tuan Empunya Rahsia, maka manusia itu semestinya mempertingkatkan kesuciannya sampai ke peringkat asal kejadian rahsia Allah Taala.
Manusia ini sebenarnya mesti menerokai dan melalui daripada Alam Insan pada nafsu Amarah ke Martabat Zat iaitu nafsu Kamaliah iaitu makam "Izzatul-Ahdah". Lantaran itulah tugas manusia semestinya mengenal hakikat diri ini lalu balik untuk mengembalikan amanah Allah S.W.T. tersebut sebagaimana mula proses penerimaan amanahnya pada peringkat awalnya.

Sesunggunya Allah dalam mengenalkan diriNya melalui lidah dan hati manusia, maka Dia telah mentajallikan DiriNya menjadi rahsia kepada diri manusia. Sebagaimana diperkatakan dalam hadis Qudsi;

"AL INSANUL SIRRUHU WA ANA SIRRUHU"

Maksudnya; "Manusia itu adalah rahsiaKu dan aku adalah rahsia manusia itu sendiri".

MARTABAT TUJUH ( PENGUJUDAN )

Mengenai martabat pengujudan diri rahsia Allah S.W.T atau di kenali juga Martabat Tujuh, itu terbahagi ia kepada 7 Alam;
Ke tujuh-tujuh martabat atau alam ini terkandung ia di dalam surah -Al Ikhlas..

Qulhuwallahu Ahad - Ahdah
Allahushomad - Wahdah
Lamyalidd - Wahdiah
Walamyuladd - Alam Roh (Alam Malakut)
Walamyakullahu - Alam Mithal (Alam Bapa)
Kuffuan - Alam Ijsan
Ahad - Alam Insan

Seperti FirmanNya lagi dalam Al- Quran:
Setelah diketahui demikian maka tidaklah patut disamakan Allah Tuhan yang berkuasa mengawas tiap-tiap diri dan mengetahui akan apa yang telah diusahakan oleh diri-diri itu, (dengan makhluk yang tidak bersifat demikian). Dalam pada itu, mereka yang kafir telah menjadikan beberapa makhluk sebagai sekutu bagi Allah. Katakanlah (wahai Muhammad) : "Namakanlah kamu akan mereka (yang kamu sembah itu). Atau adakah kamu hendak memberi tahu kepada Allah akan apa yang tidak diketahuiNya di bumi? Atau adakah kamu menamakannya dengan kata-kata yang lahir (sedang pada hakikatnya tidak demikian)? Bahkan sebenarnya telah diperhiaskan oleh Iblis bagi orang-orang yang kafir itu akan kekufuran dan tipu daya mereka (terhadap Islam) dan mereka pula disekat oleh hawa nafsu mereka daripada menurut jalan yang benar dan (ingatlah) sesiapa yang disesatkan oleh Allah (dengan pilihannya yang salah) maka tidak ada sesiapapun yang dapat memberi hidayat petunjuk kepadanya."
( Surah Al-A'Rad Ayat:33)

MUNGKIN ADA YANG TERUS MENCARI YAKNI MARTABAT LAPAN YANG MENJADI RAHSIA

Tuesday, May 18, 2010

THAILAND OH BANGKOK


















Apakah ini ketaksuban politik melampau?
Atau apakah ini kebodohan yang diperkuda kan orang politik?
Thaksin bergoyang kaki di kerusi empuk
Berkira strategi untuk kembali
Kembali untuk harta nya yang dibekukan
Untuk kekayaan biarlah rakyat dikorban kan
Dengan alasan nya
Untuk demokrasi
Untuk kebebasan
Untuk rakyat!
Sering terdengar rakyat dikorban dan terkorban atas nama tuhan
Kini rakyat juga jadi mangsa
Tapi atas nama demokrasi
Tuhan dan demokrasi bukan lagi milik rakyat
Sudah jadi milik eksklusif orang politik

Baju Merah..Baju Biru
Ditunggang
Untuk kepentingan politik peribadi
Itulah tipudaya orang politik!

**The Sun,Thursday 20-5-2010-'As they surrounded the main protest site,top protest leaders offered to surrender,as supporters urged them to fight on....'**
RAKYAT RELA BERKORBAN NYAWA UNTUK PEMIMPIN TETAPI APAKAH PEMIMPIN RELA BERKORBAN NYAWA UNTUK RAKYAT??

ASIK NGGAK ASIK dari Iwan Fals:
Dunia politik penuh dengan intrik
Cubit sana cubit sini itu sudah lumrah
Seperti orang pacaran
Kalau nggak nyubit nggak asik

Dunia politik penuh dengan intrik
Kilik sana kilik sini itu sudah wajar
Seperti orang adu jangkrik
Kalau nggak ngilik nggak asik

Rakyat nonton jadi supporter
Kasih semangat jagoannya
Walau tau jagoannya ngibul
Walau tau dapur nggak ngebul

Dunia politik dunia bintang
Dunia hura hura para binatang
Berjoget dengan asik

Dunia politik punya hukum sendiri
Colong sana colong sini atau colong colongan
Seperti orang nyolong mangga
Kalau nggak nyolong nggak asik

Rakyat lugu kena getahnya
Buah mangga entah kemana
Tinggal biji tinggal kulitnya
Tinggal mimpi ambil hikmahnya

Dunia politik dunia bintang
Dunia pesta pora para binatang
Asik nggak asik

Dunia politik memang asik nggak asik
Kadang asik kadang enggak disitu yang asik (katanya)
Seperti orang main catur
Kalau nggak ngatur nggak asik

Pion bingung nggak bisa mundur
Pion pion nggak mungkin kabur
Menteri, luncur, kuda dan benteng
Galaknya melebihi raja

Raja tenang gerak selangkah
Sambil menyematkan hadiah

Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik / Politik
Asik nggak asik
Asik nggak asik

Saturday, May 15, 2010

WIRID TOKKU SYED ALWI


Wirid Tokku (tulisan tangan Abah)

Tidak tahu apa gelaran wirid diatas. Semasa kecil,sering terdengar murid2 Tokku melagukan wirid tersebut.Walaupun nampak ringkas dan senang difahami,tetapi bukan semudah itu untuk difahami kerana banyak metafora atau kiasan yang mesti disingkap. Kiranya gagal disingkap,wirid ini hanya khalimah yang setakat dibaca dan diucap..tidak lebih dari itu.

Almarhum Tokku Syed Alwi Al-Baraqbah sangat terkenal sebagai guru ilmu Hakikat di Besut dan Kuantan.Salah seorang yang pernah berguru dengan Tokku ialah Abang Nuar,Guru Seni Silat Gayung Zahir 9 di Kuantan.

Nukilan Ringkasan Asal Usul Seni Silat Gayung Zahir Sembilan (9)




Syair Ringkas Asal Usul Seni Silat Gayung Zahir Sembilan (9)


Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
Alhamdulliah
Segala Puji Bagi Allah Pencipta Sekelian Alam.

Nama Guru Asal;
Tuan Guru Abdullah Ladunni
Pak Muda Mas Tunggal
Tok Ayah Hassan Anak Harimau
Pak Shah Bin Ali


Asal Usul Alam Persilatan
Seni Silat Gayung Zahir Sembilan
Terlalu Panjang Untuk Di Ceritakan
Kata Tuan Guru Awal Bualan

Tahun Berapa Silat Gayung Datang
Tiada Di Hitung Malam Dan Siang
Beribu Tahun Bagai Bulan Dan Bintang
Telah Ujud Di Sarung Pahlawan

Gayung Zahir Sembilan Di Usulkan
Tiada Dapat Aku Nyatakan
Kerana Tiada Di Dalam Catitan
Maklum Sejarah Di Zaman Silam

Biodata Abad Berkurun-Kurun
Lagenda Lama Tiada Tersusun
Asal Satu Pecah Berduyun
Diharap Kembali Menjadi Serumpun

Seni Silat Gayung Alam Budaya
Segala Jenis Silat Diguna Tipu Daya
Menumbangkan Musuh Yang Amat Merbahaya
Jaga Diri Yang Lemah Tak Berdaya

Cerita Tuan Guru Yang Dikasihi
Silat Gayung Ujud Tahun A.D. Masihi
Di Zaman Nabi Sudah Digagahi
Semasa Berperang Walau Berkelahi

Tuan Guru Abdullah Ladunni
Berkaki Ayam Merantau Ke Sini
Mencari Ilmu Berguni-Guni
Demi Menghidupkan Alam Seni

Pak Muda Mas Tunggal Merasa Sangsi
Abdullah Ladunni Diajak Bergusti
Nasib Baik Lempang Tak Mati
Berguru Biar Berhati-Hati

Mula Mengajar Di Tanah Seberang
Menyusun Buah Di Waktu Siang
Jasa Guru Tetap Dikenang
Sampailah Baka Ke Negeri Pahang

Hatta Gayung Zahir Sembilan
Prinsip Tidak Mencari Lawan
Biar Disumpah Berkoyan-Koyan
Belum Bijak Selagi Berlawan

Mari Dengar Aku Bercerita
Walau Samar Tiada Nyata
Hanya Ini Yang Dapat Ku Kata
Gayung Zahir Sembilan Tempat Mula Bertahta

Abdullah Ladunni Guru Asal
Pak Muda Mas Tunggal Guru Awal
Tok Ayah Hassan Anak Harimau Guru Pembekal
Pak Shah Ali Pula Guru Bangsal

Cerita Mulut Tok Ayah Hassan Anak Harimau
Berduyung Murid Datang Untuk Berlimau
Di Kota Bharu Kampung Limau
Nyusun Silatnya Sungguh Terpukau

Hassan Anak Harimau Menuntut Dengan Lanun
Duduk Beruzlah Bertahun-Tahun
Luar Dalam Ilmu Telah Diperturun
Musuh Melihat Terasa Gerun

Sekampung Tuduh Menuntut Ilmu Sesat
Di Panggil Mufti Kadi Untuk Siasat
Mufti Kadi Kata, Betul Ia Jalan Makrifat
Salah Dan Silap Pada Yang Otak Kurang Sihat

Seni Silat Gayung Zahir Sembilan
Perak Kelantan Pahang Jadi Kacukan
Timur Barat Utara Selatan
Hanya Di Pahang Mula Disebarkan

Pak Shah Ali Asal Perak
Datang Ke Pahang Untuk Bertapak
Mengajar Silat Setapak Setapak
Di Anggap Dia Sebagai Bapak

Mengajar Silat Tahun Empat Puluhan
Gurunya Banyak Dari Baka Pahlawan
Bermula Aku Belajar Dengan Kawan
Kenal Lah Sudah Silat Gayung Zahir Sembilan

Berbelas Tahun Sudah Berlalu
Ujian Bertubi Dan Bertalu-Talu
Mendapat Keizinan Dari Pak Guru
Membuka Gelanggang Sembilan Tahun Dahulu

Tujuh Puluhan Mula Berbangsal
Kuantan Pahang Tempat Awal
Kurang Sambutan Bukan Gagal
Adat Memakai Ilmu Hukum Akal

Serba Ringkas Dalam Catitan
Permainan Gayung Zahir Sembilan
Belebat Satu Pecah Sembilan
Dalam Sembilan Ada Rahsia Sembilan

Takbur Jirin Buat Kita Binasa
Sebesar Biji Sawi Mesti Berjaga
Firman dan Hadis Sudah Nyata
Ada Sifat Takbur Tak Masuk Syurga

Gayung Sembilan Zahir Dan Batin
Turun Lah Mempedu Di Bawah Ketin
Jampi Mentera Tidaklah Asing
Jangan Belajar Jika Takut Ising

Petua Jelas Lagi Berpati
Dulu Mati Sebelum Mati
Duduk Dalam Rahsia Amat Dihajati
Fahamlah Sudah Pada Yang Mengerti

Sedar Dan Bangunlah Wahai Melayu
Dunia Menampakkan Sudah Layu
Berperang Bermusuh Hilir Dan Hulu
Asahlah Ilmu Mana Yang Tahu
Marilah Bangsa Ku Bersatu-Padu
Dengan Aku Persatuan Dan Kamu
Tak Mahu Dengar Nasihat Aku
Buka Radio Dengarlah Lagu

Ooo….Hoi Kawan Yang Bijak Bistari
Ini Bukan Syair Hamzah Fansuri
Emas Sepuluh Menyusun Jejari
Berperang Nanti Janganlah Lari

Biar Berkubur Bertandakan Nisan
Asal Hidup Di Masa Hadapan
Cerita Lama Berdekan-Dekan
Masakan Habis Dalam Lisan

Kalau Hendak Puaskan Hati
Datanglah Berjumpa Dari Hati Ke Hati
Bertapak Sudah Di Balai Seni
Segala Matlumat Boleh Di Dapati

Dalam Kitab Kamus Disiarkan
Semoga Jadi Satu Pedoman
Kota Silat Gayung Zahir Sembilan
Agar Cucu Cicit Buat Pegangan...

KETURUNAN DATUK BALAI TRENGGANU


Muhammad Bin Ibrahim Bin Datuk Balai Umat. Perkahwinan Datuk Balai Umat dan Wan Kalsom (keturunan Wan Bukit Bayas) mempunyai 2 anak lelaki iaitu Salim dan Ibrahim. Gelar Datuk Balai diwarisi oleh Salim selaku anak lelaki sulung dalam keluarga.

 Terpanggil meletak kan wajah arwah datuk (ayah kepada ibu ) yang aku panggil 'Bak' di blog ini. Setelah membaca coretan Awang Goneng di blog nya http://kecek-kecek.blogspot.com berkenaan Datuk Balai ( Friday-June 17,2005 'Burying the Past', Monday-Sept 19,2005 'Man with The Pom Pom Hat' and Thursday-August 17,2006 'Flower of Trengganu' : Sultan Zain al Abidin refused to recognise the Bangkok Agreement, rejected a British ‘adviser’ but grudgingly accepted a British agent. The gesture did not save him from the stranglehold of this western colonial power, but it saved him until his death in 1919 from having to scrape his state coffers for three more orders to his goldsmiths for the troublesome Bunga Mas.

One morning, when I was up in time to walk with father to the White Mosque (the Masjid Zain al Abidin, as it happened) for the dawn prayer, we met the man in our slow walk home, and father urged me to shake his hand. Father knew the man well as he had a jovial friend who signed himself Awang bin Datuk Balai, and the pompon hatted nonagenarian who was slowly emerging from the haze of the Kuala Trengganu morn was the Datuk Balai himself, the man who hobnobbed with and probably shook the hands of panjandrums in the imperial court and probably caught a glimpse of the Siamese king himself as he peeked through his royal curtains to look with satisfaction at yet another consignment of Trengganu gold.

Datuk Balai in his heyday served in the Royal House of Trengganu, father said, and was part of Sultan Zain al Abidin’s Bunga Mas mission. I was too clueless than to be capable of any intelligent conversation with the Datuk, but I remember him for his gleeful take on life as he saw it, and father, I remember, was always taking home some gleeful anecdotes about the man. He once told father that the head of jet black hair under his woolen hat was largely attributed to his diligent watering of the roots from within, with glasses of milk from local cows. I remember the words that father quoted from him, sirang dalang (standardspeak, siram dalam, watering from within). And then once, father said, he simply disappeared from sight, only to be found in the darat (hinterland), merrily watering a gaggle of ducks, a business idea that soon floundered but which brought him back to the White Mosque of his former master Zain al Abidin.

Once when father asked the venerable Datuk Balai about his trips to Siam with the Bunga Mas he made great comedy of how Siamese men and women in the street made a show of throwing themselves to the ground in prostration on seeing the arrival of this precious gift. Such was their veneration for their king).

........terasa kehilangan yang amat sangat kepada Arwoh Bak.



Buku Awang Goneng

Bak ialah seorang yang jarang melenting dan suka 'nngayor' dengan cucu-cucu nya. Pernah dikenali 'Che Mat Pintas' dikalangan kawan-kawan nya semasa muda. Meski pun ayah nya Ibrahim bin Umat ' Che Heng' seorang panglima Silat yang bersama-sama abang nya Salim Bin Umat ' Datuk Balai' membawa Bunga Mas ke Siam, darah persilatan tiada didalam tubuh arwoh Bak. Masih teringat Arwoh Bak memberitahu, Che Heng amat rapat dengan Habib Bucu (Syed Abdul Rahman Bin Alwi Al Haddad) yang dikatakan Wali yang betapa di Bukit Bucu,Batu Rakit. Ilham petapaan itu diajar kepada adik nya Syed Abdul Hamid, maka lahir lah persilatan yang dikenali sekarang Gayong Syed Hamid. Gayongan ini dikembangkan oleh Ayohsu Mezoh di Ladang dan Tok Lebai Awang di sekitar Jeram.

Salim Bin Umat dianugerahkan gelaran Datuk Balai oleh Sultan Sulaiman Badrul Alam Shah pada tahun 1924 iaitu 2 tahun sebelum bah merah dan 4 tahun selepas baginda tuanku naik takhta. Pada majlis yang sama Tengku Long (Raja terakhir Besut) yang juga digelar Ku Long Ddekar atau Ku Long Gagoh turut dikurniakan gelaran Tengku Seri Indera Segera . Gelaran Datuk Balai dianugerahkan khusus bagi amanah mewakili kerajaan dalam misi penghantaran bunga emas ke Siam. Kemungkinan Salim Bin Umat hidup dalam pemerintahan 3 orang Sultan, bermula Sultan Zainal Abidin 3, Sultan Muhammad 2 dan Sultan Sulaiman. Sejak zaman Sultan Mansur 1 lagi jawatan Datuk Balai ini ujud.

Arwoh Bak mempunyai hati yang sangat baik. Ilmu 'Penunduk' yang ada pada nya tiada lain ada lah mulut nya yang sentiasa tersenyum. Hingga sekarang, kepada generasi-generasi lama di Kuala Trengganu ..keturunan ini dikenali 'Keturunan' Datuk Balai.

Aku yakin dan percaya, dengan ilmu 'rahsia diri' yang Bak pegang..nikmat dan rahmat yang dirasa.

AL-FATIHAH UNTUK ARWOH BAK
MUHAMMAD BIN IBRAHIM
1912-9 NOV 1988

***Gelaran Che dikatakan berasal dari Champa. Gelaran Che bermakna Sri.***

SARUNG FATIHAH DAN HURUF HIJAIYAH

Sarung Fatihah (tulisan tangan Abah)

Sarung Fatihah sangat terkenal sebagai 'pakaian' pahlawan-pahlawan Melayu dahulu. Sarung Fatihah juga dijadikan wirid kepada setengah2 kumpulan ilmu Hakikat. Dikatakan Sarung Fatihah juga dipakai oleh Selendang Merah?(Hanya sebahagian sahaja Sarung Fatihah dipaparkan!)

Susunan huruf-huruf pula diterima aku daripada Tok Kelana (semasa menuntut di ITM Cawangan Kuantan) yang mempunyai hubungan kekeluargaan dan diterima oleh nya dari Pawang Nong.Ada sedikit kelainan bila dibandingkan dari susunan huruf yang aku terima daripada Abah.


Pawang Nong

Dikatakan Datuk Bahaman juga 'memakai' Huruf Hijaiyah ini. Didalam buku Anwarud Daqaiq 'Syeikh Syamsuddin bin Abdullah as Sumathra-i'ada juga diterangkan berkenaan dengan huruf-huruf ini.

Alif tertulis diantara dua kening
Ba dikening kanan
Ta dikening kiri
Tha di dahi
jim di ubun-ubun
Ha di dada kanan
Kho di dada kiri
Dal di rusuk kanan
Zal di rusuk kiri
Ro di kaki kanan
Zai di kaki kiri
Sin di susu kanan
Syin di susu kanan
Sod di telinga kanan
Dhad di telinga kiri
To di mata kanan
Dzo di mata kiri
'Ain di tangan kanan
Ghain di tangan kiri
Pa di bahu kanan
Kof di bahu kiri
Kaf di lutut kanan
Lam di lutut kiri
Mim di halkum
Nun di otak
Wau di pusat
Lam Alif di tulang selangka
Haa' RAHSIA
Amzah di mulut
Ya di nyawa

Saturday, May 8, 2010

SHAMSUDDIN PASAI

Lembaran pertama satu kitab karangan Syeikh Syamsuddin bin Abdullah As-Sumatrani


Sheikh Shamsuddin al-Sumatrani yang hidup abad 16-17 Masihi. Beliau adalah Sheikhul Islam atau Mufti besar Aceh semasa zaman pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Shah Sayyid al-Mukammil (1589-1604). Beliau juga terkenal sebagai salah seorang pendokong kuat fahaman Martabat Tujuh .
Mungkin ramai yang tidak menyedari ini, ulamak yang termasuk di dalam kumpulan empat orang ulamak agung Aceh ini telah meninggal dunia dan dimakamkan di Melaka, bukannya di Indonesia! Ini kerana beliau dipercayai terlibat sama dalam serangan Aceh ke atas Portugis yang dilakukan tahun 1629, semasa Aceh berada di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Johan Berdaulat (1607-1636). Tarikh wafat nya ada dicatatkan oleh musuh pegangannya,Nuruddin ar-Raniri,iaitu pada malam Isnin,12 Rejab 1039H/1630M. Dikatakan makamnya masih ada lagi di Kampung Ketek, juga dikenali dengan nama Kampung Pali, tidak jauh daripada Masjid Kampung Hulu yang berusia hampir 300 tahun??

Sufi Legendaris dari Nangroe Aceh :
Sejak lama Aceh telah dikenal sebagai satu-satunya daerah yang aksentuasi keislamannya paling menonjol. Selain menonjolnya warna keislaman dalam kehidupan sosio-kultur di sana, ternyata di Serambi Mekah ini pernah tersimpan pula sejumlah Sufi ternama semisal Samsuddin Sumatrani.

Syamsuddin Sumatrani adalah salah satu tokoh sufi terkemuka yang telah turut men corak esoteris pada wajah Islam di Aceh. Sayangnya perjalanan hidup sang sufi ini sulit sekali untuk dirangkai secara utuh. Hal ini selain karena tidak ditemukannya catatan otobiografinya, juga karena sukarnya mendapat sumber-sumber tepat yang dapat dirujuk. Bahkan tidak kurang peneliti seperti Prof. Dr. Azis Dahlan yang pernah mengadakan penelitian untuk disertasinya, merasa kesulitan mencari sumber-sumber mengenai tokoh sufi yang satu ini. Diantara sumber tua yang dapat dijumpai mengenai potret Syamsuddin Sumatrani adalah Hikayat Aceh, Adat Aceh, dan kitab Bustanu al-Salathin. Itupun tidak memotret perjalanan hidupnya secara terperinci. Meski demikian, dari serpihan-serpihan data sejarah yang terbatas itu, cukuplah bagi kita untuk sekedar memperoleh gambaran siapa Syamsuddin Sumatrani dari spektrum pemikirannya.

Mengenai asal-usulnya, tidak diketahui secara pasti bila dan di mana ia lahir. Perihal sebutan Sumatrani yang selalu diiringkan di belakang namanya, itu merupakan penisbahan dirinya kepada “negeri Sumatra” alias Samudra Pasai. Sebab memang di kepulauan Sumatra ini dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan yang cukup ternama, yakni Samudra Pasai. Itulah sebabnya ia juga adakalanya disebut Syamsuddin Pasai.

Menurut para sejarawan, penisbahan namanya dengan sebutan Sumatrani ataupun Pasai mengisyaratkan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, orang tuanya adalah orang Pasai (Sumatra). Dengan demikian maka bisa diduga bahwa ia sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Pasai. Jika pun ia tidak lahir di Pasai, maka kemungkinan kedua bahwa sang ulama terkemuka pada zamannya ini telah lama bermukim di Pasai .

Berbicara tentang peranan Sumatra sebagai pusat pengajaran dan pengembangan Islam, Negeri Pasai itu memang lebih dahulu terkemuka daripada Banda Aceh. Paling tidak Samudera Pasai lebih dulu terkemuka pada kisaran abad ke-14 dan 15 M, yakni sebelum akhirnya Pasai dikuasai oleh Portugis pada tahun 1514. Sementara beralihnya tampuk kekuasaan Negeri Pasai kepada Kerajaan Aceh Darussalam baru berlangsung pada tahun 1524.

Peranan dan Pengaruh :
Pada masa pemerintahan Sayyid Mukammil (1589-1604), Syamsuddin Sumatrani sudah menjadi orang kepercayaan Sultan Aceh. Sayang dalam kitab Bustan al-Salathin sendiri tidak disingkapkan bagaimana perjalanan Syamsuddin Sumatrani sehingga ia menjadi ulama yang paling dipercaya dalam lingkungan istana kerajaan Aceh selama tiga atau empat dasawarsa.
Syamsuddin Sumatrani wafat pada tahun 1039 H/1630 M, dan selama beberapa dasawarsa terakhir dari masa hidupnya ia merupakan tokoh agama terkemuka yang dihormati dan disegani. Ia berada dalam lindungan dan bahkan berhubungan erat dengan penguasa Kerajaan Aceh Darussalam.
Syamsuddin Sumatrani adalah satu dari empat ulama yang paling terkemuka. Ia berpengaruh serta berperan besar dalam sejarah pembentukan dan pengembangan intelektualitas keislaman di Aceh pada kisaran abad ke-l7 dan beberapa dasawarsa sebelumnya. Keempat ulama tersebut adalah Hamzah Fansuri (?-?), Syamsuddin Sumatrani (?-1630), Nuruddin Raniri (?-1658), dan Abdur Rauf Singkel (1615/20-1693). Mengenai ada tidaknya hubungan antara Syamsuddin Sumatrani dengan ketiga ulama lainnya, ada baiknya disinggung seperlunya.

Mengenai hubungan Hamzah Fansuri dengan Syamsuddin Sumatrani, sejarawan A. Hasjmy cenderung memandang Syamsuddin Sumatrani sebagai murid dari Hamzah Fansuri. Pandangannya ini diperkuat dengan ditemukannya dua karya tulis Syamsuddin Sumatrani yang merupakan ulasan (syarah) terhadap pengajaran Hamzah Fansuri. Kedua karya tulis Syamsuddin Sumatrani itu adalah Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri dan Syarah Syair Ikan Tongkol.

Adapun hubungannya dengan Nuruddin ar-Raniri, hal ini tidak diketahui secara pasti. Yang jelas adalah bahwa tujuh tahun setelah Syamsuddin Sumatrani wafat, Raniri memperoleh kedudukan seperti sebelumnya diperoleh Syamsuddin Sumatrani. Ia diangkat menjadi mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1637 oleh Sultan Iskandar Tsani. Karena fatwanya yang men-zindiq-kan (mengkafirkan) paham wahdatul wujud Syamsuddin Sumatrani, maka para pengikut Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dihukum oleh pihak penguasa dengan hukuman bunuh. Bahkan literatur-literatur yang mereka miliki dibakar habis. Namun demikian, para pengikut paham Sumatrani itu ternyata tidak punah semuanya.Ada juga pendapat menyebut bahawa Syamsuddin Sumatrani pernah belajar dengan Sunan Bonang, seorang Wali Allah di Tanah Jawa.

Pada kisaran tahun 1644 Raniri disingkirkan dari kedudukannya selaku mufti kerajaan Aceh Darussalam. Ia pun terpaksa pulang ke Ranir, Gujarat. Sebagai penggantinya, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin (1641-1675) kemudian mempercayakan jabatan mufti kerajaan kepada Saiful Rijal. Saiful Rijal adalah seorang Minang yang juga penganut faham wahdatul wujud. Pada waktu itu ia baru pulang kembali ke Aceh dari pendalaman kajian agama di India. Dengan demikian, faham tasawuf Syamsuddin Sumatrani itu kembali mewarnai corak keislaman di Kerajaan Aceh Darussalam.

Karya-karya :
Aktiviti penulisan pengetahuan keislaman di Aceh memang dimulai oleh Hamzah Fansuri, yang dilanjutkan oleh Syamsuddin Sumatrani sebagai murid nya. Apa yang ditulis oleh Syamsuddin Sumatrani adalah senada dan seirama dengan fahaman dan tulisan Hamzah Fansuri. Pengetahuan sufi tahap muntahi kedua tokoh ini tidak pernah ditentang oleh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri (Syiah Kuala) sepertimana diputarbelitkan dari sudut sejarah dan ilmiyah oleh setengah penulis yang mengatakan Abdul Rauf Fansuri memihak kepada Nuruddin ar-Raniri. Pembicaraan Martabat 7 yang dimulai dari Hamzah Fansuri turun kepada Syamsuddin Sumatrani,turun kepada Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri, kemudian kebelakang disokong oleh beberapa orang ulama nusantara seperti Abdus Shamad al-Falimbani. Didalam karya nya 'Siyarus Salikin', Abdus Shamad al-Falimbani mengiktiraf karya-karya Syamsuddin Sumatrani sebagai ajaran tasauf peringkat muntahi.

Karya-karya Syamsuddin Sumatrani ditulis sebagian berbahasa Arab, sebagian lagi berbahasa Melayu (Jawi). Diantara karya tulisnya adalah seperti berikut:

1. Jawhar al-Haqa'iq (30 halaman; berbahasa Arab), merupakan karyanya yang paling lengkap yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze. Kitab ini menyajikan pengajaran tentang martabat tujuh dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

2. Risalah Tubayyin Mulahazhat al-Muwahhidin wa al-Mulhidin fi Dzikr Allah (8 balaman; berbahasa Arab). Karya yang telah disunting oleb Van Nieuwenhuijze ini, kendati relatif singkat, cukup penting karena mengandung penjelasan tentang perbedaan pandangan antara kaum yang mulhid dengan yang bukan mulhid.

3. Mir’at al-Mu'minin (70 halaman; berbahasa Melayu). Karyanya ini menjelaskan ajaran tentang keimanan kepada Allah, para rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, para malaikat-Nya, hari akhirat, dan kadar-Nya. Jadi pengajarannya dalam karya ini membicarakan butir-butir akidah, sejalan dengan paham Ahlus Sunnah wal Jama'ah (tepatnya Asy'ariah-Sanusiah).

4. Syarah Ruba'i Hamzah Fansuri (24 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan terhadap 39 bait (156 baris) syair Hamzah Fansuri. Isinya antara lain menjelaskan pengertian kesatuan wujud (wahdat al-wujud). Karya ini bukti yang cukup kuat bahawa Syamsuddin Sumatrani adalah penyambung aktiviti dan bertanggungjawab menyebarkan ajaran guru nya Hamzah Fansuri.

5. Syarah Sya'ir Ikan Tongkol (20 balaman; berbahasa Melayu). Karya ini merupakan ulasan (syarh) terbadap 48 baris sya'ir Hamzah Fansuri yang mengupas soal Nur Muhammad dan cara untuk mencapai fana' di dalam Allah.

6. Nur al-Daqa'iq (9 halaman berbahasa Arab; 19 halaman berbahasa Me1ayu). Karya tulis yang sudah ditranskripsi oleh AH. Johns ini (1953) mengandung pembicaraan tentang rahasia ilmu makrifah (martabat tujuh).

7. Thariq al-Salikin (18 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini mengandung penjelasan tentang sejumlah istilah, seperti wujud, 'adam, haqq, bathil, wajib, mumkin, mumtani’ dan sebagainya.

8. Mir’at al-Iman atau Kitab Bahr al-Nur (12 halaman; berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah, martabat tujuh dan tentang ruh.

9. Kitab al-Harakah (4 halaman; ada yang berbahasa Arab dan ada pula yang berbahasa Melayu). Karya ini berbicara tentang ma’rifah atau martabat tujuh.


Ajaran Tasawufnya :

Syamsuddin Sumatrani dikenal sebagai seorang sufi yang mengajarkan faham wahdatul wujud (keesaan wujud) dengan mengikuti faham wahdatul wujud Ibnu Arabi. Dari hasil penelitian WC. Chittick, Sadr al-Din al-Qunawi (w. 673/1274) adalah orang pertama yang menggunakan istilah wahdatul wujud, hanya saja al-Qunawi tidak menggunakannya sebagai suatu istilah teknis yang independen. Selain al-Qunawi, masih banyak lagi yang menggunakan istilah wahdatul wujud. Namun tokoh yang paling besar peranannya dalam mempopulerkan istilah wahdatul wujud adalah Taqi al-Din Ibn Taymiyyah (w. 728/1328). Ia adalah pengecam keras ajaran Ibnu Arabi dan para pengikutnya.

Di antara kaum sufi yang mengikuti jejak pemikiran Ibnu Arabi tersebut adalah Syamsuddin Sumatrani. Pengajaran Syamsuddin Sumatrani tentang Tuhan dengan corak faham wahdatul wujud dapat dikenal dari pembicaraannya tentang maksud kalimat tauhid la ilaha illallah, yang secara harfiah berarti tiada Tuhan selain Allah. Ia menjelaskan bahwa kalimat tauhid tersebut bagi salik (penempuh jalan tasawuf) tingkat pemula (al-mubtadi) dipahami dengan pengertian bahwa tiada ada ma’bud (yang disembah) kecuali Allah.Sementara bagi salik yang sudah berada pada tingkat menengah (al-mutawassith), kalimat tauhid tersebut dipahami dengan pengertian bahwa tidak ada maksud (yang dikehendaki) kecuali Allah. Adapun bagi salik yang sudah berada pada tingkat penghabisan (al-muntaha), kalimat tauhid tersebut difahami dengan pengertian bahwa tidak ada wujud kecuali Allah. Menetapkan makna kalimat tauhid la ilaha illallah, yakni tiada wujud selain Allah. Kesatuan hakikat dalam kejamakan alam tanpa membedakan antara martabat Tuhan dengan martabat alam.

Bagi Syamsuddin Sumatrani, sebagaimana faham Ibnu Arabi, adalah Keesaan Wujud berarti tidak ada sesuatu pun yang memiliki wujud hakiki kecuali Tuhan. Sementara alam atau segala sesuatu selain Tuhan keberadaannya adalah karena wujud (maujud) Tuhan. Karena itu dilihat dari segi keberadaanNya dengan diriNya sendiri.Tulisnya:

I’lam, ketahui olehmu bahwa (se)sungguhnya martabat wujud Allah itu tujuh martabat; pertama martabat ahadiyyah, kedua martabat wahdah, ketiga martabat wahidiyyah, keempat martabat alam arwah, kelima martabat alam mitsal, keenam martabt alam ajsam dan ketujuh martabat alam insan.

Maka ahadiyyah bernama hakikat Allah Ta’ala, martabat Dzat Allah Ta’ala dan wahdah itu bernama hakikat Muhammad, ia itu bernama sifat Allah, dan wahidiyyah bernama (hakikat) insan dan Adam ‘alaihi al-Salam dan kita sekalian, ia itu bernama asma Allah Ta’ala, maka alam arwah martabat (hakikat) segala nyawa, maka alam mitsal martabat (hakikat) segala rupa, maka alam ajsam itu martabat (hakikat) segala tubuh, maka alam insan itu martabat (hakikat) segala manusia. Adapun martabat ahadiyyah, wahdah dan wahidiyyah itu anniyyat Allah Ta’ala, maka alam arwah, alam mitsal alam ajsam dan alam insan itu martabat anniyyat al-makhluk.


Atas uraian Syamsuddin Sumatrani tersebut Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan berpendapat dan memberikan ulasan: terhadap tiga martabat pertama yang disebutnya dengan ‘anniyyat Allah, maksudnya adalah martabat wujud aktual Tuhan; Sedang terhadap empat martabat berikutnya yang disebut martabat anniyyat al-makhluk, maka yang dimaksudkannya adalah wujud aktual makhluk.

Dengan demikian, tiga martabat pertama adalah qadim (dahulu tanpa permulaan) dan baqa (kekal tanpa kesudahan); Sedang empat martabat berikutnya disebut muhdats (yang dijadikan/diciptakan). Karena itu pula istilah ‘alam tidak digunakan untuk tiga martabat pertama, tapi jelas dipergunakan untuk empat martabat berikutnya. Dari semua itu dapatlah dipahami bahwa martabat ketuhanan itu tidak lain dari tiga martabat pertama, sedang martabat alam atau makhluk mengacu pada empat martabat berikutnya.

Thursday, May 6, 2010

FUTUHAT AL-MAKIYYAH

FUTUHAT AL MAKKIYAH IBN ARABI - ALLAH MELAMPAUI SEGALA SESUATU
Mengenai Allah yang tanzih (putus hubungan) daripada sebarang bentuk tasybih (ada-perhubungan)  atau penjelmaan, terkandung di dalam ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas keadaan-Nya di dalam Kitab-Nya atau melalui lidah Rasul-Nya.
“Maha suci Allah dan maha tinggi, melampaui apa yang mereka katakan.” (17:43).



 
Pada penyaksian hamba terhadap Tuhannya
dalam ketulenan dan putusnya kekuatan
dan ketinggiannya daripada dihubungkan dengan “bagaimana”
atau yang seumpamanya
adalah petanda yang memberikan keputusan muktamad
tentang kedudukan hamba dan pujiannya
keteguhan pengetahuan dan pengesahannya
dan penolakan terhadap tuduhan dan perubahan

[Segala pengetahuan dibekalkan kepada Akal Awal]
Ketahuilah yang menanggung segala ilmu, baik mengenai yang di langit mahupun yang di bumi, adalah Akal yang menerimanya daripada Allah s.w.t tanpa perantaraan. Tiada sebarang pengetahuan mengenai makhluk alam tinggi dan alam rendah tersembunyi daripadanya. Semuanya datang daripada kurniaan dan kemurahan-Nya, dan daripada penerangan-Nya, cahaya-Nya dan ketulenan limpahan-Nya. Akal mempelajari daripada Allah s.w.t dan ia mengajar kepada diri. Diri yang belajar daripada Akal melahirkan tindakan. Ia meliputi sekalian pengetahuan mengenai apa yang berhubungan dengan Akal , iaitu segala yang di bawah daripadanya. Kita disempadani oleh “apa yang di bawah daripadanya” dalam hubungan pembelajaran yang dikatakan. Berhati-hati bila kamu fikirkan, ingatlah Allah s.w.t berfirman, “sehingga Kami tahu” 47:31).
Dia yang mengetahui segala-galanya, oleh itu akuilah sumber segala sesuatu.

[…melainkan dunia yang membingungkan]
Ketahuilah bahawa dunia yang menipu-daya ini tidak mempelajari apa-apa daripada Akal Awal, dan Akal Awal tidak ada kuasa terhadap mereka yang dibingungkan oleh cinta dunia. Mereka dan dunia yang membingungkan itu berada pada taraf yang sama, seperti individu-individu yang keluar daripada kawalan Kutub, walaupun Kutub itu sendiri adalah satu daripada individu-individu. Tetapi Akal dipilih untuk menyampaikan sebagaimana Kutub dipilih bagi pengangkatan di kalangan individu.
[…dan melainkan pengetahuan mengenai tauhid tajrid (pengasingan)]
Prinsip pengajaran Akal kepada apa yang di bawahnya menjadi kenyataan pada semua, bahawa tiap sesuatu ada perhubungan dengan pengetahuan Akal – melainkan bagi ‘tauhid tajrid (tauhid pengasingan)’. Kaedah tauhid tajrid berbeza daripada segala perkara yang diketahui dalam semua hal, kerana dalam kaedah ini tidak ada sebarang hubungan di antara Allah s.a.w dengan ciptaan-Nya, walaupun jika ‘hubungan’ itu digunakan pada hal tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali di dalam bukunya dan juga oleh beberapa orang lain. Itu adalah satu gaya penyampaian, dan ianya sangat berbeza daripada kebenaran. Hubungan apakah yang ada di antara sesuatu yang disempadani oleh masa dengan yang melampaui masa. Atau bagaimanakah diadakan persamaan terhadap Dia yang tidak mungkin ada persamaan, dengan sesuatu yang menerima persamaan. Ini adalah tidak mungkin seperti kata Abu’l-‘Abbas ibn al-‘Arif as-Sanhaji dalam Mahasin al-Majalis, “Tidak ada perhubungan di antara Allah dengan hamba kecuali urusan. Di sana tidak ada asbab melainkan keputusan dan tidak ada masa melainkan azali. Apa juga yang lain adalah kegelapan dan kekaburan yang menipu daya.”  Satu kelainan mempunyai ‘pengetahuan’ menggantikan ‘kegelapan’.  Perhatikanlah betapa unggulnya perkataan ini dan betapa lengkapnya makrifat Allah ini dan betapa tulen musyahadahnya. Semoga Allah mengurniakan faedah kepada kita melalui perkataannya.
[Kelemahan akal dalam mencapai makrifat tentang Allah]
Pengetahuan tentang Allah terlalu sukar bagi keupayaan  yang ada pada akal dan diri untuk mengerti, melainkan sekadar pengakuan bahawa Dia wujud dan suci. Akal yang waras mengakui bahawa Allah berlainan daripada apa yang dikatakan tentang-Nya, baik dalam bentuk nyata atau khayalan, dalam apa juga anasir atau apa sahaja. Khayalan tidak sampai kepada kebenaran tentang-Nya. Ungkapan juga tidak mampu menerangkan hal-Nya seperti menerangkan tentang makhluk. Ianya  digunakan itu hanyalah untuk memudahkan pendengar memahami akan keteguhan wujud menurut apa yang mampu diterima oleh pendengar, bukan untuk mengemukakan yang sebenarnya tentang Yang Haq. Allah berfirman,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya” (47:19).

Walau bagaimanapun, mengenal Allah  adalah fardu bagi kita menurut peraturan Syariat kerana Allah berfirman kepada Rasulullah s.a.w,
“Ketahuilah, bahawa tiada Tuhan melainkan Allah” (47:19).
Dia mengatakan, “Kenalilah Aku melalui perkhabaran daripada-Ku, yang harmoni dengan renungan kamu supaya kepercayaanmu akan melahirkan pengetahuan yang benar, seperti boleh jadi benarnya pengetahuan  yang menimbulkan tidak percaya  yang datang melalui kepastian”. Jadi, keadaannya adalah demikian.

Oleh kerana sebahagian orang berpandangan dan berpendapat demikian, kita renungkan tentangnya untuk melihat bagaimana makrifat mengenai-Nya boleh dicapai. Kita kaji secara adil dan munasabah. Akal yang sempurna tidak berupaya mencapainya melalui usaha dan ikhtiar yang gigih. Kita hanya mencapai kepada makrifat mengenai-Nya melalui ketidakupayaan untuk mengenali-Nya. Sesuatu yang wujud yang tidak menyerupai sesuatu dan tidak boleh difikir dan dikhayalkan, bagaimana mungkin akal menguasai perkara ini? Hal ini tidak boleh berlaku sekalipun pengetahuan mengenai kewujudan-Nya diyakini sunguh-sungguh. Kita tahu bahawa Dia wujud dan Esa pada Zat-Nya. Ini adalah pengetahuan yang dituntut daripada kita, bukanlah kita mengetahui hakikat Zat-Nya yang Dia ketahui, yang Dia miliki. Ini adalah pengetahuan tanpa pengetahuan, yang dituntut daripada kita. Dia tidak menyerupai sebarang makhluk dalam pandangan akal, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Ia menjadi fardu kepada kita apabila dikatakan kepada kita, “Ketahuilah tiada Tuhan melainkan Allah” untuk mengetahui apakah pengetahuan itu. Kita mempelajarinya dan kita mempelajari apa yang mula-mula difardukan kepada kita untuk mengetahui apakah pengetahuan itu.
[Induk kepada tuntutan ilmu pengetahuan]
Ada empat hujah ilmu: iakah?, apakah?, bagaimanakah?, mengapakah?. ‘Ia?’ dan ‘mengapa?’ adalah tuntutan kerohanian yang satu disusuli oleh apakah ianya. ‘Ia?’ dan ‘mengapa?’ adalah dua sumber bagi anasir yang mudah sementara ‘apakah ianya?’ adalah sesuatu yang boleh dikatakan kompleks. Tuntutan yang empat ini tidak boleh ditanyakan tentang Allah, sesuai dengan kenyataan kerana ianya tidak benar bahawa sebarang pengetahuan tauhid boleh diketahui melainkan melalui penafian pada apa yang wujud kecuali Dia. Oleh itu Dia mengatakan,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya”(41:11)
dan
“Maha suci Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki benteng yang teguh, melampaui apa yang mereka sifatkan”(37:180).

[Pengetahuan tentang penafian adalah pengetahuan tentang Allah]
Pengetahuan tentang penafian adalah pengetahuan tentang Allah. Begitu juga kita tidak dibenarkan bertanya “bagaimana” mengenai roh. Ianya adalah terlalu seni untuk dipersoalkan dan hakikatnya berlainan daripada apa yang diucapkan. Alat bagi pertanyaan yang tidak dapat diajukan kepada roh, tidak boleh juga diajukan kepada Allah. Yang Haq tidak mampu diketahui melalui tuntutan-tuntutan ini.
[Yang kelihatan melalui zat dirinya, yang kelihatan melalui perbuatannya dan yang tidak kelihatan sama sekali]
Jika kita pandang kepada yang selain Allah kita akan temui dua kategori. Kategori pertama adalah yang kelihatan melalui zat dirinya, iaitu sesuatu yang padat dan boleh dicapai oleh pancaindera. Keduanya adalah yang kelihatan melalui tindakannya, iaitu sesuatu yang seni dan dapat ditangkap oleh akal. Yang dapat ditangkap oleh akal lebih tinggi daripada yang dapat ditangkap oleh pancaindera: zatnya terlalu seni untuk menjadikan dirinya kelihatan, tetapi tindakannya ada kenyataan. Keadaan ini adalah keadaan makhluk, Allah bukan makhluk. Dia terlalu murni untuk disaksikan Zat-Nya seperti kategori pancaindera, ataupun tindakan-Nya untuk disamakan dengan kategori seni, kerana tidak ada hubungan langsung di antara-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya. Zat-Nya tidak kelihatan kepada kita untuk menjadikan-Nya seperti makhluk yang dapat ditangkap oleh pancaindera, tidak juga perbuatan-Nya untuk menjadikan-Nya seperti makhluk yang dapat ditangkap oleh akal. Perbuatan Yang Haq adalah permulaan kepada sesuatu bukan daripada sesuatu. Makhluk rohani yang seni memperolehi sesuatu daripada sesuatu. Jadi, apakah hubungan keduanya? Bila hubungan tidak mungkin pada perbuatan, maka semestinya juga tidak mungkin pada zat.
Jika kamu berhasrat untuk mencapai sebahagian daripada kesedaran dalam tahap ini, perhatikan kepada kesan tindakan menurut tahap kesan-kesan tersebut, misalnya kesan kerja-tangan seperti baju dan kerusi. Kita dapati tukang itu tidak dikenali melainkan dia sendiri memberi gambaran akan kewujudannya dan ilmunya mengenai kerja-tangannya. Begitu juga dengan kesan pembentukan makhluk – cakerawala dan bintang-bintang – yang tidak mengenali penggubahnya dan yang membentuknya. Ia adalah Diri Universal yang melingkungi mereka. Begitu juga dengan kesan semulajadi – seperti penghasilan bahan logam, tumbuh-tumbuhan dan haiwan, yang memberi kesan semulajadi yang menjadi sebahagian daripada kesan pembentukan makhluk. Tetapi mereka tidak dapat mengongkong sesuatu yang bertindak bagi mereka, iaitu cakerawala dan bintang-bintang.
Jadi, pengetahuan mengenai cakerawala bukanlah apa yang kamu lihat pada jisimnya dan bukan apa yang kamu saksikan mengenai mereka. Di manakah jisim matahari dalam hubungan dengan dirinya sendiri pada pandangan kita yang melihatnya? Pengetahuan mengenai cakerawala datang daripada roh dan tujuannya yang Allah bawakan kepada kewujudan daripada Diri Universal yang meliputi, yang menjadi asbab bagi cakerawala dan apa yang terkandung di dalamnya.
Begitu juga dengan kesan penjelmaan Diri Sejagat atau Diri Universal, menjelma daripada Akal sebagai Dihya[1}, bentuk yang datang daripada pembentukan Jibrail. Diri Universal tidak mengetahui penjelmaan itu daripada apa kerana ia adalah di bawah jagaannya dan dilengkunginya lantaran ia adalah satu daripada khawatirnya. Jadi, bagaimana Diri Universal tahu apa yang di atasnya sedangkan apa yang pada Diri itu  daripada apa yang di atasnya hanyalah apa yang di dalamnya? Ia hanya mengetahui apa yang ada dengannya. Jadi, ia mengetahui dirinya, tetapi  tidak penyebabnya!
[1] Dihya al-Kalbi, salah seorang daripada sahabat Rasulullah s.a.w. Jibril pernah berjumpa dengan Rasulullah s.a.w dengan menjelma dalam rupa Dihya al-Kalbi.
Ia juga sama dengan kesan permulaan yang dinamakan Hakikat Muhammadiah, atau ada yang memanggilnya Akal Awal. Ia adalah Qalam Tertinggi yang Allah jadikan daripada tiada. Ia  tidak mempunyai keupayaaan dan dihjijab daripada menyaksikan Pembuatnya melebihi daripada kesan yang sudah dinyatakan kerana di antara setiap kesan dan pembuatnya, ada sesuatu hubungan dan persamaan. Jadi, ia tahu mengenainya menurut kadar hubungan di antara mereka, samada dalam bentuk yang nyata atau sebaliknya. Di sana tidak ada hubungan di antara yang pertama diciptakan dengan Yang Hakiki – maha suci Dia! Kesan yang muncul daripada penyebab tidak berupaya mengenali Pembuat atau Penyebabnya. Ketidakupayaan kesan tersebut, yang menyerupai penyebabnya yang aktif dalam beberapa hal, adalah tidak berupaya untuk menyaksikannya dan mengetahuinya. Jadi, fahamilah hal ini dan hayatinya. Ia amat berguna bagi urusan tauhid dan ketidakupayaan untuk menghubungkan pengetahuan yang sementara kepada Allah Yang Maha Besar.
[Lima bakat dan pengertiannya yang sebenar]
Manusia memperolehi segala pengetahuan melalui salah satu daripada lima bakat: deria yang lima – bau, rasa, sentuh, dengar dan lihat. Pandangan menyaksikan warna, benda-benda berwarna dan individu menurut had dan jarak jauhnya. Apa yang dipandang satu batu jauhnya berbeza dengan apa yang dipandang dua batu jaraknya. Apa yang dipandang 20 langkah tidak sama dengan yang satu batu. Apa yang dipandang yang hampir seperti tangan sendiri, tidak sama dengan apa yang dipandang 20 langkah jaraknya. Pada jarak 2 batu disaksikan bentuk individu tetapi tidak dapat dikenali samada ianya pokok atau manusia. Pada jarak satu batu ia dikenali sebagai manusia. Pada jarak 20 langkah dikenali pula samada putih atau hitam. Bila saling berhadapan dikenali dengan pasti samada biru atau biru air laut. Begitulah keadaan semua pancaindera dalam pengertiannya menurut dekat atau jauh
Pencipta tidak dapat ditangkap oleh bakat pancaindera dalam kita cuba mengenali-Nya. Kita tidak boleh mengenali-Nya melalui keupayaan bakat pancaindera. Bakat khayalan hanya menerima apa yang dibekalkan oleh bakat pancaindera, samada gambaran atau bentuk dalam fikiran, daripada apa yang bakat pancaindera bekalkan. Jalan manusia akal dalam menyingkapkan tentang Allah berakhir di sini (melalui bakat khayalan dan fikiran). Ini adalah ungkapan mereka (manusia akal), bukan ungkapan kami. Sekalipun jalan mereka benar, kami sandarkan pendapat tersebut kepada mereka dan ia diungkapkan oleh mereka. Bakat fikiran dan khayalan ini akan berterusan selagi ia menerima persepsi daripada bakat pancaindera (deria). Kami berpendapat apa juga perkaitan deria dengan Allah tidak boleh dijadikan pegangan, begitu juga perkaitan fikiran dan khayalan dengan-Nya.
Bagi kebolehan bertafakur pula, manusia hanya mampu menyatakan perkara-perkara yang ada dengannya, yang dia pelajari dengan derianya, persepsi akal dan daripada jalanan fikiran tentang perkara-perkara yang di dalam bidang imaginasinya sesuai dengan pengetahuan tentang  benda-benda tersebut yang padanya dia melihat perhubungan. Di sana tidak ada hubungan di antara Allah dengan ciptaan-Nya. Jadi, pengetahuan mengenai-Nya tidak terpakai melalui cara renungan. Oleh kerana itu orang arif melarang berfikir tentang Zat Allah.
Bagi bakat akal pula, akal tidak berupaya menyaksikan-Nya. Akal hanya mampu menerima apa yang diketahuinya secara spontan atau renungan yang sesuai dengan kita. Fikiran tidak ada keupayaan untuk mengkaji tentang-Nya melalui pemikiran dan renungan, jadi akal bukanlah alat yang sebenar untuk mengkaji mengenai-Nya melalui renungan. Apa juga akal itu hadnya ialah untuk memahami dan mengambil apa yang mampu diperolehinya. Jadi, mungkin Yang Haq akan kurniakan penyingkapan mengenai-Nya dan akal akan faham, tetapi bukan melalui pemikiran. Ini bukanlah mustahil. Allah kurniakan pembukaan ini kepada sesiapa yang Dia kehendaki dari kalangan hamba-Nya. Akal tidak memiliki sepenuhnya persepsi tentang makrifat, tetapi ia menerimanya apabila didatangkan kepadanya. Jadi, tiada pembuktian dan peruntukan didasarkan padanya kerana penyingkapan (makrifat) adalah melampaui persepsi akal.
Sifat-sifat yang wajib tidak boleh dinyatakan kerana ianya melampaui perumpamaan dan ibarat
“Tidak ada sesuatu menyerupai-Nya” (41:11).
Akal yang tidak dibukakan tentang makrifat ini bertanyakan akal  lain yang dibukakan sebahagian kepadanya. Tetapi ianya bukanlah di dalam keupayaan akal yang ditanyakan itu untuk menerangkannya, malah ianya adalah tidak mungkin. Sebab itulah Abu Bakr as-Siddiq mengatakan, “Ketidakupayaan memahami itulah pemahaman.” Kenyataan ini ada dua tahap, jadi fahamkanlah. Sesiapa yang mencari Allah melalui pemikiran dan pengkajiannya akan sesat. Walau bagaimanapun, persediaan yang ada dengan akal mungkin mencukupi untuk menjadikannya sebagai bekas yang sesuai bagi menerima apa yang Allah kurniakan kepadanya, fahamkanlah!

Bagi keupayaan mengingat pula, tiada jalan baginya untuk mencapai pengetahuan tentang Allah. Ia mengingati apa yang telah diketahui oleh akal sebelumnya dan kemudian mengabaikannya atau melupakannya dengan tidak disedari. Jadi bakat atau daya ingatan tidak mempunyai jalan kepada-Nya.
Jadi, pengertian manusia terbatas kepada kemanusiaan itu sendiri, apa yang zat dirinya berikan kepadanya dan apa yang dia boleh pelajari. Selebihnya adalah persediaan akal untuk menerima apa yang Allah kurniakan daripada makrifat-Nya. Manusia tidak akan mengenali Yang Haq melalui pembuktian secara logik – melainkan sekadar mengakui Dia Wujud dan Dia adalah Yang Esa yang disembah. Pemikiran manusia tidak berupaya untuk memikirkan sesuatu melainkan perkara yang difikirkan itu sudahpun ada dengannya. Jika tidak kerana itu ia tidak akan memikirkannya sama sekali dan tidak juga mengenalinya. Oleh kerana manusia tidak mengenali sesuatu melainkan dia memiliki sesuatu menyamai perkara yang dikenali itu, sebenarnya manusia hanya mengenali apa yang menyerupainya. Di sana tidak ada sesuatu menyamai Pencipta dan tidak ada apa yang mempunyai sesuatu menyerupai-Nya, jadi Dia tidak akan dikenali.
[Benda-benda alam semulajadi hanya menerima bekalan daripada yang seumpama dengannya]
Sebahagian daripada perkara yang menyokong apa yang telah kami katakan ialah benda-benda semulajadi hanya menerima makanan daripada benda-benda yang daripada jenisnya juga, dan tidak sekali-kali menerima makanan daripada jenis lain. Contoh bagi perkara ini ialah bahan-bahan daripada galian, tumbuh-tumbuhan dan haiwan adalah campuran daripada jenisnya, dan tidak menerima makanan daripada sumber lain. Ini adalah kerana sebahagaian daripadanya adalah untuknya. Jika makhluk mahu membuat makanan untuk tubuhnya, yang terdiri daripada bahan-bahan ini, daripada anasir yang lain daripada bahan-bahan tersebut, atau apa yang dicampurkan  daripada yang lain, ia tidak akan dapat melakukannya. Kerana ianya hanyalah mungkin bagi tubuh yang asli menerima makanan daripada sesuatu yang dicampurkan  daripada anasir-anasir yang serupa dengannya, jadi adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu melainkan dia memiliki sesuatu menyerupainya.Tidakkah kamu perhatikan diri hanya menerima daripada akal apa yang ia kongsikan dengannya dan apa yang menyamainya? Ia tidak tahu apa yang ia tidak sedikitpun berkongsi dengannya. Tiada sesuatu yang dinisbahkan kepada Allah ada dengan sesuatu yang lain, hal ini tidak mungkin dalam segi apa sekalipun, jadi tiada sesiapa yang mengenali-Nya melalui dirinya dan renungannya. Rasulullah s.a.w bersabda, “Allah terhijab bagi akal sebagaimana Dia terhijab bagi mata. Makhluk alam tinggi mencari-Nya sebagaimana kamu mencari-Nya.” Jadi, Rasulullah s.a.w menceritakan bahawa akal tidak ada pengenalan tentang-Nya melalui renungannya, tidak juga melalui mata dalamnya dan tidak juga melalui mata luarnya. Inilah yang dinyatakan sebelum ini dalam tajuk ini. Segala puji bagi Allah yang mengilhamkan kita dan mengajar kita apa yang kita tidak tahu. Kemurahan Allah maha luas.
[Tanzih ('tiada-hubungan') dan penafian terhadap tasybih (penyifatan dan perhubungan)]
Jadi, pegangan mestilah berkonsepkan ‘tiada-hubungan’ (tanzih) dan ‘penafian’ terhadap penyifatan dan perhubungan. Sesiapa dari kalangan yang menggunakan perhubungan dan menjadi sesat adalah disesatkan oleh pemahaman tentang ibarat dan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang tidak difahaminya tanpa melihat kepada aspek tanzih (’tiada-perhubungan’) yang Allah fardukan. Itu membawa mereka kepada kejahilan yang sebenar dan kesesatan yang nyata. Jika mereka berpegang kepada yang benar dan membiarkan hadis dan ayat-ayat berkenaan tanpa mengubahsuai apa-apa padanya kepada sesuatu yang lain dan menyerahkan pengetahuan itu kepada Allah dan Rasul-Nya dan berkata, “Kami tidak tahu”, itu adalah lebih baik bagi mereka.
Firman Allah semestinya memadai bagi mereka,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya” (41:11).
Bila sesuatu hadis sampai kepada mereka, hadis yang menceritakan tentang perhubungan yang menggambarkan Allah seumpama sesuatu, Dia menafikan persamaan itu dalam hubungan Diri-Nya. Jadi, yang tinggal adalah hadis itu memiliki satu aspek ‘tiada-hubungan’ (tanzih) yang Allah akui dan ia dibawa kepada kefahaman orang Arab yang melalui lidah Arab Quran dibukakan.

Sebenarnya tidak kedapatan satu ungkapan pun di dalam hadis atau ayat yang boleh dijadikan hujah bagi menegakkan pegangan ‘ada-hubungan’. Apa yang ditemui ialah ia menyokong berbagai-bagai aspek, ada yang menunjukkan kepada ‘ada-hubungan’ dan ada yang menunjukkan kepada ‘tiada-hubungan’. Penterjemah ibarat atau misal menggunakan ungkapan berkenaan dengan memaksudkan ‘ada-hubungan’ secara menyalahi maksud sebenar ungkapan tersebut kerana dia tidak memahami kedudukan ungkapan berkenaan menurut kehendak tata-bahasa. Dia telah melanggar peraturan Allah apabila dia meletakkan sesuatu yang tidak benar kepada-Nya. Insya’ Allah, kita akan bawakan sebahagian hadis yang menunjukkan kepada ‘ada-hubungan’ tetapi sebenarnya tidak bermaksud demikian.
“Kepunyaan Allah bukti yang jelas nyata. Jika Dia kehendaki Dia beri petunjuk kepada kamu semua.” (6:149).

[Tasybih ('ada-hubungan') dan penyifatan dalam ungkapan Sunnah]
Contoh yang demikian ialah sabda Rasulullah s.a.w,
“Hati orang mukmin berada di antara dua jari Allah.” (A-Tarmizi).
Akal melihat kepada apa yang diperlukan oleh keadaan sebenar dan kiasan, dan anggota adalah mustahil bagi Allah! ‘Jari’ dalam dalam ungkapan ini boleh difahamkan sebagai anggota ataupun rahmat. Pengembala[2] berkata:
Kelemahan tongkat, dari orang Badwi,
kamu melihatnya atas mereka
bila manusia yang tidak mendapat rahmat berakhir dengan kemarau

[2] ia-itu pengembala yag baik menjaga untanya dengan baik.
Dia mengatakan, “Kamu melihatnya atas mereka” menunjukkan kepada rahmat secara menjaga mereka dengan baik. Bila orang Arab berkata, “Alangkah baiknya jari si anu menjaga hartanya”, ia bermakna hasilnya yang membuat hartanya bertambah lantaran pengurusan yang baik.
Menggerakkan sesuatu benda dengan tepat adalah dengan menggunakan jari kerana saiznya kecil dan sesuai untuk kerja yang demikian. Jadi pergerakannya lebih kemas daripada tangan dan bahagian yang lain. Bila Allah balikkan hati hamba-Nya, ia adalah pergerakan yang tepat. Rasulullah s.a.w sangat memahami tentang orang Arab, dan penyampaiannya adalah dengan cara yang mereka faham. Bagi kita, sesuatu benda digerakkan dengan tangan, baginda menggunakan pergerakan dengan ‘jari’ kerana jari adalah bahagian tangan, dan lebih pantas. Rasulullah s.a.w bermunajat,
Wahai Yang membalikkan hati-hati, jadikan hatiku teguh di dalam jagaan-Mu! (Ibnu Majah).
Allah membalikkan hati-hati bermaksud apa yang Dia jadikan iaitu kecenderungan hati kepada kebaikan dan kecenderungannya kepada kejahatan. Bila seseorang menyedari perubahan dalam hatinya ini bermaksud ‘Allah membalikkan hati’. Pengetahuan manusia tidak berubah daripada dirinya sendiri. Sebab itulah Rasulullah s.a.w mengatakan, “Wahai Yang membalikkan hati-hati, jadikan hatiku teguh di dalam jagaan-Mu!”

Merujuk kepada hadis ini, salah seorang daripada isteri-isteri baginda s.a.w bertanya kepada baginda, “Adakah engkau takut, wahai Rasul Allah?”. Baginda s.a.w menjawab,
Hati orang mukmin berada di antara dua jari Allah”,
jadi Rasulullah s.a.w menunjukkan kepada kecepatan pertukaran daripada beriman kepada tidak dan apa yang terkandung pada kedua-duanya. Allah berfirman,
Allah mengilhamkan kepada mereka kejahatan dan kebaikan” (91:8).
Ilham ini adalah pertukaran dan jari-jari itu adalah kecepatannya. Maksud bagi dua (’dua jari’) adalah kecenderungan kepada kebaikan dan rangsangan kepada kejahatan.

Jadi, ‘jari-jari’ hendaklah difahamkan sebagaimana kami telah terangkan. ‘Jari-jari’; boleh membawa maksud anggota dan boleh juga bermaksud rahmat. Jadi, daripada dua aspek ini yang manakah kamu guna-pakai bagi memenuhi kehendak konsep ‘tiada-hubungan’?Samada kita hanya mendiamkan diri dan membiarkan maksud yang sebenar kepada Allah dan mereka yang Allah bukakan mengenainya – Rasul-rasul-Nya atau wali yang diilhamkan, selagi anggota itu dinafikan, atau mungkin kita dikuasai oleh rasa ingin tahu, walaupun kita menyandarkannya kepada golongan pembaharuan yang mengadakan penyerapan kepada penyifatan. Rasa ingin tahu tidak boleh dijadikan alasan. Setiap orang yang mengetahui berkewajipan memperjelaskan aspek ‘tiada-hubungan’ dalam ungkapan-unkapan berkenaan supaya membatalkan alasan-alasan mereka yang bermain-main dengan istilah. Semoga Allah mengasihani kita dan mereka dan memberikan kepada mereka Islam! Jika kita membincangkan keadaan Allah yang tasybih, penerangannya hendaklah menjurus kepada hal yang sesuai bagi Allah – maha suci Dia! Ini adalah bahagian akal dalam tata-bahasa kesusasteraan.
Tiupan roh ke dalam hati
[Bahagian hati daripada dua jari menurut aspek ghaib]
‘Dua jari’ adalah rahsia bagi kesempurnaan yang perlu yang kerananya apabila ia dibukakan pada Hari Kebangkitan, anak akan menangkap bapanya yang derhaka dan mencampakkannya ke dalam neraka tanpa berasa sedih dan dukacita, semuanya kerana rahsia ‘dua jari’ ini, yang mempunyai satu makna sahaja walaupun perkataannya dua. Syurga dan neraka diciptakan dan nama diterangi ataupun digelapkan, dan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Keras menyata. Janganlah membayangkan ‘dua jari’ ini sebagai dua jari daripada sepuluh jari!
Rahsia ini mesti ditonjolkan dalam bahagian ini. Hadis mengatakan, “Kedua-dua tangan-Nya adalah tangan kanan”. Inilah rahsia penyingkapan makrifat. Ahli syurga mendapat dua nikmat: pertama ialah nikmat syurga dan satu lagi ialah nikmat hukuman terhadap ahli neraka di dalam api neraka. Begitu juga ahli neraka mendapat dua seksaan. Kedua-dua golongan tersebut melihat Allah melalui Nama-nama seperti yang mereka lakukan di dunia. Mengenai ‘dua genggaman’ yang datangnya daripada Rasulullah s.a.w, dalam hubungan dengan Allah ialah rahsia kepada apa yang telah kami nyatakan.
“Allah mengatakan kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.(33:4).

Genggaman dan tangan kanan: Allah berfirman,
“Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya” (39:67)
dan,
“Langit digulung dalam tangan kanan-Nya” (39:67).
Akal haruslah melihat sebagaimana keadaan kehendaki. Allah melarang Dia diadakan persamaan dan penyifatan yang mana akal yang lemah telah berbuat demikian lantaran keliru dengan ayat dan hadis. Kemudian, selepas ‘tiada-hubungan’ (tanzih) di mana mereka yang berakal memahaminya, Allah berfirman,
“Bumi sekaliannya berada dalam genggaman-Nya” (39:67).

Salah satu tata-bahasa Arab yang diketahui, apabila dikatakan, “Si anu berada dalam tangan saya (qabda),” ia bermakna berada di bawah penguasaan, sekalipun saya tidak memegang apa-apa daripada orang itu di dalam tangan saya. Tetapi keputusan saya boleh dikuatkuasakan ke atas orang tersebut, sama seperti keputusan saya terhadap apa yang benar-benar ada dalam tangan saya. Saya katakan, “Harta saya berada dalam tangan saya”, bermakna ia adalah milik saya dan saya berkuasa ke atasnya. Saya boleh menggunakannya mengikut kehendak saya. Apabila saya menggunakannya, pada ketika itu saya boleh berkata, “Dalam tangan saya untuk menggunakan barang ini”, sekalipun ianya adalah hamba saya yang menggunakan barang tersebut dengan izin saya.
Oleh kerana anggota badan adalah mustahil bagi Allah maka akal hendaklah mengubahsuai tanggapannya dan maksud ‘genggaman’ itu. Ia adalah pemilikan yang dikuasai ketika itu, walaupun tidak ada apa dalam genggaman orang itu sebenarnya. Ia adalah pemilikan semata-mata. Alam maya ini berada dalam genggaman Yang Haq. Bumi dan akhirat ditentukan juga sebagai sebahagian daripada milik-Nya, seperti apa yang kamu maksudkan bila berkata, “Hamba saya berada dalam genggaman saya”, walaupun hanya sebahagian sahaja daripada hamba itu dalam genggaman kamu.
Dalam pandangan kami ‘tangan kanan’ adalah tempat bagi urusan mutlak yang kuat. ‘Kiri’ tidak memiliki kekuasaan ke atas ‘kanan’. Jadi, dalam ayat Quran, tangan kanan menunjukkan kepada penguasaan penuh. Ia menunjukkan kepada kekuasaan untuk bertindak. Jadi, makna Quran sampai kepada orang Arab melalui ungkapan yang mereka ketahui dan mudah fahami. Penyair berkata:
Bila panji dikibarkan tanda kemenangan, ‘Araba mengambilnya dengan tangan kanan

Kemenangan bukanlah benda yang nyata, jadi anggota badan iaitu tangan kanan tidak dapat memegangnya. Perkataannya seolah-olah berbunyi: Seandainya kemenangan menampakkan panji yang nyata, tempatnya ataupun orang yang layak membawanya adalah ‘Araba al-Awsi (salah seorang orang Ansar), bermakna sifat kemenangan itu lengkap padanya. Orang Arab masih menggunakan ungkapan yang digunakan kepada anggota sedangkan perkara itu tidak dapat dipegang oleh anggota sebenar kerana maknanya boleh difahamkan.
Tiupan roh ke dalam hati
[Bahagian hati dalam tangan kanan dan kiri: menurut aspek ghaib]

Apabila Yang Haq menyatakan Diri-Nya kepada rahsia (sirr) hamba-Nya yang memiliki semua rahsia-rahsia dimasukkannya ke dalam golongan mereka yang bebas, dan hamba-Nya ini memiliki kebebasan mengambil tindakan yang perlu berhubung dengan tangan kanan. Kemuliaan tangan kiri adalah dengan sesuatu yang lain sementara kemuliaan tangan kanan adalah dengan zatnya sendiri. Kemuliaan tangan kanan adalah secara khitab atau diamanatkan padanya, sementara kemuliaan tangan kiri secara tajalli atau dilekatkan padanya. Kemuliaan seseorang adalah dengan mengenali hakikat dirinya dan menjadi perihatin dengannya, dan ia adalah yang kiri = ‘kedua-dua tangan’ berhubung dengan seseorang adalah kiri sebagaimana kedua-dua bagi Allah adalah tangan kanan!
Berhubung dengan makna penyatuan (ittihad), kedua-dua tangan hamba adalah kanan. Merujuk kepada tauhid, sebelah tangan Allah adalah kanan dan sebelah lagi kiri. Kadang-kadang aku berada dalam ‘persatuan’ dan ‘persatuan pada persatuan’ dan kadang-kadang aku berada dalam keadaan ‘perpisahan’ dan ‘perpisahan pada perpisahan’ menurut suasana warid yang dikurniakan kepadaku.
Satu hari aku temui orang yang dikurniakan nikmat (yaman),
dia adalah Yemeni.
Jika aku temui seseorang yang menjangkau lebih jauh (mu’addhi),
dia adalah ‘Adnani

Kehairanan, ketawa, gembira dan marah.
Kehairanan terjadi daripada sesuatu yang pada mulanya tidak diketahui apakah yang menghairankan itu, dan kemudian dia mengetahuinya dan itu yang membuatnya hairan. Lalu, ketawa berlaku padanya. Ini tidak mungkin bagi Allah. Tidak ada apa yang diluar daripada pengetahuan-Nya, jadi apabila sesuatu berlaku yang membuat kita hairan, kehairanan dan ketawa itu jika ditujukan kepada Yang Esa yang tidak boleh hairan atau ketawa, kerana sesuatu yang kadang-kadang membuat kita hairan dan ketawa, seumpama pemuda yang tidak ada nafsu muda, adalah sesuatu yang menghairankan, tetapi bagi Allah tidak ada kedudukan seumpama apa yang kita hairankan.
Ketawa dan kesukaan datangnya daripada penerimaan dan keseronokan. Jika kamu lakukan sesuatu untuk seseorang, dan kerana itu dia ketawa dan gembira, bermakna dia menerima perbuatan itu dan gembira dengannya. Jadi, ketawa-Nya dan kegembiraan-Nya adalah penerimaan-Nya dan keredaan-Nya terhadap hamba-Nya. Begitu juga, kemurkaan-Nya tidak ada kena mengena dengan keadaan darah mendidih, hati yang mahu membalas dendam, kerana Dia terlalu suci untuk disamakan dengan keadaan pancaindera dan yang mungkin atau tidak mungkin berlaku. Ia merujuk kepada tindakan seseorang yang sedang marah dan dibenarkan untuk menjadi marah. Ia adalah hukuman-Nya kepada orang yang derhaka dan yang menentang perintah dan peraturan-Nya. Allah berfirman, “Dia murka kepadanya” bermakna Dia membalasnya sebagaimana dilakukan terhadap orang yang dimurkai. Jadi Yang Maha Keras itu murka dan kenyataan tindakan itu menunjukkan kepada nama berkenaan.
Senyum adalah sebahagian daripada ketawa. Hadis mengatakan,
“Allah senyum kepada orang yang berjalan ke masjid untuk bersembahyang dan mengingati-Nya”.
Oleh kerana dunia ini ditutup oleh makhluk yang nyata dan dipenuhi oleh yang selain Allah, mereka melakukan tindakan ini dalam keadaan tidak ada kehadiran Allah. Seandainya mereka datang kepada-Nya membawa salah satu daripada berbagai-bagai jenis kehadiran, Allah menghantarkan kepada hati mereka sebahagian daripada rasa kelazatan yang lahir daripada nikmat kehadiran (muhadara) itu, munajat dan musyahadah yang jelira dalam hati mereka. Rasulullah s.a.w bersabda,
“Cinta Allah kepada kesejahteraan yang Dia kurniakan kepada kamu daripada rahmat-Nya.”
Senyuman menggambarkan perbuatan-Nya ini kerana ia adalah kenyataan kepada kegembiraan bila kamu datang kepada-Nya. Bila seseorang memudahkan kamu untuk datang, tanda kegembiraan ialah menunjukkan kebaikan dan kasih sayang kepada kamu dan menghantarkan sebahagian nikmat yang dia miliki kepada kamu. Bila hal yang seperti ini muncul dari Allah kepada hamba-Nya, itu dikatakan ’senyuman’.

Kelupaan.
Allah berfirman,
Dia melupakan mereka” (9:67).
Adalah mustahil bagi Allah untuk dihinggapi oleh lalai dan lupa. Tetapi bila Allah hukumkan mereka dengan seksaan yang kekal abadi dan tidak memberikan kepada mereka pengampunan, keadaan mereka yang demikian diistilahkan sebagai dilupakan oleh-Nya, seolah-olah Dia menjadi lupa kepada mereka. Ini adalah perbuatan seseorang yang lupa dan seseorang yang tidak mengingati kesakitan hukuman yang dia sedang jalani. Ia adalah kerana semasa hidupnya di dalam dunia mereka lupa kepada Allah, jadi Dia membalasnya dengan perbuatannya sendiri dan perbuatannya kembali kepada dirinya sendiri sebagaimana wajarnya.

Maksud “Allah lupa kepada mereka” ialah Dia tidak menghiraukan mereka dan maksud “mereka lupa kepada Allah” ialah mereka tidak menghiraukan perintah Allah dan tidak melaksanakannya. Jadi, Allah tidak menghiraukan mereka di dalam api neraka, sementara sebahagian yang lain dikeluarkan-Nya daripada neraka. Hampir dengan yang demikian ialah menggambarkan Yang Haq sebagai mengadakan tipu-daya dan memperolok-olok. Allah berfirman,
“Allah memperolok-olokkan mereka” (9:79), “Allah mengadakan tipu-daya” (3:54)
dan
“Allah akan perolok-olokkan mereka” (2:15).

Nafas:
Rasulullah s.a.w bersabda,
“Jangan mengutuk angin. Ia adalah daripada nafas Yang Maha Pemurah”.
Baginda juga bersabda,
“Aku merasakan nafas Yang Maha Pemurah datang kepadaku dari arah Yaman”.
Semua ini adalah kesenangan (tanfis). Ia adalah seumpama baginda s.a.w mengatakan, “Jangan mengutuk angin. Ia adalah sebahagian daripada apa Yang Maha Pemurah guna bagi menyenangkan (naffasa) atau mengangkat beban hamba-Nya”. Rasulullah s.a.w bersabda,
“kamu dibantu dengan angin timur”.
Ucapan baginda, “Aku merasakan nafas…” bermaksud Yang Maha Pemurah mengangkat daripadaku apa yang mendukacitakan daku. Ini adalah dukacita yang Rasulullah s.a.w rasakan tatkala berhadapan dengan mereka yang menolak seruan baginda dan menolak peraturan Allah. Baginda bersabda, “Dari arah Yaman”, jadi kaum Ansar adalah di dalam golongan yang melalui mereka Allah hilangkan dukacita Rasul-Nya yang disebabkan oleh puak yang menolak seruan baginda s.a.w. Allah Yang Maha Besar tidak terikat dengan nafas dalam bentuk hembusan udara.
“Allah melampaui apa yang mereka sifatkan tentang-Nya!” (17:43).

Bentuk atau rupa (sura).
Bentuk menunjukkan kepada jisim dan apa yang diketahui oleh manusia dan yang lain. Hadis yang menyifatkan bentuk Allah dalam sahih dan kitab-kitab yang lain, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ikrima, Rasulullah s.a.w bersabda,
“Aku melihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan”.
Ini adalah suasana Rasulullah s.a.w, dan ia adalah ungkapan yang biasa digunakan dalam bahasa Arab. Ia adalah seperti sabda Rasulullah s.a.w,
“Allah ciptakan Adam dalam rupa-Nya”.

Ketahuilah nilai persamaan yang dibawa oleh Quran adalah istilah bahasa, bukan yang nyata, kerana persamaan yang nyata adalah mustahil bagi Allah. Zaid adalah singa dari segi kekuatan. Zaid adalah Zuhar dari segi puisi. Bila kamu gambarkan sesuatu dengan satu atau dua sifat dan kemudian menggambarkan yang lain dengan sifat tersebut, walaupun terdapat perbezaan yang jelas di antara mereka menurut keadaan yang sebenarnya, mereka memiliki hakikat sifat tersebut. Ini bermakna setiap mereka memiliki rupa bentuk yang lainnya dalam sifat itu khususnya. Jadi, fahamkan dan ambil perhatian!
Perhatikan, nilai-nilai yang ada dengan diri kamu itulah kamu gunakan terhadap-Nya – Maha Suci Dia! Tidakkah kamu ceritakan mengenai sifat-sifat kesempurnaan-Nya melalui nilai-nilai sifat yang ada dengan kamu? Fahamkan! Apabila kamu memasuki pintu yang membuang persamaan, kamu menafikan ketidaksempurnaan yang kamu tidak dibenarkan berbuat demikian, walaupun jika kamu berdasarkan kepada yang demikian sama sekali. Walau bagaimanapun apabila seseorang meletakkan nilai yang demikian kepada dirinya, kamu menafikan penyifatan tersebut. Jika orang tersebut tidak ditutupi oleh bayangan, kamu tidak perlu menafikannya. Ketahuilah sekalipun rupa bentuk itu ada banyak pintu, namun kami tidak menyebutnya kerana kami mahu mengelakkan daripada menjadikan buku ini terlalu panjang.
“Allah mengatakan yang benar dan memberi petunjuk kepada jalan yang benar” (33:4).

Lengan.
Ia berkaitan dengan hadis Rasulullah s.a.w,
“Geraham orang kafir di dalam neraka seperti Bukit Uhud dan kulitnya setebal empat puluh hasta daripada hasta Yang Maha Perkasa”.
Ini adalah penyifatan bagi memuliakan dengan kadar yang Allah sifatkan bagi-Nya. Ia seperti kamu katakan, “Benda ini beberapa hasta raja”, bermaksud hasta terpanjang yang raja lakukan, walaupun misalnya lengan raja sama seperti lengan orang ramai dan hasta orang ramai lebih panjang daripada hasta raja. Dalam kenyataannya bukanlah lengannya, tetapi adalah anggaran pemilikannya dan kemudian dinisbahkan kepada pembuatnya, jadi ketahuilah! Menurut loghat bahasa “Yang Maha Perkasa” adalah Raja Yang Besar.

Begitu juga dengan kaki. “Yang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya (dalam neraka)”. Kaki adalah anggota badan. Dikatakan, “Si anu memiliki kecekapan dalam perniagaan”, bermakna kedudukannya teguh. Kaki adalah nama bersama dalam ciptaan, jadi kaki adalah satu bentuk penyifatan. Yang Perkasa itu adalah malaikat dan kaki itu kepunyaan malaikat kerana yang demikian tidak mungkin bagi Allah!
Bersemayam (istawa) menunjukkan kepada kestabilan, petunjuk dan yang menguasai. Kestabilan adalah salah satu nilai tubuh badan dan yang demikian tidak boleh digunakan bagi Allah! melainkan dalam aspek kestabilan. Petunjuk adalah kehendak dan ia salah satu sifat kesempurnaan. Allah berfirman,
“Dia mengangkat (istiwa) Diri-Nya ke langit,” (3:29),
iaitu bertujuan.
“Dia bersemayam di atas arasy” (7:54)
bermaksud menguasai.

Terdapat banyak kepercayaan dan ayat-ayat, sebahagiannya kuat dan sebahagian yang lain lemah. Tidak ada hadis yang tidak mempunyai aspek tanzih (’tiada-hubungan’). Jika kamu mahu fahamkan dengan lebih mudah, maka letakkan pada diri kamu ungkapan yang menunjukkan kepada tasybih dan ambillah faedahnya atau rohnya atau apa yang datang daripadanya. Letakkannya dalam apa yang sewajarnya bagi Yang Haq dan kamu akan memperolehi darjat tanzih (’tiada-hubungan’) tatkala orang lain memperolehi tahap tasybih (’ada-hubungan’). Jadi, lakukan demikian dan sucikan pakaian kamu! Ini sudah memadai bagi kepercayaan berkenaan kerana tajuknya sudah panjang.
Tiupan Roh Kudus ke lubuk Hati
[Maksud simbolik bagi ungkapan tasybih di dalam Syariat]
“Tiupan roh yang paling suci ke lubuk hati” adalah dalam ungkapan yang terdahulu: bila yang berasa kagum (Raja) kagum terhadap yang muncul daripada bentuk-Nya (Adam), Penciptanya dalam kesedaran batinnya, kegirangan dalam kewujudannya, ketawa dalam penyaksiannya dan murka apabila dia membelakangi, tersenyum bila dia mendekati, melupakan keadaan luarannya dan menarik nafas. Jadi, Dia membiarkan kapal mengambil haluannya dan teguh di atas kerajaan-Nya dan mentadbir kerajaan-Nya dengan kekuasaan. Apa yang Dia kehendaki berlaku dan kembali kepada Allah!
Ini adalah roh-roh yang terasing yang ditunggu oleh bentuk sokongan (ashbah). Bila tiba ketikanya, masa berakhir, langit bergoyang, matahari digulungkan, bumi digantikan, bintang-bintang berguguran, segala sesuatu berubah, Alam Akhirat muncul dan manusia serta yang lain dikumpulkan dalam keadaan asal (Lihat 19:10). Kemudian bentuk-bentuk itu akan memberikan pujian, roh-roh akan bergembira, Yang Membuka akan menyata, pelita akan dinyalakan, arak berkilauan, cinta sejati (wudd) muncul, permohonan menghilang, sayap dikembangkan, dan Qubah [3] didirikan daripada permulaan malam hingga ke pagi. Perhentian yang sangat indah! Betapa gembiranya diri-diri yang dalam keadaan sempurna. Semoga Allah mengizinkan kita menikmatinya!


PERMULAAN ALAM DAN KEDUDUKAN NAMA-NAMA YANG INDAH

Asbab Kepada Permulaan Alam Dan Kedudukan Nama-nama Yang Indah Dalam Alam Keseluruhannya Dalam sebab kepada permulaan dan peraturannya,
dan penghabisan pembentukan dan pengertiannya,
Dan perbezaan di antara anasir-anasir tinggi
dalam tempat asalnya dan pemerintahnya,
Bukti yang menunjukkan Pencipta menggubahkan semuanya melalui peraturan-Nya.
[Ketinggian tempat dan kehebatan Syurga]
Wali yang benar telah mengambil pengertian tentang permulaan alam dalam buku kami yang bertajuk, ‘Anqa’ Mughrib fi ma’rifa khatmi’l-awliya’ wa shamsu’l-Maghrib dan dalam buku kami bertajuk Insha’ ad-Dawa’ir yang sebahagiannya kami tulis di rumah sahabat kami yang mulia (Imam Abu Muhammad ÔAbdu’l-’Aziz al-Mahdawi al-Qurashi)  sewaktu kami mengunjunginya dalam tahun 598, dalam perjalanan kami mengerjakan hajji. Khadamnya, ‘Abdul-Jabbar (semoga Allah menaikkan darjatnya) menyalinkan untuk tuannya apa yang telah kami tuliskan. Saya telah pergi ke Makkah bersama-samanya dalam tahun itu untuk menyiapkannya di sana. Buku ini (Futuhat) telah menarik kami daripadanya dan daripada yang lain kerana kami diilhamkan untuk menuliskannya, tambahan pula ada saudara-saudara kami dan para fuqara’ meminta kami melakukannya kerana mereka ingin menambahkan pengetahuan mereka dan juga untuk mendapatkan berkat Rumah Suci ini, tempat yang dirahmati, tempat yang membawa petunjuk dan tempat yang kedapatan padanya tanda-tanda yang jelas. Di tempat ini juga kami ingin mengenali seorang suci yang mulia, Abu Muhammad ‘Abdul-’Aziz (al-Mahdawi al-Qurashi), dengan berkat yang diberikan Makkah, dan ia juga adalah cara ibadat terbaik dan tempat yang paling mulia di muka bumi. Barangkali semangat yang lahir daripada rasa kerinduan akan muncul dan keinginan untuk menambahkannya akan turun. Ia dibukakan kepada orang yang “diberikan segala perkataan” dan menyaksikan Tuhannya lebih hampir daripada “kadar dua busur panah”, meskipun dengan anggaran kesempurnaan ini dan bahagian yang penuh,
“Katakanlah, ‘Tuhan menambahkan pengetahuanku.” (20:114)

Sebahagian daripada syarat awal bagi seseorang berilmu yang menyaksikan, iaitu ahli dalam setesen ghaib dan nyata, ialah dia mengetahui bahawa tempat tersebut (Makkah) mempunyai pengaruh yang kuat kepada hati nurani. Jika hati berada di mana-mana tempat di dalam dunia ini, keadaannya menjadi paling mulia dan lengkap di Makkah. Sebagaimana tahap kerohanian berbeza-beza dalam keutamaannya, begitu juga dengan tahap jasmani. Adakah permata sama dengan batu, kecuali ia berada dengan orang tertentu? Seorang ahli pada makam ini yang telah disempurnakan menemui perbezaan pada yang demikian sebagaimana Yang Haq mengadakan perbezaan yang demikian. Adakah rumah yang dibina daripada batu dan jeramai sama dengan rumah yang dibina daripada emas dan perak? Orang arif yang sampai adalah yang menyerahkan segala hak kepada yang berhak. Dia menjadi luar biasa dalam hayatnya dan menjadi orang arif dalam zamannya. Jadi, terdapat perbezaan yang besar di antara kota yang bangunannya adalah yeng menyelerakan nafsu dengan kota yang bangunannya adalah tanda-tanda yang jelas!
Sahabatku bersetuju bahawa kewujudan hati kita pada sesetengah tempat lebih berpengaruh daripada tempat yang lain? Semoga Allah merahmatinya. Dia meninggalkan khalwat di dalam rumah menara yang dijaga, di bahagian timur Tunis dipinggir pantai, dan dia memasuki ar-Rabita ditengah-tengah liang kubur, berhampiran dengan menara itu, pada bahagian yang hampir dengan pintu. Ia dikaitkan dengan al-Khidr. Saya bertanya kepadanya mengenai hal tersebut dan dia berkata, “Aku lebih menemui hatiku di sana daripada di dalam menara”. Saya juga mengalami di sana apa yang Syeikh itu katakan.
Para wali mengetahui bahawa, lantaran seseorang yang mendiami sesuatu tempat, samada yang berkedudukan sebagai malaikat yang mulia atau jin yang ikhlas, atau ia lantaran himmah seseorang yang pernah mengunjungi atau mendiami tempat tersebut – seperti rumah Abu Yazid yang dipanggil “Rumah orang salih”, atau zawiyya  al-Junayd di Shuniziyya, atau gua Ibn Adham di Yaqin dan lain-lain tempat, sekalipun orang-orang salih yang berkenaan telah meninggalkan dunia ini namun, kesannya masih kedapatan di tempat berkenaan dan ia mempengaruhi hati nurani. Inilah sebabnya mengapa masjid-masjid memberi kesan yang berbeza-beza kepada hati, tetapi tidak dari segi pahalanya. Kamu lebih menemui hati kamu di masjid tertentu tetapi tidak di masjid lain. Ini bukanlah kerana bumi, tetapi kerana kumpulan jemaah dan keberkatan mereka. Orang yang tidak mendapati perbezaan pada hatinya di antara di masjid dan di pasar hanya memiliki suasana tetapi tidak memiliki makam.
Saya tidak ragui, melalui penyingkapan dan pengetahuan, sekiranya para malaikat dengan pangkat yang berbeza-beza mendiami bumi ini, yang paling tinggi kedudukan mereka dalam ilmu dan makrifat akan mendiami Masjid al-Haram. Keadaan kamu menurut mereka yang kamu jadikan sahabat. Himmah mereka yang dalam satu kumpulan memberi kesan kepada orang yang duduk bersama kumpulan tersebut dan himmah mereka adalah menurut pangkat mereka. Jika persaingan didasarkan kepada himmah, maka 124,000 Nabi-nabi, tidak termasuk aulia, telah tawaf Rumah yang suci itu. Tidak ada Nabi atau wali yang tidak ada himmah dengan Rumah ini.
Kota ini adalah kota suci kerana ia adalah Rumah yang Allah pilih di atas rumah-rumah yang lain. Ia memiliki rahsia sebagai tempat yang pertama dijadikan tempat beribadat seperti Allah katakan,
“Rumah pertama yang didirikan buat umat manusia adalah yang di Bakka, tempat yang dirahmati, dan petunjuk kepada seluruh alam. Padanya terdapat tanda-tanda yang jelas – makam Ibrahim, dan sesiapa memasukinya menjadi aman” (3:97)
daripada segala ketakutan. Banyak lagi ayat-ayat yang lain. Jika orang yang bersih berjalan ke kota suci ini, dia akan mengalami makrifat dan peningkatan yang belum pernah dia saksikan sebelumnya dan tidak pernah terlintas dalam fikirannya.

Diri akan dikumpulkan dalam bentuk ilmunya sementara tubuh akan dikumpulkan dalam bentuk amalannya. Bentuk ilmu dan amalan lebih lengkap di Makkah berbanding dengan tempat-tempat lain. Jika seseorang yang mempunyai hati yang terbuka memasukinya untuk satu jam sahaja, dia akan memperolehi yang demikian. Jadi, betapa banyak yang akan diperolehinya jika dia berada hampir dengannya dan mendiami di sana dan melaksanakan segala tuntutan dan peraturannya? Tidak diragukan bahawa penyaksiannya di sana lebih lengkap dan luhur, dan apa yang dikurniakan kepadanya lebih murni, lazat dan menggembirakan. Sahabatku memberitahuku bahawa dia merasakan penambahan dan pengurangan menurut tempat, dan dia tahu bahawa suasana yang demikian juga muncul daripada keadaan orang yang tinggal di sana atau himmahnya seperti yang telah dinyatakan. Kami tidak meragui kaedah ini, iaitu perakuan terhadap tempat dan daya-rasa yang bertambah dan berkurang muncul daripada kesempurnaan ahli makrifat dalam mengenal, dan ketinggian makam serta kedudukannya daripada yang lain, dan juga kekuatan kearifannya. Semoga Allah menuliskan kebaikan untuk wali tersebut dan mengurniakan kepadanya segala kebaikan lantaran dia telah mendapatkannya dan layak untuk yang demikian.
[Nama-nama Yang Indah dan hakikat kewujudan]
Ketahuilah, semoga Allah memngurniakan kejayaan kepada kita semua, sekalian orang Islam! bahawa kebanyakan mereka yang mengenali Allah dari kalangan mereka ahli kasyaf dan ahli hakikat, tidak memiliki pengetahuan tentang sebab permulaan alam maya melainkan sekadar hubungan Azali dengan keadaannya yang dibawa kepada kewujudan. Allah kurniakan kepada makhluk-Nya apa yang Dia ketahui wajar bagi makhluk-Nya. Di sini, kebanyakan manusia berhenti. Kami, dan mereka yang Allah perkenalkan apa yang Dia perkenalkan kepada kami, telah mencapai hal yang lain. Ini ialah bila kamu perhatikan kepada alam maya secara terperinci dengan kebenaran dan anggarannya, kamu dapati ia terhad dengan peringkat dan tahap yang diketahui, dan golongan yang terbatas dengan benda-benda yang serupa dan tidak serupa. Jika kamu faham perkara ini, kamu ketahui bahawa ia mempunyai rahsia yang seni dan perkara yang ajaib di mana hakikatnya tidak dapat disaksikan dengan jelas melalui fikiran dan penyelidikan. Sebaliknya, ia adalah satu daripada ilmu diberikan melalui kasyaf dan hasil daripada mujahadah yang disertai oleh himmah (semangat yang tinggi). Mujahadah tanpa himmah tidak menghasilkan apa-apa, tidak juga memberi kesan kepada ilmu, tetapi ia memberi kesan kepada keelokan dan kesucian yang dirasai oleh orang bermujahadah itu.
Ketahuilah, semoga Allah mengajarkan kepada kamu rahsia pengertian dan mengurniakan kepada kamu semua perkataan! bahawa Nama-nama Yang Indah, yang di atas daripada nama-nama yang boleh dihitung dan membawa turun kebahagiaan di bawah nama-nama yang dihitung itu, mempunyai kesan kepada alam maya. Mereka adalah ‘kunci-kunci pertama’ yang hanya Dia mengetahuinya. Setiap yang nyata dalam kewujudan memiliki salah satu daripada nama-nama yang khusus baginya. Yang nyata yang dimaksudkan ialah yang mengumpulkan bersama golongan daripada perkara-perkara yang nyata tersebut. Tuhan bagi hakikat tersebut ialah nama dan hakikat itu adalah hamba-Nya dan di bawah penguasaan-Nya. Hanya itu sahaja.
Jika sesuatu mengumpulkan beberapa nama bagi kamu, perkara itu bukanlah seperti yang kamu bayangkan. Kamu perhatikan kepada benda itu, kamu dapati ia mempunyai ciri-ciri yang bersesuaian dengan apa yang ditunjukkan oleh nama berkenaan, iaitu hakikat yang kami nyatakan. Itu adalah seperti apa yang telah diperakukan bagi kamu di dalam ilmu yang di dalam akal luaran dan di bawah penguasaannya menurut keadaan sesuatu yang satu dan tidak boleh dipecahkan – seberti anasir yang satu (jauhar) yang merupakan bahagian yang tidak boleh dipecahkan. Sekalipun demikian, jauhar ini mengandungi berbagai-bagai hakikat yang memerlukan sebanyak itu juga Nama-nama Ilahi. Hakikatnya ia dibawa kepada kewujudan dengan memerlukan nama Yang Maha Berkuasa. Dalam aspek kerapiannya ia memerlukan nama Yang Maha Mengetahui. Dalam aspek kuasa memilih ia memerlukan nama Yang Membentuk. Dalam aspek yang membawanya menjadi nyata ia memerlukan nama Yang Maha Mengetahui  dan Yang Maha Melihat, dan lain-lain. Walaupun bahan ini adalah satu, ia mempunyai aspek-aspek ini dan aspek yang lain yang kami tidak nyatakan. Setiap aspek mempunyai banyak aspek yang memerlukan nama yang berpadanan. Aspek-aspek itu adalah hakikat dan mereka bukanlah yang utama pada pandangan kami dan ianya sukar untuk memegangnya dan lebih sukar untuk memperolehinya melalui kasyaf.
[Wadah Nama-nama Ilahi]
Ketahuilah kami tidak akan menyentuh Nama-nama dengan kepelbagaiannya bila kami melihat kepada aspek yang diperlukan oleh makhluk di dalam alam. Bila kita tidak melihat kepada yang tersebut, kita melihat wadah yang dituntut oleh ilmu yang diperlukan dan kami mendapati bahawa Nama-nama yang menjadi wadah yang mereka berdiri di atasnya adalah juga wadah bagi Nama-nama itu. Jadi, ia mudah untuk diperhatikan, melengkapkan tujuannya dan ia mudah untuk pergi melepasi wadah-wadah ini kepada cabang-cabangnya, sebagaimana mudah untuk kembali daripada cabang kepada wadah itu. Jika kamu perhatikan kepada semua Nama-nama yang diketahui di bumi dan di langit, kamu akan dapati tujuh nama ditujukan kepada Sifat-sifat oleh mereka yang mengetahui ilmu Kalam yang membicarakan mengenainya. Kami telah bincangkan perkara ini dalam buku kami bertajuk Insha’ ad-Dawa’ir.
Matlamat kami dalam buku ini bukanlah tujuh wadah yang dirujukkan kepada Sifat ini, tetapi tujuan kami ialah wadah-wadah yang perlu bagi membawa alam ini kepada kewujudan yang nyata. Sama juga, kami tidak memerlukan pembuktian akal tentang Yang Haq melebihi kenyataan bahawa Dia wujud, mengetahui, berkuasa, mencipta, hidup. Tidak ada yang lain diperlukan. Tidak ada yang lebih daripada ini dipertanggungjawabkan. Rasulullah s.a.w telah membuat kita mengakui bahawa Dia Berkata-kata. Fardu membuat kita mengakui bahawa Dia mendengar, melihat dan seterusnya sebagaimana dinamakan. Apa yang kita perlukan di sini untuk mengenali nama-nama adalah bagi kewujudan alam maya ini. Nama-nama ini adalah Tuan bagi Nama-nama dan semua nama-nama lain adalah di bawah jagaan mereka seperti mana sebahagian daripada tuan-tuan ini menjaga sebahagian yang lain.
Wadah bagi Nama-nama Ilahi adalah: Yang Hidup, Yang Mengetahui, Yang Berkehendak, Yang Berkata-kata, Yang Pemurah, Yang Adil. Ini adalah cabang bagi dua Nama Ilahi: Yang Mentadbir dan Yang Membahagikan. Yang Hidup menentukan kefahaman kamu selepas dan sebelum kamu wujud. Yang Mengetahui menentukan keteguhan kamu pada wujud kamu, dan sebelum wujud kamu menentukan ketetapan kamu. Yang Berkehendak menentukan pilihan kamu. Yang Berkuasa menentukan ketidakwujudan kamu. Yang Berkat-kata menentukan keabadian kamu. Yang Pemurah menentukan kedudukan kamu yang dibawa kepada kewujudan. Yang Adil menentukan pangkat atau kedudukan kamu. Pangkat atau kedudukan adalah yang terakhir bagi peringkat kewujudan.
Hakikat-hakikat ini mesti wujud, dan nama-nama mereka yang menjadi Tuan-tuan adalah juga perlu. Yang Hidup adalah Tuan kepada Tuan-tuan dan rakyat. Ia adalah Penghulu atau Imam. Yang kedua kedudukannya ialah Yang Mengetahui, kemudian Yang Berkehendak, kemudian Yang Berkata-kata, kemudian Yang Berkuasa, kemudian Yang Pemurah, dan yang akhirnya Yang Adil. Ia adalah Tuan kepada segala pangkat atau kedudukan dan peringkat kewujudan yang terakhir.  Baki nama-nama yang lain adalah di bawah kekuasaan Penghulu-Tuan-tuan.
[Penghulu (Imam) kepada Nama-nama Ilahi]
Nama-nama tersebut menyerahkan Nama-nama yang selebihnya dengan hakikat-hakikat mereka kepada nama Allah dalam membawa alam maya kepada kewujudan. Menurut kenyataan bahawa Imam-imam kepada nama-nama, tanpa mengambil kira alam maya, hanyalah empat – Yang Hidup, Yang Berkata-kata, Yang Mendengar dan Yang Melihat – bila Allah mendengar tutur-kata-Nya dan melihat Zat Diri-Nya, Wujud-Nya adalah sempurna dalam Zat-Nya (tanpa mengambil kira alam maya). Kami hanya maksudkan nama-nama yang dengannya alam maya didirikan. Kami mempunyai banyak nama-nama, jadi kami serahkan kepada tuan mereka dan datang kepada mereka dalam kehadiran mereka dan hanya menemui apa yang telah kami nyatakan. Kami sampaikan menurut apa yang kami saksikan. Jadi, inilah sebabnya tuan-tuan kepada nama-nama itu menyerahkan nama-nama yang lain kepada Allah bila asal usul kita dibawa kepada kewujudan.
Yang pertama mengadakan tuntutan terhadap alam maya ini ialah Nama Ilahi, Yang Mentadbir (al-Mudabbir) dan Nama Ilahi, Yang Membahagikan (al-Mufassil) diatas kehendak nama  Raja. Kemudian dua nama ini menghadap kepada benda-benda yang daripadanya misal wujud dalam alam maya ini sendiri tanpa ia terlebih dahulu tidak-wujud, tetapi lebih tepat daripada peringkat yang terdahulu, bukan kewujudan yang terdahulu – seperti terbit matahari mendahului permulaan siang. Sekalipun kita hubungkan permulaan siang dengan terbitnya matahari, ia adalah jelas bahawa sebab bagi kemunculan siang ialah terbitnya matahari yang menemaninya dalam kemunculannya. Beginilah duduk perkaranya.
Kemudian dua Nama Ilahi ini mentadbirkan alam maya ini dan membahagikannya tanpa didahului oleh kejahilan mengenainya ataupun kurang pengetahuan mengenainya. Jadi, bentuk yang digubah itu muncul di dalam alam maya itu sendiri. Kemudian, Nama-Nya, Yang Mengetahui, dihubungkan kepada model (misal) tersebut sebagaimana ia dihubungkan kepada bentuk yang daripadanya diambil, walaupun jika ianya tidak dilihat kerana ia tidak wujud seperti yang akan dinyatakan dalam tajuk ini. “Daripada apakah alam maya ini wujud?”
[Permulaan nama-nama bagi alam maya]
Permulaan nama-nama bagi alam maya ialah dua Nama Ilahi ini: Yang Mentadbir dan Yang Membahagi. Nama Yang Mentadbir ialah yang merealisasikan masa yang ditentukan untuk membawa kepada kewujudan. Nama Yang Berkehendak berhubung dengannya menurut kadar yang Yang Mentadbir membawanya keluar dan mentadbirnya. Kedua-dua nama ini tidak melakukan apa-apa dalam penciptaan misal ini tanpa penyertaan nama-nama yang lain, tetapi daripada belakang tirai dua nama ini. Jadi kedudukan sebagai Penghulu adalah wajar buat mereka, sementara yang lain tidak menyedarinya sehinggalah bentuk misal (model) muncul. Kemudian mereka menyaksikan di dalam hakikat-hakikat ianya bersesuaian dengan mereka, dan yang demikian menerbitkan rasa kasih terhadapnya. Jadi setiap nama melahirkan rasa kasih pada hakikatnya yang wujud dalam Misal itu, tetapi ia tidak dapat memperolehi sebarang kesan dalamnya kerana ia tidak dibenarkan oleh kehadiran yang misal ini menyatakan dirinya. Oleh itu, cinta dan kasih itu membawa mereka kepada pencarian, usaha yang gigih dan keinginan untuk membawa bentuk itu kepada kewujudan supaya kuasa mereka boleh menyata dan kewujudan mereka menjadi sah dalam kenyataan. Tidak ada yang memiliki himmah yang lebih tinggi daripada yang berkuasa yang tidak mendapati seseorang yang berkuasa untuk dikuasai dan meletakkannya di bawah kekuatannya agar kekuasaan kekuatannya akan menjadi sah – atau seseorang yang kaya yang tidak menemui seseorang yang yang memerlukan hartanya! Ia sama dengan semua nama-nama ini. Jadi, nama-nama yang lain berlindung di bawah Tuan mereka, Penghulu Yang Tujuh yang telah dinyatakan, memohon mereka membawa sumber misal ini yang mereka lihat pada zat seseorang yang mengetahui kepada kewujudan. Inilah yang ditunjukkan sebagai alam maya.
[Nama-nama Ilahi berada dalam kesatuan berhubung dengan Zat, berpisah berhubung dengan 'ada-hubungan']
Ada orang yang mungkin bertanya, “Wahai yang mengenal! Bagaimanakah Nama-nama Ilahi yang lain melihat misal ini sedangkan kenyataannya hanya Yang Melihat melihatnya dan setiap Nama Ilahi memiliki hakikat yang nama lain tidak miliki?” Kita boleh menjawabnya. Semoga Allah kurniakan kejayaan kepada kamu! Kamu patut tahu bahawa setiap Nama Ilahi mengandungi semua Nama-nama Ilahi dan setiap nama digambarkan oleh semua nama pada ufuknya. Setiap nama itu hidup, berkuasa, mendengar, melihat, berkata-kata dalam ufuknya dan dalam pengetahuannya. Jika tidak bagaimanakah setiap Nama Ilahi menjadi Tuan kepada sesuatu yang berkhidmat kepadanya? Sungguh tidak munasabah! Betapa jauhnya daripada kesan yang nyata!
Walau bagaimanapun, di sana ada petunjuk seni yang kebanyakan orang tidak menyedarinya. Ia adalah bahawa kamu mengetahui dengan yakin yang setiap biji gandum atau yang seumpamanya mengandungi hakikat yang tidak dimiliki oleh saudaranya, sebagaimana kamu tahu yang benih ini tidak sama dengan benih yang lain, walaupun mereka memiliki hal yang sama ataupun mereka serupa. Jadi carilah kenyataan atau hakikat ini yang membuatkan kamu membezakan dua benih tersebut dan mengatakan, ” Yang ini tidak sama dengan yang itu”. Hal ini benar bagi semua perkara yang serupa dalam hal yang menyerupakan mereka itu.  Ia juga sama dengan Nama-nama Ilahi: setiap nama mempunyai hakikat yang nama itu kandungkan. Kemudian kamu ketahui nama ini bukanlah nama yang lain secara nilai seni (latifah) yang kamu gunakan bagi membezakan biji-biji gandum dan setiap yang serupa. Jadi, carilah makna ini sehingga kamu mengenalinya melalui zikir, bukan melalui renungan.
Walau bagaimanapun, saya ingin membawakan kepada kamu tentang hakikat yang tidak dibentangkan oleh sesiapapun sebelum ini. Boleh jadi ianya tidak dibukakan atau diperjelaskan dan saya tidak tahu samada ianya akan diberikan kepada sesiapa sesudah saya atau tidak daripada kehadiran yang memberikannya kepada saya. Jika ianya dibaca dan difahami melalui buku saya, maka saya adalah yang pertama mengajar mengenainya sementara mereka yang terdahulu tidak menemuinya. Ianya ialah Nama-nama Ilahi, seperti yang kami nyatakan, mengandungi hakikat bagi nama-nama tersebut sementara latifah ini wujud yang memberikan kepada kamu perbezaan di antara dua benda yang serupa. Bagi nama Yang Pengampun dan Yang Menghukum, iaitu Yang Zahir dan Yang Batin, setiap nama ini mengandungi apa yang dikandungi oleh penjaga-penjaganya, daripada permulaannya hingga ke akhirnya. Walau bagaimanapun, Tuan bagi Nama-nama tersebut dan nama-nama yang lain ada tiga martabat. Sebahagiannya berhubung dengan darjat Tuan Nama-nama tersebut, sebahagiannya memiliki darjatnya sendiri, sebahagiannya dihubungkan dengan darjat Yang Memberi Rahmat, sebahagiannya dihubungkan kepada darjat Yang Memberi Hukuman. Nama-nama ini adalah nama-nama alam maya yang dihitungkan, dan Allah jualah Penolong!
[Nama Allah Yang Teragung]
Kemudian semua nama-nama merujuk kembali kepada Penghulu-penghulu dan Penghulu-penghulu merujuk kembali kepada nama Allah dan nama Allah merujuk pula kepada Zat kerana ia merdeka daripada nama-nama, dan memohon bantuan dalam apa yang dipinta oleh nama-nama tersebut. Jadi, “Yang Pemurah, Yang Penyayang” mengabulkannya dan berkata, “Berbicaralah dengan Penghulu-penghulu yang berhubung dengan urusan membawa alam kepada kenyataan menurut hakikat-hakikat mereka.” Nama Allah keluar kepada mereka dan mengkhabarkan kepada mereka berita tersebut dan mereka sukacita, gembira dan  ceria dan mereka masih demikian. Mereka memandang kepada kehadiran yang dinyatakan dalam Tajuk Enam dan membawa alam maya kepada kewujudan yang nyata sebagaimana yang kami akan nyatakan dalam tajuk berikutnya, Insya’ Allah.
“Allah mengatakan yang benar dan memimpin kepada jalan yang lurus” (33


Permulaan ciptaan rohani

[Mengenai permulaan ciptaan rohani]
Siapakah yang pertama wujud dalamnya? Daripada apa ia wujud? Dalam apa ia wujud?
Bagaimanakah keadaan kewujudannya? Apakah matlamatnya?

Mengenai alam semesta dan bahagian-bahagianya.
Perhatikah kewujudan yang rapi ini
wujud kita umpama jubah yang digubah.

Perhatikan khalifah-khalifah-Nya dalam kerajaan mereka
mereka yang berbahasa Arab dan tidak berbahasa Arab

Tidak ada di antara mereka yang menyintai Allah tanpa mencampurkanya dengan kecintaan kepada wang.
Ia dikatakan: Ini adalah hamba kepada makrifat
dan inilah hamba syurga dan mereka yang menjadi hamba Jahannam

Melainkan sebahagian kecil daripada mereka yang mabuk dengan Dia
tanpa rangsangan khayalan.

Mereka adalah hamba Allah yang tiada siapa mengetahuinya kecuali Dia,
bukan hamba kesenangan.

Dia biarkan mereka mendapat laba daripada setiap ilmu yang kelam
bila Dia mahu mereka kembali ke istana mereka.

Pengetahuan yang terdahulu adalah dalam anasir-anasir sahaja,
dan asas daripadanya tidak berkurangan.

Kenyataan bagi kata penerangan ialah yang menyingkapnya daripada yang menyerupainya,
dan keserupaan ini tidak disembunyikan.

Dan pengetahuan mengenai asbab
yang dengannya sumber alam wujud dalam jenis yang paling lama.
Dan penghabisan perkara yang tiada kesudahan menyaksikan baginya
dalamnya ialah Yang Paling Perkasa.
Ilmu-ilmu mengenai sfera kewujudan, besar dan kecil,
adalah hanya untuk mereka yang tidak menemui kesilapan.
Ini adalah ilmu orang yang mengenali penyingkapan mereka,
dan ia memandu hati ke jalan yang lurus.

Segala puiji bagi Allah yang memiliki segala ilmu
dan mengetahui apa yang tidak diketahui.

[Keterangan Ringkas]
Permulaan ciptaan adalah habuk (haba’) yang halus, dan yang pertama wujud dalamnya ialah Hakikat Muhammad daripada ar-Rahman. Ia tidak terkandung dalam mana-mana tempat kerana ia tidak dikandung. Daripada apakah alam muncul kepada kewujudan? Ia muncul kepada kewujudan daripada hakikat yang diketahui yang diterangkan sebagai bukan wujud dan bukan juga tidak wujud. Dalam apakah ia wujud? Ia wujud dalam habuk yang halus. Bagaimanakah keadaan kewujudannya? Ia wujud dalam bentuk diketahui dalam diri Hakikat. Mengapa ia wujud? Ia wujud bagi menyatakan hakikat-hakikat Ilahi. Apakah matlamatnya? Matlamatnya ialah untuk menjadi campuran yang murni, supaya setiap alam akan mengenali bahagiannya daripada asal tanpa campuran. Jadi, matlamat alam ialah menyatakan hakikat-hakikatnya (ia-itu hakikat-hakikat bagi Yang Haq ataupun hakikat-hakikat penciptaan), dan mengenali sfera-sfera alam semesta daripada alam ini. Dalam penggunaan orang sufi, ia adalah apa yang selain manusia. Jenis alam semesta yang kecil, iaitu manusia, adalah roh, punca dan asbab bagi alam ini. Sfera-sfera alam adalah setesen-setesennya, pergerakan-pergerakan dan pengasingan kedudukannya. Ini adalah ringkasan yang terkandung dalam tajuk ini.
[Manusia adalah alam kecil]
Sebagaimana manusia adalah alam kecil secara jasadnya, maka dia tidak boleh diambil kira lantaran dia berada pada masanya. Menyerupai hal ketuhanan adalah layak baginya kerana dia adalah Khalifah Allah dalam dunia ini dan dunia ini di bawah penguasaannya, taklukan hal-hal ketuhanan sebagaimana manusia adalah taklukan hal-hal ketuhanan.
Ketahuilah pembentukan manusia yang paling sempurna adalah dalam dunia ini. Di akhirat, setiap manusia berada dalam salah satu golongan berdasarkan suasana kesaksamaan, bukan ilmu. Setiap golongan mengetahui suasana yang berlawanan dengannya. Jadi, manusia samada beriman atau kufur. Ianya samada kebahagiaan atau kesengsaraan, sejahtera atau seksa. Jadi pengenalan pada dunia ini lebih lengkap walaupun kenyataan (tajalli) di akhirat lebih luhur dan suci. Jadi, fahamkanlah! Bukakan kunci ini! Dalam setesen ini, kita memiliki simbol sesiapa yang cerdik dan ianya adalah ungkapan yang buruk dan memalukan yang maksudnya adalah elok dan belum pernah berlaku sebelumnya.
[Roh alam semesta adalah alam kecilnya]
Roh kewujudan yang besar adalah kewujudan yang kecil ini
Jika tidak kerana itu, Dia tidak akan berkata,
“Aku Maha Besar, Maha Berkuasa.

“Ruang masa-Ku tidak seharusnya menghijab kamu tidak juga kebinasaan dan tidak juga kebangkitan.
“Jika kamu renungkan tentang-Ku, Aku adalah Yang Meliputi, Yang Maha Besar,

“Wujud-Ku adalah dahulu-kala, dan yang baharu adalah kenyataan.”
Allah Esa, tidak dikongkong oleh masa. Kekurangan tidak menyentuh-Nya.

Makhluk yang nyata adalah ciptaan baharu yang di dalam genggaman-Nya.
Daripada ini ia menyatakan bahawa Aku adalah wujud yang tidak boleh diperhitungkan,
dan setiap kewujudan berkisar di sekeliling wujud-Ku.

Tidak ada malam seperti malam-Ku dan tiada cahaya seperti cahaya-Ku
jadi jika ada yang mengatakan aku seorang hamba, maka aku adalah hamba yang hina.

Atau jika dia mengatakan aku wujud, maka aku adalah Wujud Yang Mengenal.
Istiharkan satu kerajaan buatku dan kamu akan menemui ku atau orang kebanyakan,
selagi kamu tidak melanggar batasan.

O kamu jahil tentang kuasa-Ku! Adakah kamu mengetahui, melihat?
Kewujudanku menceritakan tentang ku, walaupun ucapan boleh jadi benar dan bohong.
Katakan kepada umat kamu: Aku adalah Yang Mengasihani, Yang Mengampun.
Katakan: Hukumanku adalah hukuman yang membinasakan.
Katakan: Aku lemah, tidak berupaya, seorang tawanan.
Jadi bagaimana ada yang dirahmati atau dihapuskan oleh tangan ku?

[Huraian secara lebih panjang lebar mengenai tajuk ini.]
(Daripada Allah datangnya bantuan dan pertolongan.)

[Empat perkara yang diketahui mengenai kewujudan]
Ketahuilah perkara-perkara yang diketahui ada empat: Hakikat, yang diceritakan sebagai wujud mutlak kerana Dia bukanlah asbab oleh sesuatu dan bukan juga asbab bagi sesuatu. Dia adalah Pencipta asbab dan wujud dengan Zat-Nya daripada Zat-Nya sendiri. Ilmu-Nya merujukkan kepada ilmu mengenai wujud-Nya, dan wujud-Nya tidak lain daripada Zat-Nya. Walau bagaimanapun, Zat-Nya tidak boleh diketahui, tetapi sifat-sifat yang dinisbahkan kepada-Nya adalah diketahui. Ini bermakna sifat-sifat bagi maksud, adalah sifat-sifat bagi kesempurnaan. Ilmu mengenai hakikat Zat adalah tidak mungkin kerana ia tidak diketahui samada melalui pembuktian atau logik akal dan tidak mampi disentuh oleh huraian. Allah tidak menyerupai sesuatu dan tidak ada sesuatu menyerupai-Nya. Jadi mana mungkin sesuatu yang serupa dengan sesuatu serupa juga dengan yang Esa yang tidak menyerupai sesuatu dan tiada sesuatu menyerupai-Nya? Pengenalan tentang-Nya ialah
tiada sesuatu menyerupai-Nya” (42:10)
dan
“Allah melarang kamu tentang Diri-Nya: (3:27).
Syariat termasuk larangan memikirkan tentang Zat Allah.

[Hakikat kepada hakikat-hakikat]
Yang kedua diketahui ialah hakikat alam yang menjadi milik Yang Haq dan alam, yang tidak dinyatakan sebagai wujud atau tidak wujud, dikandung oleh masa atau tidak dikandung oleh masa. Ia adalah tidak dikandung oleh masa jika keadaan demikian dinyatakan olehnya, dan dikandung oleh masa jika keadaan demikian dinyatakan olehnya. Perkara-perkara yang dikandung oleh masa dan yang tidak dikandung oleh masa tidak diketahui sebelum hakikat ini diketahui, tetapi hakikat ini tidak muncul sehinggalah perkara yang dinyatakan olehnya muncul. Jika sesuatu muncul tanpa didahului oleh ketiadaan wujudnya, seperti kewujudan Yang Haq dan sifat-sifat-Nya, ia dikatakan kewujudan yang tidak dikandung oleh masa kerana dijelaskan secara demikian. Jika sesuatu wujud daripada tidak wujud seperti kewujudan yang selain Allah, yang dikandung oleh masa dan muncul melalui yang lain daripada dirinya, ia dikatakan dikandung oleh masa. Ia berada dalam setiap kewujudan menurut hakikat alamnya. Ia tidak menerima pemecahan, jadi “setiap” dan “sebahagian” tidak boleh digunakan baginya. Seseorang tidak dapat mencapai makrifatnya yang bebas daripada bentuk melalui pembuktian atau pertunjukan. Alam wujud daripada hakikat ini melalui perantaraan Yang Haq. Hakikat ini tidak wujud dalam zatnya, jadi Allah bawa kita kepada kewujudan daripada kewujudan yang tidak dikandung oleh masa (zaman). Jadi yang tidak dikandung oleh masa didirikan untuk kita.
Begitu juga kamu patut tahu bahawa hakikat alam ini tidak dinyatakan sebagai muncul sebelum alam, tidak juga dinyatakan alam muncul selepasnya. Sebaliknya, ia adalah akar bagi kewujudan benda-benda secara umumnya. Ia adalah sumber kepada unsur (jauhar), bulatan kehidupan, yang sebenarnya melaluinya penciptaan berlaku (Lihat Quran 15:85) dan perkara-perkara lain. Ia adalah Sfera Meliputi yang mampu diterima oleh akal. Jika kamu katakan ia adalah alam, kamu berkata yang benar. Jika kamu katakan ia bukan alam, kamu juga berkata yang benar. Jika kamu katakan ia adalah yang Haq atau bukan Yang Haq, kamu juga berkata yang benar. Ia menerima semua ini. Ia berbilang-bilang dengan perbilangan manusia di dunia dan ‘tiada-hubungan’ dengan ‘tiada-hubungan’nya bagi Yang Haq.
Jika kamu mahukan contoh yang mempermudahkan kefahaman kamu, lihatkan kepada zat kayu pada sekeping papan, kerusi, minbar, kotak dan seumpamanya. Perhatikan juga kepada bentuk empat persegi dan yang seumpamanya dalam bentuk pada segala macam bilik yang empat persegi, kotak dan sehelai kertas. Keadaan empat persegi dan zat kayu adalah menurut hakikatnya pada setiap benda-benda tersebut (tanpa berbilang-bilang atau berada dalam keadaan berpecah-pecah). Perhatikan juga kepada warna-warna: keputihan pakaian, permata, kertas, gandum, minyak dan lain-lain, tanpa menyatakan keputihan pakaian yang boleh diterima oleh akal sebagai bahagian lain daripada pakaian itu sendiri. Sebenarnya hakikat putih itu yang nyata pada pakaian sebagaimana ia nyata pada kertas. Begitulah keadaannya dengan pengetahuan, kuasa, kehendak, pendengaran, penglihatan dan sebagainya. Ini akan membuat kamu memahami alam ini. Kami bincangkan dengan panjang lebar mengenainya dalam buku kami yang bertajuk Insha’ al-Jadawil w ad-Dawa’ir.
Ada pula yang ketiga diketahui, iaitu keseluruhan alam ini: malaikat dan cakerawala, dan langit yang dikandunginya, air dan tanah dan alam yang dikandungi antara keduanya. Ia adalah Kerajaan yang lebih besar. Akhirnya adalah perkara keempat yang diketahui iaitu manusia, khalifah yang dilantik oleh Allah dalam dunia ini, yang dunia ini menjadi penguasaannya. Allah berfirman,
“Dia permudahkan bagi kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi, semuanya, daripada-Nya” (45:120).

Sesiapa mengetahui perkara-perkara yang diketahui ini, tidak ada lagi perkara yang boleh diketahui yang dicarinya. Daripada empat yang diketahui itu adalah yang hanya kewujudannya yang diketahui – Yang Haq, semoga Dia dipersucikan! Perbuatan-Nya dan sifat-Nya hanya diketahui secara mengadakan perumpamaan. Sebahagiannya diketahui dengan mengadakan misal – seperti pengetahuan Hakikat Alam. Sebahagiannya diketahui melalui kedua-dua aspek, dan melalui ‘apakah ia’ dan ‘bagaimanakah ia’: alam dan manusia.
[Bahagian Permulaan alam dan misalnya: habuk (haba') Hakikat Muhammad]
“Telah ada Allah dan tiada sesuatu beserta Dia” (Bukhari). Kemudian beliau tambahkan kepada Hadis ini, “Dia kini sebagaimana Dia dahulu”. Tidak ada nilai yang Dia belum tujukan kepada Diri-Nya melalui kenyataan bahawa Dia membawa alam kepada wujud. Dia menyatakan tentang Diri-Nya sebelum penciptaan-Nya dan dinamakan dengan Nama yang makhluk-Nya panggil Dia dengan-Nya. Bila Dia berkehendakkan alam ini wujud dan memulakannya menurut had yang Dia ketahui melalui ilmu-Nya, ia dihasilkan daripada kehendak yang suci murni oleh sesuatu tajalli daripada kenyataan ‘tiada-hubungan’ atau tanzih kepada Hakikat Alam. Hakikat yang terhasil daripadanya dipanggil habuk atau nebula (haba’) yang seumpama gipsum yang yang dibentuk oleh pembentuk yang dalamnya dia boleh bukakan sebarang bentuk dan rupa yang dia mahu. Ini adalah wujud pertama dalam alam sebagaimana diceritakan oleh’Ali ibn Abi Talib, Sahl ibn ÔAbdullah at-Tustari dan mereka yang mempunyai makrifat, mereka yang kasyaf akan kewujudan.
Kemudian Allah menyatakan Diri-Nya melalui cahaya-Nya dan habuk itu. Ahli falsafah menamakannya keseluruhan yang utama (al-Hayula al-Kull). Ia mengandungi seluruh alam maya secara keupayaan dan kemampuan. Jadi setiap sesuatu menerima daripada-Nya dalam habuk itu menurut keupayaan dan yang mudah diperolehinya, seperti sudut bilik menerima cahaya daripada lampu, dan kekuatan sinarannya dan penerimaannya bergantung kepada kehampirannya dengan cahaya itu. Allah berfirman,
” Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti misykat (lubang) yang dalamnya ada lampu” (24:35).
Dia jadikan cahaya-Nya seumpama lampu. Jadi, tidak ada yang terdekat untuk menerimanya di dalam habuk itu kecuali Hakikat Muhammad s.a.w, yang dinamakan Akal. Jadi ia adalah penghulu (imam) bagi sekalian alam maya dan yang pertama untuk muncul dalam kewujudan. Wujudnya datang daripada Cahaya Ilahi dan daripada habuk dan daripada Hakikat Alam.
Sumbernya wujud dalam habuk itu. Sumber alam maya datang daripada tajallinya. Orang yang paling hampir dengannya ialah ÔAli ibn Abi Talib, dan rahsia-rahsia Nabi-nabi.
Bagi model (misal) di mana seluruh alam maya ini wujud tanpa perpisahan, ia adalah pengetahuan yang bergantung kepada Yang Haq. Allah mengetahui kita dengan pengetahuan tentang Diri-Nya dan membawa kita kepada kewujudan menurut apa yang Dia ajarkan kepada kita. Kita mempunyai bentuk khusus ini dalam ilmu-Nya. Jika perkara itu bukan seperti ini, bentuk ini datang kepada kita secara kebetulan, bukan disengajakan, kerana tentunya Dia tidak akan mengetahuinya. Adalah mustahil rupa bentuk diberikan kepada kewujudan secara tidak sengaja. Jika ianya bukan demikian bentuk rupa yang khusus ini diketahui oleh Allah dan dikehendaki oleh-Nya, Dia tidak akan membawa kita kepada kewujudan atasnya, dan rupa bentuk ini tidak akan diperolehi daripada yang lain kerana ternyata bahawa Allah “telah ada Dia dan tiada sesuatu beserta Dia”. Jadi yang tinggal ialah rupa bentuk yang Dia bawa keluar dalam Diri-Nya. Dia mengetahuinya sendirinya. Begitulah keadaan ilmu-Nya mengenai kita. Misal kita, yang sama dengan ilmu-Nya mengenai kita, adalah diluar kandungan masa dengan di luar kandungan masa bagi Allah kerana ia adalah sifat-Nya, dan yang terkandung oleh masa tidak bersangkutan dengan-Nya. Dia terlalu mulia untuk yang demikian!
[Matlamat alam maya]
Sebagaimana kenyataan kami, “Mengapa alam dibawa kepada kewujudan? Apakah matlamatnya?” jawapannya Allah berfirman,
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada-Ku” (51:56).
Dia telah memberikan kenyataan yang jelas mengenai sebab Dia membawa kita kepada kewujudan. Ianya sama dengan alam maya seluruhnya apabila Allah katakan jin dan manusia secara khusus. Di sini jin adalah semua yang tersembunyi, samada malaikat atau sesuatu yang lain.
Allah berfirman mengenai langit dan bumi,
“Datanglah dengan rela atau terpaksa! Mereka menjawab,Kami datang dengan rela’” (41:11)
Dia juga berfirman,
“Tetapi mereka enggan membawanya” (33:72).
Itu kerana ianya tawaran. Jika ianya perintah, mereka akan mentaatinya dan melaksanakannya kerana mustahil mereka boleh ingkar. Mereka diciptakan untuk itu (taat), tetapi jin yang dijadikan daripada api dan manusia tidak diberikan demikian.
[Sekalian alam maya adalah hidup dan nyata]
Demikian juga ada sebahagian ahli falsafah dari kalangan mereka yang berpegang kepada pemnyelidikan dan pembuktian yang terikat dengan pancaindera, keperluan dan dalil-dalil, yang mengatakan orang yang bertanggungjawab mesti memiliki pertimbangan terhadap apa yang dikatakan kepadanya. Mereka mengatakan yang benar. Perkara itu adalah demikian bagi kami memandangkan keseluruhan alam maya ini adalah bijaksana, hidup dan nyata. Ini adalah sah menurut pembukaan melalui kekeramatan yang seseorang miliki, iaitu perolehan ilmu kami mengenai ini. Bagaimanapun mereka mengatakan, “Ini adalah benda yang tak bernyawa yang tidak boleh berfikir”. Mereka berhenti pada apa yang pandangan mereka ceritakan kepada mereka. Menurut kami, kedudukannya berbeza daripada yang demikian.
Bila dikhabarkan kepada Rasulullah s.a.w mengenai batu bercakap, atau biri-biri atau batang kayu, mereka katakan Allah ciptakan kehidupan dan pengetahuan padanya ketika itu. [1] Itu bukanlah pandangan kami mengenai kedudukan perkaranya. Ia adalah rahsia kehidupan yang mengalir melalui seluruh alam maya dan semua “yang mendengar seruan muazzzan, basah atau kering, akan menjadi saksi baginya” [Ibn Majah, Nasa'i, Abu Dawud] dan ia hanya menyaksikan daripada pengetahuan. Keadaan ini disahkan melalui pembukaan kepada kami, bukan melalui pemikiran orang yang melihat kepada apa yang ditunjukkan oleh maklumat yang kelihatan dan tidak lebih dari itu. Sesiapa yang mahu memperolehinya haruslah mengembara pada jalan Sufi dan berpegang kepada khalwat dan zikir. Kemudian Allah akan memperkenalkannya dengan semua ini secara langsung. Jadi dia akan tahu bahawa manusia adalah buta daripada pengertian hakikat-hakikat ini.
[Kewujudan alam maya adalah kenyataan bagi kekuasaan Nama-nama]
Allah membawa alam maya kepada kewujudan bagi menyatakan kekuasaan Nama-nama. Kuasa tanpa bahan kekuasaan, kemurahan tanpa kurniaan, pemberi tanpa pemberian, penolong tanpa pertolongan, belas kasihan tanpa bahan yang dikasihankan adalah hakikat yang kosong daripada kesan. Allah jadikan makhluk dalam alam ini campuran seperti Dia campurkan dua genggam pada tanah liat. Kemudian Dia asingkan individu-individu daripadanya dan menjadikan satu genggam memasuki genggam yang satu lagi. Setiap genggam dicampurkan dengan saudaranya, tetapi keadaannya tidak diketahui. Ahli fikir berbeza dalam kebolehan mereka dalam mengeluarkan kecacatan daripada kebaikan dan kebaikan daripada kecacatan. Matlamatnya ialah penyucian daripada campuran tersebut dan membezakan dua genggaman tersebut sehingga yang satu ini terasing dengan dunianya. Ia adalah seperti firman Allah,
“Sehingga Dia akan bezakan yang sesat daripada yang benar. Dia akan letakkan sebahagian yang sesat itu di atas yang lain, dan demikianlah Dia akan susun mereka semuanya dan masukkannya ke dalam Jahannam” (8:37)
Sesiapa yang ada dengannya sebahagian daripada campuran itu ketika dia meninggal dunia dia tidak akan dimasukkan ke dalam golongan yang benar pada Hari Kebangkitan. [Lihat Qur'an 15:46; 34:37: 41:40: 44:55, tetapi terutamanya, 27:89.] Walau bagaimanapun, sebahagian manusia bebas daripada campuran ini dihisabkan, dan sebahagiannya hanya bebas di dalam Jahannam. Bila dia sudah dipersucikan, dia keluar daripadanya. Mereka adalah golongan yang disyafaatkan. Bagi mereka yang digolongkan ke dalam salah satu genggaman di sini, dia akan berjalan dengan kebenaran ke akhirat daripada kuburnya kepada pengampunan, atau seksaan dan Jahim. Dia sudah dipersucikan.
Ini adalah penjelasan mengenai matlamat dunia ini. Dua genggaman ini adalah dua hakikat yang menunjukkan kembali kepada sifat yang dimiliki oleh Yang Haq dalam zat-Nya (seperti dua kami). Dari sini kami katakan golongan ahli neraka menyaksikan-Nya sebagai Yang Menghukum dan ahli syurga menyaksikan-Nya sebagai Yang Merahmati. Ini adalah rahsia yang mulia. Mungkin kamu akan memperolehinya pada tempat tinggal akan datang secara penyaksian, Insya’ Allah. Mereka yang arif memperolehinya dalam dunia ini.
[Pengetahuan mengenai langit dan bumi dan yang seumpamanya pada manusia]
Mengenai apa yang kami katakan dalam tajuk ini berkenaan sfera alam besar dan alam kecil iaitu manusia, dengannya kami maksudkan dunia pada keseluruhan dan golongannya. Penguasanya adalah mereka yang memberi kesan kepada orang lain. Saya jadikan sfera alam besar dan alam kecil bertimbal-balik. Yang satu adalah salinan kepada yang satu lagi. Kami berikan kepada mereka lakaran dalam bentuk sfera dan susunan mereka dalam buku, Insha’ ad-Dawa’ir wa’l-Jawadil yang kami mulakan penulisannya di Tunis di rumah Imam Abu Muhammad ÔAbdu’l-’Aziz (al-Mahdawi al-Qurashi) [2], sahabat dan penjaga kami, semoga Allah merahmatinya! Dalam tajuk ini kami masukkan ringkasan mengenai apa yang bersangkutan dengannya.
Kami katakan alam ini empat: alam langit, iaitu alam yang bergerak; alam perubahan, iaitu alam pemusnahan; kemudian alam kehidupan iaitu alam yang bergerak dan musnah; dan alam asbab. Alam-alam ini berada pada dua tempat: dalam alam besar, iaitu yang di luar manusia, dan dalam alam kecil, iaitu manusia.
Alam tertinggi ialah Hakikat Muhammadiah. Sferanya ialah kehidupan. Ia ada persamaan pada manusia dalam latifah dan Ruh Suci. Ia termasuklah Arasy Yang Meliputi yang persamaan dengan manusia adalah jasadnya. Di sana juga Kursi, yang persamaannya dalam manusia ialah diri. Ada pula Rumah Kediaman yang persamaan dalam manusia ialah hati. Ada pula malaikat yang persamaannya dalam manusia ialah roh dan bakat-bakat yang ada dengannya. Ada juga Saturn dalam bulatannya, yang persamaannya pada manusia ialah bakat ilmu dan nafas. Ada pula Jupiter yang persamaannya pada manusia ialah bakat mengingat dan bahagian belakang otak. Ada juga Mars dan bulatannya yang persamaannya pada manusia ialah bakat akal dan ubun-ubun. Ada juga matahari dan bulatannya yang persamaannya ialah bakat berfikir dan bahagian tengah otak. Ada juga Venus dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan berangan-angan dan roh haiwan. Ada pula Mercury dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan berkhayal dan bahagian hadapan otak. Kemudian ada bulan dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan indera dan anggota yang ada daya-rasa. Ini adalah kumpulan alam atas dan persamaannya dalam manusia.
Alam perubahan termasuk bulatan ether yang rohnya panas dan kering. Ia adalah bulatan api dan persamaannya pada manusia ialah cecair perang kekuningan yang rohnya ialah kekuasaan penghadaman. Ia termasuklah udara yang rohnya panas dan basah dan persamaannya ialah darah. Rohnya ialah kebolehan menarik. Ia termasuklah air yang rohnya ialah sejuk dan basah dan persamaannya ialah air liur.Rohnya ialah kebolehan mengeluarkan. Ia termasuk tanah yang rohnya sejuk dan kering dan persamaannya ialah cecair hitam. Rohnya ialah kebolehan menyimpan.
Ada tujuh jenis tanah: tanah hitam, tanah berdebu, tanah merah, tanah kuning, tanah putih, tanah biru dan tanah hijau. Persamaan pada tubuh manusia ialah: kulir, lemak, daging, urat, saraf, otot-otot dan tulang.
Alam kehidupan termasuk makhluk rohani yang persamaannya adalah bakat-bakat pada manusia. ia termasuk alam haiwan yang persamaannya apa yang ditangkap oleh deria pada manusia. ia termasuk alam tumbuh-tumbuhan yang persamaannya apa yang tumbuh pada manusia. ia termasuk alam yang tidak bernyawa yang persamaannya ialah apa yang tidak dapat ditangkap oleh deria pada manusia.
Alam asbab termasuklah yang tidak perlu yang persamaannya ialah hitam dan putih, warna-warna dan benda-benda (akwan). Kemudian ada pula “bagaimana” yang persamaannya ialah keadaan seeprti sihat dan sakit. Kemudian ada “berapa banyak” yang persamaannya “peha lebih panjang daripada lengan”. Kemudian ada pula “di mana” yang persamaannya ialah tengkuk sebagai tempat bagi kepala dan kaki sebagai tempat bagi peha. Kemudian ada “masa” yang persamaannya “saya gerakkan kepala saya pada ketika tangan saya bergerak”. Kemudian ada pula perbandingan (idafa) yang persamaannya ialah “Ini bapa saya, maka saya anaknya”. Ada pula tempat yang persamaannya ialah “bahasa saya dan loghat saya”. Ada pula kata-kerja yang aktif yang persamaannya ialah “Saya sudah makan”. Ada pula kata-kerja yang pasif yang persamaannya ialah “Saya sudah kenyang”. Sebahagiannya mempunyai bentuk yang berbeza dalam acuan tersebut (tiga yang lain) seperti gajah, keldai, singa dan lipas. Persamaannya ialah kebolehan manusia yang menerima bentuk makna yang wajar dipersalahkan dan juga yang wajar disanjungkan. “Yang ini cerdik, maka ia adalah gajah. Yang itu bodoh maka ia adalah keldai. Yang ini pula berani maka ia adalah singa. Yang itu pula penakut maka ia adalah lipas”.
“Allah katakan kebenaran dan memimpin ke jalan yang lurus” (33:4)

Permulaan Jasad Manusia


[Yang pertama muncul kepada kewujudan dalam Alam Besar dan kumpulan terakhir yang dikeluarkan]
Hakikat dalaman manusia tumbuh
menjadi kerajaan dengan kekuasaan yang nyata

Kemudian zatnya bersemayam di atas singgahsana Adam
sebagaimana Arasy diduduki oleh Yang Maha Pemurah.

Hakikat jasadnya muncul dalam bentuk asalnya,
dan kerajaan bagi kewujudan kedua lengkap dengannya.

Pengenalan ilmunya lahir dalam kenyataannya
di kalangan yang mulia dan yang membenci

Maka mimpinya menjadi remeh-temeh lantaran pengetahuannya
dan syaitan yang direjam menjadi bangga.

Mereka mencari kehampiran Allah dalam Malakut-Nya
tetapi syaitan kecil membawa kesesatan kepada mereka.

[Kejadian alam yang didiami]
Ketahuilah! Semoga Allah membantu kamu! – masa didiami alam semulajadi ini yang dikongkong oleh masa dan dikandung oleh ruang adalah 71,000 tahun yang diketahui dalam dunia ini. Tempuh masa ini adalah 11 hari daripada hari-hari nama-nama yang lain. Dan satu dua perlima hari daripada hari-hari Pemilik Pendakian. Ada berbagai-bagai jenis hari. Allah berfirman,
“Dalam satu hari yang ukurannya 50,000 tahun” (4:70)
dan
“satu hari pada sisi Tuhan kamu seumpama 1000 tahun bilangan kamu”(22:47).
Hari yang paling singkat ialah yang diukur melalui pergerakan sfera yang meliputi yang menyata dalam hari kita 24 jam.
Hari yang paling singkat bagi orang Arab, iaitu yang ini, kepunyaan sfera yang paling besar. Itu adalah kerana pengaruhnya terhadap sfera di dalamnya kerana pergerakan apa yang di bawahnya pada malam dan siang pergerakan permukaannya mengheret baki sfera yang diliputinya.
[Pergerakan asas dan pergerakan permukaan sfera]
Setiap pergerakan sfera diikuti oleh pergerakan permukaannya. Setiap sfera di bawahnya ada dua pergerakan pada pergerakan yang sama: pergerakan asas dan pergerakan permukaan. Setiap pergerakan asas pada setiap sfera mempunyai hari tertentu berlaku daripada Sfera Yang Meliputi yang dinyatakan dengan firman-Nya, “menurut kiraan kamu”. Semuanya melintasi Sfera Yang Meliputi. Bilamana ia melintasinya secara keseluruhannya, harinya menjadi kepunyaannya dan lakarannya berpusing. Hari yang paling singkat ialah 28 hari “menurut kiraan kamu”. Ia adalah ukuran lintasan pergerakan bulan dalam Sfera Yang Meliputi.
Allah dirikan tujuh planet di langit supaya pandangan  manusia boleh menyaksikan lintasan sfera-sfera dalam Sfera Yang Meliputi
bagi mengetahui bilangan tahun dan hitungan” (10:5). “Dia tentukannya melalui setesen-setesen supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan” “Kami akan bezakan segala perkara” (17:11) “Ia adalah ketentuan Yang maha Berkuasa, Maha Mengetahui” (6:96).
Setiap planet ada hari yang ditentukan yang membezakan mereka di antara satu sama lain menurut kelajuan pergerakan aslinya atau kecil-besar saiz sferanya.

[Penciptaan Qalam dan Loh Mahfuz]
Ketahuilah Allah kemudiannya menciptakan Qalam dan Loh Mahfuz dan memanggilnya Akal dan Roh. Dia kurniakan kepada Roh dua sifat: sifat ilmu dan sifat amal atau perbuatan. Dia menjadikan Akal sebagai pengajar dan menyampaikan secara menggunakan penyaksiannya, seperti keadaan memotong daripada bentuk pisau tanpa ia mengatakan apa-apa mengenainya. Allah ciptakan unsur (jauhar) tanpa diri iaitu Roh yang telah diceritakan yang dipanggil  habuk (debu). Ini adalah istilah yang sampai kepada kita daripada ‘Ali ibn Abi Talib.
[Penciptaan habuk (haba')]
Habuk disebut dalam bahasa Arab. Allah berfirman,
“ia bertaburan seperti habuk” (56:6).
Ia adalah demikian bila ‘Ali ibn Abi Talib menyaksikannya, bermakna unsur ini bertaburan dalam bentuk aslinya, dan tiada bentuk yang terlepas daripadanya kerana anasir yang dipanggil habuk ini membentukkan bentuk rupa.. Ia ada dengan setiap bentuk oleh hakikatnya. Ia tidak boleh dipecahkan ataupun dinyatakan secara pengurangan. Ia seumpama keputihan yang wujud pada setiap benda putih oleh zatnya dan hakikatnya. Tidak dikatakan ada pengurangan keputihan menurut kadar benda itu menerima keputihan. Ini menyerupai keadaan unsur ini.
[Empat peringkat di antara Roh dengan Habuk]
Allah mengadakan empat tahap di antara Roh ini yang dinyatakan oleh dua sifat tersebut dan habuk itu. Dia jadikan setiap peringkat sebagai satu tahap bagi empat malaikat. Dia melantik malaikat-malaikat ini sebagai penjaga kepada apa yang Dia keluarkan pada alam di bawah mereka, daripada ‘Illiyun’ hingga ke “yang paling bawah”. Dia kurniakan kepada setiap malaikat ini pengetahuan yang perlu di bawa ke dalam alam.
Yang pertama Allah bawa kepada kewujudan dalam bentuk asal yang berhubung dengan ilmu dan pentadbiran malaikat-malaikat ini ialah Badan Sejagat (Universal). Bentuk pertama yang Allah bukakan dalam badan ini ialah bentuk sfera (seperti bola) kerana ia adalah bentuk yang terbaik. Kemudian Allah membawanya kepada kewujudan dengan kesempurnaan gubahan, dan jadikan semua yang Dia ciptakan di bawah penjagaan malaikat-malaikat ini. Dia amanahkan kepada mereka urusan berkenaan dalam dunia ini dan juga akhirat dan memeliharanya daripada melanggar apa yang Dia perintahkan kepada mereka. Dia menceritakan kepada kita bahawa mereka,
“tidak menderhakai Allah pada yang Dia perintahkan dan mereka melaksanakan apa yang mereka diperintahkan” (66:6).

[Penciptaan benda-benda (muwalladat)]
Kemudian Dia selesai menciptakan bahan-bahan yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan haiwan pada akhir 71,000 tahun dunia yang kamu hitung dan aturkan dunia ini dalam keadaan yang paling rapi. Daripada ciptaan yang pertama hinggalah yang terakhir, iaitu haiwan, Dia tidak menggunakan kedua-dua tangan-Nya dalam ciptaan apa sahaja kecuali manusia. Manusia adalah bentuk habuk yang berjasad. Segalanya kecuali untuk itu Dia ciptakan daripada perintah Ilahi atau dengan sebelah tangan. Allah berfirman,
“Apabila Kami berkehendak menjadikan sesuatu Kami hanya katakan ‘jadi!(Kun)’ maka jadilah ia” (16:40).
Ini adalah perintah Ilahi. Dalam hadis ada mengatakan Allah ciptakan syurga Adn dengan tangan-Nya, menulis Taurat dengan tangan-Nya, menanam pokok Thuba dengan tangan-Nya dan menciptakan Adam, iaitu manusia, dengan kedua-dua tangan-Nya. Bagi menunjukkan kemuliaan bagi Adam, Allah berfirman kepada iblis,
“Apa yang menghalang engkau sujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan tangan-tangan-Ku?” (38:75).

[Sfera paling rendah dan Buruj Dua Belas (zodiak)]
Bila Allah ciptakan sfera yang paling rendah, iaitu yang pertama dinyatakan di atas, Dia membahagikannya kepada 12 bahagian dipanggil “Buruj”. Allah berfirman,
“dan langit dengan buruj-buruj” (85:1).
Setiap bahagian ada buruj dan bahagian-bahagian tersebut ada empat suasana. Dia ulangi setiap bahagian daripada empat bahagian itu pada tiga tempat. Dia jadikan bahagian-bahagian ini seumpama tempat perhentian dan takungan air di mana pengembara berhenti, dan dalamnya pelayar yang dalam pelayaran mengembara maka pada perhentian inilah sampainya perjalanan planet-planet yang melalui mereka. Apa yang Allah adakan dalam sfera planet-planet ini yang laluannya melalui buruj-buruj tersebut supaya, melalui lintasan dan perjalanan mereka, diadakan apa yang Dia berkehendak pada alam anasir dan semulajadi. Dia jadikan mereka sebagai tanda perjalanan bagi kesan pergerakan sfera buruj-buruj, maka ketahuilah akan yang demikian!

[Alam semulajadi dan empat anasir]
Alam semulajadi pada satu bahagian daripada empat bahagian itu ialah panas dan kering; keduanya sejuk dan kering; ketiganya panas dan basah; dan keempatnya sejuk dan basah. Dia jadikan bahagian kelima dan kesembilan seperti bahagian yang pertama, yang keenam dan kesepuluh seperti yang kedua, yang ketujuh dan kesebelas seperti yang ketiga, dan yang kelapan dan kedua belas seperti yang keempat dalam keadaan semulajadinya. Jadi Allah isikan badan semulajadi menurut perbezaan, dan badan anasir tanpa perbezaan, dalam yang empat ini iaitu: panas, sejuk, kering dan basah. Walaupun mereka empat acuan, Allah jadikan dua daripadanya sebagai asas kepada kewujudan dua yang lain. Haba mengeluarkan kekeringan dan sejuk mengeluarkan kebasahan. Ini dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya,
“Tidak ada yang basah atau yang kering melainkan sudah ada dalam Buku Yang Nyata” (6:59)
lantaran sebab itu, oleh kerana ia dikeranakan, mesti ada kewujudan sebab, atau jika ia adalah kesan, maka ia mesti ada sebab, bagaimanapun kamu meletakkannya. Kewujudan sebab tidak memerlukan kewujudan sesuatu akibat.

[Al-Falak al-Atlas]
Bila Allah ciptakan sfera yang pertama ini, ia berpusing dengan lakaran yang penghujungnya hanya Allah sahaja mengetahuinya kerana tiada badan terhad di atasnya untuk melintasinya. Ia adalah badan tipis (jarang) yang pertama. Pergerakan menurut perkiraan dan dijadikan jelas. Allah tidak ciptakan apa-apa dalamnya. Kemudian pergerakan menjadi jelas dan berakhir pada sesuatu yang berada di dalamnya. Jika tidak demikian, pergerakan di dalamnya tidak akan menjadi jelas samasekali kerana tidak ada planet dalam al-Falak al-Atlas, dan ia menyerupai dirinya sendiri. Jadi ukuran satu pergerakan dalamnya tidak diketahui dan tidak juga ditentukan. Sekiranya ada sebahagian daripadanya di dalamnya ia adalah berbeza daripada bahagian yang lain, maka tanpa keraguan pergerakannya akan dikira dengannya. Tetapi Allah mengetahui ukurannya, akhirannya dan ulangannya. Hari terjadi daripada pergerakan itu. Di sana tidak ada malam atau siang pada hari itu.
Kemudian perjalanan sfera ini berterusan dan Allah ciptakan 35 malaikat sebagai tambahan kepada 16 malaikat yang telah kami nyatakan. Jadi jumlahnya menjadi 411 malaikat. Malaikat-malaikat ini termasuklah Jibrail, Mikail, Israfil dan Izrail. Kemudian Dia ciptakan 974 malaikat dan tambahkan mereka kepada golongan malaikat yang telah kami nyatakan. Dia bukakan kepada mereka dan perintahkan mereka menurut bakat mereka yang Dia ciptakan. Mereka berkata,
“Kami tidak turun, melainkan dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya apa yang di hadapan dan apa yang di belakang kita, dan yang di antara keduanya. Dan Tuhanmu tidak pernah lupa” (19:64).
Allah berfirman kepada mereka,
“Mereka tidak menderhakai Allah pada apa yang diperintahkan kepada mereka,” (66:6).
Mereka adalah malaikat yang khususnya menjadi penjaga. Allah ciptakan malaikat yang menjadi penghuni langit dan bumi untuk beribadat kepada-Nya. Tidak ada tempat di langit dan di bumi yang tidak ada malaikat padanya. Allah terus menciptakan malaikat daripada nafas dunia selagi ia bernafas.

[Penciptaan Kediaman yang paling hampir]
Bila pergerakan sfera ini, yang tempuhnya 54,000 tahun menurut kiraan kamu, sudah lengkap, Allah jadikan dunia ini dan tentukan baginya ketentuan yang jelas yang mana ia akan berakhir dan bentuknya akan terhapus. Ia akan ditukarkan daripada menjadi tempat kediaman kita dan menerima bentuk tertentu, iaitu apa yang kita lihat hari ini, kepada
“bumi digantikan dengan bumi lain, dan langit juga”.
Bila 36,000 tahun kiraan kamu mencukupi bagi pergerakan sfera ini, Allah jadikan alam baharu: Syurga dan Neraka yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya, kedua-duanya yang bahagia dan yang celaka. Di sana 9,000 tahun kiraan kamu di antara penciptaan alam ini dan penciptaan alam akhirat. Sebab itulah ia dinamakan “yang kemudian” kerana ciptaannya diperlambatkan sehingga selepas penciptaan alam ini yang dipanggil “yang pertama” kerana ia diciptakan sebelumnya. Allah berfirman,
“Yang kemudian adalah lebih baik bagi kamu daripada yang terdahulu” (97:4).
Dia menyampaikan kepada Rasul-Nya s.a.w, dan tidak mengadakan ketentuan binasa bagi Alam Akhirat.
Ia adalah abadi.
[Bumbung Syurga ialah al-Falak al-Atlas]
Allah jadikan sfera ini sebagai bumbung Syurga. Kita panggilnya Arasy yang pergerakannya tidak khusus dan tidak juga jelas. Pergerakannya berterusan, tiada kesudahan. Tidak ada ciptaan yang telah kami nyatakan diciptakan tanpa matlamat kedua, iaitu menghubungkan dirinya kepada kewujudan manusia yang menjadi Wakil Raja dalam dunia ini. Saya katakan “matlamat kedua” kerana matlamat pertama penciptaan ialah mengenal Allah dan beribadat kepada-Nya kerana inilah tujuan seluruh alam maya diciptakan. Tidak ada apa kecuali yang meninggikan puji-pujian-Nya. Makna matlamat kedua dan pertama ialah hubungan kehendak, bukan dalam ruangan masa berkehendak, kerana kehendak Allah adalah sifat mutlak sebagaimana Zat-Nya di ceritakan seperti juga semua sifat-sifat-Nya.
[Pegerakan langit dan Pegerakan bumi]
Kemudian Allah ciptakan sfera-sfera ini dan langit-langit, dan mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya dan mengaturkan cahaya-cahaya dan lampu-lampu di dalamnya, dan mengisikannya dengan para malaikat dan menjadikannya bergerak. Jadi semuanya bergerak kerana mentaati Allah, datang kepada-Nya, mencari kesempurnaan kehambaan yang layak bagi masing-masingnya, kerana Allah perintahkan kepada langit dan bumi, “Datanglah dengan rela atau terpaksa” dengan perintah yang ditujukan kepada mereka. Mereka menjawab, “Kami datang dengan rela”. Jadi, mereka terus menerus datang dan  terus bergerak, sekalipun pergerakan bumi tersembunyi daripada kita. Ia bergerak mengelilingi pusat kerana ia berpusing. Bagi langit pula, ia datang dengan rela apabila Allah perintahkan. Bumi datang dengan rela apabila ia mengetahui akan dipaksa dan Allah mesti membawanya bila Dia berfirman, “atau dengan terpaksa”. Itulah yang dimaksudkan dengan firman-Nya, “atau dengan terpaksa”. Ia datang dengan rela secara terpaksa!
“Dia dirikan  tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya” (41:12).

[Penciptaan bumi dan ketentuan makanan padanya]
Allah ciptakan bumi dan tentukan makanan padanya menurut bahan-bahan keluarannya. Dia sediakan khazanah bagi keperluan pemakanan mereka. Kami telah sentuh mengenai aturan pembentukan dunia dalam buku al-’Aql al-Mustawfir. Sebahagian daripada ketentuan makanannya ialah kewujudan air, udara dan api, begitu juga apa yang dikandungi sebagai wap, awan, kilat, guruh, dan kesan-kesan daripada langit.
“Itu adalah ketentuan Yang Maha Gagah, Maha Mengetahui” (6:96).
Dia jadikan jin daripada api, dan burung, reptilia di darat dan di laut, dan serangga daripada kereputan bumi agar udara menjadi bersih bagi kita, bebas daripada wap kereputan. Jika wap kereputan itu bercampur dengan udara yang dalamnya Allah amanahkan kehidupan dan kesejahteraan manusia dan haiwan, akan membuatkan mereka jatuh sakit, lemah dan kepayahan. Jadi Allah sucikan atmosfera untuknya sebagai kasihan belas-Nya bila Dia jadikan makhluk ini daripada benda-benda reput. Dengan demikian hanya kedapatan sedikit penyakit.

[Penciptaan manusia]
Dan kemudian Kerajaan siap disusunkan dan disediakan, namun tidak ada makhluk yang mengetahui daripada jenis apakah Wakil Raja itu akan diwujudkan, sedangkan demi kewujudannya Allah sediakan kerajaan ini. Apabila masa yang ditentukan menurut ilmu-Nya sampai bagi mengwujudkan Wakil Raja tersebut, 17,000 tahun sesudah dunia ini didiami dan 8,000 tahun selepas alam kemudian, yang tidak ada kesudahan, didiami, Allah perintahkan malaikat membawakan segenggam tanah yang berbagai-bagai jenis daripada bumi. Berbagai-bagai kisah yang panjang diceritakan mengenai perihal malaikat mengambil tanah tersebut. Allah mengambilnya dan mengulinya dengan tangan-tangan-Nya. Ini adalah perkataan-Nya,
apa yang Aku ciptakan dengan tangan-tangan-Ku” (38:75).

Allah mengamanahkan setiap malaikat yang telah disebutkan dengan amanah bagi Adam. Dia berfirman,
“‘Aku ciptakan manusia daripada tanah liat” (38:71).
Amanah ini yang ada dengan kamu adalah miliknya. Bila Aku ciptakannya, setiap kamu berikan kepadanya apa yang kamu ada yang Aku amanahkan kamu baginya.
“Bila Aku siap menciptakannya dan Aku tiupkan daripada roh-Ku kepadanya, maka sujudlah kepadanya” (15:29).
Kemudian Allah uli tanah liat bagi ciptaan Adam dengan kedua-dua tangan-Nya, sehingga ditukarkan baunya iaitu kebusukan tanah liat. Itu adalah bahagian yang udara berada di dalam binaannya. Dia jadikan bahagian luarnya sebagai tempat bagi anak-cucunya yang bahagia dan yang celaka. Dia amanahkan apa yang ada dalam tangan-tangan-Nya. Allah menerangkan bahawa yang bahagia di dalam tangan kanan-Nya dan yang celaka di dalam tangan kiri-Nya. “Kedua-dua tangan Tuhanku adalah tangan kanan yang suci”. Dia berfirman, “Itu adalah bagi syurga dan yang melakukan kebaikan ahli syurga. Itu adalah untuk neraka dan mereka yang melakukan amalan ahli neraka”.

Dia amanahkan keseluruhannya dalam tanah liat Adam, dan gabungkan yang bertentangan di dalamnya secara prinsip anggaran. Dia bentuknya atas pergerakan lurus, dan ia di bawah penguasaan Virgo. Dia jadikan enam arah baginya: atas, iaitu yang melepasi kepalanya, bawah yang bertentangan dengannya iaitu di bawah kakinya, kanan yang berada di sebelah bahagiannya yang kuat, dan kiri yang bertentangan dengannya yang disebelah bahagiannya yang lemah, hadapan ialah yang sebelum mukanya, dan belakang yang bertentangan iaitu yang di belakang tengkuknya. Dia bentukkan, seimbangkan dan susunkannya. Kemudian Dia tiupkan daripada roh-Nya kepadanya. Bila ia sudah ditiupkan kepadanya, apabila ia menjalar ke seluruh bahagian tubuhnya, empat perkara muncul . Empat perkara itu ialah: cecair kuning (hempedu), cecair hitam, darah dan air liur.
Cecair kuning dari anasir api yang daripadanya ia dijadikan, firman-Nya,
“daripada tanah liat seumpama pembuat periuk (dari tanah liat yang dibakar)” (55:14).
Cecair hitam daripada tanah, firman-Nya,
“Dia ciptakannya daripada tanah” (15:26).
Darah daripada udara, dan daripada perkataan-Nya, “tanah liat yang busuk”. Air liur daripada air yang dengannya tanah diuli dan menjadi tanah liat. Kemudian Allah datangkan kuasa daya tarikan yang dengannya haiwan menarik makanan, kemudian kuasa mencengkam yang dengannya haiwan memegang apa yang menjadi makanannya, kemudian kuasa penghadaman yang dengannya makanan dihadamkan, dan kemudian kuasa membuang yang dengannya dia mengeluarkan daripada dirinya – peluh, wap, udara, najis dan lain-lain.

Bagi penyebaran wap dan pembahagian darah di dalam urat daripada hati dan setiap bahagian haiwan, ia dengan kuasa penarikan, bukan kuasa pembuangan. Bahagian kuasa pembuangan hanya apa yang ia keluarkan, iaitu bahan-bahan buangan. Kemudian Allah datangkan kuasa memberi makan, membesar, deria-deria, imaginasi, ilusi, kebolehan menyimpan dan ingatan. Semuanya ini dalam manusia sama sahaja dengan yang dalam haiwan, tidaklah meletakkannya pada taraf manusia melainkan kerana empat kebolehan: kebolehan imaginasi, ilusi, kebolehan menyimpan dan daya ingatan. Kebolehan ini lebih kuat dalam manusia daripada dalam haiwan.
Kemudian Dia kurniakan kepada manusia bakat atau kebolehan untuk mengerti, pemikiran dan akal, dan ini menjadikannya berbeza daripada haiwan. Dia letakkan sekalian bakat-bakat ini pada jasad manusia sebagai alat bagi Diri Zahir memperolehi segala manfaat daripadanya.
Kemudian Dia bentuknya kepada makhluk yang lain” (23:14),
iaitu kemanusiaan. Dia jadikan manusia mengenal melalui bakat-bakat tersebut, dan dia menjadi hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, berkata-kata, mendengar dan melihat menurut sempadan yang dimilikinya.
Segala puji bagi Allah, sebaik-baik Pencipta” (23:14).

Kemudian Allah tidak menamakan Diri-Nya dengan sebarang nama tanpa meletakkan sebahagian daripada sifat nama tersebut kepada manusia sebagai bahagian yang daripada-Nya yang menyata dalam dunia menurut apa yang wajar baginya. Kerana itulah ada orang yang memahamkan perkataan Rasulullah s.a.w, “Allah ciptakan manusia dalam rupa-Nya” sebagai membawa maksud ini. Dia hantarkan manusia sebagai Wakil Raja iaitu wakil-Nya di bumi kerana bumi merupakan sebahagian daripada alam perubahan dan pertukaran, yang bertentangan dengan Alam Tinggi. Pengadilan berlaku di kalangan penghuni bumi menurut perubahan yang berlaku pada alam langit. Dengan demikian prinsip-prinsip bagi semua nama-nama Ilahi menyata. Maka Adam lebih tepat merupakan khalifah di bumi daripada di langit dan syurga. Di sana apa yang Dia perintahkan adalah: pengetahuan Nama-nama, sujudnya malaikat-malaikat, dan keingkaran iblis sebagaimana yang akan dibicarakan pada bahagian yang sesuai nanti, Insya’ Allah.
[Jasad manusia dan jenisnya]
Tajuk ini dikhususkan untuk membicarakan tentang permulaan jasad manusia. Ada empat jenis: jasad Adam, jasad Hawa, jasad Isa dan jasad keturunan Adam. Setiap jasad ini berbeza daripada pembentukan jasad-jasad lain menurut hukum sebab musabab, sekalipun bersamaan dalam bentuk zahiriah dan rohaniah. Kami katakan ini, dan membicarakan mengenainya agar akal yang lemah tidak terdorong untuk membayangkan kuasa Ilahi atau hakikat sebagai tidak cukup berkuasa, dan menganggapkan bahawa makhluk bangsa manusia ini muncul daripada hanya satu penyebab yang zatnya memperkenankan pembentukan ini. Allah menyangkal keraguan ini lantaran pembentukan manusia ini muncul pada Adam dengan cara yang ia tidak muncul pada Hawa; jasad Hawa muncul melalui perantaraan yang jasad Adam tidak muncul melaluinya; dan jasad keturunan Adam muncul melalui cara yang jasad Isa tidak melaluinya. Setiap daripada semua ini dipanggil manusia menurut istilah. Ianya begitulah seharusnya diketahui bahawa Allah mempunyai ilmu mengenai segala perkara dan bahawa Dia berkuasa berbuat apa sahaja.
Kemudian, Allah gabungkan semua empat jenis makluk ini dalam satu ayat Quran, Surah al-Hujurat (49:13) Dia berfirman,
” Wahai manusia, Kami yang ciptakan kamu”
bermaksud Adam, “daripada lelaki” bermaksud Hawa dan “daripada perempuan” bermaksud Isa, dan digabungkan “daripada lelaki dan perempuan” bermaksud melalui perkahwinan dan kelahiran. Ayat ini adalah sebahagian daripada “semua perkataan” dan “ungkapan yang jelas” yang disampaikan kepada Rasulullah s.a.w.

[Jasad Adam dan jasad Hawa]
Kemudian jasad Adam muncul sebagaimana yang dinyatakan, dan dia tidak ada keinginan untuk berkahwin. Allah sudah mengetahui ketentuan untuk kelahiran, pembiakan dan perkahwinan dalam kewujudan ini. Perkahwinan pada tempat ini adalah bagi kesinambungan kewujudan jenis-jenis. Kemudian Dia ciptakan Hawa daripada tulang rusuk Adam yang paling kecil. Oleh sebab itu perempuan berada pada peringkat yang lebih rendah daripada lelaki seeprti firman Allah,
Lelaki ada kelebihan di atas perempuan” (2:228).
Jadi perempuan tidak dapat mengatasi lelaki. Hawa memiliki kebengkokan yang ada pada tulang rusuk, maka dengannya dia mempunyai kecenderungan kepada anak-anak dan suami. Kecenderungan lelaki (=kemesraan) kepada perempuan adalah kecenderungannya terhadap dirinya sendiri kerana perempuan adalah sebahagian daripadanya. Perempuan tertarik kepada lelaki kerana dia diciptakan daripada tulang rusuk, dan tulang rusuk ada kelengkungan dan kecenderungan.

[...cinta Adam dan cinta Hawa]
Allah isikan bahagian Adam yang daripadanya muncul Hawa dengan keinginan terhadapnya (Hawa) kerana tidak seharusnya ada kekosongan pada kewujudan. Bila Dia isikan pada Adam keinginan, Adam merindui Hawa sebagaimana dia merindui dirinya sendiri kerana Hawa adalah daripadanya. Hawa merindui Adam kerana Adam adalah asalnya di mana dia diciptakan. Cinta Hawa adalah kecintaan kepada asal usul, dan kecintaan Adam adalah cintakan diriny sendiri. Kerana sebab itu, kecintaan lelaki kepada perempuan menyata kerana perempuan adalah sama dengannya, dan perempuan pula diberikan bakat yang ditentukan dengan sifat pemalu dalam menyintai lelaki. Perempuan mampu berahsia kerana asal usulnya tidak disatukan kepadanya seperti Adam disatukan kepada Hawa.
Allah gubahkan dalam tulang rusuk itu semua yang Dia gubahkan dan ciptakan pada jasad Adam. Pembentukan jasad Adam dalam bentuknya sama seperti pembuat periuk menggubahkan daripada tanah liat dan bakaran. Pembentukan jasad Hawa sama seperti tukang kayu gubah ukiran pada kayu. Bila dia ukirkan Hawa dalam tulang rusuk dan tentukan bentuknya, sempurnakan pembentukannya, ditiupkan padanya daripada roh-Nya. Hawa mendapat tempat sebagai perempuan yang hidup dan boleh berkata-kata, mengambil tempatnya dalam pembiakan. Adam berasa tenteram dengan Hawa dan Hawa berasa tenteram dengan Adam. Hawa adalah “pakaian Adam dan Adam pakaian Hawa” Allah berfirman,
Mereka adalah pakaian kamu dan kamu pakaian mereka” (2:187).
Keinginan menjalar kepada seluruh bahagian jasadnya dan dia mencari Hawa.
[Kejadian jasad jenis ketiga]
Kemudian Adam menutupi Hawa dan menuangkan air ke dalam kandungannya dan dengan setitik air itu, darah haid yang Allah tentukan untuk perempuan mengalir, dan dalam jasad itu terbentuk jasad ketiga yang berbeza daripada cara pembentukan jasad Adam dan Hawa. Inilah jasad jenis ketiga. Allah peliharakan pembentukan di dalam kandungan itu seperingkat demi seperingkat dengan perubahan daripada air mani kepada darah beku kepada segumpal daging kepada tulang. Kemudian Allah pakaikan daging kepada tulang. Bila pertumbuhan kehaiwanan ini lengkap, Dia bentukkan makhluk lain dan dengannya meniupkan roh manusia ke dalamnya.
Segala puji bgai Allah, Pencipta yang paling baik” (23:14).

Sekiranya bukan kerana terlalu panjang, tentuk mai terangkan pembentukan manusia di dalam kandungan seperingkat demi seperingkat, dan malaikat yang menjaga yang mengawasi pembentukan janin dalam kandungan sehinggalah ia keluar. Tetapi kami mahu perkatakan tentang tubuh manusia. Walaupun sama menurut takrif, kenyataan, perasaan dan bentuk yang khusus, sebab bagi komposit berbeza agar tidak ada orang yang membayangkan bahawa ia kepunyaan zat penyebab. Maha Tinggi Allah! Itu merujuk kepada Pelakun yang dipilih yang melakukan apa yang Dia kehendaki bila Dia kehendaki tanpa larangan atau tidak berupaya dalam satu perkara berbanding dengan perkara lain.
“Tiada Tuhan melainkan Dia, Maha gagah, Maha Bijaksana” (3:18).

[Kejadian jasad Isa]
Pengkaji haiwan dan tumbuh-tumbuhan mengatakan mani perempuan tidak mempunyai apa-apa yang dibentuk daripadanya – walaupun janin yang dalam kandungannya datang daripada mani lelaki. Oleh yang demikian kami jadikan pembentukan Isa sebagai pembentukan yang lain, sekalipun peraturannya di dalam kandungan menyamai peraturan bagi jasad-jasad bayi yang lain. Kejadian jasad Isa adalah daripada mani perempuan kerana Roh zahir kepadanya tanpa menyalahi peraturan, atau ianya daripada tiupan nafas tanpa air. Jasad Isa adalah jasad jenis keempat, yang berbeza cara kejadiannya dengan jasad-jasad yang lain. Allah berfirman,
Sesungguhnya, kesamaan Isa” (2:56)
iaitu kejadian Isa,
dengan Allah adalah umpama kesamaan Adam. Dia ciptakannya daripada habuk”.
Gantinama itu merujukkan kepada Adam. Kesamaan itu merujuk kepada kejadian Isa tanpa bapa, iaitu keadaan kejadiannya menyerupai kejadian Adam, sekalipun Dia ciptakan Adam daripada habuk. Kemudian Allah katakan, “Jadi!”.

Isa tidak berada dalam kandungan Maryam selama tempuh kandungan biasa. Pembentukannya berlaku dengan cepat kerana Allah berkehendak menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan menjadikannya sebagai penafian kepada anggapan mereka yang berpegang kepada hukum alam yang biasa, tidak dengan kejadian yang rahsia dan ajaib yang Allah pertaruhkan dalamnya. Sebahagian mereka yang berakal merumuskan hal ini sebagai hukum alam dan berkata, “Kami hanya tahu apa yang Engkau beritahu, dan ia mengandungi perkara-perkara yang kami tidak tahu”.
[Manusia di bumi seperti akal di langit]
Inilah sebabnya kami nyatakan permulaan kejadian jasad manusia dan kenyataan bahawa terdapat empat jenis jasad yang terbentuk secara berbeza dan manusia merupakan kejadian yang paling akhir. Maka ia adalah seumpama akal dan berhubungan dengannya kerana kewujudan ini adalah bulatan. Permulaan bulatan ialah kewujudan Akal Awal seperti yang dinyatakan dalam hadis: “Yang pertama Allah ciptakan ialah Akal”. Ia merupakan jenis pertama. Kejadian berakhir pada jenis manusia, maka bulatan menjadi lengkap dan manusia dihubungkan degan akal, sebagaimana titik akhir bulatan disambungkan dengan awalnya. Begitulah keadaannya. Di antara dua hujung bulatan itu adalah semua jenis atau bangsa yang Allah ujudkan dalam alam ini, di antara Akal Awal, iaitu Qalam, dan manusia, iaitu kejadian terakhir.
Kemudian garisan muncul daripada titik yang berada di tengah-tengah bulatan kepada garis lengkung bulatan yang muncul daripadanya, dan muncul bersamaan pada setiap bahagian garis lengkung. Ia serupa dengan hubungan Allah dengan semua yang wujud. Ia adalah hubungan yang sama. Perubahan tidak berlaku sama sekali. Semua perkara bergantung kepada-Nya dan menerima apa yang Dia kurniakan seperti bahagian garis lengkung bergantung kepada titik pusat.
Allah binakan bentuk manusia secara pergerakan lurus seumpama bentuk kayu pemyokong kepada khemah. Dia jadikan manusia sebagai penyokong bumbung langit. Allah menahannya daripada jatuh kerananya. Jadi manusia adalah seumpama kayu penyokong khemah. Bila bentuk manusia ini dihapuskan, dan tiada seorang manusia yang masih ada di muka bumi, maka langit pun runtuh, pada hari itu ianya akan jatuh kerana kayu penyokongnya iaitu manusia sudah terhapus.
Kemudian kehidupan akan berpindah ke Alam Kemudian kerana manusia sudah berpindah ke sana. Dunia ini akan menjadi satu keruntuhan disebabkan manusia telah meninggalkannya. Jadi kita ketahui dengan jelas bahawa manusialah yang menjadi tujuan diwujudkan dunia ini dan manusialah khalifah-Nya yang sebenar dan manusia itulah bekas yang menyatakan nama-nama Ilahi. Manusia membawa bersamanya semua hakikat-hakikat alam – malaikat, sfera (cakerawala), tubuh, alam semulajadi, bahan-bahan galian dan haiwan. Ini adalah menurut apa yang hanya diberikan kepadanya daripada pengetahuan tentang nama-nama Ilahi, sekalipun saiz dan jisimnya yang kecil. Allah berfirman,
Tentunya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia” (40:57)
kerana manusia dihasilkan daripada langit dan bumi, maka mereka menyerupai ibu bapa mereka. Allah menaikan darjat mereka kerananya,
tetapi kebanyakan manusia tidak tahu” (7:187).
Dia tidak maksudkan lebih besar pada ukuran kerana yang demikian dapat ditangkap oleh pancaindera.

[Ujian bagi Manusia yang paling utama (al-Insan al-Akbar)]
Walau bagaimanapun, Allah menguji manusia dengan ujian yang tidak dikenakan kepada makhluk yang lain, samada Dia akan jadikannya bahagia atau Dia akan jadikannya celaka menurut apa yang Dia benarkan dia menggunakannya. Ujian yang Dia gunakan bagi menguji manusia ialah Dia jadikan pada manusia itu bakat atau kebolehan berfikir dan jadikan bakat ini berkhidmat kepada bakat lain yang dinamakan akal. Dia jadikan akal, seklipun ia tuan kepada fikiran, mengambil apa yang fikiran berikan kepadanya. Dia tidak berikan kepada fikiran sebarang bidang kecuali kebolehan berimaginasi. Dia jadikan bakat imaginasi sebagai bekas yang mengumpulkan apa yang bakat-bakat pancaindera berikan kepadanya. Dia juga berikan kepadanya bakat yang dinamakan pemahaman. Jadi dalam bakat imaginasi, tidak ada apa yang diperolehi kecuali apa yang diberikan oleh deria atau apa yang bakat pemahaman berikan. Anasir pemahaman datangnya daripada benda-benda yang berhubung dengan deria. Ia mengumpulkan bentuk-bentuk yang tidak ada sumber, sekalipun semua bahagiannya wujud dalam deria.
Itu kerana akal dijadikan bersih tanpa tipudaya dan tanpa pengetahuan yang agak-agak. Fikiran diberitahukan, “Bezakan di antara yang benar dan yang salah yang ada dalam bakat imaginasi ini.” Fikiran mengkaji menurut apa yang ia ada. Ia mungkin memperolehi keraguan dan ia juga mungkin menemui pembuktian tanpa ia mengetahui yang demikian, sekalipun ia mengakui yang ia mengetahui bentuk keraguan daripada pembuktian. Ia memperolehi pengetahuan sementara ia tidak mengambil kira kekurangan anasir yang ia jadikan asas perolehan pengetahuannya. Akal menerima daripadanya dan membuat keputusan dengannya. Jadi kejahilannya boleh jadi lebih besar daripada pengetahuannya.
Kemudian Allah perintahkan akal supaya mengenali-Nya agar ia boleh merujuk kepada-Nya, tidak kepada sesuatu yang lain. Akal memahami yang bertentangan daripada apa yang Yang Haq kehendaki daripadanya, bila Dia berfirman,
tidakkah mereka fikirkan?” (7:184) “kepada mereka yang berfikir” (10:24 dll).
Ia bergantung kepada fikiran dan jadikannya penghulu yang diikuti dan mengabaikan apa yang Allah maksudkan bila Dia sebut fikiran. Dia memberitahunya supaya berfikir agar ia dapat melihat bahawa tiada cara untuk mengetahui Allah melainkan dengan kurniaan makrifat Allah. Oleh kerana itu perkara yang sebenarnya akan disingkapkan kepadanya. Tidak semua akal memiliki pemahaman ini – ianya hanya akal yang dipilih oleh Allah dari kalangan anbia dan aulia.

Sekiranya saya ketahui jika mereka telah berkata, “Ya, bahkan!” dengan pemikiran mereka bila Allah bawakan mereka mengaku dengan diri mereka [terhadap ketuhanan Allah sebelum mereka diciptakan] di dalam genggaman keturunan anak-cucu Adam! Dia buat mereka mengakui demikian bila Dia mengambil mereka daripada pinggang-pinggang mereka adalah lantaran kekhuatiran. Walau bagaimanapun, bila mreka beralih kepada kebolehan berfikir mereka mengenai makrifat Allah, mereka tidak bersetuju sama sekali walaupun kepada satu keputusan mengenai makrifat Allah. Setiap kumpulan menubuhkan pengajiannya sendiri, dan kenyataan mereka mengenai kehadiran Ilahi yang dilindungi bertambah-tambah. Ahli-ahli fikir ini bertindak terlalu berani terhadap Allah. Semua ini menjadi sebahagian daripada ujian yang kami katakan bila Allah jadikan fikiran pada manusia.
Ahli Allah memerlukan Allah dalam mempercayai-Nya yang Dia pertanggungjwabkan kepada mereka mengenai makrifat-Nya. Mereka mengetahui bahawa yang dikehendaki daripada mereka ialah mereka merujuk kepada-Nya dalam hal tersebut, dan dalam segala hal. Sebahagian daripada mereka berkata, “Maha Suci Dia yang tidak mengadakan jalan untuk mengenali-Nya melainkan ketidakupayaan untuk mengenali-Nya!” Ada yang berkata, “Ketidakupayaan mencapai pengertian itulah pengertian”.  Rasulullah s.a.w bersabda, “Aku tidak berupaya menghitung puji-pujian-Mu!” Allah berfirman,
Mereka tidak berupaya melingkungi-Nya dengan ilmu mereka” (20:110).
Mereka kembali kepada Allah dalam mengenali-Nya dan meninggalkan anggapan mengenai darjat-Nya dan melaksanakan tuntutan-Nya. Mereka tidak meletakkan-Nya pada apa yang tidak harus difikirkan mengenai-Nya. Telah dinyatakan bahawa adalah ditegah daripada memikirkan tentang Zat Allah. Allah berfirman,
Allah memberi amaran kepada kamu tentang Diri-Nya” (3:28,30).
Allah kurniakan makrifat-Nya kepada mereka iaitu kurniaan-Nya dan menjadikan mereka saksi bagi makhluk-Nya dan kenyataan apa yang Dia jadikan mereka saksi. Jadi mereka tahu apakah yang secara logiknya mustahil melalui fikiran, adalah tidak mustahil melalui hubungan Ilahiah. Sebahagian daripada yang tersebut akan diketahui dalam tajuk “Bumi dijadikan daripada baki tanah liat Adam” dan tempat yang lain.

Iaitu yang manusia berakal berhutang budi kepada Allah lantaran dirinya mengetahui bahawa Allah berkuasa berbuat apa sahaja, mungkin atau mustahil – dan bukan segalanya mustahil. Dia memiliki kuasa yang berkesan dan kurniaan yang melimpah. Tidak ada ulangan pada apa yang Dia bawa kepada kewujudan – lebih tepat perkara yang serupa berlaku dalam anasir yang Dia bawa kepada kewujudan dan inginkan kesinambungan.  Jika demikian kehendaknya, ia akan dihapuskan dengan tiupan.
Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Gagah, Yang Bijaksana” (3:18).


Kewujudan Makhluk Rohani


[Kewujudan makhluk rohani yang diciptakan daripada api yang tiada asap (jin)]
Dia campurkan api dan tumbuh-tumbuhan, maka bentuk jin dijadikan
sebagai ruang di antara dua keadaan.

Ia adalah di antara roh yang berjasad dengan tempat yang dalam
dan roh yang tiada “di mana”.

Yang menerima jasad mencari makanan
untuk pembesaran tanpa kepalsuan,

Dan yang menerima malaikat-malaikat, menerima hati bagi
mengambil bentuk dalam keasliannya.

Kerana sebab ini, ia mentaati pada satu ketika dan menentang pada ketika lain
Dia akan balas mereka yang tidak taat dengan dua api.

[Penciptaan Jin, malaikat dan manusia]
Allah berfirman,
Dia ciptakan jin daripada pucuk api yang tiada asap” (55:14).
Hadis menceritakan,
“Allah ciptakan malaikat daripada nur, dan Allah ciptakan jin daripada api, dan Dia ciptakan manusia daripada apa yang telah dikhabarkan kepada kamu”.
Apa yang Rasulullah s.a.w katakan mengenai ciptaan manusia “seperti yang telah diceritakan kepada kamu”, baginda memberi ketegasan dan tidak menjelaskannya seperti yang baginda lakukan pada menceritakan ciptaan malaikat dan jin. Rasulullah s.a.w “diberikan segala perkataan”. Ini adalah sebahagian daripadanya. Asas ciptaan malaikat dan jin tidak berubah. Asas ciptaan manusia berubah kerana ada empat kategori kejadian manusia. Kejadian Adam tidak menyerupai kejadian Hawa. Kejadian Hawa tidak meneyrupai kejadian keturunan Adam yang lain. Kejadian Isa tidak menyerupai yang lain. Di sini Rasulullah s.a.w memberi penjelasan. Baginda menyampaikan kepada kita perincian kejadian manusia. Adam diciptakan daripada tanah liat, Hawa daripada tulang rusuk, Isa daripada tiupan Roh, keturunan Adam daripada
air yang hanyir” (77:20).

[Konsep perkaitan langit dan bumi]
Bila Allah dirikan empat anasir asas dan asap naik ke bahagian bawah Sfera Bintang-bintang Yang Tetap, tujuh langit dibentangkan di dalam asap itu, setiap satu berpisah daripada yang lain. Dia
bukakan pada setiap langit ketentuannya”
selepas
Dia adakan dalamnya rezekinya”
dan semua ini
“dalam empat hari”.
Kemduian Dia berfirman,
“kepada langit dan bumi: Datanglah dengan rela atau terpaksa”. (41:9-11).
Kemudian Allah adakan perkaitan di antara langit dan bumi dan arah yang dengannya Dia berkehendak mengadakan benda-benda di bumi dalam bentuk bahan galian, tumbuh-tumbuhan dan haiwan. Dia jadikan bumi seumpama isteri dan langit seumpama suami. Langit menyalurkan perintah Allah kepada bumi sebagaimana suami memindahkan air mani kepada isterinya. Dengan demikian bumi membawa keluar jenis-jenis pembentukan yang Allah sembunyikan di dalamnya.
[Empat anasir dan pembentukan manusia dan jin]
Bila udara dinyalakan dan dipanaskan, ia membakar seperti pelita. Pembakaran api itu adalah nyalaan udara dan ianya tidak berasap (marj, bercampur-aduk) kerana ia bercampur dengan udara dan adalah udara yang terbakar. Marj adalah campuran dan daripada ini yang tidak berasap itu adalah marj kerana tumbuh-tumbuhan bercampur di dalamnya.
Jin adalah campuran dua anasir iaitu api dan udara, sebagaimana manusia merupakan campuran dua anasir iaitu air dan tanah diuli bersama yang menjadikannya tanah liat. Begitu juga campuran udara dan api dinamakan ‘api yang tidak berasap’. Allah ciptakan bentuk jin dalam api yang tidak berasap itu. Oleh kerana anasir udara ada dengan jin, maka jin boleh mengambil berbagai-bagai bentuk yang mereka mahu. Oleh kerana ada anasir api dengannya maka ia menjadi tidak nyata dan seni, dan mereka mencari kekuasaan, kemegahan dan kekuatan kerana api merupakan bahagian yang paling tinggi dalam anasir-anasir itu dan ia mempunyai pengaruh yang kuat untuk menukarkan sesuatu sebagaimana hukum alam kehendaki. Inilah sebabnya jin iblis menyombong dan enggan sujud kepada Adam bila Allah memerintahkannya berbuat demikian lantaran pandangannya yang tinggi terhadap dirinya. Dia berkata,
Aku lebih baik daripadanya” (7:12),
bermaksud menurut dasar bahawa Allah lebih menyukai api daripada anasir-anasir yang lain.
Jin tidak tahu bahawa anasir air yang daripadanya Adam diciptakan lebih kuat daripada api kerana air boleh memadamkan api dan tanah adalah lebih teguh daripada api melalui kesejukan dan kekeringan. Adam memiliki kekuatan dan kemantapan melalui penguasaan dua anasir tersebut yang Allah jadikannya. Walaupun dia juga memiliki anasir-anasir yang lain – udara dan api, anasir tersebut tidak ada kekuasaan atasnya. Jin juga memiliki anasir-anasir selebihnya….
Adam dikurniakan sifat rendah diri berdasarkan sifat tanah yang ada dengannya. Bila dia menjadi megah, itu hanyalah yang datang kemudian (bukan sifat semulajadinya). Dia menerima sifat tersebut kerana anasir api yang ada dengannya sebagaimana imaginasi dan keadaannya menerima berbagai-bagai suasana kerana anasir udara dengannya. Jin bersifat menyombong kerana sifat api yang ada dengannya. Jika mereka merendah diri, itu adalah yang datang kemudian (bukan sifat asli), ia boleh datang kerana anasir tanah yang ada dengannya. Mereka juga menerima ketetapan dalam menggunakan tipu daya jika mereka syaitan, dan menerima ketetapan untuk berbuat taat jika mereka bukan syaitan.
[Keadaan jin bila surah ar-Rahman (surah 55 dalam Quran) dibacakan]
Bila Rasulullah s.a.w membacakan surah ar-Rahman kepada para sahabat baginda, baginda bersabda, “Aku membacakannya kepada kumpulan jin. Mereka mendengarkannya lebih baik daripada kamu. Bila aku katakan,’Nikmat Tuhan kamu yang manakan kamu nafikan?’ mereka melafazkan,’kami tidak nafikan sebarang nikmat Tuhan kami!’ Ia meneguhkan mereka dan tidak menggeletar bila dibacakan,’Nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu nafikan?’ dalam bacaannya. Ini adalah cetusan sifat jin yang keluar daripada aanasir tanah dan air yang memadamkan nyalaan api. Sebahagian daripada mereka adalah taat kepada Allah dan sebahagiannya menderhaka, seperti manusia: tetapi mereka boleh mengambil berbagai-bagai bentuk seperti malaikat.
[Bentuk asasnya ialah rohani]
Allah jadikan mereka tidak kelihatan kepada pandangan manusia melainkan bila Allah angkatkan tutupan kepada orang-orang tertentu untuk mereka melihatnya. Oleh kerana jin tidak nyata dan seni, mereka boleh mengambil apa juga bentuk yang boleh dicapai oleh pancaindera menurut kemahuan mereka. Bentuk asasnya ialah kerohanian yang merupakan bentuk pertama yang diterima oleh jin pertama tatkala Allah membawanya kepada kewujudan. Kemudian ia mengambil berbagi-bagai bentuk menurut apa yang Allah kehendaki. Jika Allah bukakan pandangan kita sehingga kita dapat melihat bentuk-bentuk yang dapat disaksikan pancaindera melalui khayal, maka pada masa yang berlainan kamu akan dapat melihat manusia dalam berbagai-bagai bentuk yang tidak serupa antara satu sam alain.
[Pembiakan jin dan manusia]
Kemudian Allah tiupkan roh ke dalam nyalaan api yang bergolak lantaran keadaannya yang tidak pejal itu. Tiupan menambahkana pergolakan tersebut dan udara menguasainya dan ia tidak tinggal dalama keadaan yang sama. Alam jin muncul dalam bentuk demikian. Sebagaimana persetubuhan berlaku dalam kehidupan manusia secara memasukkan air ke dalam kandungan lalu menghasilkan pembiakan dan kelahiran dalam bangsa Adam yang fana, begitu juga dengan pembiakan berlaku pada jin secara memindahkan udara ke dalam kandungan perempuan dan pembiakan serta kelahiran berlaku pada jin. Mereka keluar melalui Sagittarius dan keadaannya yang berapi-api. Ini telah diceritakan oleh orang yang telah sampai – semoga Allah melindunginya!
[Tempuh di antara penciptaan jin dan penciptaan manusia]
Tempuh di antara penciptaan Jann (jin pertama) dengan penciptaan Adam ialah 60,000 tahun. Ini adalah perlu menurut dakwaan sesetengah orang bahawa kelahiran jin berakhir selepas 4,000 tahun dan kelahiran manusia berakhir selepas 7,000 tahun. Walau bagaimanapun, ianya tidak berlaku berdasarkan yang demikian. Ianya akan berlaku menurut kehendak Allah. Jin masih membiak dan akan terus membiak. Jadi bilakah manusia bermula, berapa tahun pembiakannya yang masih tinggal, berapa lama lagikah sebelum berakhirnya dunia ini dan bangsa manusia terhapus dari muka bumi ini dan mereka dipindahkan ke Alam Kemudian? Ini bukanlah pegangan mereka yang kukuh dalam ilmu. Ia dikatakan oleh sebilangan kecil sahaja dan tidak akan diulangi.
[Jin adalah ruang di antara malaikat dengan manusia]
Malaikat adalah roh yang ditiupkan ke dalam nur (cahaya). Jin adalah roh yang ditiupkan ke dalam angin. Manusia adalah roh yang ditiupkan ke dalam bentuk. Ada yang mengatakan bahawa yang perempuan tidak berpisah daripada jin yang mula-mula wujud, seperti Hawa berpisah daripada Adam. Salah seorang daripada mereka mengatakan Allah ciptakan anggota pada jin pertama, maka satu bahagiannya bersetubuh dengan bahagiannya yang lain dan keturunannya dilahirkan seperti keturunan Adam dilahirkan: lelaki dan perempuan berkahwin. Jadi sifat jin ialah memiliki kedua-dua jantina. Oleh kerana itu jin merupakan sebahagian daripada ruang di antara: mereka menyerupai manusia dan menyerupai malaikat kerana kedua-dua jantina menyerupai lelaki dan perempuan.
[Makanan dan perkahwinan jin]
Anasir udara dan api menguasai kejadian jin. Oleh kerana itu makanannya ialah apa yang di bawa oleh udara iaitu lemak di dalam tulang. Allah jadikan persediaan ini dalam mereka. Jadi kita dapati bahawa tulang dan dagingnya tidak berkurangan sama sekali dan kita tahu bahawa Allah berikan kepada mereka zat dalam tulang itu. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w mengenai tulang, “Tulang adalah makanan saudara kamu dari golongan jin”. Dalam satu hadis, “Allah taruhkan zat pemakanan mereka di dalamnya”. Orang yang hal ini dibukakan kepadanya menceritakan kepada kami dia telah melihat jin mendapatkan tulang dan menghidunya seperti haiwan menghidu mangsanya. Kemudian mereka pergi sesudah mengambil makanannya. Makanannya diambil melalui penghiduan itu. Segala puji bagi Yang Maha Lemah-lembut (al-Latiff) dan Yang Maha Mengerti!
Bagi penyatuan mereka dalam perkahwinan, ia dalam bentuk berpusing – seperti apa yang kelihatan pada asap yang keluar dari tempat bakaran. Asap itu bercampur-gaul dan setiap individu jin itu menikmati kemasukan yang berbalas-balasan itu. Pancutan maninya seperti biji palma dan dalam bentuk bau yang asli, sama seperti makanannya.
[Puak dan kumpulan jin]
Mereka berpuak-puak dan berkumpulan. Dikatakan mereka tergolong kepada dua belas puak dan kemudian bercabang kepada puak-puak yang lebih kecil. Biasa berlaku peperangan besar di antara mereka, dan sebahagian daripada angin puting beliung adalah sebenarnya di tengah-tengah pertempuran mereka. Puting beliung itu merupakan perlawanan yang berbalas-balasan di antara dua angin yang bertentangan, masing-masing menghalang yang satu lagi daripada melepasi. Jadi penahanan itu membawa kepada bulatan yang dapat disaksikan oleh mata sebagai debu yang nyata yang merupakan kesan kepada perlawanan dua angin itu. Pertempuran mereka adalah seperti itu, tetapi bukanlah pula setiap puting beliung itu pertempuran mereka. Kisah jin ‘Amr merupakan kisah yang terkenal. Ia terbunuh di dalam puting beliung yang kelihatan. Ia pecah daripadanya ketika ia hampir mati. Ia tidak mengambil masa yang lama untuk mati. Ia adalah jin yang salih. Jika asas buku ini adalah untuk menceritakan sejarah dan budaya kami tentu ceritakan sebahagian daripadanya, tetapi buku ini adalah mengenai maksud ilmu pengetahuan. Kamu boleh mencari ceritanya pada tempat yang lain, dalam buku sejarah dan puisi.
[Cara alam makhluk rohani muncul dalam rupa bentuk]
Bila alam rohani mengambil bentuk dan muncul dalam bentuk yang boleh ditangkap oleh pancaindera, mata mengurung makhluk rohani itu kerana makhluk rohani itu tidak dapat melepaskan bentuk yang ia muncul itu kerana mata terus melihat kepadanya walaupun yang melihat itu ialah manusia. Bila mata manusia jelas mengenai makhluk rohani itu, ia tidak mempunyai tempat untuk menghilangkan diri, maka makhluk rohani itu menjelmakan bentuk yang ia gunakan untuk menutupi dirinya. Kemudian makhluk rohani itu membuat manusia mengkhayalkan yang bentuk itu telah meninggalkannya pada satu arah, lalu mata mengikuti arah tersebut. Bila mata mengikutinya, makhluk rohani itu meninggalkan kurungan mata tadi dan menghilang. Bila ia menghilang, bentuk itu hilang dari pandangan orang yang sedang memandang kepadanya dan mengikutinya dengan pandangannya. Dalam hubungan dengan makhluk rohani itu, bentuk itu adalah umpama cahaya yang di dalam bekas lampu yang cahayanya dihamburkan di penjuru-penjuru. Bila badan lampu itu tiada cahaya pun hilang. Beginilah keadaan bentuk itu. Jika seseorang mengetahui hal ini, dan mahu mengurung makhluk rohani itu, dia tidak harus mengikuti makhluk rohani itu dengan matanya. Ini adalah salah satu rahsia Ilahi yang hanya diketahui oleh mereka yang mendapat petunjuk Allah. Bentuk itu tidak lain daripada makhluk rohani itu. Sebenarnya ia adalah sama, sekalipun ia berada pada seribu tempat, atau pada setiap tempat, dengan bentuk yang berlainan.
Andaikata salah satu bentuk itu dibunuh dan kelihatan mati, makhluk rohani itu meninggalkan kehidupan dunia ini dan pergi ke ruang antara sebagaimana kita pergi apabila kita meninggal. Tidak ada maklumat mengenainya tinggal di dalam dunia ini, seperti keadaan kita juga. Bentuk yang boleh ditangkap oleh pancaindera yang diambil oleh makhluk rohani itu dinamakan ‘tubuh’. Allah berfirman,
“Kami adakan hanya jasad di atas singgahsananya” (38:34)
dan
“Kami tidak berikan kepada mereka tubuh yang tidak memakan makanan” (21:8).
Perbezaan di antara jin dengan malaikat, walaupun secara kerohaniannya mereka serupa, ialah makanan jin mengandungi makanan yang didapati dalam tubuh asli. Malaikat tidak demikian. Itulah sebabnya Allah ceritakan tentang tetamu Nabi Ibrahim a.s,
“Bila dia melihat tangan mereka tidak mengambilnya, dia mencurigai mereka” (11:70),
iaitu malaikat tidak menjamah daging panggang dan mereka tidak memakannya yang membuat Nabi Ibrahim a.s curiga.

[Pembentukan alam jin]
Apabila sampai masa dijadikan alam jin, Dia memerintahkan tiga daripada malaikat yang kepercayaan dalam sfera pertama yang membawa pembantu-pembantu mereka yang diperlukan untuk tugas ini dari langit kedua. Mereka turun ke langit-langit dan mengambil dua pembantu dari langit ke dua dan ke enam. Mereka turun ke anasir dan menyediakan tempat tersebut. Tiga lagi penjaga mengikuti mereka, dan mereka membawa apa juga pembantu yang diperlukan daripada langit kedua, kemudian turun ke langit ke tiga, dan daripada sana kepada yang ke lima. Mereka mengambil dua malaikat. Mereka melalui langit ke enam dan dan mengambil dua pembantu daripada malaikat. Kemudian mereka turun ke anasir bagi melengkapkan pembentukan itu. Enam yang lebihnya turun dan mengambil pembantu yang selebihnya di dalam langit ke dua dan langit-langit. Semuanya dikumpulkan bagi susunan kejadian ini dengan izin Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.
Bila kejadian alam jin selesai, Allah perintahkan roh daripada Alam Pemerintahan dan tiupkan kepada bentuk yang telah sedia itu dan kehidupan pun mengalir ke dalamnya. Ia pun berdiri mengucapkan puji-pujian kepada Penciptanya: ini merupakan ketentuan semulajadi yang Dia aturkan. Terkandung di dalamnya ialah kekuatan dan kebesaran yang penyebabnya tidak dikenali dan tidak ditemui kerana pada masa itu tidak ada makhluk lain yang wujud dalam alam semulajadi ini selain ia. Ia beribadat kepada Tuhannya, memperakui kekuasaan-Nya, merendah diri kepada Tuhannya yang telah mewujudkannya sebagai satu makhluk sehinggalah Adam diciptakan. Bila jin ini melihat lembaga Adam, salah seorang daripada mereka yang bernama al-Harith, dikuasai oleh kebencian kepada lembaga tersebut dan kemarahannya menyala-nyala tatkala menyaksikan lembaga Adam itu. Puaknya yang lain melihat keadaannya dan mengkeritiknya lantaran mereka melihat ia bersedih dan berdukacita di atas kejadian Adam itu. Bila kejadian Adam telah siap, al-Harith menunjukkan apa yang tersirat dalam dirinya dengan mengingkari perintah Penciptanya supaya sujud kepada Adam dan ia menjadi angkuh terhadap Adam berbangga dengan asal usulnya (daripada api yang ia rasakan lebih mulia daripada tanah). Ia gagal melihat rahsia kekuatan air yang daripadanya Allah jadikan setiap makhluk yang hidup ini, dan daripadanya juga datangnya kehidupan jin sekalipun ia tidak menyedarinya.
[Penciptaan Adam dan kejadian manusia]
Jika kamu terdiri daripada mereka yang tidak disingkapkan, fikirkanlah tentang firman Allah,
dan singgahsana-Nya di atas air” (11:7).
Jadi, singgahsana dan makhluk di sekelilingnya memperolehi kehidupan melalui air.
“Tidak ada yang tidak meninggikan puji-pujian terhadap-Nya” (17:44).
Dia menggunakan yang negatif. Hanya yang hidup mengagungkan. Dala satu hadis yang baik Rasulullah s.a.w bersabda, “Malaikat berkata,’Wahai Tuhan (dalam hadis yang panjang)!adakah Engkau ciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada api?’ Dia menjawab,’Iya, air.’” Jadi, Dia jadikan air lebih kuat daripada api. Sekiranya anasir udara dalam struktur jin tidak dinyalakan oleh api, maka jin tentunya menjadi lebih kuat daripada keturunan Adam, kerana udara lebih kuat daripada air. Dalam hadis ini malaikat bertanya, “Wahai Tuhan, adakah Engkau ciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada api?” Dia menjawab, “Ya, keturunan Adam.” Allah jadikan organisma manusia lebih kuat daripada udara. Air lebih kuat daripada api, dan ia merupakan anasir utama dalam manusia sebagaimana api menjadi anasir utama dalam jin. Inilah sebabnya Allah katakan tentang syaitan,
“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” (4:76).
Ia tidak menganggap berkekuatan terhadapnya sama sekali. Ia tidak menafikannya kepada Gobernor Mesir tatkala ia bertkata,
“sesungguhnya tipu daya kamu kuat” (12:27)…

Sebab bagi yang demikian ialah organisma manusia memiliki kesesuaian untuk melahirkan sikap berhati-hati, keteguhan hati, bertafakur dan berfikir lantaran pengaruh anasir tanah dan air dalam sifat manusia. Jadi manusia memiliki akal yang lebih kerana tanah memegangnya dan menahannya sementara air menjadikannya lemah-lembut dan mudah. Jin tidak demikian. Akal jin tidak memiliki yang demikian yang boleh membuatnya berpegang kepada sesuatu sebagaimana manusia boleh lakukan. Sebab itu kita katakan, “Si anu ‘ringan’ akalnya dan ‘malap’ fikirannya” bila dia berkelakuan bodoh dan dungu! Ini merupakan sifat jin, dan dengannya jin sesat daripada jalan petunjuk kerana sifat aslinya yang dungu dan kurang kecerdasannya dalam berfikir. Jadi ia berkata,
“Aku lebih mulia daripadanya” (7:12)
dan menggabungkan kejahilan dan akhlak yang buruk kerana sifat dungunya.

[Syaitan pertama dari golongan jin]
Mana-mana jin yang derhaka adalah syaitan, iaitu yang tercampak jauh daripada rahmat Allah. Al-Harith adalah jin pertama yang dipanggil syaitan. Allah menghalaunya dalam keadaan putus asa, iaitu menghalaunya keluar dari rahmat-Nya dan mengharamkan rahmat ke atasnya. Daripadanya cabang-cabang syaitan muncul. Mana-mana jin yang beriman, seperti Hama ibn Alham ibn Laqis ibn Iblis, bergabung dengan jin yang beriman. Mana-mana yang tinggal dalam keingkaran adalah syaitan. Ia hanya merupakan sedikit perselisihan pendapat di kalangan ulama Syariat. Ada yang mengatakan syaitan tidak pernah tunduk, berpandukan daripada apa yang Rasulullah s.a.w katakan tentang syaitan yang menjadi sahabatnya, “Allah berikan daku kekuatan ke atasnya maka dia tunduk (aslama).” Mereka yang mentafsirkan baginda sebagai berkata “aslamu” mengambil kefahaman “Daku selamat daripadanya” dan ia tidak mempunyai jalan ke atasku. Jadi, terjemahannya berbeza. Jika ia diterjemahkan sebagai “aslama” maka ia tunduk. Ia bermakna ia tunduk walaupun ia menjadi musuh maka ia tidak menyuruhku melainkan kepada kebaikan, dipaksakan berbuat demikian oleh Allah dan sebagai perlindungan kepada Rasulullah s.a.w. Yang bertentangan berkata bahawa “aslama” bermakna bahawa ia percaya kepada Allah seperti yang tidak percaya bertukar menjadi Muslim dan beriman. Ini adalah lebih tepat dan diterima.
[Iblis adalah jin celaka yang pertama]
Kebanyakan orang berpendapat al-Harith adalah jin yang pertama, dan ia merupakan jin yang sama kedudukannya dengan jin-jin yang lain seperti umat manusia dengan Adam. Kami tidak berpendapat demikian. Al-Harith adalah salah satu daripada jin, tetapi yang menyamai seperti kedudukan Adam bagi umat manusia adalah jin yang lain. Inilah sebabnya Allah berfirman,
“Iblis adalah salah satu jin” (18:50),
iaitu ia adalah dalam kategori penciptaan ini. Sama juga Qabil adalah salah seorang manusia, tetapi Allah catitkannya di kalangan yang celaka. Dia adalah yang pertama dari kalangan manusia yang celaka, dan iblis adalah yang pertama yang celaka di kalangan jin. Kebanyakan seksaan bagi syaitan bangsa jin di dalam neraka ialah dengan kesejukan yang amat sangat, bukan dengan kepanasan, walaupun mereka mungkin diseksa dengan api. Kebanyakan seksaan untuk keturunan Adam ialah dengan api.
Satu hari aku berjumpa dengan seorang wali yang meracau. Dia menangis dan berkata kepada orang ramai,
“Jangan berhenti dengan perkataan-Nya, ‘Aku akan penuhkan Jahannam dengan kamu’” (38:85)
dan memaksudkannya dengan iblis sahaja. Perhatikan bagaiamana Dia menyampaikan kepada kamu secara tidak langsung bila Dia berfirman, ‘…jahannam dengan kamu.’ Iblis dijadikan daripada api maka dia kembali kepada asal usulnya – semoga Allah melaknatinya! Jika iblis diseksa dengannya, seksaan bagi periuk belangan dengan api adalah lebih lagi, maka ambillah perhatian!
Bila Jahannam disebutkan, wali ini hanya memikirkan api secara khusus, dan lupa akan kenyataan bahawa Jahannam adalah nama bagi kedua-duanya iaitu panas yang bersangatan dan sejuk yang bersangatan. Ia dipanggil jahannam kerana rupanya yang masam (jahama. Jahuma bermakna ‘memiliki rupa yang hodoh’) kerana rupanya yang menimbulkan rasa kebencian. Jaham adalah perkataan bagi awan yang sudahpun mencurahkan air yang dikandungnya. Hujan yang lebat merupakan rahmat Allah. Bila Allah sudah mengeluarkan hujan daripada awan, maka nama jaham digunakan baginya kerana rahmat iaitu hujan yang lebat sudah tiada lagi. Begitu juga, Allah telah menghilangkan rahmat daripada Jahannam yang dibenci menurut pandangan dan lapuran. Ia dinamakan Jahannam kerana ia terlalu dalam. Ada yang mengatakan, “sedalam Jahannam” bila menyatakan sesuatu yang sangat dalam. Kita bermohon kepada Allah Yang Maha Besar agar dikurniakan kepada kita dan sekalian orang yang beriman keselamatan daripadanya!

Penanggung Arasy

Mengenai Penanggung Arasy]
Dengan Allah, Arasy menanggung ar-Rahman, dan mereka menanggungnya -
kenyataan ini mudah dimengerti.
Apakah kuasa yang ada pada makhluk dan apakah kekuatannya
sekiranya bukan kerananya yang akal dan Penyingkapan bawakan?
Tubuh dan roh dan makanan serta kedudukan
tiada apa lagi yang pembahagian aturkan.

Itulah Arasy, seandainya engkau ketahui kemuliaannya!
Yang bersemayam di atasnya dengan nama ar-Rahman yang diharapkan.
Mereka berlapan, dan Allah mengetahui mereka. Kini di sana adalah empat,
dan tiada kesalahan pada mereka:

Muhammad, kemudian Ridwan dan Malik, Adam
dan Khalil (Ibrahim) dan kemudian Jibrail,

Diikuti oleh Mikail dan Israfil. Hanya lapan di sini -
mendapat kekuatan daripada “La ilah illa Llah”.

[Arasy (singgahsana) dalam bahasa Arab]
Semoga Allah membantu wali-Nya! Ketahuilah dalam bahasa Arab singgahsana membawa maksud sesuatu yang menunjukkan kepada kewujudan kerajaan. Dikatakan, “Singgahsana raja diruntuhkan,” bila berlaku kekacauan di dalam kerajaannya. Singgahsana (takhta) juga membawa maksud kerusi. Bila singgahsana dimaksudkan sebagai penunjuk bagi sesuatu kerajaan, pembawanya adalah penanggungnya. Bila singgahsana itu adalah kerusi, penanggungnya ialah kakinya yang menanggungnya, ataupun sesiapa sahaja yang membawanya di atas galas mereka. Bilangan ditentukan bagi penanggung singgahsana Arasy. Rasulullah s.a.w mengatakan ada empat di dalam dunia ini, dan lapan pada Hari Kebangkitan. Rasulullah s.a.w membacakan,
“Pada hari itu lapan akan membawa Arasy Tuhan kamu” (69:17)
dan kemudian baginda bersabda, “Kini mereka adalah empat,” maksudnya dalam dunia ini. Firman Allah, “Pada hari itu mereka menjadi lapan”, bermaksud Hari Kebangkitan.

[Arasy terkandung dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat]
Kami bawakan daripada Ibn Masarra al-Jabali, salah seorang yang terkemuka dalam bidang kerohanian, mengatakan, dan menyingkapkan, “Arasy yang dibawa itu adalah kerajaan. Ia terkandung di dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat. ” Adam dan Israfil dari golongan bentuk; Jibrail dan Muhammad dari roh; Mikail dan Ibrahim dari pembekalan; dan Malik dan Ridwan dari Janji dan Ancaman. Dalam kerajaan itu hanya ada apa yang dinyatakan. Penyuburan, iaitu pembekalan, adalah yang boleh dicapai dengan pancaindera dan juga rohaniah. Apa yang akan kami nyatakan dalam tajuk ini ialah satu cara, yang membawa makna kerajaan, melaluinya segala manfaat berhubung. “Penanggungnya” mengatur mereka yang menjalankan urusan. Satu pengurus dalam bentuk anasir atau bentuk yang bercahaya; satu pengurus dalam bentuk roh; satu pengurus kepunyaan bentuk anasir; satu pengurus adalah roh dan satu diuruskan dan dikuasai oleh bentuk yang bercahaya. Penyuburan adalah kepunyaan bentuk anasir dan penyuburan ilmu dan makrifat roh. Ada darjat kebahagiaan yang boleh dialami oleh pancaindera dengan memasuki syurga dan ada darjat kecelakaan yang boleh dialami oleh pancaindera diperolehi dengan memasuki Jahannam dan darjat ilmu secara kerohanian.
Tajuk ini berdasarkan empat isu. Persoalan pertama ialah bentuk; keduanya roh; ketiga ialah penyuburan; dan keempat ialah darjat, iaitu penghujung. Setiap persoalan ini ada dua bahagian, jadi semuanya menjadi lapan. Mereka adalah penanggung Arasy, iaitu apabila yang lapan itu hadir, kerajaan pun didirikan dan muncul, lalu Raja bersemayam di atasnya.
[Badan yang bercahaya dan Malaikat Utama]
Persoalan pertama menyentuh bentuk dan ia mempunyai dua bahagian: bentuk tubuh beranasir yang mengandungi bentuk tubuh khayali, dan bahagian lain ialah tubuh fizikal yang bercahaya. Kita mulakan dengan tubuh yang bercahaya. Tubuh-tubuh pertama yang Allah jadikan adalah tubuh roh kemalaikatan bergerak dengan cinta dalam keagungan Allah. Ia termasuklah Akal Awal dan Diri Sejagat (Universal) dan tubuh yang bercahaya, diciptakan daripada cahaya keagungan berakhir di sana. Tidak ada daripada malaikat ini yang diciptakan melalui cara lain kecuali melalui Diri (an-Nafs) yang di bawah Akal. Setiap malaikat yang diciptakan selepas malaikat-malaikat ini adalah dibawah taklukan alam semulajadi. Mereka adalah daripada keturunan sfera-sfera yang daripadanya mereka diciptakan dan padanya mereka menghuni. Ia sama juga dengan malaikat anasir. Malaikat darjat terakhir ialah yang diciptakan daripada amalan dan nafas ahli ibadat. Kami akan nyatakannya sedarjat demi sedarjat dalam tajuk ini, Insya’ Allah.
Ketahuilah bahawa telah ada Allah sebelum Dia ciptakan makhluk dan di sana tidak ada masa sebelumnya. Itu adalah ungkapan secara ‘ada-hubungan’ yang menunjukkan perhubungan yang melaluinya matlamat dicapai pada pendengar. Allah berada di dalam ‘ama’ yang di bawah dan di atasnya tidak ada udara. Ia adalah kenyataan Ilahi yang pertama muncul yang dalamnya mengalir cahaya Zat, seperti dijelaskan oleh firman-Nya,
“Allah adalah cahaya langit dan bumi” (24:35).
Bila ‘ama’ itu diwarnai oleh cahaya, Dia bukakan dalamnya rupa malaikat yang terpukau oleh kecintaan yang di atas daripada badan alam semulajadi. Tidak ada singgahsana atau malaikat yang mendahului mereka. Bila Dia bawa mereka kepada kewujudan, Dia berikan mereka kenyataan. Kenyataan itu menjadi tidak kelihatan kepada mereka, dan yang tidak kelihatan itu menjadi roh mereka, iaitu bagi rupa-bentuk itu. Dia berikan kepada mereka kenyataan dalam Nama-Nya, Yang Maha Indah, lalu mereka kehairanan dan kebingungan dengan kecintaan dalam keagungan keindahan-Nya, dan mereka tidak pulih daripadanya.

[Akal Awal adalah Paksi bagi Alam Catatan dan Rakaman]
Bila Allah berkehendak menciptakan alam catatan dan penulisan, Dia khususkan salah seorang daripada malaikat Karubiyun. Ia adalah malaikat pertama daripada cahaya itu yang dinamakan Akal dan Qalam. Ia dikurniakan tajalli dalam tempat di mana ilmu yang dikurniakan menyata menurut kewujudan yang Dia kehendaki terhadap makhluk-Nya, bukan untuk akhiran dan batasan. Dengan zatnya, Akal menerima apa yang sepatutnya dan Nama-nama Ilahi yang yang inginkan kemunculan alam ciptaan. Daripada Akal ini muncul kewujudan lain yang dipanggil Loh. Dia perintahkan Qalam agar turun kepadanya dan mengamanahkan kepadanya hanya apa yang akan berlaku sehingga Hari Kebangkitan. Dia kurniakan kepada Qalam 360 tahun penulisan, iaitu menjadi Qalam. Bermula daripada ia menjadi qalam, Allah kurniakan kepadanya 360 tajalli atau raqa’iq (berus). Setiap tahun atau raqa’iq mengeluarkan 360 jenis ilmu yang lengkap, dan Qalam memperincikannya dalam Loh. Ini meliputi ilmu mengenai alam semesta sehingga Hari Kebangkitan. Loh mengetahuinya apabila Qalam menyerahkan pengetahuan itu kepadanya. Ini adalah sebahagian daripada alam semulajadi, dan ia adalah ilmu pertama yang Loh terima mengenai ilmu yang bersangkutan dengan apa yang Allah kehendaki pada makhluk-Nya. Ini adalah lebih tepat dikira sebagai semulajadi daripada diri. Semua itu berada di dalam alam cahaya yang murni.
[Arasy dan malaikat yang menghuninya]
Kemudian Allah bawa kepada kewujudan kegelapan yang murni yang bertentangan dengan cahaya ini, yang berada dalam keadaan ketiadaan yang menyeluruh bertentangan dengan kewujudan yang menyeluruh. Bila Dia membawanya kepada kewujudan, cahaya itu mengalir ke atasanya dengan pengaliran keluar yang perlu dengan bantuan semulajadi. Maka cahaya memperbaiki keadaannya yang berselerakan dan badan muncul yang ditunjukkan sebagai Arasy. Kemudian nama ar-Rahman bersemayam di atasnya dengan nama, Kenyataan Zahir. Itu adalah kemunculan yang pertama bagi alam ciptaan. Daripada cahaya yang bercampur itu, yang seumpama cuaca subuh, Dia ciptakan malaikat yang mengelilingi Singgahsana itu. Inilah firman-Nya,
“Kamu akan lihat malaikat mengelilingi Arasy sambil membesar dan memuji Tuhan mereka” (39:75).
Mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali mengelilingi Arasy, membesar dan memuji-Nya. Kami telah terangkan tentang penciptaan alam maya dalam buku kami, ‘Uqla al-Mustawfiz. Kami gunakan prinsip berkenaan dalam tajuk ini.

[Kursi dan malaikat yang mendiaminya]
Kemudian Dia bawakan Kursi ke dalam kewujudan Arasy ini dan meletakkan padanya malaikat yang dari jenisnya. Setiap sfera merupakan asas penghuninya yang diciptakan di dalamnya sama seperti anasir yang daripadanya penghuninya diciptakan. Adam diciptakan daripada tanah maka keturunannya menghuni bumi. Dalam Kursi yang mulia ini, Perkataan dibahagikan kepada rakaman dan pengadilan: ini adalah dua kaki yang turun daripada Arasy sebagaimana dinyatakan oleh hadis. Kemudian di dalam Kursi itu Allah ciptakan sfera-sfera, satu di dalam yang lain. Dalam setiap sfera Dia ciptakan alam daripadanya yang mereka diami, yang dinamakan malaikat iaitu utusan. Dia hiaskan sfera-sfera dengan bintang-bintang, dan mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya sehingga Dia ciptakan bentuk benda-benda (muwalladat).
[Roh bentuk yang bercahaya, bentuk khayali dan bentuk anasir]
Bila Allah lengkapkan bentuk-bentuk yang bercahaya dan anasir ini yang tidak mempunyai roh yang tidak kelihatan oleh bentuk-bentuk tersebut, Dia kurniakan kenyataan kepada setiap golongan bentuk-bentuk tersebut menurut asas masing-masing. Roh bentuk-bentuk itu muncul daripada bentuk-bentuk tersebut dan daripada tajalli. Ini merupakan persoalan kedua. Allah ciptakan roh-roh dan perintahkan mereka menguruskan bentuk-bentuk tersebut dan Dia jadikan mereka ghaib, zat yang satu tetapi dijadikan berbeza di antara satu sama lain. Mereka berbeza menurut bentuk yang mereka terima daripada tajalli itu. Bentuk-bentuk itu bukanlah kepunyaan roh-roh secara kenyataannya menurut “di mana berada”. Bentuk-bentuk ini dimiliki oleh roh-roh sebagai kerajaan berhubung dengan bentuk anasir, dan seumpama tempat menyatakan berhubung dengan semua bentuk-bentuk.
Kemudian Allah hasilkan bentuk khayali fizikal melalui tajalli lain di antara lataif (yang seni) dan bentuk, dan bentuk bercahaya dan menyala muncul kepada pandangan dalam tubuh fiikal itu. Bentuk yang dapat ditangkap oleh pancaindera yang menyata itu membawa bentuk maksud dalam bentuk fizikal ini di dalam tidur, selepas kematian dan sebelum dibangkitkan – ia adalah bentuk di antara ruang (barzakh). Ia adalah tanduk cahaya yang atasnya luas dan bawahnya sempit. Bahagian tertingginya ialah ‘ama’ dan bahagian terendahnya ialah bumi. Badan-badan bagi bentuk ini yang mana jin, malaikat dan bahagian batin manusia muncul adalah arah ke luar semasa tidur dan bentuk-bentuk Taman Syurga. Bentuk inilah yang menghuni bumi khayali yang sudah kami katakan dalam tajuk yang sesuai ini.
[Penyuburan roh-roh dan penyuburan bentuk-bentuk]
Kemudian Allah tentukan penyuburan bagi bentuk-bentuk dan roh-roh ini. Ia termasuk dalam persoalan ketiga. Mereka hidup dengan penyuburan itu. Ia mengandungi penyuburan pancaindera dan penyuburan maksud. Penyuburan maksud adalah penyuburan ilmu pengetahuan, tajalliyat dan hal-hal (ahwal) atau suasana. Penyuburan pancaindera sudah diketahui umum. Ia adalah apa yang bentuk-bentuk itu makan dan minum yang membawakan maksud kerohanian, iaitu bakat-bakat. Setiap bentuk, samada yang bercahaya, haiwan atau fizikal, disuburkan oleh apa yang sesuai dengannya. Ia mengambil tempat yang panjang untuk diperincikan di sini.
[Darjat alam dalam kebahagiaan dan kecelakaan]
Kemudian Allah kurniakan kepada setiap alam darjat dalam kebahagiaan dan kecelakaan dan satu setesen; dan perinciannya tidak terhitung. Kebahagiaannya menurutnya: sebahagiannya kebahagiaan nafsu, kebahagiaan kesempurnaan, kebahagiaan kerana dipenuhi, dan kebahagiaan tempat, iaitu Syariat. Kecelakaan adalah seperti itu dalam pembahagian apa yang tidak disetujui oleh nafsu, kesempurnaan, kelakuan (iaitu tidak dipenuhi), dan bukan Syariat. Semua itu boleh ditangkap oleh pancaindera dan akal. Bahagiannya yang ditangkap oleh pancaindera berkait dengan Kediaman kecelakaan, kesakitan pada dunia ini dan alam kemudian, dan berkait dengan Kediaman kebahagiaan bagi kesenangan dalam dunia ini dan alam kemudian. Sebahagiannya murni dan sebahagiannya bercampur. Yang murni berhubung dengan Alam Kemudian. Yang bercampur berhubung dengan Kediaman sekarang. Jadi yang bahagia mungkin muncul dalam bentuk yang celaka dan yang celaka mungkin muncul dalam bentuk bahagia sementara mereka akan menjadi jelas berbeza pada Kediaman Kemudian. Boleh jadi yang celaka menyatakan kecelakaannya dalam dunia ini dan ia berhubung dengan kecelakaan di Alam Kemudian. Begitu juga dengan keadaan bahagia. Walau bagaimanapun, mereka tidak diketahui dalam dunia ini, tetapi mereka menjadi jelas dalam Alam Kemudian:
“Sekarang asingkan diri-diri kamu, wahai mereka yang berdosa, pada hari ini!” (35:59).
Jadi darjat dihubungkan dengan orang berkenaan dengan hubungan yang tidak akan putus ataupun berubah.
[Penanggung Arasy dalam alam ini dan alam kemudian]
Jadi maksud lapan, iaitu jumlah kerajaan ditunjukkan oleh Arasy, sudah dijelaskan kepada kamu. Ini adalah persoalan keempat. Maksud lapan sudah jelas bagi kamu. Lapan ini kepunyaan lapan asbab Ilahi yang melaluinya Allah diceritakan. Mereka ialah: kehidupan, pengetahuan, kuasa, kehendak, pertuturan, pendengaran, penglihatan, dan kesempurnaan kecapan, bau dan rasa dengan sifat yang berhubung dengannya. Pengertian ini mengenai mereka ada hubungan, seperti pendengaran menyaksikan benda-benda yang didengar dan penglihatan menyaksikan benda-benda yang dilihat. Jadi kerajaan itu terkandung di dalam lapan. Empat daripadanya menyata dalam alam ini: bentuk, makanan dan dua darjat itu. Pada Hari Kebangkitan, kesemua yang lapan itu akan kelihatan pada pandangan. Allah berfirman,
“Pada hari itu lapan akan menangung di atas mereka Arasy Tuhan kamu” (69:17).
Rasulullah s.a.w bersabda, “Kini mereka berempat”. Inilah penjelasan mengenai Arasy sebagai Kerajaan.

Bagi Arasy, iaitu singgahsana, ia kepunyaan Allah dan malaikat-malaikat membawanya di atas belakang mereka. Hari ini mereka berempat, dan esok mereka berlapan berhubung dengan tanggungan di bumi yang dikumpulkan. Ia berhubung dengan empat yang menanggungnya kira-kira menyamai apa yang Ibn Masarra katakan. Dikatakan satunya mempunyai rupa manusia, satu singa, satu helang dan keempatnya lembu. Itulah yang dilihat dan dikhayalkan oleh Samiri sebagai Tuhan Musa. Jadi dia bina anak lembu untuk kaumnya dan berkata,
“Inilah Tuhan kamu dan Tuhan Musa” (20:88),
menurut kisahnya. Allah menceritakan yang benar dan memimpin ke jalan yang benar.


  Ilmu : Darjat & Pangkat


Sebab bertambah dan berkurangannya ilmu dan firman Allah,
“Katakanlah:’Wahai Tuhan, tambahkanlah ilmuku!”

dan sabda Rasulullah s.a.w,

Allah tidak menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari dada ulama, tetapi Dia menghilangkannya dengan mematikan ulama.”
Tajalli wujud Yang Haq dalam sfera diri kenyataan bagi berkurangannya ilmu.
Jika seseorang tidak menyedari hal tersebut dengan dirinya
mampukah dia menyaksikan Tuhannya melalui penyelidikan dan pertanyaan?

Seandainya kepelbagaian ilmu lahir dalam diri,
penutupan yang disedari ditetapkan oleh kata-kata tersebut.

Tiada apa kecuali cakra matahari kewujudan muncul
dan cahayanya jatuh ke atas alam arwah.

Yang Asal hanya disaksikan bila ada kenyataan
sekalipun manusia dimusnahkan oleh kekuatan tamak.

Tidak syak lagi pada kenyataan yang aku bukakan
dan ianya bukan gambaran kebohongan yang salah atau dugaan.

[Ilmu: darjat dan peringkatnya]
Ketahuilah bahawa setiap benda yang hidup dan setiap orang dinyatakan oleh pengertian, berada dalam pengetahuan baharu pada setiap nafas menurut pengertian tersebut. Walau bagaimanapun, boleh jadi individu yang menyaksikan itu bukanlah seorang daripada yang berpengetahuan penuh mengenainya. Sebenarnya, ilmu, maka ilmu boleh dinyatakan sebagai berkurangan berhubung dengan orang yang berilmu. Ia terhasil daripada fakta bahawa seharusnya ada pengertian sekiranya penghalang mengganggu di antaranya dan benda-benda yang dia lihat, seperti keadaan orang yang buta atau pekak atau seumpamanya.
Oleh yang demikian ilmu naik dan turun mengikut apa yang diketahui. Kerana itulah apabila himma berhubungan dengan ilmu yang mulia yang melaluinya manusia dinyatakan, dirinya (nafs) dipersucikan dan darjatnya dipertingkatkan. Tahap ilmu yang tertinggi ialah ilmu mengenai Allah. Jalan tertinggi kepada ilmu mengenai Allah ialah ilmu tentang tajalliyat. Di bawahnya ialah ilmu tentang penyelidikan akal (nadhar). Tidak ada ilmu Ilahi di bawah penyelidikan. Ia adalah kepercayaan atau pendapat bagi manusia umum, bukan ilmu.
Ilmu-ilmu ini ialah apa yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya supaya menambahkannya.
Allah berfirman,
“dan jangan terburu-buru dengan Quran sebelum pembukaan kepada kamu selesai dan katakan, ‘Wahai Tuhan, tambahkan bagiku ilmu’” (20:114),
iaitu tambahkan bagiku dengan Perkataan-Mu yang Engkau kehendaki aku mengetahuinya. Di sini pertambahan ilmu ialah ilmu tentang penyingkapan secara perlahan, di luar adab dengan guru yang membawakannya kepadanya daripada Tuhannya. Kerana sebab ini, Dia letakkan ayat ini sesudah perkataan-Nya,
“dan segala muka merendah diri kepada Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri,” (20:111)
iaitu merendah diri. Dia maksudkan ilmu tentang tajalli. Tajalli adalah jalan yang paling mulia bagi memperolehi ilmu – ia adalah ilmu yang dirasai dengan segera.

[Ilmu: bertambah dan berkurangan]
Kami akan nyatakan pertambahan dan pengurangan ilmu dalam tajuk lain, Insya’ Allah. Allah mengurniakan segala-galanya – dan diri (nafs) manusia salah satunya – zahir dan batin. Diri manusia secara zahirnya menyaksikan dengan mata, dan batinnya dengan ilmu. Allah adalah Yang Zahir dan Yang Batin. Adalah dengan-Nya pengertian diperolehi. Bukanlah kuasa sesuatu yang selain Allah untuk menyaksikan sesuatu dengan sendirinya. Dia menyaksikan dengan apa yang Allah letakkan padanya dan tajalli Allah. Sesiapa yang memperolehi tajalli daripada mana-mana alam, baik alam ghaib dan tidak kelihatan, adalah daripada Nama, Yang Zahir. Bagi nama, Yang Batin, sebahagian daripada hakikat hubungan ini ialah tidak pernah ada tajalli dalamnya, tidak dalam alam ini ataupun alam kemudian kerana tajalli menunjukkan kenyataan Allah kepada seseorang yang menerima kenyataan itu. Itu kepunyaan nama Yang Zahir. Hubungan yang mudah difaham oleh akal tidak berubah, sekalipun mereka tidak mempunyai sumber yang melaluinya mereka keluar. Walau bagaimanapun, mereka mempunyai kewujudan yang lojik, maka mereka adalah mudah difahami.
Apabila Allah kurniakan tajalli, samada sebagai kurniaan semata-mata ataupun sebagai jawapan kepada permohonan, tajali itu dikurniakan kepada diri yang zahir, dan pengertian oleh indera berlaku dalam bentuk itu, dan ia mengambil tempat pada ruang antara (barzakh) dan membentuk gambaran. Maka orang yang menerima kenyataan itu akan mendapat pertambahan pengetahuan jika dia seorang ulama dalam Syariat, bertambah pengetahuan dalam kriteria maksud jika dia seorang ahli dialek, dan bertambah pengetahuan dalam ukuran ucapan jika dia seorang ahli bahasa. Ianya menjadikannya pakar dalam setiap pengetahuan mengenai makhluk dan bukan makhluk. Ilmunya bertambah dalam bidang yang dia ceburi.
Mereka yang di atas jalan ini mengetahui bahawa pertambahan ini datangnya daripada tajalli Ilahi kepada kumpulan-kumpulan tersebut, agar mereka tidak dapat menafikan apa yang telah dibukakan kepada mereka. Penangkapan deria orang yang bukan ahli makrifat bertambah dan ia disandarkan kepada pemikiran. Pengalaman bagi yang selain dua ini bertambah tetapi tidak mengetahui yang mereka menjadi bertambah dalam perkara apa. Dalam gambaran
“gambaran mereka adalah seperti keldai yang membawa buku yang tebal. Betapa buruknya gambaran mereka yang menafikan ayat-ayat Allah!” (62:5).
Ayat-ayat itu adalah pertambahan ini dan sumber pertambahannya. Keajaiban diungkapkan bagi mereka yang menyandarkannya kepada pemikiran mereka! Mereka tidak tahu bahawa pemikiran mereka, renungan dan kajian dalam sebarang persolan adalah pertambahan pengetahuan dalam diri mereka yang datangnya daripada tajalli tersebut yang telah kami nyatakan. Pemikir sibuk dengan hubungan pemikirannya dan penghujung pencariannya. Dia terhijab daripada pengetahuan mengenai hal yang sebenar. Pengetahuannya bertambah tetapi dia tidak menyedarinya.

Apabila tajalli berlaku, ianya melalui nama Yang Zahir kepada bahagian batin seseorang. Pengertian berlaku tentang dalaman mengenai alam hakikat dan maksud melepaskan perkara fizikal. Ini ditunjukkan sebagai “catatan-catatan” lantaran catatan-catatan Ilahi tidak mempunyai kekeliruan atau kemungkinan dalam aspek tertentu. Ia hanya berlaku dalam maksud. Maka orang yang ada maksud bebas daripada pemikiran yang berat, dan dalam tajalli dia menjadi bertambah dalam pegetahuan ketuhanan, ilmu tentang rahsia-rahsia dan ilmu tentang batin, dan apa yang berhubungan dengan Alam Kemudian. Ini dititikberatkan oleh mereka yang di atas jalan kami – ia adalah jalan ilmu.
[Ilmu: pengurangannya]
Ilmu boleh berkurangan kerana dua sebab, samada melalui sifat buruk dalam asas organismanya atau ketidak-sempurnaan sampingan dalam bakat yang berhubung dengan itu. Sifat buruk dalam asas organisma tidak boleh diubah, sebagaimana kata al-Khidr tentang seorang kanak-kanak,
“sifatnya ialah ingkar” (18:80).
Ini adalah asas organisma. Bagi ketidak-sempurnaan sampingan, ia boleh hilang – jika ianya dalam bakat itu – dengan ubat. Jika ianya dalam diri, sebagaimana apabila kecintaan kepada kepimpinan dan menurut hawa nafsu mengalih dia daripada menambahkan ilmu yang mengandungi darjat dan kebahagiannya, ini boleh dihilangkan apabila Hakikat menyeru dari dalam hatinya dan dia kembali kepada tafakur yang benar, dan dia mengetahui bahawa dunia ini adalah salah satu pentas bagi pengembara dan jambatan yang perlu diseberangi, dan seandainya manusia tidak menghiaskan dirinya dengan ilmu, kelakuan yang mulia dan sifat-sifat Alam Malakut di sini dalam bentuk penyucian dan pembebasan daripada hawa nafsu yang menghalang dia daripada renungan yang benar, tiada jalan untuknya memperolehi kebahagiaan yang abadi. Maka dia mulakan dengannya. Ketidak-sempurnaan ini juga sebab bagi pertambahan ilmu.

Saya tidak maksudkan apabila ilmu itu berkurangan ia adalah semata-mata kesalahan manusia – kecuali ilmu ketuhanan. Kebenarannya menunjukkan bahawa tidak ada pengurangan sama sekali dan manusia itu sentiasa dan terus menerus bertambah ilmunya dan dalam hubungan apa yang inderanya berikan kepadanya, turun naik suasana dan aliran pemikiran dalam dirinya. Ilmunya bertambah, tetapi tidak ada manfaat dalamnya. Pendapat, keraguan, spekulasi, kejahilan, kelalaian dan kelupaan: semua ini dan perkara-perkara seumpamanya tidak disertai oleh ilmu yang apa yang kamu di dalamnya dalam hubungan pendapat, keraguan, spekulasi, kelalaian atau kelupaan.
[Ilmu tajalli: pertambahan dan pengurangannya]
Bagi pertambahan dan pengurangan ilmu tajalli, manusia itu samada berada dalam salah satu suasana: bagaimana anbia bawakan mereka muncul keluar secara pancaran, atau aulia melalui prinsip menjadi pewaris anbia. Inilah seperti yang dikatakan kepada Abu Yazid al-Bistami apabila jubah perwakilan dipakaikan kepadanya, “Pergilah kepada makhluk-Ku dengan sifat-sifat-Ku. Sesiapa yang melihat kamu melihat Aku!” Tidaka ada apa yang boleh dia lakukan kecuali mentaati perintah Tuhannya. Dia maju selangkah ke arah dirinya dan dia pengsan. Kedengaran jeritan, “Kembalikan Kekasih-Ku kepada-Ku! Dia tidak dapat menahan perpisahan dengan-Ku!” Dia telah larut ke dalam al-Haq, seperti  Abu ‘Iqal al-Maghribi, maka roh-roh diamanahkan dengannya dan sesiapa yang membantunya apabila dia diperintahkan keluar kembalikan dia kepada setesen penyerapan (istihlak) dalam-Nya. Dia dikembalikan kepada Allah dan pakaian rendah hati, kemiskinan, dan kehinaan dipakaikan kepadanya. Hidup ini menggembirakan dan dia menyaksikan Tuhannya dan bertambah dalam keakraban dan memperolehi kerehatan daripada
“amanah yang dipertaruhkan” (33:72)
yang perlu diangkatkan daripadanya.

[Kenaikan (Mikraj) manusia atas Tangga Makrifat]
Sejak saat saat permulaan seseorang itu memulakan tangga kenaikan, dia mempunyai tajalli ketuhanan menurut tangga yang dia daki. Setiap orang dari kalangan ahli Allah mempunyai tangga khusus untuknya yang tidak ada orang lain mendakinya. Jika seseorang boleh mendaki tangga orang lain, maka kenabian boleh diperolehi. Dengan zatnya, setiap tangga memberikan darjat khusus untuk orang yang mendakinya. Sekiranya keadaan sebaliknya, ulama boleh memanjat tangga anbia dan memperolehi kenabian dengan berbuat demikian. Keadaannya tidak demikian. ‘Keupayaan ketuhanan’ akan hilang sekiranya perkara itu berulang. Dalam pandangan kami, ianya sah bahawa tidak ada pengulangan dalam kehadiran itu.
Walau bagaimanapun, semua langkah bagi maksud – anbia, aulia, yang beriman, dan utusan – semuanya sama. Satu tangga tidak mempunyai anak tangga yang lebih daripada tangga lain. Langkah pertama ialah Islam. Ia adalah penyerahan. Langkah terakhir ialah penghapusan (fana) dalam kenaikan itu dan berjalan terus dalam perjalanan keluar itu. Apa yang tinggal ialah di antara dua mereka. Ia adalah iman, ihsan, ilmu, kesatuan sejati (taqdis), ‘tiada-hubungan’ (tanzih), kekayaan, kemiskinan, kehinaan, kekuasaan, perubahan (talwin), penetapan dalam perubahan itu, penghapusan (fana) jika kamu keluar dan berjalan terus jika kamu masuk. Setiap langkah yang dalamnya kamu tinggalkkannya mengurangkan pengetahuan tajalli dalam keseimbangan batin kamu dengan apa yang bertambah pada zahir kamu sehingga kamu mencapai langkah terakhir.
Jika kamu keluar dan mencapai langkah terakhir, maka Dia menyata dengan Zat-Nya dalam zahir kamu menurut nilai kamu dan kamu menyatakan-Nya dalam makhluk-Nya. Dalam batin kamu tidak ada apa lagi yang tinggal dan tajalliyat kebatinan meninggalkan kamu secara keseluruhannya. Apabila kamu dipanggil untuk masuk, panggilan ini adalah langkah pertama yang akan dinyatakan kepada kamu melalui tajalli dalam batin kamu menurut apa yang berkurangan bagi tajalli itu dalam zahir kamu, sehingga kamu mencapai langkah terakhir. Kemudian Dia dinyatakan kepada batin kamu dengan Zat-Nya dan tidak ada tajalli sama sekali tinggal dalam zahir kamu. Sebab bagi yang demikian ialah hamba dan Tuhan terus bersama, setiap satu dengan kewujudan yang sempurna bagi dirinya: hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan, sekalipun berlaku pertambahan dan pengurangan ini.
Inilah sebab bagi pertambahan dan pengurangan ilmu tajalliyat dalam zahir dan batin. Sebab bagi itu ialah peraturan. Inilah sebabnya semua yang Allah ciptakan dan bawakan kepada kewujudan dalam keasliannya adalah komposit (dalam keadaan banyak bahagian tetapi merupakan kesatuan) – ia ada zahir dan batin. Apa yang kami rujukkan sebagai anasir yang mudah (basa’it) adalah perkara yang mudah difahami yang tidak ada kewujudan dalam sumbernya. Setiap benda yang wujud, selain Allah, adalah komposit. Kami ketahui ini melalui kasyaf yang benar yang tidak ada keraguan dalamnya. Ia mewajibkan pergantungan yang sesuai kepada-Nya, kerana ia adalah gambaran yang perlu bagi-Nya.
Jika kamu faham, kami sudah jelaskan jalannya untuk kamu mulakan pendakian bagi diri kamu. Maka mengembaralah! Dan naiklah! Kamu akan lihat dan saksikan apa yang sudah kami jelaskan kepada kamu. Kami telah perincikan langkah-langkah pendakian bagi kamu yang kami simpan bagi kamu dalam nasihat yang berguna apabila Rasulullah s.a.w perintahkan kita melakukannya (dalam hadis). Sekiranya kami ceritakan buah dan hasilnya kepada kamu tanpa perincian jalannya kepada kamu, kami akan membuatkan kamu teringinkan sesuatu yang besar yang kamu tidak ketahui jalan memperolehinya. Dengan yang Esa yang diriku dalam tangan-Nya, ia adalah Mikraj.
“Allah katakan yang benar dan membimbing kepada jalan yang benar”.


Masa Yang Ada Masa Yang Ditentukan


[Mengenai masa yang ada dan masa yang ditentukan]
Bila engkau pastikan bahawa bahan masa
ditentukan dan diketahui melalui ilusi,

Seumpama alam semulajadi dalam memberi kesan kuasanya
Sumber alam semulajadi dan masa adalah tidak wujud.

Perkara-perkara ditentukan dengannya, tetapi ia tidak
mmeiliki sumber yang dengannya ia diputuskan.

Akal tidak mampu menyaksikan bentuknya
kerana sebab itu, kami katakan masa adalah ilusi.

Seandainya bukan kerana ‘tiada-hubungan’, kewujudan Allah tidak akan jadi
ditentukan olehnya. Maka Dia meninggi di dalam hati.

Bila kamu adil dengan akar masa daripada sebelum-masa
keputusannya ialah azali, dan ia dikawal.

Seperti kekosongan yang sambungannya tidak ada kesudahan dalam
badan lain melalui ilusi dan penjelmaan dalamnya.

[Kepertamaan Yang Haq dan Wujud-Nya dan kepertamaan alam maya dan wujudnya]
Ketahuilah, mula-mulanya, bahawa Allah adalah Permulaan dan tiada yang lain mendahului-Nya, dan tiada apa yang bergantung kepada-Nya memiliki kepertamaan tidak juga ada sesuatu yang mempunyai sempadan yang sama dengan-Nya. Dia adalah Esa – maha suci Dia! dalam kepertamaan-Nya. Tidak ada sesuatu yang wujudnya perlu dengan dirinya sendiri melainkan Dia. Dia Kaya dengan Zat-Nya, tidak memerlukan kepada sesiapapun. Allah berfirman,
Allah itu Kaya daripada sebarang keperluan daripada sesiapa” (3:97) melalui bukti lojik dan Syariat.

Jadi wujud alam ini mestilah samada memiliki kewujudannya yang daripada Allah kepada Diri-Nya, atapun perkara tambahan yang bukan Dia kerana, seandainya itu adalah Dia, maka tidak ada tambahan. Sekiranya itu adalah Dia, ia akan menjadi perkara yang kompleks dalam dirinya dan kepertamaan akan menjadi kepunyaan perkara tambahan itu. Kami telah tetapkan bahawa tiada kepertamaan kepada apa sahaja dengan-Nya dan tidak juga sebelum-Nya.
Oleh kerana perkara tambahan itu bukan Diri-Nya, ia mestilah wujud atau tidak wujud. Adalah mustahil ia menjadi tidak wujud. Yang tidak wujud tidak dapat memiliki kesan untuk membawa kepada kewujudan dalam apa yang dinyatakan sebagai tidak wujud, iaitu alam maya. Jadi tidaklah daripada kedua-duanya itu yang lebih memiliki kesan membawa kepada kewujudan melebihi yang satu lagi kerana kedua-duanya adalah tidak wujud. Yang tidak wujud tidak memberi kesan kerana ia tidak ada.
Adalah mustahil ia menjadi wujud. Maka dalam itu ia semestinya samada menjadi wujud dengan dirinya atau tidak. Mustahil wujudnya terjadi dengan dirinya, kerana bukti sudah dinyatakan tentang mustahil di sana ada kewujudan dua yang wujudnya perlu buat diri mereka. Maka hanya tinggal kewujudannya oleh yang lain daripada dirinya, dan tidak ada makna bagi kemungkinan alam maya melainkan kewujudannya adalah oleh yang lain daripadanyha. Jadi ia adalah alam atau daripada alam.
Seandainya kewujudan alam maya ini adalah daripada Allah melalui hubungan tertentu, sekiranya bukan kerana hubungan itu, alam maya ini tidak mungkin wujud. Hubungan itu dipanggil kehendak atau kemahuan atau ilmu atau apa sahaja yang kamu suka daripada kewujudan itu pada keperluan yang harus. Jadi tanpa keraguan Yang Haq lakukan sesuatu melalui hubungan tersebut. Keperluan tidak memberi makna melainkan ini, dan ia adalah mustahil bagi Allah. Allah berfirman,
“Allah Maha Kaya, tidak memerlukan sesiapapun” (3:97).

Sekiranya dikatakan apa yang dimaksudkan dengan hubungan ini sama seperti Zat-Nya, kami katakan benda ini tidak memrlukan dirinya. Dia kaya dengan diri-Nya. Maka yang memerlukan adalah yang tidak berpunya. Semua itu bagi Allah adalah mustahil. Kami nafikan perkara tambahan. Itu memestikan bahawa kewujudan alam maya ini, oleh kerana ia wujud daripada yang selainnya, terikat dengan Keperluan kewujudan dengan Diri-Nya. Adalah mustahil sumber yang harus memebri kesan kepada Keperluan kewujudan melalui Diri-Nya dengan pembawaan-kepada -kewujudan. Perkara ini hanya mampu difahami demikian.
Kehendak, kemahuan, ilmu dan kuasa-Nya adalah Zat-Nya. Allah meninggi atau melampaui dalam Zat-Nya. Sesungguhnya, Dia memiliki kesatuan yang mutlak, dan Dia yang Esa, yang Tunggal, Allah, as-Samad
yang tidak beranak”
yang seharusnya menjadi yang terdahulu
“tidak juga diperanakkan”
yang menjadi hasil,
“dan tiada sesuatu menyamai-Nya” (112:3-4),
maka kewujudan alam maya oleh-Nya adalah daripada dua dasar – daripada Yang Haq dan yang bersamaan. Allah melampaui sesuatu!

Demikianlah Dia nyatakan Diri-Nya dalam Kitab-Nya apabila Rasulullah s.a.w ditanya tentang sifat Tuhannya. Kemudian Surah al-Ikhlas diturunkan dan bebaskannya daripada dipersekutukan dengan yang lain. Allah melampaui penyifatan dan gambaran yang murni itu. Tiada apa yang Dia nafikan atau isbatkan dalam surah ini tetapi pengisbatan atau penafian itu adalah apa yang sebahagian orang katakan tentang Allah.
[Hubungan azali dengan Allah seeprti hubungan masa dengan yang fana]
Kami telah terangkan bagaimana kita wajib berkehendak kepada-Nya – dan Dia adalah allah, maha suci Dia! Kami akan perjelaskan lagi. Ketahuilah hubungan azali dengan Allah adalah umpama hubungan amsa dengan kita. Hubungan azali adalah sifat negatif tanpa sumber. Kewujudan bukan daripada hakikat ini. Jadi masa adalah kepunyaan yang harus dengan hubungan yang kewujudannya ilusi, bukan wujud, kerana dalam hal apa sahaja yang kamu boleh bahagikan, kamu boleh tanya “bila” mengenainya. Bila adalah soalan tentang masa, masa mestilah perkara yang ilusi, bukan wujud. Kerana sebab ini, Allah menunjukkan kepada Diri-Nya apabila Dia berfirman,
“dan Allah mengetahui segala perkara” (33:40)dan kepunyaan Allah segala perintah sebelum dan selepas” (30:4).
Dalam sunnah perkataan penanya disahakan bila dia bertanya, “Di manakah Tuhan kita sebelum Dia ciptakan makhluk-Nya?” Sekiranya masa adalah perkara yang wujud dalamnya, maka Allah yang melampaui pembatasan tidak boleh dipakai kerana prinsip masa mengongkong-Nya. Maka kami perakui bahawa bentuk-bentuk ini tidak ada perkara kewujudan di bawah mereka.

[Masa: mudah difahami dan terbukti]
Kemudian kami katakan manusia mempunyai pendapat yang berbeza tentang ungkapan “masa” dan apa yang difahamkan dengannya dan dibuktikan dengannya. Orang yang bijaksana menggunakannya dalam perkara yang berbeza-beza. Kebanyakan mereka mengatakan ia adalah tempuh ilusi yang disilang oleh pergerakan sfera-sfera. Mutakallimun menggunakannya kepada sesuatu yang lain: perbandingan dalam-masa kepada dalam-masa mengenai sesuatu yang ditanyakan “Bila?” Orang Arab menggunakannya untuk memaksudkan malam dan siang. Ia terkeluar dari tajuk ini. Malam dan siang membahagikan hari. Daripada terbitnya matahari hingga terbenamnya dipanggil “hari siang”, dan daripada terbenamnya hingga terbitnya dipanggil “malam”. Sumber yang dibahagikan ini dipanggil hari. Hari yang diperkatakan ini menyatakan pergerakan yang lebih besar. Ianya hanya dalam kewujudan yang khusus kewujudan Penggerak. ia bukanlah sumber masa. Hasil daripadanya ditujukan kepada masa sebagai perkara ilusi yang tidak ada kenyataan.
Oleh kerana ini sudah dipastikan, yang mudah difahami yang ditentukan ditunjukkan oleh masa yang ada. Dengannya minggu, bulan dan tahun dinyatakan. Mereka dipanggil hari-hari dan ditentukan dengan hari kecil yang biasa yang dibahagikan kepada malam dan siang. “Masa yang ditentukan” adalah apa yang menjadi tambahan kepada hari yang kecil ini yang dengannya semua hari-hari besar ditentukan. Dikatakan,
pada hari yang ukurannya seribu tahun menurut hitungan kamu,” (32:5)
dan
“pada hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun hitungan kamu” (70:4).

[Bagaimana hari dikira pada zaman Dajjal]
Rasulullah s.a.w bersabda,
“Pada hari Dajjal, satu hari seumpama setahun, satu hari umpama satu bulan, dan satu hari umpama satu minggu, dan semua hari-harinya adalah seperti hari kamu.”
Ini mungkin disebabkan oleh ketakutan yang amat sangat. Baginda membuang kesamaran secara zahir pada akhir hadis bila Aisyah berkata, “Bagaimana seseorang lakukan sembahyang pada hari itu?”. Baginda s.a.w menjawab, “Seseorang itu akan tentukan”. Sekiranya bukan kerana perkara itu dalam pergerakan sfera-sfera  masih ada apa yang telah ada tanpa diganggu, ianya tidak sah ia ditentukan dengan jam yang melalui bentuknya orang yang berpengetahuan tentang ini bertindak dan melaluinya mereka tahu masa pada hari yang dipenuhi oleh awan bila matahari tidak terbit.

Pada permulaan kemunculan Dajjal, akan ada banyak awan dan ia akan mengikuti yang lain hingga ke tahap kewujudan siang dan malam kelihatan sama kepada pandangan mata. Itu merupakan sat daripada bentuk yang jarang berlaku akan berlaku pada masa hampit kiamat. Awan-awan yang berbondong-bondong itu akan datang di antara kita dengan langit, tetapi pergerakan langit adalah seperti biasa. Jadi pergerakan akan muncul dalam peekrjaan yang sebenar yang akan diketahui oleh mereka yang bertugas dengan ilmu mengenai kemunculan dan lakaran bintang-bintang. Dengannya mereka tentukan malam dan siang dan jam bagi sembahyang tanpa keraguan.
Jika hari itu yang satu tahun seperti satu hari, ianya tidak diwajibkan bagi kita untuk tentukan sembahyang. Kita menantikan tengahhari menurut matahari. Jika ia tidak turun, kita tidak lakukan smebahyang Zuhur. Jika matahari berhenti dan tidak turun selama dua puluh ribu tahun, Allah tidak mewajibkan kita sesuatu yang lain. Bila Pemberi peraturan perintahkan kita beribadat menurut ketentuan, kita tahu bahawa pergerakan sfera-sfera ada dalam kawasan itu dan strukturnya tidak rosak.
[Satu masa (zaman fard) dan satu jauhar]
Kami telah nyatakan apakah masa itu dan apakah maksud hubungan kewujudannya dan hubungan ketentuan. Di sana ada banyak hari-hari, keduadua-nya kecil dan besar. Yang paling kecil di antara mereka ialah satu masa yang berdasarkan kepadanya muncul
“setiap hari Dia di dalam urusan” (55:29).
Satu masa (zaman fard) dipanggil satu hari kerana “hal” yang diperkatakan mengenainya adalah masa yang paling kecil dan paling halus. Tidak ada sempadan bagi hari-hari yang besar yang padanya ia berhenti. Di antara mereka ialah hari pertengahan, yang pertama ialah hari biasa diketahui umum yang dibahagikan kepada jam. Jam dibahagikan kepada minit dan minit dibahagikan kepada saat dan seterusnya sehingga ke infiniti bagi sesetengah manusia. Mereka bahagikan minit kepada saat. Bila keputusan nombor-nombotr memasuki mereka, keputusannya ialah nombor itu dan nombor tidak berakhir  maka pembahagian juga tiada kesudahan.

Sebahagian manusia bercakap tentang akhiran dalam yang demikian dan melihatnya dalam hubungan nombor. Merekalah yang menyatakan masa ada sumber kewujudan. Semua yang masuk kepada kewujudan sampai kepada akhirannya tanpa keraguan lagi. Yang berlawanan dengan mereka mengatakan “yang dinomborkan” oleh kerana ia dinomborkan, tidak masuk ke dalam kewujudan maka ia tidak digambarkan sebagai pergi kepada akhiran kerana nombor tidak digambarkan sebagai berakhir. Mereka yang menafikan “zat yang satu (satu jauhar)” membawa ini sebagai hujah. Tubuh dibahagikan terus menerus dalam akal. Ianya hanya perkara yang dipertikaikan oleh mereka yang membuat spekulasi yang kurang dalam pertimbangan yang wajar dan penyelidikan dalam apa yang dibuktikan oleh ungkapan. Ianya berhubung dengan hadis yang sahih bahawa masa (dahr) adalah salah satu nama Allah. Keadaan masa yang mudah difahami sudah diketahui umum dan kami akan nyatakannya, Insya’ allah, dalam buku ini. “Allah katakan yang benar dan memimpin ke jalan yang benar”.

Rahsia Syariat dan Nama Ilahi


[Mengenai rahsia Syariat, zahir dan batin, dan Nama Ilahi yang membawanya kepada kewujudan]
Yang Memiliki Keagungan menuntut keagungan daripada Yang Memiliki Keagungan.
Lalu Yang Memiliki Keagungan enggan menyaksikan selain keagungan.

Apabila dia menyaksikan kewujudan keperkasaan Allah,
hamba Allah bermain mata.

Dia sejahtera dengan dirinya
bangga, sombong, meninggi diri, bongkak.
Dia beritahunya tentang Syariat yang dipelihara
lalu kuasanya menghinanya sungguh-sungguh.
Hamba menjerit dengan kehilangan dan kehinaan,
“Wahai Engkau yang keagungan-Mu dimuliakan dan ditinggikan!”
[Nama-nama Ilahi adalah bahasa bagi suasana yang sesuai dengan hakikat-hakikat]
Allah berfirman,
Katakanlah: Sekiranya di bumi ini kedapatan malaikat berjalan dengan aman. Kami tentunya akan utuskan daripada langit kepada mereka malaikat juga yang menjadi Utusan” (17:95)
dan Dia berfirman,
“Kami tidak datangkan hukuman sehinggalah Kami hantarkan Utusan” (17:15).

Ketahuilah bahawa Nama-nama Ilahi mempunyai lidah hal yang sesuai dengan hakikat-hakikat mereka. Penuhilah diri kamu dengan apa yang kamu dengar dan jangan khayalkan yang berbilang-bilang atau perkumpulan yang bebas bertindak sendiri. Dalam tajuk ini banyak daripada hakikat-hakikat yang mampu difikirkan akan disusun menurut hubungan itu, bukan menurut sumber kewujudan. Zat Allah adalah Esa sebagaimana keadaan zat. Daripada pandangan itu kewujudan kita, keperluan dan kemungkinan, kita ketahui bahawa kita mesti ada sesuatu yang harus yang boleh kita pegangi. Dasar yang daripadanya kewujudan kita tuntuti mesti ada beberapa asbab. Nabi memanggil mereka Wahai Nama-nama Yang Paling Indah. Dia memanggil diri-Nya “Berkata-kata” melalui mereka oleh kerana Dia berkata-kata dalam darjat kewujudan bagi Wujud ketuhanan-Nya yang tidak boleh dikongsikan. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Esa. Tiada Tuhan kecuali Dia.
[Pertemuan Nama-nama dalam hadrat Yang Dinamai dan kenyataan keputusan mereka]
Selepas kepastiannya pada permulaan perkara ini dan keutamaan dan penguasaan dalam alam yang mungkin ini, saya katakan bahawa nama-nama dikumpulkan bersama dalam hadrat (kehadiran) yang di Namai. Mereka menyaksikan hakikat-hakikat mereka dan maksudnya dan memintakan kenyataan bagi keputusan mereka agar sumber mereka akan terpisah daripada kesannya. Pencipta adalah Dia Yang Menentukan, Yang Mengetahui, Yang Mentadbir, Yang Membezakan, Yang Membentuk, Yang Memulakan, Yang Mengulangi, Dia yang mengadakan kematian, Yang Mewarisi, Yang Bersyukur. Semua nama-nama Ilahi memandang kepada zat mereka, tetapi tidak melihat apa yang sudah diciptakan, diuruskan, dibezakan atau dibekalkan. Mereka berkata, “Bagaimana ada tindakan kecuali sumber-sumber ini dinyatakan yang dalamnya keputusan kami muncul lalu penguasaan kami menyata?”
Jadi selepas kemunculan sumber bagi alam, Nama-nama Ilahi yang sebahagian daripada hakikat alam tuntutkan mencari perlindungan Nama, al-Bari (Permulaan). Mereka berkata kepada-Nya, “Bolehkah Engkau bawakan kepada kewujudan sumber-sumber ini agar menyata keputusan kami dan penguasaan kami didirikan kerana kehadiran yang kami berada di dalamnya tidak menerima kesan kami?” Al-Bari berkata, “Itu mesti dirujukkan kepada Nama, Yang Berkuasa. Aku di bawah kuasa-Nya”.
[Yang harus dalam suasana mereka yang tidak wujud dan bagaimana sumber mereka muncul]
Asas ini ialah dalam keadaan mereka tidak wujud, ‘yang mungkin’ membuat permohonan kepada Nama-nama Ilahi daripada keadaan kehinaan dan pergantungan. Kata mereka, “Ketidakwujudan membutakan kami daripada pengertian satu sama lain dan kepada mengenali apa yang kami berhutang denganmu. Jika kamu menyatakan sumber kami dan pakaikan kami dengan pakaian wujud, kamu merahmati kami dengannya dan kami akan menanggung kemuliaan dan ketinggian itu kewajipan berhubung dengan kamu. Penguasaan adalah sah bagi kamu dalam kenyataan kami yang sebenarnya. Kini kamu adalah Tuan bagi kami semua melalui kuasa dan keupayaan. Inilah yang kami cari daripada kamu adalah lebih banyak daripadanya dalam hubungannya dengan kami.” Nama-nama menjawab, “Ini, apa ‘yang mungkin’ katakan itu adalah sah.” Mereka bergerak untuk mencari yang demikian.
Kemudian mereka menghadap nama, al-Qadir (Yang Berkuasa). Dia berkata, “Aku di bawah penguasaan Yang Menjadikan. Aku tidak boleh membawa sebarang sumber daripada kamu kepada kewujudan melainkan dengan arahan-Nya. Tidak ada yang mungkin bagi-Ku kecuali perintah daripada Yang Memerintah datang kepadanya daripada Tuhannya. Apabila Dia perintahkannya supaya mengambil bentuk dan berkata, ‘Jadi!’ maka Aku boleh melakukannya dan hubungkannya kepada pembawaannya kepada kewujudan, maka Aku berikannya bentuk dari saat itu. Pergilah kepada nama Yang Menjadikan. Boleh jadi Dia akan berkenan dan jadikan lebih berpengaruh aspek kewujudan di atas aspek tidak wujud. Yang Memerintah, Yang Berkata-kata dan Diri-Ku akan bergabung bersama dan membawa kamu kepada kewujudan.”
Mereka pergi kepada nama, Yang Menjadikan, dan berkata kepada-Nya, “Kami telah bertanyakan nama Yang Berkuasa, untuk membawa sumber kami kepada kewujudan. Dia merujukkan perkara ini kepada kamu. Apakah kata kamu?” Yang Menjadikan berkata, “Yang Berkuasa berkata benar, tetapi aku tidak memiliki berita tentang nama Yang Mengetahui telah putuskan berhubung dengan kamu, samada ilmu-Nya untuk membawa kamu kepada kewujudan sudah mendahului secara khusus ataupun tidak. Aku di bawah penguasaan nama Yang Mengetahui. Pergilah kepada-Nya dan ceritakan hal kamu”.
Mereka kemudian pergi kepada nama, yang Mengetahui, dan menceritakan kepada-Nya apa yang nama, Yang Menjadikan katakan kepada mereka. Yang Mengetahui berkata, “Yang Menjadikan berkata benar. Ilmu-Ku mengenai kamu keluar kepada kewujudan sudahpun mendahului, tetapi adab adalah lebih sesuai. Di sana ada hadrat (kehadiran) yang mengawal kita, dan ia adalah nama Allah. Kita mesti menghadap-Nya, kerana ia adalah kehadiran bagi perkumpulan.”
Semua nama-nama berkumpul dalam kehadiran Allah. Dia berkata, “Apakah keperluan kamu?” Mereka menceritakan kepada-Nya. Dia berkata, ” Aku adalah nama yang mengumpulkan semua hakikat-hakikat kamu. Aku adalah bukti bagi yang dinamakan, dan ianya adalah Zat yang murni yang memiliki sifat kesempurnaan dan ‘tiada-hubungan’ (tanzih). Tunggu sehingga Aku masuk kepada pembuktian-Ku.” Dia pergi kepada pembuktian-Nya dan memberitahu-Nya apakah yang dikatakan oleh ‘yang mungkin’ kepada-Nya dan apa yang nama-nama rundingkan. Dia berkata, “Pergilah dan beritahu setiap Nama itu agar mengikat dirinya kepada apa yang hakikatnya tuntut dalam ‘yang mungkin’ itu. Aku adalah Esa dengan Diri-Ku dalam hubungan Diri-Ku. ‘Yang mungkin’ memerlukan darjat-Ku, dan darjat-Ku memerlukan mereka. Semua Nama-nama Ilahi kepunyaan darjat itu, bukan kepada-Ku, kecuali untuk Yang Esa. Ia adalah Nama khusus bagi-Ku, dan tidak ada yang berkongsikannya dengan-Ku dalam hakikatnya dalam aspek apa sekalipun, samada di kalangan nama-nama, darjat atau ‘yang mungkin’.
[Perseimbangan yang diketahui, had yang ditentukan dan Imam yang dipelihara]
Nama Allah keluar, dan dengan-Nya keluar nama, Yang Berkata-kata, untuk menterjemahkan bagi-Nya kepada ‘yang mungkin’ dan Nama-nama. Dia nyatakan kepada mereka apa Yang Dinamakan nyatakan. Maka Yang Mengetahui, Yang Menjadikan, Yang Berkata-kata dan Yang Berkuasa dihubungkan, dan ‘yang mungkin’ pertama muncul, melalui pilihan Yang Menjadikan dan keputusan Yang Mengetahui.
Apabila sumber dan kesan muncul dalam makhluk, sebahagian mula menekan yang lain dan mengatasi mereka menurut apa yang mereka diasaskan daripada nama-nama dan ini membawa kepada perselisihan dan perbalahan. Mereka berkata, “Kami bimbang susunan kami akan menjadi buruk dan kami akan disatukan dengan yang tidak wujud yang kami berada dalamnya”. ‘Yang mungkin’ mengingatkan Nama-nama tentang apa yang telah diberitahu kepada mereka oleh Nama-nama, Yang Mengetahui dan Yang Mentadbir. Mereka berkata, “Wahai Nama-nama! Jika keputusan kamu di atas perseimbangan yang diketahui, dan had yang ditentukan oleh Penghulu yang kamu rujukkan, kewujudan kami akan dipelihara untuk kami dan kami akan pelihara kesan kamu di atas kami untuk kamu. Itu adalah lebih baik bagi kami dan kamu. Jika tidak, kami akan musnah dan hilang”. Mereka berkata, “Ini adalah pendapat yang berguna dan benar”. Maka mereka lakukan yang demikian. Mereka berkata, “Nama, Yang Mentadbir, adalah yang menentukan hal kamu”. Mereka pergi kepada Yang Mentadbir membawa hal mereka. Dia berkata, “Aku akan lakukannya”.
Dia masuk dan muncul dengan perintah Hakikat kepada Nama, Rab. Dia berkata kepada-Nya, “Lakukan apa yang kemanfaatan perlukan bagi menjadikan sumber kepada yang mungkin ini berkesinambungan”. Dia melantik dua menteri untuk membantu-Nya sebagaimana perintah-Nya. Satu ialah Nama Yang Mentadbir dan satu lagi Nama Yang Membezakan. Allah berfirman,
“Dia mentadbir urusan itu dan membezakan tanda-tanda. Boleh jadi kamu menjadi yakin akan pertemuan dengan Rab kamu” (13:2)
iaitu Imam (Penghulu). Jadi perhatikan betapa bijaknya perkataan Allah bila Dia bawakan ayat menurut suasana yang mewajibkan hal itu didasarkan!

[Polisi (dasar) yang bijak dan peraturan yang lazim]
Nama, Rab, tentukan had bagi mereka dan letakkan peraturan bagi mereka untuk kebaikan kerajaan itu dan sebagai ujian siapakah di antara mereka yang baik amalannya. Allah letakkannya kepada dua lategori. Satu kategori dipanggil polisi yang bijaksana yang Dia letakkan dalam sifat diri-diri mereka yang ternama. Had yang ditentukan dan dan peraturan yang digariskan melalui kuasa yang mereka temui dalam diri mereka dalam setiap bandar, arah dan cuaca, menurut penyusunan tempat itu dan pembawaan mereka perlukan melalui ilmu mereka mengenai apa yang sesuai dengan kebijaksanaan. Mereka panggilnya peraturan (nawamis) yang bermakna “sebab-sebab bagi kebaikan” kerana dalam penggunaan teknikal, Namus adalah yang membawa kebaikan. Pengintai (jasus) adalah yang berurusan dengan kejahatan.
Nawamis adalah peraturan kebijaksanaan yang digubalkan oleh manusia yang bijaksana, datangnya daripada ilham yang dari Allah padahal mereka tidak menyedarinya. Yang demikian adalah bagi kebaikan dunia, peraturannya dan hubungannya dalam tempat-tempat yang Syariat Ilahi tidak sampai, tidak juga ilmu tentang Yang Esa yang menurunkan peraturan ini dan perkara ini membawa hampir dengan Allah, mewarisi syurga atau neraka bukan juga sesuatu daripada asbab Alam Kemudian. Mereka tidak tahu adanya Alam Kemudian dan kebangkitan jasad selepas mati dalam bentuk jasad yang asli dan akan ada makanan, minuman, pakaian, persetubuhan dan keseronokan, dan dalamnya akan ada seksaan dan azab. Kewujudan yang demikian adalah harus, dan ketidak-wujudannya juga harus. Mereka tidak mempunyai bukti yang satu daripada dua itu lebih berat daripada yang satu lagi.
“Mereka melahirkan kependetaan” (57:27).
Oleh sebab itu asas peraturan mereka dan manfaatnya adalah untuk menjadikan faedah terlaksana di sini.

Dalam diri mereka, mereka memiliki ilmu Ilahi: tauhid tentang Allah dan ketinggian serta kemuliaan yang mesti ada dengan-Nya, sifat-sifat tanzih (tiada-hubungan) dan ketidak-wujudan sebarang tara atau persamaan. Orang yang menyaksikan yang demikian dan yang mengetahuinya menceritakannya kepada yang lain. Mereka menggalakkan orang ramai supaya melakukan penyelidikan yang benar dan mengajar mereka bahawa akal, dalam hubungan pemikirannya, ada had yang padanya ia berhenti dan tidak berupaya melepasinya, dan bahawa Allah kurniakan ilham suci kepada hati-hati sebahagian hamba-hamba-Nya yang dengannya Dia ajarkan kepada mereka ilmu yang langsung daripada-Nya agar ia tidak menjadi mustahil bagi mereka. Allah pertaruhkan kepada alam langit perkara-perkara yang dirumuskan melalui adanya kesan mereka pada alam anasir. Dia berfirman,
“Dia bukakan pada setiap langit peraturannya” (41:12).

Mereka mencari hakikat diri mereka melalui apa yang mereka lihat – apabila jasad yang berbentuk ini mati, tidak ada daripada pancaindera yang kurang. Lalu mereka tahu bahawa yang menyaksikan dan yang menggerakkan tubuh fizikal ini adalah unsur lain yang menjadi tambahan kepadanya. Mereka mencari unsur tambahan itu, maka mereka mengenali diri mereka. Kemudian mereka melihat apa yang diketahui sesudah kejahilan. Mereka tahu bahawa sekalipun ianya tubuh yang paling mulia, ianya disertai oleh kemiskinan dan kehilangan. Mereka mencari puncanya dengan penyelidikan, bergerak dari satu benda kepada yang lain. Bila sahaja mereka sampai kepada sesuatu perkara, mereka melihatnya memerlukan sesuatu yang lain sehinggalah pemerhatian membawa mereka kepada sesuatu yang tidak memerlukan apa-apa bukan juga serupa dengan sesuatu yang menyerupai sesuatu dan tidak juga sesuatu menyerupainya. Mereka berhenti padanya dan berkata, “Inilah Yang Pertama”. Ia mestinya Yang Satu dengan zatnya dalam hubungan zatnya, dan kepertamaannya tidak menerima yang kedua, tidak juga keesaan-Nya kerana Dia tidak mempunyai keserupaan dan tidak juga persamaan. Mereka mengesakan-Nya dengan tauhid wujud. Apabila mereka melihat yang demikian, dengan diri mereka, ‘yang mungkin’ tidak memiliki penguasaan dengan zat mereka, mereka tahu bahawa Yang Satu ini memberikan mereka kewujudan. Mereka memerlukan dan bergantung kepada-Nya dan kepada kekuatan-Nya untuk melepaskan daripada mereka semua yang dengannya zat mereka digambarkan. Inilah batas akal (dalam pemikiran).
[Polisi Syariat dan peraturan Ilahi]
Demikianlah kami jelaskan tentang mereka. Apabila seseorang dari kalangan mereka muncul yang mereka anggapkan orang itu tidak mempunyai darjat dalam ilmu untuk mereka percaya, dan mempunyai fikiran yang benar serta perhatian yang wajar, dan kemudian orang itu berkata kepada mereka, “Aku adalah Utusan Aallah kepada kamu,” mereka berkata, “Keadilan lebih sesuai. Lihatlah kepada dasar pengakuan itu. Adakah dia mengaku sesuatu yang mungkin ataupun mustahil?” Mereka berkata, “Sudah teguh pegangan dengan kami bahawa Allah memiliki limpahan suci yang Dia boleh kurniakan kepada sesiapa yang Dia kehendaki sebagaimana Dia limpahkannya kepada roh-roh sfera-sfera dan akal-akal ini. Semuanya berkongsikan kemungkinan. Tidak ada daripada ‘yang mungkin’ itu lebih berhak daripada yang lain dalam apa ‘yang mungkin’. Terpulang kepada kami untuk melihat kepada kebenaran orang yang membuat pengakuan itu atau melihat samada dia berbohong atau tidak. Kami tidak simpulkan salah satu daripada dua pendapat ini tanpa bukti. Ia adalah adab yang buruk dengan ilmu kami”.
Mereka berkata, “Adakah kamu mempunyai bukti tentang kebenaran pengakuan kamu?” Dia membawakan kepada mereka bukti-bukti, dan mereka memerhatikan keterangan dan bukti-buktinya. Mereka memerhatikan untuk mengetahui apakah yang orang ini miliki daripada maklumat-maklumat mengenai hasil pemikiran dan apakah yang dia tidak perakui mengenainya. Mereka mengetahui bahawa sebagaian daripada yang dibukakan dalam setiap langit oleh Yang Esa, yang membukakan pada setiap langit peraturannya, adalah mengenai kedatangan orang ini dan apa yang dia bawakan. Mereka bersegera kepadanya dengan mempercayai dan memperakuinya. Mereka mengetahui bahawa Allah telah memperkenalkannya dengan apa yang Dia telah amanahkan dalam makrifat alam tinggi yang pemikiran mereka tidak sampai. Kemudian Dia berikannya sebahagian daripada makrifat Allah yang mereka tidak miliki.
Mereka melihat bahawa Dia menurunkan ilmu mengenai Allah kepada manusia biasa, pendapat yang lemah, adalah dengan yang demikian sesuai bagi akalnya dalam yang demikian, dan kepada manusia yang berakal cerdas dan pemerhatian yang kuat adalah juga dengan yang demikian sesuai bagi akalnya dalam yang demikian. Mereka tahu bahawa lelaki itu telah menerima wahyu Ilahi yang melampaui  tahap akal, dan bahawa Allah telah mengurniakan kepadanya sebahagian ilmu mengenai-Nya dan kekuasaan keatasnya yang Dia tidak berikan kepada mereka. Mereka memperkatakan nikmat-Nya dan kelebihan yang Dia kurniakan kepadanya melebihi mereka. Mereka percaya kepadanya dan perteguhkan dan mengikutinya. Dia adakan bagi mereka amalan yang membawa seseorang hampir dengan Allah dan dia ajarkan mereka apa yang Allah ciptakan dari yang mungkin yang tidak kelihatan bagi mereka, dan apa yang Dia akan bentukkan dalam mereka pada masa akan datang. Dia ceritakan kepada mereka tentang Dihidupkan-semula, Kebangkitan, Dikumpulkan, Syurga dan Neraka.
[Asas pembentukan Syariat yang suci dalam dunia ini]
Kemudian Rasul-rasul diutuskan silih berganti pada masa dan suasana yang berlainan. Setiap mereka memperakui sahabat mereka. Mereka tidak berbeza sama sekali dalam prinsip asas yang atasnya mereka pegang dan yang mereka tunjukkan, sekalipun perutusan berbeza. Undang-undang Tuhan diturunkan dan perutusan juga diturunkan. Perutusan menurut masa dan suasana sebagaimana firman-Nya,
“Kami tentukan peraturan (Syariat) dan amalan bagi setiap orang daripada kamu” (5:48).
Prinsip asas mereka bersamaan tanpa ada percanggahan dalamnya.

Mereka mengadakan perbandingan di antara risalat nabi yang datang daripada Allah dengan apa yang ahli falsafah tetapkan mengenai peraturan kata-kata falsafah yang mereka anggap sebagai hasil proses pemikiran. Mereka ketahui bahawa perkara ini lebih lengkap dan ia daripada Allah tanpa keraguan. Oleh itu mereka menerima apa yang dia ajarkan kepada mereka daripada alam ghaib dan mereka percaya bahawa kepada Utusan-utusan. Tidak ada dari kalangan mereka yang membantah, tetapi sebahagiannya tidak memberikan keyakinan yang penuh kepadanya dan ilmunya dan mereka
“menurut hawa nafsu” (7:178)
dan melantik pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Mereka jahil tentang diri mereka yang sebenar dan nilainya, dan mereka jahil tentang Tuhan mereka.

Akar dan sebab bagi diturunkan Syariat kepada dunia ini ialah untuk menjadikan dunia ini dalam keadaan sejahtera dan perakuan tentang apa yang tidak diketahui daripada Allah yang tidak diterima oleh akal, iaitu apa yang akal tidak miliki sendirinya dalam hubungan pemerhatiannya. Jadi Kitab diturunkan yang mengandungi ilmu ini, dan lidah Nabi dan rasul membacakannya. Dengan demikian orang yang berakal menegtahui bahawa mereka kekurangan dalam perkara penegtahuan mengenai Allah yang Rasul-rasul memilikinya dengan sempurna.
[Manusia berakal yang sebenarnya dan mereka yang memiliki kekhuatiran,
perselisihan dan perkataan-perkataan]

Dengan menggunakan manusia yang berakal, saya tidak maksudkan mutakallimun hari ini menurut kebijaksanaannya. Yang saya maksudkan ialah sesiapa yang mengikuti jalan Rasulullah s.a.w dengan memerhatikan dirinya, membentuk disiplin diri, bermujahadah, berkhalwat dan persediaan untuk kedatangan waridat yang akan datang ke dalam hati mereka apabila sifat mereka menjadi sebahagian daripada alam atas yang dalamnya pembukaan diberikan dalam langit yang tinggi. Mereka ini, iaitu mereka yang berakal, mengadakan celoteh, ucapan dan perbahasan dengan mereka yang menggunakan fikiran dalam perkara yang diperkatakan yang dikeluarkan oleh yang terdahulu. Mereka tidak melihat perkara itu daripada apa yang orang-orang itu perolehi. Begitulah keadaan kita hari ini, mereka tidak ada nilai dengan sebarang manusia berakal. Mereka memperolok-olokkan dan merendahkan hamba-hamba Allah, dan mereka hanya menghormati orang sama taraf dengan mereka. Kecintaan kepada dunia ini menguasai jiwa mereka, begitu juga cita-cita kepada pangkat dan kedudukan. Allah menghinakan mereka sebagaimana mereka menghina ilmu dan Dia merendahkan mereka. Dia jadikan mereka pergi kepada pintu-pintu raja dan gabernor yang jahil. Raja dan gabernor itu menghina mereka.
Perkataan orang-orang seperti itu tidak penting.
“Allah telah metrikan hati mereka” (7:2),
“jadikan mereka pekak dan adakan tutupan atas pandangan mereka” (47:23)
walaupun mereka mengaku merekalah yang terbaik di dalam dunia ini. Ahli feqah dan mufti yang di dalam naungan Allah adalah lebih baik daripada mereka sekalipun mereka kurang ketelitiannya dalam segala aspek. Orang yang mempunyai keyakinan, sekalipun dia mengambilnya melalui tiruan, berada dalam suasana yang lebih baik daripada mereka yang berakal itu dalam apa yang mereka dakwakan.  Jauh sekali daripada kedudukan seorang yang berakal dengan keadaan mereka yang demikian!

Kami telah menyaksikan sebahagian daripada mereka yang merupakan orang-orang yang paling mengetahui tentang skop Rasul-rasul dan mengikuti sunnah dengan bersungguh-sungguh, dan sangat memelihara Sunnahnya, ahli makrifat mengenai apa yang perlu mengenai keagungan Yang Haq dalam ketinggian, mengetahui apa yang Allah kurniakan kepada hamba-hamba-Nya di kalangan Nabi-nabi dan pengikut mereka dari kalangan aulia di atas jalan mengenali Allah dari arah limpahan suci yang pilihan yang terkeluar daripada pengajaran yang biasa pada jalan pembelajaran dan mujahadah yang akal tidak mampu mencapainya melalui pemikirannya.
Saya dengar salah seorang daripada orang yang terkenal dari kalangan mereka, yang telah menyaksikan sebahagian daripada apa yang Allah telah bukakan kepada saya mengenai ilmu tentang-Nya tanpa pemikiran dan pembacaan. Ianya daripada khlawat khusus yang saya lakukan dengan Allah ketika saya tidak berada bersama-sama mereka yang mencari. Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang mengizinkan daku berada dalam zaman yang dalamnya daku melihat seseorang yang Allah kurnikan rahmat daripada-Nya dan ilmu daripada hadrat-Nya!” Allah kurniakan rahmat kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki nikmat yang luas.
“Allah katakan yang benar dan memimpin kepada jalan yang benar”.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3: ALLAH MELAMPAUI SEGALA SESUATU
Mengenai Allah yang tanzih (putus hubungan) daripada sebarang bentuk tasybih (ada-perhubungan) atau penjelmaan, terkandung di dalam ayat-ayat yang menunjukkan dengan jelas keadaan-Nya di dalam Kitab-Nya atau melalui lidah Rasul-Nya.
“Maha suci Allah dan maha tinggi, melampaui apa yang mereka katakan.” (17:43).

Pada penyaksian hamba terhadap Tuhannya
dalam ketulenan dan putusnya kekuatan
dan ketinggiannya daripada dihubungkan dengan “bagaimana”
atau yang seumpamanya
adalah petanda yang memberikan keputusan muktamad
tentang kedudukan hamba dan pujiannya
keteguhan pengetahuan dan pengesahannya
dan penolakan terhadap tuduhan dan perubahan

[Segala pengetahuan dibekalkan kepada Akal Awal]

Ketahuilah yang menanggung segala ilmu, baik mengenai yang di langit mahupun yang di bumi, adalah Akal yang menerimanya daripada Allah s.w.t tanpa perantaraan. Tiada sebarang pengetahuan mengenai makhluk alam tinggi dan alam rendah tersembunyi daripadanya. Semuanya datang daripada kurniaan dan kemurahan-Nya, dan daripada penerangan-Nya, cahaya-Nya dan ketulenan limpahan-Nya. Akal mempelajari daripada Allah s.w.t dan ia mengajar kepada diri. Diri yang belajar daripada Akal melahirkan tindakan. Ia meliputi sekalian pengetahuan mengenai apa yang berhubungan dengan Akal , iaitu segala yang di bawah daripadanya. Kita disempadani oleh “apa yang di bawah daripadanya” dalam hubungan pembelajaran yang dikatakan. Berhati-hati bila kamu fikirkan, ingatlah Allah s.w.t berfirman, “sehingga Kami tahu” 47:31).
Dia yang mengetahui segala-galanya, oleh itu akuilah sumber segala sesuatu.


[…melainkan dunia yang membingungkan]

Ketahuilah bahawa dunia yang menipu-daya ini tidak mempelajari apa-apa daripada Akal Awal, dan Akal Awal tidak ada kuasa terhadap mereka yang dibingungkan oleh cinta dunia. Mereka dan dunia yang membingungkan itu berada pada taraf yang sama, seperti individu-individu yang keluar daripada kawalan Kutub, walaupun Kutub itu sendiri adalah satu daripada individu-individu. Tetapi Akal dipilih untuk menyampaikan sebagaimana Kutub dipilih bagi pengangkatan di kalangan individu.

[…dan melainkan pengetahuan mengenai tauhid tajrid (pengasingan)]

Prinsip pengajaran Akal kepada apa yang di bawahnya menjadi kenyataan pada semua, bahawa tiap sesuatu ada perhubungan dengan pengetahuan Akal – melainkan bagi ‘tauhid tajrid (tauhid pengasingan)’. Kaedah tauhid tajrid berbeza daripada segala perkara yang diketahui dalam semua hal, kerana dalam kaedah ini tidak ada sebarang hubungan di antara Allah s.a.w dengan ciptaan-Nya, walaupun jika ‘hubungan’ itu digunakan pada hal tertentu sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Abu Hamid al-Ghazali di dalam bukunya dan juga oleh beberapa orang lain. Itu adalah satu gaya penyampaian, dan ianya sangat berbeza daripada kebenaran. Hubungan apakah yang ada di antara sesuatu yang disempadani oleh masa dengan yang melampaui masa. Atau bagaimanakah diadakan persamaan terhadap Dia yang tidak mungkin ada persamaan, dengan sesuatu yang menerima persamaan. Ini adalah tidak mungkin seperti kata Abu’l-‘Abbas ibn al-‘Arif as-Sanhaji dalam Mahasin al-Majalis, “Tidak ada perhubungan di antara Allah dengan hamba kecuali urusan. Di sana tidak ada asbab melainkan keputusan dan tidak ada masa melainkan azali. Apa juga yang lain adalah kegelapan dan kekaburan yang menipu daya.” Satu kelainan mempunyai ‘pengetahuan’ menggantikan ‘kegelapan’. Perhatikanlah betapa unggulnya perkataan ini dan betapa lengkapnya makrifat Allah ini dan betapa tulen musyahadahnya. Semoga Allah mengurniakan faedah kepada kita melalui perkataannya.

[Kelemahan akal dalam mencapai makrifat tentang Allah]

Pengetahuan tentang Allah terlalu sukar bagi keupayaan yang ada pada akal dan diri untuk mengerti, melainkan sekadar pengakuan bahawa Dia wujud dan suci. Akal yang waras mengakui bahawa Allah berlainan daripada apa yang dikatakan tentang-Nya, baik dalam bentuk nyata atau khayalan, dalam apa juga anasir atau apa sahaja. Khayalan tidak sampai kepada kebenaran tentang-Nya. Ungkapan juga tidak mampu menerangkan hal-Nya seperti menerangkan tentang makhluk. Ianya digunakan itu hanyalah untuk memudahkan pendengar memahami akan keteguhan wujud menurut apa yang mampu diterima oleh pendengar, bukan untuk mengemukakan yang sebenarnya tentang Yang Haq. Allah berfirman,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya” (47:19).

Walau bagaimanapun, mengenal Allah adalah fardu bagi kita menurut peraturan Syariat kerana Allah berfirman kepada Rasulullah s.a.w,
“Ketahuilah, bahawa tiada Tuhan melainkan Allah” (47:19).
Dia mengatakan, “Kenalilah Aku melalui perkhabaran daripada-Ku, yang harmoni dengan renungan kamu supaya kepercayaanmu akan melahirkan pengetahuan yang benar, seperti boleh jadi benarnya pengetahuan yang menimbulkan tidak percaya yang datang melalui kepastian”. Jadi, keadaannya adalah demikian.

Oleh kerana sebahagian orang berpandangan dan berpendapat demikian, kita renungkan tentangnya untuk melihat bagaimana makrifat mengenai-Nya boleh dicapai. Kita kaji secara adil dan munasabah. Akal yang sempurna tidak berupaya mencapainya melalui usaha dan ikhtiar yang gigih. Kita hanya mencapai kepada makrifat mengenai-Nya melalui ketidakupayaan untuk mengenali-Nya. Sesuatu yang wujud yang tidak menyerupai sesuatu dan tidak boleh difikir dan dikhayalkan, bagaimana mungkin akal menguasai perkara ini? Hal ini tidak boleh berlaku sekalipun pengetahuan mengenai kewujudan-Nya diyakini sunguh-sungguh. Kita tahu bahawa Dia wujud dan Esa pada Zat-Nya. Ini adalah pengetahuan yang dituntut daripada kita, bukanlah kita mengetahui hakikat Zat-Nya yang Dia ketahui, yang Dia miliki. Ini adalah pengetahuan tanpa pengetahuan, yang dituntut daripada kita. Dia tidak menyerupai sebarang makhluk dalam pandangan akal, dan tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Ia menjadi fardu kepada kita apabila dikatakan kepada kita, “Ketahuilah tiada Tuhan melainkan Allah” untuk mengetahui apakah pengetahuan itu. Kita mempelajarinya dan kita mempelajari apa yang mula-mula difardukan kepada kita untuk mengetahui apakah pengetahuan itu.

[Induk kepada tuntutan ilmu pengetahuan]

Ada empat hujah ilmu: iakah?, apakah?, bagaimanakah?, mengapakah?. ‘Ia?’ dan ‘mengapa?’ adalah tuntutan kerohanian yang satu disusuli oleh apakah ianya. ‘Ia?’ dan ‘mengapa?’ adalah dua sumber bagi anasir yang mudah sementara ‘apakah ianya?’ adalah sesuatu yang boleh dikatakan kompleks. Tuntutan yang empat ini tidak boleh ditanyakan tentang Allah, sesuai dengan kenyataan kerana ianya tidak benar bahawa sebarang pengetahuan tauhid boleh diketahui melainkan melalui penafian pada apa yang wujud kecuali Dia. Oleh itu Dia mengatakan,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya”(41:11)
dan
“Maha suci Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki benteng yang teguh, melampaui apa yang mereka sifatkan”(37:180).

[Pengetahuan tentang penafian adalah pengetahuan tentang Allah]

Pengetahuan tentang penafian adalah pengetahuan tentang Allah. Begitu juga kita tidak dibenarkan bertanya “bagaimana” mengenai roh. Ianya adalah terlalu seni untuk dipersoalkan dan hakikatnya berlainan daripada apa yang diucapkan. Alat bagi pertanyaan yang tidak dapat diajukan kepada roh, tidak boleh juga diajukan kepada Allah. Yang Haq tidak mampu diketahui melalui tuntutan-tuntutan ini.

[Yang kelihatan melalui zat dirinya, yang kelihatan melalui perbuatannya dan yang tidak kelihatan sama sekali]

Jika kita pandang kepada yang selain Allah kita akan temui dua kategori. Kategori pertama adalah yang kelihatan melalui zat dirinya, iaitu sesuatu yang padat dan boleh dicapai oleh pancaindera. Keduanya adalah yang kelihatan melalui tindakannya, iaitu sesuatu yang seni dan dapat ditangkap oleh akal. Yang dapat ditangkap oleh akal lebih tinggi daripada yang dapat ditangkap oleh pancaindera: zatnya terlalu seni untuk menjadikan dirinya kelihatan, tetapi tindakannya ada kenyataan. Keadaan ini adalah keadaan makhluk, Allah bukan makhluk. Dia terlalu murni untuk disaksikan Zat-Nya seperti kategori pancaindera, ataupun tindakan-Nya untuk disamakan dengan kategori seni, kerana tidak ada hubungan langsung di antara-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya. Zat-Nya tidak kelihatan kepada kita untuk menjadikan-Nya seperti makhluk yang dapat ditangkap oleh pancaindera, tidak juga perbuatan-Nya untuk menjadikan-Nya seperti makhluk yang dapat ditangkap oleh akal. Perbuatan Yang Haq adalah permulaan kepada sesuatu bukan daripada sesuatu. Makhluk rohani yang seni memperolehi sesuatu daripada sesuatu. Jadi, apakah hubungan keduanya? Bila hubungan tidak mungkin pada perbuatan, maka semestinya juga tidak mungkin pada zat.

Jika kamu berhasrat untuk mencapai sebahagian daripada kesedaran dalam tahap ini, perhatikan kepada kesan tindakan menurut tahap kesan-kesan tersebut, misalnya kesan kerja-tangan seperti baju dan kerusi. Kita dapati tukang itu tidak dikenali melainkan dia sendiri memberi gambaran akan kewujudannya dan ilmunya mengenai kerja-tangannya. Begitu juga dengan kesan pembentukan makhluk – cakerawala dan bintang-bintang – yang tidak mengenali penggubahnya dan yang membentuknya. Ia adalah Diri Universal yang melingkungi mereka. Begitu juga dengan kesan semulajadi – seperti penghasilan bahan logam, tumbuh-tumbuhan dan haiwan, yang memberi kesan semulajadi yang menjadi sebahagian daripada kesan pembentukan makhluk. Tetapi mereka tidak dapat mengongkong sesuatu yang bertindak bagi mereka, iaitu cakerawala dan bintang-bintang.

Jadi, pengetahuan mengenai cakerawala bukanlah apa yang kamu lihat pada jisimnya dan bukan apa yang kamu saksikan mengenai mereka. Di manakah jisim matahari dalam hubungan dengan dirinya sendiri pada pandangan kita yang melihatnya? Pengetahuan mengenai cakerawala datang daripada roh dan tujuannya yang Allah bawakan kepada kewujudan daripada Diri Universal yang meliputi, yang menjadi asbab bagi cakerawala dan apa yang terkandung di dalamnya.

Begitu juga dengan kesan penjelmaan Diri Sejagat atau Diri Universal, menjelma daripada Akal sebagai Dihya[1}, bentuk yang datang daripada pembentukan Jibrail. Diri Universal tidak mengetahui penjelmaan itu daripada apa kerana ia adalah di bawah jagaannya dan dilengkunginya lantaran ia adalah satu daripada khawatirnya. Jadi, bagaimana Diri Universal tahu apa yang di atasnya sedangkan apa yang pada Diri itu daripada apa yang di atasnya hanyalah apa yang di dalamnya? Ia hanya mengetahui apa yang ada dengannya. Jadi, ia mengetahui dirinya, tetapi tidak penyebabnya!

[1] Dihya al-Kalbi, salah seorang daripada sahabat Rasulullah s.a.w. Jibril pernah berjumpa dengan Rasulullah s.a.w dengan menjelma dalam rupa Dihya al-Kalbi.

Ia juga sama dengan kesan permulaan yang dinamakan Hakikat Muhammadiah, atau ada yang memanggilnya Akal Awal. Ia adalah Qalam Tertinggi yang Allah jadikan daripada tiada. Ia tidak mempunyai keupayaaan dan dihjijab daripada menyaksikan Pembuatnya melebihi daripada kesan yang sudah dinyatakan kerana di antara setiap kesan dan pembuatnya, ada sesuatu hubungan dan persamaan. Jadi, ia tahu mengenainya menurut kadar hubungan di antara mereka, samada dalam bentuk yang nyata atau sebaliknya. Di sana tidak ada hubungan di antara yang pertama diciptakan dengan Yang Hakiki – maha suci Dia! Kesan yang muncul daripada penyebab tidak berupaya mengenali Pembuat atau Penyebabnya. Ketidakupayaan kesan tersebut, yang menyerupai penyebabnya yang aktif dalam beberapa hal, adalah tidak berupaya untuk menyaksikannya dan mengetahuinya. Jadi, fahamilah hal ini dan hayatinya. Ia amat berguna bagi urusan tauhid dan ketidakupayaan untuk menghubungkan pengetahuan yang sementara kepada Allah Yang Maha Besar.

[Lima bakat dan pengertiannya yang sebenar]

Manusia memperolehi segala pengetahuan melalui salah satu daripada lima bakat: deria yang lima – bau, rasa, sentuh, dengar dan lihat. Pandangan menyaksikan warna, benda-benda berwarna dan individu menurut had dan jarak jauhnya. Apa yang dipandang satu batu jauhnya berbeza dengan apa yang dipandang dua batu jaraknya. Apa yang dipandang 20 langkah tidak sama dengan yang satu batu. Apa yang dipandang yang hampir seperti tangan sendiri, tidak sama dengan apa yang dipandang 20 langkah jaraknya. Pada jarak 2 batu disaksikan bentuk individu tetapi tidak dapat dikenali samada ianya pokok atau manusia. Pada jarak satu batu ia dikenali sebagai manusia. Pada jarak 20 langkah dikenali pula samada putih atau hitam. Bila saling berhadapan dikenali dengan pasti samada biru atau biru air laut. Begitulah keadaan semua pancaindera dalam pengertiannya menurut dekat atau jauh

Pencipta tidak dapat ditangkap oleh bakat pancaindera dalam kita cuba mengenali-Nya. Kita tidak boleh mengenali-Nya melalui keupayaan bakat pancaindera. Bakat khayalan hanya menerima apa yang dibekalkan oleh bakat pancaindera, samada gambaran atau bentuk dalam fikiran, daripada apa yang bakat pancaindera bekalkan. Jalan manusia akal dalam menyingkapkan tentang Allah berakhir di sini (melalui bakat khayalan dan fikiran). Ini adalah ungkapan mereka (manusia akal), bukan ungkapan kami. Sekalipun jalan mereka benar, kami sandarkan pendapat tersebut kepada mereka dan ia diungkapkan oleh mereka. Bakat fikiran dan khayalan ini akan berterusan selagi ia menerima persepsi daripada bakat pancaindera (deria). Kami berpendapat apa juga perkaitan deria dengan Allah tidak boleh dijadikan pegangan, begitu juga perkaitan fikiran dan khayalan dengan-Nya.

Bagi kebolehan bertafakur pula, manusia hanya mampu menyatakan perkara-perkara yang ada dengannya, yang dia pelajari dengan derianya, persepsi akal dan daripada jalanan fikiran tentang perkara-perkara yang di dalam bidang imaginasinya sesuai dengan pengetahuan tentang benda-benda tersebut yang padanya dia melihat perhubungan. Di sana tidak ada hubungan di antara Allah dengan ciptaan-Nya. Jadi, pengetahuan mengenai-Nya tidak terpakai melalui cara renungan. Oleh kerana itu orang arif melarang berfikir tentang Zat Allah.

Bagi bakat akal pula, akal tidak berupaya menyaksikan-Nya. Akal hanya mampu menerima apa yang diketahuinya secara spontan atau renungan yang sesuai dengan kita. Fikiran tidak ada keupayaan untuk mengkaji tentang-Nya melalui pemikiran dan renungan, jadi akal bukanlah alat yang sebenar untuk mengkaji mengenai-Nya melalui renungan. Apa juga akal itu hadnya ialah untuk memahami dan mengambil apa yang mampu diperolehinya. Jadi, mungkin Yang Haq akan kurniakan penyingkapan mengenai-Nya dan akal akan faham, tetapi bukan melalui pemikiran. Ini bukanlah mustahil. Allah kurniakan pembukaan ini kepada sesiapa yang Dia kehendaki dari kalangan hamba-Nya. Akal tidak memiliki sepenuhnya persepsi tentang makrifat, tetapi ia menerimanya apabila didatangkan kepadanya. Jadi, tiada pembuktian dan peruntukan didasarkan padanya kerana penyingkapan (makrifat) adalah melampaui persepsi akal.

Sifat-sifat yang wajib tidak boleh dinyatakan kerana ianya melampaui perumpamaan dan ibarat
“Tidak ada sesuatu menyerupai-Nya” (41:11).
Akal yang tidak dibukakan tentang makrifat ini bertanyakan akal lain yang dibukakan sebahagian kepadanya. Tetapi ianya bukanlah di dalam keupayaan akal yang ditanyakan itu untuk menerangkannya, malah ianya adalah tidak mungkin. Sebab itulah Abu Bakr as-Siddiq mengatakan, “Ketidakupayaan memahami itulah pemahaman.” Kenyataan ini ada dua tahap, jadi fahamkanlah. Sesiapa yang mencari Allah melalui pemikiran dan pengkajiannya akan sesat. Walau bagaimanapun, persediaan yang ada dengan akal mungkin mencukupi untuk menjadikannya sebagai bekas yang sesuai bagi menerima apa yang Allah kurniakan kepadanya, fahamkanlah!

Bagi keupayaan mengingat pula, tiada jalan baginya untuk mencapai pengetahuan tentang Allah. Ia mengingati apa yang telah diketahui oleh akal sebelumnya dan kemudian mengabaikannya atau melupakannya dengan tidak disedari. Jadi bakat atau daya ingatan tidak mempunyai jalan kepada-Nya.

Jadi, pengertian manusia terbatas kepada kemanusiaan itu sendiri, apa yang zat dirinya berikan kepadanya dan apa yang dia boleh pelajari. Selebihnya adalah persediaan akal untuk menerima apa yang Allah kurniakan daripada makrifat-Nya. Manusia tidak akan mengenali Yang Haq melalui pembuktian secara logik – melainkan sekadar mengakui Dia Wujud dan Dia adalah Yang Esa yang disembah. Pemikiran manusia tidak berupaya untuk memikirkan sesuatu melainkan perkara yang difikirkan itu sudahpun ada dengannya. Jika tidak kerana itu ia tidak akan memikirkannya sama sekali dan tidak juga mengenalinya. Oleh kerana manusia tidak mengenali sesuatu melainkan dia memiliki sesuatu menyamai perkara yang dikenali itu, sebenarnya manusia hanya mengenali apa yang menyerupainya. Di sana tidak ada sesuatu menyamai Pencipta dan tidak ada apa yang mempunyai sesuatu menyerupai-Nya, jadi Dia tidak akan dikenali.

[Benda-benda alam semulajadi hanya menerima bekalan daripada yang seumpama dengannya]

Sebahagian daripada perkara yang menyokong apa yang telah kami katakan ialah benda-benda semulajadi hanya menerima makanan daripada benda-benda yang daripada jenisnya juga, dan tidak sekali-kali menerima makanan daripada jenis lain. Contoh bagi perkara ini ialah bahan-bahan daripada galian, tumbuh-tumbuhan dan haiwan adalah campuran daripada jenisnya, dan tidak menerima makanan daripada sumber lain. Ini adalah kerana sebahagaian daripadanya adalah untuknya. Jika makhluk mahu membuat makanan untuk tubuhnya, yang terdiri daripada bahan-bahan ini, daripada anasir yang lain daripada bahan-bahan tersebut, atau apa yang dicampurkan daripada yang lain, ia tidak akan dapat melakukannya. Kerana ianya hanyalah mungkin bagi tubuh yang asli menerima makanan daripada sesuatu yang dicampurkan daripada anasir-anasir yang serupa dengannya, jadi adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu melainkan dia memiliki sesuatu menyerupainya.Tidakkah kamu perhatikan diri hanya menerima daripada akal apa yang ia kongsikan dengannya dan apa yang menyamainya? Ia tidak tahu apa yang ia tidak sedikitpun berkongsi dengannya. Tiada sesuatu yang dinisbahkan kepada Allah ada dengan sesuatu yang lain, hal ini tidak mungkin dalam segi apa sekalipun, jadi tiada sesiapa yang mengenali-Nya melalui dirinya dan renungannya. Rasulullah s.a.w bersabda, “Allah terhijab bagi akal sebagaimana Dia terhijab bagi mata. Makhluk alam tinggi mencari-Nya sebagaimana kamu mencari-Nya.” Jadi, Rasulullah s.a.w menceritakan bahawa akal tidak ada pengenalan tentang-Nya melalui renungannya, tidak juga melalui mata dalamnya dan tidak juga melalui mata luarnya. Inilah yang dinyatakan sebelum ini dalam tajuk ini. Segala puji bagi Allah yang mengilhamkan kita dan mengajar kita apa yang kita tidak tahu. Kemurahan Allah maha luas.

[Tanzih ('tiada-hubungan') dan penafian terhadap tasybih (penyifatan dan perhubungan)]

Jadi, pegangan mestilah berkonsepkan ‘tiada-hubungan’ (tanzih) dan ‘penafian’ terhadap penyifatan dan perhubungan. Sesiapa dari kalangan yang menggunakan perhubungan dan menjadi sesat adalah disesatkan oleh pemahaman tentang ibarat dan menggunakan ayat-ayat dan hadis yang tidak difahaminya tanpa melihat kepada aspek tanzih (‘tiada-perhubungan’) yang Allah fardukan. Itu membawa mereka kepada kejahilan yang sebenar dan kesesatan yang nyata. Jika mereka berpegang kepada yang benar dan membiarkan hadis dan ayat-ayat berkenaan tanpa mengubahsuai apa-apa padanya kepada sesuatu yang lain dan menyerahkan pengetahuan itu kepada Allah dan Rasul-Nya dan berkata, “Kami tidak tahu”, itu adalah lebih baik bagi mereka.

Firman Allah semestinya memadai bagi mereka,
“Tiada sesuatu menyerupai-Nya” (41:11).
Bila sesuatu hadis sampai kepada mereka, hadis yang menceritakan tentang perhubungan yang menggambarkan Allah seumpama sesuatu, Dia menafikan persamaan itu dalam hubungan Diri-Nya. Jadi, yang tinggal adalah hadis itu memiliki satu aspek ‘tiada-hubungan’ (tanzih) yang Allah akui dan ia dibawa kepada kefahaman orang Arab yang melalui lidah Arab Quran dibukakan.

Sebenarnya tidak kedapatan satu ungkapan pun di dalam hadis atau ayat yang boleh dijadikan hujah bagi menegakkan pegangan ‘ada-hubungan’. Apa yang ditemui ialah ia menyokong berbagai-bagai aspek, ada yang menunjukkan kepada ‘ada-hubungan’ dan ada yang menunjukkan kepada ‘tiada-hubungan’. Penterjemah ibarat atau misal menggunakan ungkapan berkenaan dengan memaksudkan ‘ada-hubungan’ secara menyalahi maksud sebenar ungkapan tersebut kerana dia tidak memahami kedudukan ungkapan berkenaan menurut kehendak tata-bahasa. Dia telah melanggar peraturan Allah apabila dia meletakkan sesuatu yang tidak benar kepada-Nya. Insya’ Allah, kita akan bawakan sebahagian hadis yang menunjukkan kepada ‘ada-hubungan’ tetapi sebenarnya tidak bermaksud demikian.
“Kepunyaan Allah bukti yang jelas nyata. Jika Dia kehendaki Dia beri petunjuk kepada kamu semua.” (6:149).

[Tasybih ('ada-hubungan') dan penyifatan dalam ungkapan Sunnah]

Contoh yang demikian ialah sabda Rasulullah s.a.w,
“Hati orang mukmin berada di antara dua jari Allah.” (A-Tarmizi).
Akal melihat kepada apa yang diperlukan oleh keadaan sebenar dan kiasan, dan anggota adalah mustahil bagi Allah! ‘Jari’ dalam dalam ungkapan ini boleh difahamkan sebagai anggota ataupun rahmat. Pengembala[2] berkata:
Kelemahan tongkat, dari orang Badwi,
kamu melihatnya atas mereka
bila manusia yang tidak mendapat rahmat berakhir dengan kemarau

[2] ia-itu pengembala yag baik menjaga untanya dengan baik.

Dia mengatakan, “Kamu melihatnya atas mereka” menunjukkan kepada rahmat secara menjaga mereka dengan baik. Bila orang Arab berkata, “Alangkah baiknya jari si anu menjaga hartanya”, ia bermakna hasilnya yang membuat hartanya bertambah lantaran pengurusan yang baik.

Menggerakkan sesuatu benda dengan tepat adalah dengan menggunakan jari kerana saiznya kecil dan sesuai untuk kerja yang demikian. Jadi pergerakannya lebih kemas daripada tangan dan bahagian yang lain. Bila Allah balikkan hati hamba-Nya, ia adalah pergerakan yang tepat. Rasulullah s.a.w sangat memahami tentang orang Arab, dan penyampaiannya adalah dengan cara yang mereka faham. Bagi kita, sesuatu benda digerakkan dengan tangan, baginda menggunakan pergerakan dengan ‘jari’ kerana jari adalah bahagian tangan, dan lebih pantas. Rasulullah s.a.w bermunajat,
“Wahai Yang membalikkan hati-hati, jadikan hatiku teguh di dalam jagaan-Mu!“ (Ibnu Majah).
Allah membalikkan hati-hati bermaksud apa yang Dia jadikan iaitu kecenderungan hati kepada kebaikan dan kecenderungannya kepada kejahatan. Bila seseorang menyedari perubahan dalam hatinya ini bermaksud ‘Allah membalikkan hati’. Pengetahuan manusia tidak berubah daripada dirinya sendiri. Sebab itulah Rasulullah s.a.w mengatakan, “Wahai Yang membalikkan hati-hati, jadikan hatiku teguh di dalam jagaan-Mu!”

Merujuk kepada hadis ini, salah seorang daripada isteri-isteri baginda s.a.w bertanya kepada baginda, “Adakah engkau takut, wahai Rasul Allah?”. Baginda s.a.w menjawab,
“Hati orang mukmin berada di antara dua jari Allah”,
jadi Rasulullah s.a.w menunjukkan kepada kecepatan pertukaran daripada beriman kepada tidak dan apa yang terkandung pada kedua-duanya. Allah berfirman,
“Allah mengilhamkan kepada mereka kejahatan dan kebaikan” (91:8).
Ilham ini adalah pertukaran dan jari-jari itu adalah kecepatannya. Maksud bagi dua (‘dua jari’) adalah kecenderungan kepada kebaikan dan rangsangan kepada kejahatan.

Jadi, ‘jari-jari’ hendaklah difahamkan sebagaimana kami telah terangkan. ‘Jari-jari’; boleh membawa maksud anggota dan boleh juga bermaksud rahmat. Jadi, daripada dua aspek ini yang manakah kamu guna-pakai bagi memenuhi kehendak konsep ‘tiada-hubungan’?Samada kita hanya mendiamkan diri dan membiarkan maksud yang sebenar kepada Allah dan mereka yang Allah bukakan mengenainya – Rasul-rasul-Nya atau wali yang diilhamkan, selagi anggota itu dinafikan, atau mungkin kita dikuasai oleh rasa ingin tahu, walaupun kita menyandarkannya kepada golongan pembaharuan yang mengadakan penyerapan kepada penyifatan. Rasa ingin tahu tidak boleh dijadikan alasan. Setiap orang yang mengetahui berkewajipan memperjelaskan aspek ‘tiada-hubungan’ dalam ungkapan-unkapan berkenaan supaya membatalkan alasan-alasan mereka yang bermain-main dengan istilah. Semoga Allah mengasihani kita dan mereka dan memberikan kepada mereka Islam! Jika kita membincangkan keadaan Allah yang tasybih, penerangannya hendaklah menjurus kepada hal yang sesuai bagi Allah – maha suci Dia! Ini adalah bahagian akal dalam tata-bahasa kesusasteraan.

Tiupan roh ke dalam hati

[Bahagian hati daripada dua jari menurut aspek ghaib]

‘Dua jari’ adalah rahsia bagi kesempurnaan yang perlu yang kerananya apabila ia dibukakan pada Hari Kebangkitan, anak akan menangkap bapanya yang derhaka dan mencampakkannya ke dalam neraka tanpa berasa sedih dan dukacita, semuanya kerana rahsia ‘dua jari’ ini, yang mempunyai satu makna sahaja walaupun perkataannya dua. Syurga dan neraka diciptakan dan nama diterangi ataupun digelapkan, dan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Keras menyata. Janganlah membayangkan ‘dua jari’ ini sebagai dua jari daripada sepuluh jari!

Rahsia ini mesti ditonjolkan dalam bahagian ini. Hadis mengatakan, “Kedua-dua tangan-Nya adalah tangan kanan”. Inilah rahsia penyingkapan makrifat. Ahli syurga mendapat dua nikmat: pertama ialah nikmat syurga dan satu lagi ialah nikmat hukuman terhadap ahli neraka di dalam api neraka. Begitu juga ahli neraka mendapat dua seksaan. Kedua-dua golongan tersebut melihat Allah melalui Nama-nama seperti yang mereka lakukan di dunia. Mengenai ‘dua genggaman’ yang datangnya daripada Rasulullah s.a.w, dalam hubungan dengan Allah ialah rahsia kepada apa yang telah kami nyatakan.
“Allah mengatakan kebenaran dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.(33:4).

Genggaman dan tangan kanan: Allah berfirman,
“Bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya” (39:67)
dan,
“Langit digulung dalam tangan kanan-Nya” (39:67).
Akal haruslah melihat sebagaimana keadaan kehendaki. Allah melarang Dia diadakan persamaan dan penyifatan yang mana akal yang lemah telah berbuat demikian lantaran keliru dengan ayat dan hadis. Kemudian, selepas ‘tiada-hubungan’ (tanzih) di mana mereka yang berakal memahaminya, Allah berfirman,
“Bumi sekaliannya berada dalam genggaman-Nya” (39:67).

Salah satu tata-bahasa Arab yang diketahui, apabila dikatakan, “Si anu berada dalam tangan saya (qabda),” ia bermakna berada di bawah penguasaan, sekalipun saya tidak memegang apa-apa daripada orang itu di dalam tangan saya. Tetapi keputusan saya boleh dikuatkuasakan ke atas orang tersebut, sama seperti keputusan saya terhadap apa yang benar-benar ada dalam tangan saya. Saya katakan, “Harta saya berada dalam tangan saya”, bermakna ia adalah milik saya dan saya berkuasa ke atasnya. Saya boleh menggunakannya mengikut kehendak saya. Apabila saya menggunakannya, pada ketika itu saya boleh berkata, “Dalam tangan saya untuk menggunakan barang ini”, sekalipun ianya adalah hamba saya yang menggunakan barang tersebut dengan izin saya.

Oleh kerana anggota badan adalah mustahil bagi Allah maka akal hendaklah mengubahsuai tanggapannya dan maksud ‘genggaman’ itu. Ia adalah pemilikan yang dikuasai ketika itu, walaupun tidak ada apa dalam genggaman orang itu sebenarnya. Ia adalah pemilikan semata-mata. Alam maya ini berada dalam genggaman Yang Haq. Bumi dan akhirat ditentukan juga sebagai sebahagian daripada milik-Nya, seperti apa yang kamu maksudkan bila berkata, “Hamba saya berada dalam genggaman saya”, walaupun hanya sebahagian sahaja daripada hamba itu dalam genggaman kamu.

Dalam pandangan kami ‘tangan kanan’ adalah tempat bagi urusan mutlak yang kuat. ‘Kiri’ tidak memiliki kekuasaan ke atas ‘kanan’. Jadi, dalam ayat Quran, tangan kanan menunjukkan kepada penguasaan penuh. Ia menunjukkan kepada kekuasaan untuk bertindak. Jadi, makna Quran sampai kepada orang Arab melalui ungkapan yang mereka ketahui dan mudah fahami. Penyair berkata:
Bila panji dikibarkan tanda kemenangan, ‘Araba mengambilnya dengan tangan kanan

Kemenangan bukanlah benda yang nyata, jadi anggota badan iaitu tangan kanan tidak dapat memegangnya. Perkataannya seolah-olah berbunyi: Seandainya kemenangan menampakkan panji yang nyata, tempatnya ataupun orang yang layak membawanya adalah ‘Araba al-Awsi (salah seorang orang Ansar), bermakna sifat kemenangan itu lengkap padanya. Orang Arab masih menggunakan ungkapan yang digunakan kepada anggota sedangkan perkara itu tidak dapat dipegang oleh anggota sebenar kerana maknanya boleh difahamkan.

Tiupan roh ke dalam hati
[Bahagian hati dalam tangan kanan dan kiri: menurut aspek ghaib]

Apabila Yang Haq menyatakan Diri-Nya kepada rahsia (sirr) hamba-Nya yang memiliki semua rahsia-rahsia dimasukkannya ke dalam golongan mereka yang bebas, dan hamba-Nya ini memiliki kebebasan mengambil tindakan yang perlu berhubung dengan tangan kanan. Kemuliaan tangan kiri adalah dengan sesuatu yang lain sementara kemuliaan tangan kanan adalah dengan zatnya sendiri. Kemuliaan tangan kanan adalah secara khitab atau diamanatkan padanya, sementara kemuliaan tangan kiri secara tajalli atau dilekatkan padanya. Kemuliaan seseorang adalah dengan mengenali hakikat dirinya dan menjadi perihatin dengannya, dan ia adalah yang kiri = ‘kedua-dua tangan’ berhubung dengan seseorang adalah kiri sebagaimana kedua-dua bagi Allah adalah tangan kanan!

Berhubung dengan makna penyatuan (ittihad), kedua-dua tangan hamba adalah kanan. Merujuk kepada tauhid, sebelah tangan Allah adalah kanan dan sebelah lagi kiri. Kadang-kadang aku berada dalam ‘persatuan’ dan ‘persatuan pada persatuan’ dan kadang-kadang aku berada dalam keadaan ‘perpisahan’ dan ‘perpisahan pada perpisahan’ menurut suasana warid yang dikurniakan kepadaku.
Satu hari aku temui orang yang dikurniakan nikmat (yaman),
dia adalah Yemeni.
Jika aku temui seseorang yang menjangkau lebih jauh (mu’addhi),
dia adalah ‘Adnani

Kehairanan, ketawa, gembira dan marah.

Kehairanan terjadi daripada sesuatu yang pada mulanya tidak diketahui apakah yang menghairankan itu, dan kemudian dia mengetahuinya dan itu yang membuatnya hairan. Lalu, ketawa berlaku padanya. Ini tidak mungkin bagi Allah. Tidak ada apa yang diluar daripada pengetahuan-Nya, jadi apabila sesuatu berlaku yang membuat kita hairan, kehairanan dan ketawa itu jika ditujukan kepada Yang Esa yang tidak boleh hairan atau ketawa, kerana sesuatu yang kadang-kadang membuat kita hairan dan ketawa, seumpama pemuda yang tidak ada nafsu muda, adalah sesuatu yang menghairankan, tetapi bagi Allah tidak ada kedudukan seumpama apa yang kita hairankan.

Ketawa dan kesukaan datangnya daripada penerimaan dan keseronokan. Jika kamu lakukan sesuatu untuk seseorang, dan kerana itu dia ketawa dan gembira, bermakna dia menerima perbuatan itu dan gembira dengannya. Jadi, ketawa-Nya dan kegembiraan-Nya adalah penerimaan-Nya dan keredaan-Nya terhadap hamba-Nya. Begitu juga, kemurkaan-Nya tidak ada kena mengena dengan keadaan darah mendidih, hati yang mahu membalas dendam, kerana Dia terlalu suci untuk disamakan dengan keadaan pancaindera dan yang mungkin atau tidak mungkin berlaku. Ia merujuk kepada tindakan seseorang yang sedang marah dan dibenarkan untuk menjadi marah. Ia adalah hukuman-Nya kepada orang yang derhaka dan yang menentang perintah dan peraturan-Nya. Allah berfirman, “Dia murka kepadanya” bermakna Dia membalasnya sebagaimana dilakukan terhadap orang yang dimurkai. Jadi Yang Maha Keras itu murka dan kenyataan tindakan itu menunjukkan kepada nama berkenaan.

Senyum adalah sebahagian daripada ketawa. Hadis mengatakan,
“Allah senyum kepada orang yang berjalan ke masjid untuk bersembahyang dan mengingati-Nya”.
Oleh kerana dunia ini ditutup oleh makhluk yang nyata dan dipenuhi oleh yang selain Allah, mereka melakukan tindakan ini dalam keadaan tidak ada kehadiran Allah. Seandainya mereka datang kepada-Nya membawa salah satu daripada berbagai-bagai jenis kehadiran, Allah menghantarkan kepada hati mereka sebahagian daripada rasa kelazatan yang lahir daripada nikmat kehadiran (muhadara) itu, munajat dan musyahadah yang jelira dalam hati mereka. Rasulullah s.a.w bersabda,
“Cinta Allah kepada kesejahteraan yang Dia kurniakan kepada kamu daripada rahmat-Nya.”
Senyuman menggambarkan perbuatan-Nya ini kerana ia adalah kenyataan kepada kegembiraan bila kamu datang kepada-Nya. Bila seseorang memudahkan kamu untuk datang, tanda kegembiraan ialah menunjukkan kebaikan dan kasih sayang kepada kamu dan menghantarkan sebahagian nikmat yang dia miliki kepada kamu. Bila hal yang seperti ini muncul dari Allah kepada hamba-Nya, itu dikatakan ‘senyuman’.

Kelupaan.

Allah berfirman,
“Dia melupakan mereka” (9:67).
Adalah mustahil bagi Allah untuk dihinggapi oleh lalai dan lupa. Tetapi bila Allah hukumkan mereka dengan seksaan yang kekal abadi dan tidak memberikan kepada mereka pengampunan, keadaan mereka yang demikian diistilahkan sebagai dilupakan oleh-Nya, seolah-olah Dia menjadi lupa kepada mereka. Ini adalah perbuatan seseorang yang lupa dan seseorang yang tidak mengingati kesakitan hukuman yang dia sedang jalani. Ia adalah kerana semasa hidupnya di dalam dunia mereka lupa kepada Allah, jadi Dia membalasnya dengan perbuatannya sendiri dan perbuatannya kembali kepada dirinya sendiri sebagaimana wajarnya.

Maksud “Allah lupa kepada mereka” ialah Dia tidak menghiraukan mereka dan maksud “mereka lupa kepada Allah” ialah mereka tidak menghiraukan perintah Allah dan tidak melaksanakannya. Jadi, Allah tidak menghiraukan mereka di dalam api neraka, sementara sebahagian yang lain dikeluarkan-Nya daripada neraka. Hampir dengan yang demikian ialah menggambarkan Yang Haq sebagai mengadakan tipu-daya dan memperolok-olok. Allah berfirman,
“Allah memperolok-olokkan mereka” (9:79), “Allah mengadakan tipu-daya” (3:54)
dan
“Allah akan perolok-olokkan mereka” (2:15).

Nafas:
Rasulullah s.a.w bersabda,
“Jangan mengutuk angin. Ia adalah daripada nafas Yang Maha Pemurah”.
Baginda juga bersabda,
“Aku merasakan nafas Yang Maha Pemurah datang kepadaku dari arah Yaman”.
Semua ini adalah kesenangan (tanfis). Ia adalah seumpama baginda s.a.w mengatakan, “Jangan mengutuk angin. Ia adalah sebahagian daripada apa Yang Maha Pemurah guna bagi menyenangkan (naffasa) atau mengangkat beban hamba-Nya”. Rasulullah s.a.w bersabda,
“kamu dibantu dengan angin timur”.
Ucapan baginda, “Aku merasakan nafas…” bermaksud Yang Maha Pemurah mengangkat daripadaku apa yang mendukacitakan daku. Ini adalah dukacita yang Rasulullah s.a.w rasakan tatkala berhadapan dengan mereka yang menolak seruan baginda dan menolak peraturan Allah. Baginda bersabda, “Dari arah Yaman”, jadi kaum Ansar adalah di dalam golongan yang melalui mereka Allah hilangkan dukacita Rasul-Nya yang disebabkan oleh puak yang menolak seruan baginda s.a.w. Allah Yang Maha Besar tidak terikat dengan nafas dalam bentuk hembusan udara.
“Allah melampaui apa yang mereka sifatkan tentang-Nya!” (17:43).

Bentuk atau rupa (sura).
Bentuk menunjukkan kepada jisim dan apa yang diketahui oleh manusia dan yang lain. Hadis yang menyifatkan bentuk Allah dalam sahih dan kitab-kitab yang lain, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh ‘Ikrima, Rasulullah s.a.w bersabda,
“Aku melihat Tuhanku dalam rupa jejaka tampan”.
Ini adalah suasana Rasulullah s.a.w, dan ia adalah ungkapan yang biasa digunakan dalam bahasa Arab. Ia adalah seperti sabda Rasulullah s.a.w,
“Allah ciptakan Adam dalam rupa-Nya”.

Ketahuilah nilai persamaan yang dibawa oleh Quran adalah istilah bahasa, bukan yang nyata, kerana persamaan yang nyata adalah mustahil bagi Allah. Zaid adalah singa dari segi kekuatan. Zaid adalah Zuhar dari segi puisi. Bila kamu gambarkan sesuatu dengan satu atau dua sifat dan kemudian menggambarkan yang lain dengan sifat tersebut, walaupun terdapat perbezaan yang jelas di antara mereka menurut keadaan yang sebenarnya, mereka memiliki hakikat sifat tersebut. Ini bermakna setiap mereka memiliki rupa bentuk yang lainnya dalam sifat itu khususnya. Jadi, fahamkan dan ambil perhatian!

Perhatikan, nilai-nilai yang ada dengan diri kamu itulah kamu gunakan terhadap-Nya – Maha Suci Dia! Tidakkah kamu ceritakan mengenai sifat-sifat kesempurnaan-Nya melalui nilai-nilai sifat yang ada dengan kamu? Fahamkan! Apabila kamu memasuki pintu yang membuang persamaan, kamu menafikan ketidaksempurnaan yang kamu tidak dibenarkan berbuat demikian, walaupun jika kamu berdasarkan kepada yang demikian sama sekali. Walau bagaimanapun apabila seseorang meletakkan nilai yang demikian kepada dirinya, kamu menafikan penyifatan tersebut. Jika orang tersebut tidak ditutupi oleh bayangan, kamu tidak perlu menafikannya. Ketahuilah sekalipun rupa bentuk itu ada banyak pintu, namun kami tidak menyebutnya kerana kami mahu mengelakkan daripada menjadikan buku ini terlalu panjang.
“Allah mengatakan yang benar dan memberi petunjuk kepada jalan yang benar” (33:4).

Lengan.

Ia berkaitan dengan hadis Rasulullah s.a.w,
“Geraham orang kafir di dalam neraka seperti Bukit Uhud dan kulitnya setebal empat puluh hasta daripada hasta Yang Maha Perkasa”.
Ini adalah penyifatan bagi memuliakan dengan kadar yang Allah sifatkan bagi-Nya. Ia seperti kamu katakan, “Benda ini beberapa hasta raja”, bermaksud hasta terpanjang yang raja lakukan, walaupun misalnya lengan raja sama seperti lengan orang ramai dan hasta orang ramai lebih panjang daripada hasta raja. Dalam kenyataannya bukanlah lengannya, tetapi adalah anggaran pemilikannya dan kemudian dinisbahkan kepada pembuatnya, jadi ketahuilah! Menurut loghat bahasa “Yang Maha Perkasa” adalah Raja Yang Besar.

Begitu juga dengan kaki. “Yang Maha Perkasa meletakkan kaki-Nya (dalam neraka)”. Kaki adalah anggota badan. Dikatakan, “Si anu memiliki kecekapan dalam perniagaan”, bermakna kedudukannya teguh. Kaki adalah nama bersama dalam ciptaan, jadi kaki adalah satu bentuk penyifatan. Yang Perkasa itu adalah malaikat dan kaki itu kepunyaan malaikat kerana yang demikian tidak mungkin bagi Allah!

Bersemayam (istawa) menunjukkan kepada kestabilan, petunjuk dan yang menguasai. Kestabilan adalah salah satu nilai tubuh badan dan yang demikian tidak boleh digunakan bagi Allah! melainkan dalam aspek kestabilan. Petunjuk adalah kehendak dan ia salah satu sifat kesempurnaan. Allah berfirman,
“Dia mengangkat (istiwa) Diri-Nya ke langit,” (3:29),
iaitu bertujuan.
“Dia bersemayam di atas arasy” (7:54)
bermaksud menguasai.

Terdapat banyak kepercayaan dan ayat-ayat, sebahagiannya kuat dan sebahagian yang lain lemah. Tidak ada hadis yang tidak mempunyai aspek tanzih (‘tiada-hubungan’). Jika kamu mahu fahamkan dengan lebih mudah, maka letakkan pada diri kamu ungkapan yang menunjukkan kepada tasybih dan ambillah faedahnya atau rohnya atau apa yang datang daripadanya. Letakkannya dalam apa yang sewajarnya bagi Yang Haq dan kamu akan memperolehi darjat tanzih (‘tiada-hubungan’) tatkala orang lain memperolehi tahap tasybih (‘ada-hubungan’). Jadi, lakukan demikian dan sucikan pakaian kamu! Ini sudah memadai bagi kepercayaan berkenaan kerana tajuknya sudah panjang.

Tiupan Roh Kudus ke lubuk Hati

[Maksud simbolik bagi ungkapan tasybih di dalam Syariat]

“Tiupan roh yang paling suci ke lubuk hati” adalah dalam ungkapan yang terdahulu: bila yang berasa kagum (Raja) kagum terhadap yang muncul daripada bentuk-Nya (Adam), Penciptanya dalam kesedaran batinnya, kegirangan dalam kewujudannya, ketawa dalam penyaksiannya dan murka apabila dia membelakangi, tersenyum bila dia mendekati, melupakan keadaan luarannya dan menarik nafas. Jadi, Dia membiarkan kapal mengambil haluannya dan teguh di atas kerajaan-Nya dan mentadbir kerajaan-Nya dengan kekuasaan. Apa yang Dia kehendaki berlaku dan kembali kepada Allah!

Ini adalah roh-roh yang terasing yang ditunggu oleh bentuk sokongan (ashbah). Bila tiba ketikanya, masa berakhir, langit bergoyang, matahari digulungkan, bumi digantikan, bintang-bintang berguguran, segala sesuatu berubah, Alam Akhirat muncul dan manusia serta yang lain dikumpulkan dalam keadaan asal (Lihat 19:10). Kemudian bentuk-bentuk itu akan memberikan pujian, roh-roh akan bergembira, Yang Membuka akan menyata, pelita akan dinyalakan, arak berkilauan, cinta sejati (wudd) muncul, permohonan menghilang, sayap dikembangkan, dan Qubah [3] didirikan daripada permulaan malam hingga ke pagi. Perhentian yang sangat indah! Betapa gembiranya diri-diri yang dalam keadaan sempurna. Semoga Allah mengizinkan kita menikmatinya!

[3] Baitul Makmur pada langit ke tujuh menyerupai Kaabah pada bumi.


4: PERMULAAN ALAM DAN KEDUDUKAN NAMA-NAMA YANG INDAH

Asbab Kepada Permulaan Alam Dan Kedudukan Nama-nama Yang Indah Dalam Alam Keseluruhannya

Dalam sebab kepada permulaan dan peraturannya,
dan penghabisan pembentukan dan pengertiannya,

Dan perbezaan di antara anasir-anasir tinggi
dalam tempat asalnya dan pemerintahnya,

Bukti yang menunjukkan Pencipta menggubahkan semuanya melalui peraturan-Nya.

[Ketinggian tempat dan kehebatan Syurga]

Wali yang benar telah mengambil pengertian tentang permulaan alam dalam buku kami yang bertajuk, ‘Anqa’ Mughrib fi ma’rifa khatmi’l-awliya’ wa shamsu’l-Maghrib dan dalam buku kami bertajuk Insha’ ad-Dawa’ir yang sebahagiannya kami tulis di rumah sahabat kami yang mulia (Imam Abu Muhammad ÔAbdu’l-’Aziz al-Mahdawi al-Qurashi) sewaktu kami mengunjunginya dalam tahun 598, dalam perjalanan kami mengerjakan hajji. Khadamnya, ‘Abdul-Jabbar (semoga Allah menaikkan darjatnya) menyalinkan untuk tuannya apa yang telah kami tuliskan. Saya telah pergi ke Makkah bersama-samanya dalam tahun itu untuk menyiapkannya di sana. Buku ini (Futuhat) telah menarik kami daripadanya dan daripada yang lain kerana kami diilhamkan untuk menuliskannya, tambahan pula ada saudara-saudara kami dan para fuqara’ meminta kami melakukannya kerana mereka ingin menambahkan pengetahuan mereka dan juga untuk mendapatkan berkat Rumah Suci ini, tempat yang dirahmati, tempat yang membawa petunjuk dan tempat yang kedapatan padanya tanda-tanda yang jelas. Di tempat ini juga kami ingin mengenali seorang suci yang mulia, Abu Muhammad ‘Abdul-’Aziz (al-Mahdawi al-Qurashi), dengan berkat yang diberikan Makkah, dan ia juga adalah cara ibadat terbaik dan tempat yang paling mulia di muka bumi. Barangkali semangat yang lahir daripada rasa kerinduan akan muncul dan keinginan untuk menambahkannya akan turun. Ia dibukakan kepada orang yang “diberikan segala perkataan” dan menyaksikan Tuhannya lebih hampir daripada “kadar dua busur panah”, meskipun dengan anggaran kesempurnaan ini dan bahagian yang penuh,
“Katakanlah, ‘Tuhan menambahkan pengetahuanku.” (20:114)

Sebahagian daripada syarat awal bagi seseorang berilmu yang menyaksikan, iaitu ahli dalam setesen ghaib dan nyata, ialah dia mengetahui bahawa tempat tersebut (Makkah) mempunyai pengaruh yang kuat kepada hati nurani. Jika hati berada di mana-mana tempat di dalam dunia ini, keadaannya menjadi paling mulia dan lengkap di Makkah. Sebagaimana tahap kerohanian berbeza-beza dalam keutamaannya, begitu juga dengan tahap jasmani. Adakah permata sama dengan batu, kecuali ia berada dengan orang tertentu? Seorang ahli pada makam ini yang telah disempurnakan menemui perbezaan pada yang demikian sebagaimana Yang Haq mengadakan perbezaan yang demikian. Adakah rumah yang dibina daripada batu dan jeramai sama dengan rumah yang dibina daripada emas dan perak? Orang arif yang sampai adalah yang menyerahkan segala hak kepada yang berhak. Dia menjadi luar biasa dalam hayatnya dan menjadi orang arif dalam zamannya. Jadi, terdapat perbezaan yang besar di antara kota yang bangunannya adalah yeng menyelerakan nafsu dengan kota yang bangunannya adalah tanda-tanda yang jelas!

Sahabatku bersetuju bahawa kewujudan hati kita pada sesetengah tempat lebih berpengaruh daripada tempat yang lain? Semoga Allah merahmatinya. Dia meninggalkan khalwat di dalam rumah menara yang dijaga, di bahagian timur Tunis dipinggir pantai, dan dia memasuki ar-Rabita ditengah-tengah liang kubur, berhampiran dengan menara itu, pada bahagian yang hampir dengan pintu. Ia dikaitkan dengan al-Khidr. Saya bertanya kepadanya mengenai hal tersebut dan dia berkata, “Aku lebih menemui hatiku di sana daripada di dalam menara”. Saya juga mengalami di sana apa yang Syeikh itu katakan.

Para wali mengetahui bahawa, lantaran seseorang yang mendiami sesuatu tempat, samada yang berkedudukan sebagai malaikat yang mulia atau jin yang ikhlas, atau ia lantaran himmah seseorang yang pernah mengunjungi atau mendiami tempat tersebut – seperti rumah Abu Yazid yang dipanggil “Rumah orang salih”, atau zawiyya al-Junayd di Shuniziyya, atau gua Ibn Adham di Yaqin dan lain-lain tempat, sekalipun orang-orang salih yang berkenaan telah meninggalkan dunia ini namun, kesannya masih kedapatan di tempat berkenaan dan ia mempengaruhi hati nurani. Inilah sebabnya mengapa masjid-masjid memberi kesan yang berbeza-beza kepada hati, tetapi tidak dari segi pahalanya. Kamu lebih menemui hati kamu di masjid tertentu tetapi tidak di masjid lain. Ini bukanlah kerana bumi, tetapi kerana kumpulan jemaah dan keberkatan mereka. Orang yang tidak mendapati perbezaan pada hatinya di antara di masjid dan di pasar hanya memiliki suasana tetapi tidak memiliki makam.

Saya tidak ragui, melalui penyingkapan dan pengetahuan, sekiranya para malaikat dengan pangkat yang berbeza-beza mendiami bumi ini, yang paling tinggi kedudukan mereka dalam ilmu dan makrifat akan mendiami Masjid al-Haram. Keadaan kamu menurut mereka yang kamu jadikan sahabat. Himmah mereka yang dalam satu kumpulan memberi kesan kepada orang yang duduk bersama kumpulan tersebut dan himmah mereka adalah menurut pangkat mereka. Jika persaingan didasarkan kepada himmah, maka 124,000 Nabi-nabi, tidak termasuk aulia, telah tawaf Rumah yang suci itu. Tidak ada Nabi atau wali yang tidak ada himmah dengan Rumah ini.

Kota ini adalah kota suci kerana ia adalah Rumah yang Allah pilih di atas rumah-rumah yang lain. Ia memiliki rahsia sebagai tempat yang pertama dijadikan tempat beribadat seperti Allah katakan,
“Rumah pertama yang didirikan buat umat manusia adalah yang di Bakka, tempat yang dirahmati, dan petunjuk kepada seluruh alam. Padanya terdapat tanda-tanda yang jelas – makam Ibrahim, dan sesiapa memasukinya menjadi aman” (3:97)
daripada segala ketakutan. Banyak lagi ayat-ayat yang lain. Jika orang yang bersih berjalan ke kota suci ini, dia akan mengalami makrifat dan peningkatan yang belum pernah dia saksikan sebelumnya dan tidak pernah terlintas dalam fikirannya.

Diri akan dikumpulkan dalam bentuk ilmunya sementara tubuh akan dikumpulkan dalam bentuk amalannya. Bentuk ilmu dan amalan lebih lengkap di Makkah berbanding dengan tempat-tempat lain. Jika seseorang yang mempunyai hati yang terbuka memasukinya untuk satu jam sahaja, dia akan memperolehi yang demikian. Jadi, betapa banyak yang akan diperolehinya jika dia berada hampir dengannya dan mendiami di sana dan melaksanakan segala tuntutan dan peraturannya? Tidak diragukan bahawa penyaksiannya di sana lebih lengkap dan luhur, dan apa yang dikurniakan kepadanya lebih murni, lazat dan menggembirakan. Sahabatku memberitahuku bahawa dia merasakan penambahan dan pengurangan menurut tempat, dan dia tahu bahawa suasana yang demikian juga muncul daripada keadaan orang yang tinggal di sana atau himmahnya seperti yang telah dinyatakan. Kami tidak meragui kaedah ini, iaitu perakuan terhadap tempat dan daya-rasa yang bertambah dan berkurang muncul daripada kesempurnaan ahli makrifat dalam mengenal, dan ketinggian makam serta kedudukannya daripada yang lain, dan juga kekuatan kearifannya. Semoga Allah menuliskan kebaikan untuk wali tersebut dan mengurniakan kepadanya segala kebaikan lantaran dia telah mendapatkannya dan layak untuk yang demikian.


[Nama-nama Yang Indah dan hakikat kewujudan]

Ketahuilah, semoga Allah memngurniakan kejayaan kepada kita semua, sekalian orang Islam! bahawa kebanyakan mereka yang mengenali Allah dari kalangan mereka ahli kasyaf dan ahli hakikat, tidak memiliki pengetahuan tentang sebab permulaan alam maya melainkan sekadar hubungan Azali dengan keadaannya yang dibawa kepada kewujudan. Allah kurniakan kepada makhluk-Nya apa yang Dia ketahui wajar bagi makhluk-Nya. Di sini, kebanyakan manusia berhenti. Kami, dan mereka yang Allah perkenalkan apa yang Dia perkenalkan kepada kami, telah mencapai hal yang lain. Ini ialah bila kamu perhatikan kepada alam maya secara terperinci dengan kebenaran dan anggarannya, kamu dapati ia terhad dengan peringkat dan tahap yang diketahui, dan golongan yang terbatas dengan benda-benda yang serupa dan tidak serupa. Jika kamu faham perkara ini, kamu ketahui bahawa ia mempunyai rahsia yang seni dan perkara yang ajaib di mana hakikatnya tidak dapat disaksikan dengan jelas melalui fikiran dan penyelidikan. Sebaliknya, ia adalah satu daripada ilmu diberikan melalui kasyaf dan hasil daripada mujahadah yang disertai oleh himmah (semangat yang tinggi). Mujahadah tanpa himmah tidak menghasilkan apa-apa, tidak juga memberi kesan kepada ilmu, tetapi ia memberi kesan kepada keelokan dan kesucian yang dirasai oleh orang bermujahadah itu.

Ketahuilah, semoga Allah mengajarkan kepada kamu rahsia pengertian dan mengurniakan kepada kamu semua perkataan! bahawa Nama-nama Yang Indah, yang di atas daripada nama-nama yang boleh dihitung dan membawa turun kebahagiaan di bawah nama-nama yang dihitung itu, mempunyai kesan kepada alam maya. Mereka adalah ‘kunci-kunci pertama’ yang hanya Dia mengetahuinya. Setiap yang nyata dalam kewujudan memiliki salah satu daripada nama-nama yang khusus baginya. Yang nyata yang dimaksudkan ialah yang mengumpulkan bersama golongan daripada perkara-perkara yang nyata tersebut. Tuhan bagi hakikat tersebut ialah nama dan hakikat itu adalah hamba-Nya dan di bawah penguasaan-Nya. Hanya itu sahaja.

Jika sesuatu mengumpulkan beberapa nama bagi kamu, perkara itu bukanlah seperti yang kamu bayangkan. Kamu perhatikan kepada benda itu, kamu dapati ia mempunyai ciri-ciri yang bersesuaian dengan apa yang ditunjukkan oleh nama berkenaan, iaitu hakikat yang kami nyatakan. Itu adalah seperti apa yang telah diperakukan bagi kamu di dalam ilmu yang di dalam akal luaran dan di bawah penguasaannya menurut keadaan sesuatu yang satu dan tidak boleh dipecahkan – seberti anasir yang satu (jauhar) yang merupakan bahagian yang tidak boleh dipecahkan. Sekalipun demikian, jauhar ini mengandungi berbagai-bagai hakikat yang memerlukan sebanyak itu juga Nama-nama Ilahi. Hakikatnya ia dibawa kepada kewujudan dengan memerlukan nama Yang Maha Berkuasa. Dalam aspek kerapiannya ia memerlukan nama Yang Maha Mengetahui. Dalam aspek kuasa memilih ia memerlukan nama Yang Membentuk. Dalam aspek yang membawanya menjadi nyata ia memerlukan nama Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha Melihat, dan lain-lain. Walaupun bahan ini adalah satu, ia mempunyai aspek-aspek ini dan aspek yang lain yang kami tidak nyatakan. Setiap aspek mempunyai banyak aspek yang memerlukan nama yang berpadanan. Aspek-aspek itu adalah hakikat dan mereka bukanlah yang utama pada pandangan kami dan ianya sukar untuk memegangnya dan lebih sukar untuk memperolehinya melalui kasyaf.


[Wadah Nama-nama Ilahi]

Ketahuilah kami tidak akan menyentuh Nama-nama dengan kepelbagaiannya bila kami melihat kepada aspek yang diperlukan oleh makhluk di dalam alam. Bila kita tidak melihat kepada yang tersebut, kita melihat wadah yang dituntut oleh ilmu yang diperlukan dan kami mendapati bahawa Nama-nama yang menjadi wadah yang mereka berdiri di atasnya adalah juga wadah bagi Nama-nama itu. Jadi, ia mudah untuk diperhatikan, melengkapkan tujuannya dan ia mudah untuk pergi melepasi wadah-wadah ini kepada cabang-cabangnya, sebagaimana mudah untuk kembali daripada cabang kepada wadah itu. Jika kamu perhatikan kepada semua Nama-nama yang diketahui di bumi dan di langit, kamu akan dapati tujuh nama ditujukan kepada Sifat-sifat oleh mereka yang mengetahui ilmu Kalam yang membicarakan mengenainya. Kami telah bincangkan perkara ini dalam buku kami bertajuk Insha’ ad-Dawa’ir.

Matlamat kami dalam buku ini bukanlah tujuh wadah yang dirujukkan kepada Sifat ini, tetapi tujuan kami ialah wadah-wadah yang perlu bagi membawa alam ini kepada kewujudan yang nyata. Sama juga, kami tidak memerlukan pembuktian akal tentang Yang Haq melebihi kenyataan bahawa Dia wujud, mengetahui, berkuasa, mencipta, hidup. Tidak ada yang lain diperlukan. Tidak ada yang lebih daripada ini dipertanggungjawabkan. Rasulullah s.a.w telah membuat kita mengakui bahawa Dia Berkata-kata. Fardu membuat kita mengakui bahawa Dia mendengar, melihat dan seterusnya sebagaimana dinamakan. Apa yang kita perlukan di sini untuk mengenali nama-nama adalah bagi kewujudan alam maya ini. Nama-nama ini adalah Tuan bagi Nama-nama dan semua nama-nama lain adalah di bawah jagaan mereka seperti mana sebahagian daripada tuan-tuan ini menjaga sebahagian yang lain.

Wadah bagi Nama-nama Ilahi adalah: Yang Hidup, Yang Mengetahui, Yang Berkehendak, Yang Berkata-kata, Yang Pemurah, Yang Adil. Ini adalah cabang bagi dua Nama Ilahi: Yang Mentadbir dan Yang Membahagikan. Yang Hidup menentukan kefahaman kamu selepas dan sebelum kamu wujud. Yang Mengetahui menentukan keteguhan kamu pada wujud kamu, dan sebelum wujud kamu menentukan ketetapan kamu. Yang Berkehendak menentukan pilihan kamu. Yang Berkuasa menentukan ketidakwujudan kamu. Yang Berkat-kata menentukan keabadian kamu. Yang Pemurah menentukan kedudukan kamu yang dibawa kepada kewujudan. Yang Adil menentukan pangkat atau kedudukan kamu. Pangkat atau kedudukan adalah yang terakhir bagi peringkat kewujudan.

Hakikat-hakikat ini mesti wujud, dan nama-nama mereka yang menjadi Tuan-tuan adalah juga perlu. Yang Hidup adalah Tuan kepada Tuan-tuan dan rakyat. Ia adalah Penghulu atau Imam. Yang kedua kedudukannya ialah Yang Mengetahui, kemudian Yang Berkehendak, kemudian Yang Berkata-kata, kemudian Yang Berkuasa, kemudian Yang Pemurah, dan yang akhirnya Yang Adil. Ia adalah Tuan kepada segala pangkat atau kedudukan dan peringkat kewujudan yang terakhir. Baki nama-nama yang lain adalah di bawah kekuasaan Penghulu-Tuan-tuan.


[Penghulu (Imam) kepada Nama-nama Ilahi]

Nama-nama tersebut menyerahkan Nama-nama yang selebihnya dengan hakikat-hakikat mereka kepada nama Allah dalam membawa alam maya kepada kewujudan. Menurut kenyataan bahawa Imam-imam kepada nama-nama, tanpa mengambil kira alam maya, hanyalah empat – Yang Hidup, Yang Berkata-kata, Yang Mendengar dan Yang Melihat – bila Allah mendengar tutur-kata-Nya dan melihat Zat Diri-Nya, Wujud-Nya adalah sempurna dalam Zat-Nya (tanpa mengambil kira alam maya). Kami hanya maksudkan nama-nama yang dengannya alam maya didirikan. Kami mempunyai banyak nama-nama, jadi kami serahkan kepada tuan mereka dan datang kepada mereka dalam kehadiran mereka dan hanya menemui apa yang telah kami nyatakan. Kami sampaikan menurut apa yang kami saksikan. Jadi, inilah sebabnya tuan-tuan kepada nama-nama itu menyerahkan nama-nama yang lain kepada Allah bila asal usul kita dibawa kepada kewujudan.

Yang pertama mengadakan tuntutan terhadap alam maya ini ialah Nama Ilahi, Yang Mentadbir (al-Mudabbir) dan Nama Ilahi, Yang Membahagikan (al-Mufassil) diatas kehendak nama Raja. Kemudian dua nama ini menghadap kepada benda-benda yang daripadanya misal wujud dalam alam maya ini sendiri tanpa ia terlebih dahulu tidak-wujud, tetapi lebih tepat daripada peringkat yang terdahulu, bukan kewujudan yang terdahulu – seperti terbit matahari mendahului permulaan siang. Sekalipun kita hubungkan permulaan siang dengan terbitnya matahari, ia adalah jelas bahawa sebab bagi kemunculan siang ialah terbitnya matahari yang menemaninya dalam kemunculannya. Beginilah duduk perkaranya.

Kemudian dua Nama Ilahi ini mentadbirkan alam maya ini dan membahagikannya tanpa didahului oleh kejahilan mengenainya ataupun kurang pengetahuan mengenainya. Jadi, bentuk yang digubah itu muncul di dalam alam maya itu sendiri. Kemudian, Nama-Nya, Yang Mengetahui, dihubungkan kepada model (misal) tersebut sebagaimana ia dihubungkan kepada bentuk yang daripadanya diambil, walaupun jika ianya tidak dilihat kerana ia tidak wujud seperti yang akan dinyatakan dalam tajuk ini. “Daripada apakah alam maya ini wujud?”


[Permulaan nama-nama bagi alam maya]

Permulaan nama-nama bagi alam maya ialah dua Nama Ilahi ini: Yang Mentadbir dan Yang Membahagi. Nama Yang Mentadbir ialah yang merealisasikan masa yang ditentukan untuk membawa kepada kewujudan. Nama Yang Berkehendak berhubung dengannya menurut kadar yang Yang Mentadbir membawanya keluar dan mentadbirnya. Kedua-dua nama ini tidak melakukan apa-apa dalam penciptaan misal ini tanpa penyertaan nama-nama yang lain, tetapi daripada belakang tirai dua nama ini. Jadi kedudukan sebagai Penghulu adalah wajar buat mereka, sementara yang lain tidak menyedarinya sehinggalah bentuk misal (model) muncul. Kemudian mereka menyaksikan di dalam hakikat-hakikat ianya bersesuaian dengan mereka, dan yang demikian menerbitkan rasa kasih terhadapnya. Jadi setiap nama melahirkan rasa kasih pada hakikatnya yang wujud dalam Misal itu, tetapi ia tidak dapat memperolehi sebarang kesan dalamnya kerana ia tidak dibenarkan oleh kehadiran yang misal ini menyatakan dirinya. Oleh itu, cinta dan kasih itu membawa mereka kepada pencarian, usaha yang gigih dan keinginan untuk membawa bentuk itu kepada kewujudan supaya kuasa mereka boleh menyata dan kewujudan mereka menjadi sah dalam kenyataan. Tidak ada yang memiliki himmah yang lebih tinggi daripada yang berkuasa yang tidak mendapati seseorang yang berkuasa untuk dikuasai dan meletakkannya di bawah kekuatannya agar kekuasaan kekuatannya akan menjadi sah – atau seseorang yang kaya yang tidak menemui seseorang yang yang memerlukan hartanya! Ia sama dengan semua nama-nama ini. Jadi, nama-nama yang lain berlindung di bawah Tuan mereka, Penghulu Yang Tujuh yang telah dinyatakan, memohon mereka membawa sumber misal ini yang mereka lihat pada zat seseorang yang mengetahui kepada kewujudan. Inilah yang ditunjukkan sebagai alam maya.


[Nama-nama Ilahi berada dalam kesatuan berhubung dengan Zat, berpisah berhubung dengan 'ada-hubungan']

Ada orang yang mungkin bertanya, “Wahai yang mengenal! Bagaimanakah Nama-nama Ilahi yang lain melihat misal ini sedangkan kenyataannya hanya Yang Melihat melihatnya dan setiap Nama Ilahi memiliki hakikat yang nama lain tidak miliki?” Kita boleh menjawabnya. Semoga Allah kurniakan kejayaan kepada kamu! Kamu patut tahu bahawa setiap Nama Ilahi mengandungi semua Nama-nama Ilahi dan setiap nama digambarkan oleh semua nama pada ufuknya. Setiap nama itu hidup, berkuasa, mendengar, melihat, berkata-kata dalam ufuknya dan dalam pengetahuannya. Jika tidak bagaimanakah setiap Nama Ilahi menjadi Tuan kepada sesuatu yang berkhidmat kepadanya? Sungguh tidak munasabah! Betapa jauhnya daripada kesan yang nyata!

Walau bagaimanapun, di sana ada petunjuk seni yang kebanyakan orang tidak menyedarinya. Ia adalah bahawa kamu mengetahui dengan yakin yang setiap biji gandum atau yang seumpamanya mengandungi hakikat yang tidak dimiliki oleh saudaranya, sebagaimana kamu tahu yang benih ini tidak sama dengan benih yang lain, walaupun mereka memiliki hal yang sama ataupun mereka serupa. Jadi carilah kenyataan atau hakikat ini yang membuatkan kamu membezakan dua benih tersebut dan mengatakan, ” Yang ini tidak sama dengan yang itu”. Hal ini benar bagi semua perkara yang serupa dalam hal yang menyerupakan mereka itu. Ia juga sama dengan Nama-nama Ilahi: setiap nama mempunyai hakikat yang nama itu kandungkan. Kemudian kamu ketahui nama ini bukanlah nama yang lain secara nilai seni (latifah) yang kamu gunakan bagi membezakan biji-biji gandum dan setiap yang serupa. Jadi, carilah makna ini sehingga kamu mengenalinya melalui zikir, bukan melalui renungan.

Walau bagaimanapun, saya ingin membawakan kepada kamu tentang hakikat yang tidak dibentangkan oleh sesiapapun sebelum ini. Boleh jadi ianya tidak dibukakan atau diperjelaskan dan saya tidak tahu samada ianya akan diberikan kepada sesiapa sesudah saya atau tidak daripada kehadiran yang memberikannya kepada saya. Jika ianya dibaca dan difahami melalui buku saya, maka saya adalah yang pertama mengajar mengenainya sementara mereka yang terdahulu tidak menemuinya. Ianya ialah Nama-nama Ilahi, seperti yang kami nyatakan, mengandungi hakikat bagi nama-nama tersebut sementara latifah ini wujud yang memberikan kepada kamu perbezaan di antara dua benda yang serupa. Bagi nama Yang Pengampun dan Yang Menghukum, iaitu Yang Zahir dan Yang Batin, setiap nama ini mengandungi apa yang dikandungi oleh penjaga-penjaganya, daripada permulaannya hingga ke akhirnya. Walau bagaimanapun, Tuan bagi Nama-nama tersebut dan nama-nama yang lain ada tiga martabat. Sebahagiannya berhubung dengan darjat Tuan Nama-nama tersebut, sebahagiannya memiliki darjatnya sendiri, sebahagiannya dihubungkan dengan darjat Yang Memberi Rahmat, sebahagiannya dihubungkan kepada darjat Yang Memberi Hukuman. Nama-nama ini adalah nama-nama alam maya yang dihitungkan, dan Allah jualah Penolong!


[Nama Allah Yang Teragung]

Kemudian semua nama-nama merujuk kembali kepada Penghulu-penghulu dan Penghulu-penghulu merujuk kembali kepada nama Allah dan nama Allah merujuk pula kepada Zat kerana ia merdeka daripada nama-nama, dan memohon bantuan dalam apa yang dipinta oleh nama-nama tersebut. Jadi, “Yang Pemurah, Yang Penyayang” mengabulkannya dan berkata, “Berbicaralah dengan Penghulu-penghulu yang berhubung dengan urusan membawa alam kepada kenyataan menurut hakikat-hakikat mereka.” Nama Allah keluar kepada mereka dan mengkhabarkan kepada mereka berita tersebut dan mereka sukacita, gembira dan ceria dan mereka masih demikian. Mereka memandang kepada kehadiran yang dinyatakan dalam Tajuk Enam dan membawa alam maya kepada kewujudan yang nyata sebagaimana yang kami akan nyatakan dalam tajuk berikutnya, Insya’ Allah.
“Allah mengatakan yang benar dan memimpin kepada jalan yang lurus” (33:4)

06. Permulaan ciptaan rohani
[Mengenai permulaan ciptaan rohani]

Siapakah yang pertama wujud dalamnya? Daripada apa ia wujud? Dalam apa ia wujud?
Bagaimanakah keadaan kewujudannya? Apakah matlamatnya?

Mengenai alam semesta dan bahagian-bahagianya.

Perhatikah kewujudan yang rapi ini
wujud kita umpama jubah yang digubah.

Perhatikan khalifah-khalifah-Nya dalam kerajaan mereka
mereka yang berbahasa Arab dan tidak berbahasa Arab

Tidak ada di antara mereka yang menyintai Allah tanpa mencampurkanya dengan kecintaan kepada wang.

Ia dikatakan: Ini adalah hamba kepada makrifat
dan inilah hamba syurga dan mereka yang menjadi hamba Jahannam

Melainkan sebahagian kecil daripada mereka yang mabuk dengan Dia
tanpa rangsangan khayalan.

Mereka adalah hamba Allah yang tiada siapa mengetahuinya kecuali Dia,
bukan hamba kesenangan.

Dia biarkan mereka mendapat laba daripada setiap ilmu yang kelam
bila Dia mahu mereka kembali ke istana mereka.

Pengetahuan yang terdahulu adalah dalam anasir-anasir sahaja,
dan asas daripadanya tidak berkurangan.

Kenyataan bagi kata penerangan ialah yang menyingkapnya daripada yang menyerupainya,
dan keserupaan ini tidak disembunyikan.

Dan pengetahuan mengenai asbab
yang dengannya sumber alam wujud dalam jenis yang paling lama.

Dan penghabisan perkara yang tiada kesudahan menyaksikan baginya
dalamnya ialah Yang Paling Perkasa.

Ilmu-ilmu mengenai sfera kewujudan, besar dan kecil,
adalah hanya untuk mereka yang tidak menemui kesilapan.

Ini adalah ilmu orang yang mengenali penyingkapan mereka,
dan ia memandu hati ke jalan yang lurus.

Segala puiji bagi Allah yang memiliki segala ilmu
dan mengetahui apa yang tidak diketahui.


[Keterangan Ringkas]

Permulaan ciptaan adalah habuk (haba’) yang halus, dan yang pertama wujud dalamnya ialah Hakikat Muhammad daripada ar-Rahman. Ia tidak terkandung dalam mana-mana tempat kerana ia tidak dikandung. Daripada apakah alam muncul kepada kewujudan? Ia muncul kepada kewujudan daripada hakikat yang diketahui yang diterangkan sebagai bukan wujud dan bukan juga tidak wujud. Dalam apakah ia wujud? Ia wujud dalam habuk yang halus. Bagaimanakah keadaan kewujudannya? Ia wujud dalam bentuk diketahui dalam diri Hakikat. Mengapa ia wujud? Ia wujud bagi menyatakan hakikat-hakikat Ilahi. Apakah matlamatnya? Matlamatnya ialah untuk menjadi campuran yang murni, supaya setiap alam akan mengenali bahagiannya daripada asal tanpa campuran. Jadi, matlamat alam ialah menyatakan hakikat-hakikatnya (ia-itu hakikat-hakikat bagi Yang Haq ataupun hakikat-hakikat penciptaan), dan mengenali sfera-sfera alam semesta daripada alam ini. Dalam penggunaan orang sufi, ia adalah apa yang selain manusia. Jenis alam semesta yang kecil, iaitu manusia, adalah roh, punca dan asbab bagi alam ini. Sfera-sfera alam adalah setesen-setesennya, pergerakan-pergerakan dan pengasingan kedudukannya. Ini adalah ringkasan yang terkandung dalam tajuk ini.


[Manusia adalah alam kecil]

Sebagaimana manusia adalah alam kecil secara jasadnya, maka dia tidak boleh diambil kira lantaran dia berada pada masanya. Menyerupai hal ketuhanan adalah layak baginya kerana dia adalah Khalifah Allah dalam dunia ini dan dunia ini di bawah penguasaannya, taklukan hal-hal ketuhanan sebagaimana manusia adalah taklukan hal-hal ketuhanan.

Ketahuilah pembentukan manusia yang paling sempurna adalah dalam dunia ini. Di akhirat, setiap manusia berada dalam salah satu golongan berdasarkan suasana kesaksamaan, bukan ilmu. Setiap golongan mengetahui suasana yang berlawanan dengannya. Jadi, manusia samada beriman atau kufur. Ianya samada kebahagiaan atau kesengsaraan, sejahtera atau seksa. Jadi pengenalan pada dunia ini lebih lengkap walaupun kenyataan (tajalli) di akhirat lebih luhur dan suci. Jadi, fahamkanlah! Bukakan kunci ini! Dalam setesen ini, kita memiliki simbol sesiapa yang cerdik dan ianya adalah ungkapan yang buruk dan memalukan yang maksudnya adalah elok dan belum pernah berlaku sebelumnya.


[Roh alam semesta adalah alam kecilnya]

Roh kewujudan yang besar adalah kewujudan yang kecil ini

Jika tidak kerana itu, Dia tidak akan berkata,
“Aku Maha Besar, Maha Berkuasa.

“Ruang masa-Ku tidak seharusnya menghijab kamu tidak juga kebinasaan dan tidak juga kebangkitan.
“Jika kamu renungkan tentang-Ku, Aku adalah Yang Meliputi, Yang Maha Besar,

“Wujud-Ku adalah dahulu-kala, dan yang baharu adalah kenyataan.”
Allah Esa, tidak dikongkong oleh masa. Kekurangan tidak menyentuh-Nya.

Makhluk yang nyata adalah ciptaan baharu yang di dalam genggaman-Nya.

Daripada ini ia menyatakan bahawa Aku adalah wujud yang tidak boleh diperhitungkan,
dan setiap kewujudan berkisar di sekeliling wujud-Ku.

Tidak ada malam seperti malam-Ku dan tiada cahaya seperti cahaya-Ku
jadi jika ada yang mengatakan aku seorang hamba, maka aku adalah hamba yang hina.

Atau jika dia mengatakan aku wujud, maka aku adalah Wujud Yang Mengenal.

Istiharkan satu kerajaan buatku dan kamu akan menemui ku atau orang kebanyakan,
selagi kamu tidak melanggar batasan.

O kamu jahil tentang kuasa-Ku! Adakah kamu mengetahui, melihat?

Kewujudanku menceritakan tentang ku, walaupun ucapan boleh jadi benar dan bohong.

Katakan kepada umat kamu: Aku adalah Yang Mengasihani, Yang Mengampun.

Katakan: Hukumanku adalah hukuman yang membinasakan.

Katakan: Aku lemah, tidak berupaya, seorang tawanan.
Jadi bagaimana ada yang dirahmati atau dihapuskan oleh tangan ku?


[Huraian secara lebih panjang lebar mengenai tajuk ini.]
(Daripada Allah datangnya bantuan dan pertolongan.)

[Empat perkara yang diketahui mengenai kewujudan]

Ketahuilah perkara-perkara yang diketahui ada empat: Hakikat, yang diceritakan sebagai wujud mutlak kerana Dia bukanlah asbab oleh sesuatu dan bukan juga asbab bagi sesuatu. Dia adalah Pencipta asbab dan wujud dengan Zat-Nya daripada Zat-Nya sendiri. Ilmu-Nya merujukkan kepada ilmu mengenai wujud-Nya, dan wujud-Nya tidak lain daripada Zat-Nya. Walau bagaimanapun, Zat-Nya tidak boleh diketahui, tetapi sifat-sifat yang dinisbahkan kepada-Nya adalah diketahui. Ini bermakna sifat-sifat bagi maksud, adalah sifat-sifat bagi kesempurnaan. Ilmu mengenai hakikat Zat adalah tidak mungkin kerana ia tidak diketahui samada melalui pembuktian atau logik akal dan tidak mampi disentuh oleh huraian. Allah tidak menyerupai sesuatu dan tidak ada sesuatu menyerupai-Nya. Jadi mana mungkin sesuatu yang serupa dengan sesuatu serupa juga dengan yang Esa yang tidak menyerupai sesuatu dan tiada sesuatu menyerupai-Nya? Pengenalan tentang-Nya ialah
“tiada sesuatu menyerupai-Nya” (42:10)
dan
“Allah melarang kamu tentang Diri-Nya: (3:27). “
Syariat termasuk larangan memikirkan tentang Zat Allah.


[Hakikat kepada hakikat-hakikat]

Yang kedua diketahui ialah hakikat alam yang menjadi milik Yang Haq dan alam, yang tidak dinyatakan sebagai wujud atau tidak wujud, dikandung oleh masa atau tidak dikandung oleh masa. Ia adalah tidak dikandung oleh masa jika keadaan demikian dinyatakan olehnya, dan dikandung oleh masa jika keadaan demikian dinyatakan olehnya. Perkara-perkara yang dikandung oleh masa dan yang tidak dikandung oleh masa tidak diketahui sebelum hakikat ini diketahui, tetapi hakikat ini tidak muncul sehinggalah perkara yang dinyatakan olehnya muncul. Jika sesuatu muncul tanpa didahului oleh ketiadaan wujudnya, seperti kewujudan Yang Haq dan sifat-sifat-Nya, ia dikatakan kewujudan yang tidak dikandung oleh masa kerana dijelaskan secara demikian. Jika sesuatu wujud daripada tidak wujud seperti kewujudan yang selain Allah, yang dikandung oleh masa dan muncul melalui yang lain daripada dirinya, ia dikatakan dikandung oleh masa. Ia berada dalam setiap kewujudan menurut hakikat alamnya. Ia tidak menerima pemecahan, jadi “setiap” dan “sebahagian” tidak boleh digunakan baginya. Seseorang tidak dapat mencapai makrifatnya yang bebas daripada bentuk melalui pembuktian atau pertunjukan. Alam wujud daripada hakikat ini melalui perantaraan Yang Haq. Hakikat ini tidak wujud dalam zatnya, jadi Allah bawa kita kepada kewujudan daripada kewujudan yang tidak dikandung oleh masa (zaman). Jadi yang tidak dikandung oleh masa didirikan untuk kita.

Begitu juga kamu patut tahu bahawa hakikat alam ini tidak dinyatakan sebagai muncul sebelum alam, tidak juga dinyatakan alam muncul selepasnya. Sebaliknya, ia adalah akar bagi kewujudan benda-benda secara umumnya. Ia adalah sumber kepada unsur (jauhar), bulatan kehidupan, yang sebenarnya melaluinya penciptaan berlaku (Lihat Quran 15:85) dan perkara-perkara lain. Ia adalah Sfera Meliputi yang mampu diterima oleh akal. Jika kamu katakan ia adalah alam, kamu berkata yang benar. Jika kamu katakan ia bukan alam, kamu juga berkata yang benar. Jika kamu katakan ia adalah yang Haq atau bukan Yang Haq, kamu juga berkata yang benar. Ia menerima semua ini. Ia berbilang-bilang dengan perbilangan manusia di dunia dan ‘tiada-hubungan’ dengan ‘tiada-hubungan’nya bagi Yang Haq.

Jika kamu mahukan contoh yang mempermudahkan kefahaman kamu, lihatkan kepada zat kayu pada sekeping papan, kerusi, minbar, kotak dan seumpamanya. Perhatikan juga kepada bentuk empat persegi dan yang seumpamanya dalam bentuk pada segala macam bilik yang empat persegi, kotak dan sehelai kertas. Keadaan empat persegi dan zat kayu adalah menurut hakikatnya pada setiap benda-benda tersebut (tanpa berbilang-bilang atau berada dalam keadaan berpecah-pecah). Perhatikan juga kepada warna-warna: keputihan pakaian, permata, kertas, gandum, minyak dan lain-lain, tanpa menyatakan keputihan pakaian yang boleh diterima oleh akal sebagai bahagian lain daripada pakaian itu sendiri. Sebenarnya hakikat putih itu yang nyata pada pakaian sebagaimana ia nyata pada kertas. Begitulah keadaannya dengan pengetahuan, kuasa, kehendak, pendengaran, penglihatan dan sebagainya. Ini akan membuat kamu memahami alam ini. Kami bincangkan dengan panjang lebar mengenainya dalam buku kami yang bertajuk Insha’ al-Jadawil w ad-Dawa’ir.

Ada pula yang ketiga diketahui, iaitu keseluruhan alam ini: malaikat dan cakerawala, dan langit yang dikandunginya, air dan tanah dan alam yang dikandungi antara keduanya. Ia adalah Kerajaan yang lebih besar. Akhirnya adalah perkara keempat yang diketahui iaitu manusia, khalifah yang dilantik oleh Allah dalam dunia ini, yang dunia ini menjadi penguasaannya. Allah berfirman,
“Dia permudahkan bagi kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi, semuanya, daripada-Nya” (45:120).

Sesiapa mengetahui perkara-perkara yang diketahui ini, tidak ada lagi perkara yang boleh diketahui yang dicarinya. Daripada empat yang diketahui itu adalah yang hanya kewujudannya yang diketahui – Yang Haq, semoga Dia dipersucikan! Perbuatan-Nya dan sifat-Nya hanya diketahui secara mengadakan perumpamaan. Sebahagiannya diketahui dengan mengadakan misal – seperti pengetahuan Hakikat Alam. Sebahagiannya diketahui melalui kedua-dua aspek, dan melalui ‘apakah ia’ dan ‘bagaimanakah ia’: alam dan manusia.


[Bahagian Permulaan alam dan misalnya: habuk (haba') Hakikat Muhammad]

“Telah ada Allah dan tiada sesuatu beserta Dia” (Bukhari). Kemudian beliau tambahkan kepada Hadis ini, “Dia kini sebagaimana Dia dahulu”. Tidak ada nilai yang Dia belum tujukan kepada Diri-Nya melalui kenyataan bahawa Dia membawa alam kepada wujud. Dia menyatakan tentang Diri-Nya sebelum penciptaan-Nya dan dinamakan dengan Nama yang makhluk-Nya panggil Dia dengan-Nya. Bila Dia berkehendakkan alam ini wujud dan memulakannya menurut had yang Dia ketahui melalui ilmu-Nya, ia dihasilkan daripada kehendak yang suci murni oleh sesuatu tajalli daripada kenyataan ‘tiada-hubungan’ atau tanzih kepada Hakikat Alam. Hakikat yang terhasil daripadanya dipanggil habuk atau nebula (haba’) yang seumpama gipsum yang yang dibentuk oleh pembentuk yang dalamnya dia boleh bukakan sebarang bentuk dan rupa yang dia mahu. Ini adalah wujud pertama dalam alam sebagaimana diceritakan oleh’Ali ibn Abi Talib, Sahl ibn ÔAbdullah at-Tustari dan mereka yang mempunyai makrifat, mereka yang kasyaf akan kewujudan.

Kemudian Allah menyatakan Diri-Nya melalui cahaya-Nya dan habuk itu. Ahli falsafah menamakannya keseluruhan yang utama (al-Hayula al-Kull). Ia mengandungi seluruh alam maya secara keupayaan dan kemampuan. Jadi setiap sesuatu menerima daripada-Nya dalam habuk itu menurut keupayaan dan yang mudah diperolehinya, seperti sudut bilik menerima cahaya daripada lampu, dan kekuatan sinarannya dan penerimaannya bergantung kepada kehampirannya dengan cahaya itu. Allah berfirman,
” Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti misykat (lubang) yang dalamnya ada lampu” (24:35).
Dia jadikan cahaya-Nya seumpama lampu. Jadi, tidak ada yang terdekat untuk menerimanya di dalam habuk itu kecuali Hakikat Muhammad s.a.w, yang dinamakan Akal. Jadi ia adalah penghulu (imam) bagi sekalian alam maya dan yang pertama untuk muncul dalam kewujudan. Wujudnya datang daripada Cahaya Ilahi dan daripada habuk dan daripada Hakikat Alam. Sumbernya wujud dalam habuk itu. Sumber alam maya datang daripada tajallinya. Orang yang paling hampir dengannya ialah ÔAli ibn Abi Talib, dan rahsia-rahsia Nabi-nabi.

Bagi model (misal) di mana seluruh alam maya ini wujud tanpa perpisahan, ia adalah pengetahuan yang bergantung kepada Yang Haq. Allah mengetahui kita dengan pengetahuan tentang Diri-Nya dan membawa kita kepada kewujudan menurut apa yang Dia ajarkan kepada kita. Kita mempunyai bentuk khusus ini dalam ilmu-Nya. Jika perkara itu bukan seperti ini, bentuk ini datang kepada kita secara kebetulan, bukan disengajakan, kerana tentunya Dia tidak akan mengetahuinya. Adalah mustahil rupa bentuk diberikan kepada kewujudan secara tidak sengaja. Jika ianya bukan demikian bentuk rupa yang khusus ini diketahui oleh Allah dan dikehendaki oleh-Nya, Dia tidak akan membawa kita kepada kewujudan atasnya, dan rupa bentuk ini tidak akan diperolehi daripada yang lain kerana ternyata bahawa Allah “telah ada Dia dan tiada sesuatu beserta Dia”. Jadi yang tinggal ialah rupa bentuk yang Dia bawa keluar dalam Diri-Nya. Dia mengetahuinya sendirinya. Begitulah keadaan ilmu-Nya mengenai kita. Misal kita, yang sama dengan ilmu-Nya mengenai kita, adalah diluar kandungan masa dengan di luar kandungan masa bagi Allah kerana ia adalah sifat-Nya, dan yang terkandung oleh masa tidak bersangkutan dengan-Nya. Dia terlalu mulia untuk yang demikian!


[Matlamat alam maya]

Sebagaimana kenyataan kami, “Mengapa alam dibawa kepada kewujudan? Apakah matlamatnya?” jawapannya Allah berfirman,
“Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadat kepada-Ku” (51:56).
Dia telah memberikan kenyataan yang jelas mengenai sebab Dia membawa kita kepada kewujudan. Ianya sama dengan alam maya seluruhnya apabila Allah katakan jin dan manusia secara khusus. Di sini jin adalah semua yang tersembunyi, samada malaikat atau sesuatu yang lain. Allah berfirman mengenai langit dan bumi,
“Datanglah dengan rela atau terpaksa! Mereka menjawab,‘Kami datang dengan rela’” (41:11)
Dia juga berfirman,
“Tetapi mereka enggan membawanya” (33:72).
Itu kerana ianya tawaran. Jika ianya perintah, mereka akan mentaatinya dan melaksanakannya kerana mustahil mereka boleh ingkar. Mereka diciptakan untuk itu (taat), tetapi jin yang dijadikan daripada api dan manusia tidak diberikan demikian.


[Sekalian alam maya adalah hidup dan nyata]

Demikian juga ada sebahagian ahli falsafah dari kalangan mereka yang berpegang kepada pemnyelidikan dan pembuktian yang terikat dengan pancaindera, keperluan dan dalil-dalil, yang mengatakan orang yang bertanggungjawab mesti memiliki pertimbangan terhadap apa yang dikatakan kepadanya. Mereka mengatakan yang benar. Perkara itu adalah demikian bagi kami memandangkan keseluruhan alam maya ini adalah bijaksana, hidup dan nyata. Ini adalah sah menurut pembukaan melalui kekeramatan yang seseorang miliki, iaitu perolehan ilmu kami mengenai ini. Bagaimanapun mereka mengatakan, “Ini adalah benda yang tak bernyawa yang tidak boleh berfikir”. Mereka berhenti pada apa yang pandangan mereka ceritakan kepada mereka. Menurut kami, kedudukannya berbeza daripada yang demikian.

Bila dikhabarkan kepada Rasulullah s.a.w mengenai batu bercakap, atau biri-biri atau batang kayu, mereka katakan Allah ciptakan kehidupan dan pengetahuan padanya ketika itu. [1] Itu bukanlah pandangan kami mengenai kedudukan perkaranya. Ia adalah rahsia kehidupan yang mengalir melalui seluruh alam maya dan semua “yang mendengar seruan muazzzan, basah atau kering, akan menjadi saksi baginya” [Ibn Majah, Nasa'i, Abu Dawud] dan ia hanya menyaksikan daripada pengetahuan. Keadaan ini disahkan melalui pembukaan kepada kami, bukan melalui pemikiran orang yang melihat kepada apa yang ditunjukkan oleh maklumat yang kelihatan dan tidak lebih dari itu. Sesiapa yang mahu memperolehinya haruslah mengembara pada jalan Sufi dan berpegang kepada khalwat dan zikir. Kemudian Allah akan memperkenalkannya dengan semua ini secara langsung. Jadi dia akan tahu bahawa manusia adalah buta daripada pengertian hakikat-hakikat ini.


[Kewujudan alam maya adalah kenyataan bagi kekuasaan Nama-nama]

Allah membawa alam maya kepada kewujudan bagi menyatakan kekuasaan Nama-nama. Kuasa tanpa bahan kekuasaan, kemurahan tanpa kurniaan, pemberi tanpa pemberian, penolong tanpa pertolongan, belas kasihan tanpa bahan yang dikasihankan adalah hakikat yang kosong daripada kesan. Allah jadikan makhluk dalam alam ini campuran seperti Dia campurkan dua genggam pada tanah liat. Kemudian Dia asingkan individu-individu daripadanya dan menjadikan satu genggam memasuki genggam yang satu lagi. Setiap genggam dicampurkan dengan saudaranya, tetapi keadaannya tidak diketahui. Ahli fikir berbeza dalam kebolehan mereka dalam mengeluarkan kecacatan daripada kebaikan dan kebaikan daripada kecacatan. Matlamatnya ialah penyucian daripada campuran tersebut dan membezakan dua genggaman tersebut sehingga yang satu ini terasing dengan dunianya. Ia adalah seperti firman Allah,
“Sehingga Dia akan bezakan yang sesat daripada yang benar. Dia akan letakkan sebahagian yang sesat itu di atas yang lain, dan demikianlah Dia akan susun mereka semuanya dan masukkannya ke dalam Jahannam” (8:37)

Sesiapa yang ada dengannya sebahagian daripada campuran itu ketika dia meninggal dunia dia tidak akan dimasukkan ke dalam golongan yang benar pada Hari Kebangkitan. [Lihat Qur'an 15:46; 34:37: 41:40: 44:55, tetapi terutamanya, 27:89.] Walau bagaimanapun, sebahagian manusia bebas daripada campuran ini dihisabkan, dan sebahagiannya hanya bebas di dalam Jahannam. Bila dia sudah dipersucikan, dia keluar daripadanya. Mereka adalah golongan yang disyafaatkan. Bagi mereka yang digolongkan ke dalam salah satu genggaman di sini, dia akan berjalan dengan kebenaran ke akhirat daripada kuburnya kepada pengampunan, atau seksaan dan Jahim. Dia sudah dipersucikan.

Ini adalah penjelasan mengenai matlamat dunia ini. Dua genggaman ini adalah dua hakikat yang menunjukkan kembali kepada sifat yang dimiliki oleh Yang Haq dalam zat-Nya (seperti dua kami). Dari sini kami katakan golongan ahli neraka menyaksikan-Nya sebagai Yang Menghukum dan ahli syurga menyaksikan-Nya sebagai Yang Merahmati. Ini adalah rahsia yang mulia. Mungkin kamu akan memperolehinya pada tempat tinggal akan datang secara penyaksian, Insya’ Allah. Mereka yang arif memperolehinya dalam dunia ini.


[Pengetahuan mengenai langit dan bumi dan yang seumpamanya pada manusia]

Mengenai apa yang kami katakan dalam tajuk ini berkenaan sfera alam besar dan alam kecil iaitu manusia, dengannya kami maksudkan dunia pada keseluruhan dan golongannya. Penguasanya adalah mereka yang memberi kesan kepada orang lain. Saya jadikan sfera alam besar dan alam kecil bertimbal-balik. Yang satu adalah salinan kepada yang satu lagi. Kami berikan kepada mereka lakaran dalam bentuk sfera dan susunan mereka dalam buku, Insha’ ad-Dawa’ir wa’l-Jawadil yang kami mulakan penulisannya di Tunis di rumah Imam Abu Muhammad ÔAbdu’l-’Aziz (al-Mahdawi al-Qurashi) [2], sahabat dan penjaga kami, semoga Allah merahmatinya! Dalam tajuk ini kami masukkan ringkasan mengenai apa yang bersangkutan dengannya.

Kami katakan alam ini empat: alam langit, iaitu alam yang bergerak; alam perubahan, iaitu alam pemusnahan; kemudian alam kehidupan iaitu alam yang bergerak dan musnah; dan alam asbab. Alam-alam ini berada pada dua tempat: dalam alam besar, iaitu yang di luar manusia, dan dalam alam kecil, iaitu manusia.

Alam tertinggi ialah Hakikat Muhammadiah. Sferanya ialah kehidupan. Ia ada persamaan pada manusia dalam latifah dan Ruh Suci. Ia termasuklah Arasy Yang Meliputi yang persamaan dengan manusia adalah jasadnya. Di sana juga Kursi, yang persamaannya dalam manusia ialah diri. Ada pula Rumah Kediaman yang persamaan dalam manusia ialah hati. Ada pula malaikat yang persamaannya dalam manusia ialah roh dan bakat-bakat yang ada dengannya. Ada juga Saturn dalam bulatannya, yang persamaannya pada manusia ialah bakat ilmu dan nafas. Ada pula Jupiter yang persamaannya pada manusia ialah bakat mengingat dan bahagian belakang otak. Ada juga Mars dan bulatannya yang persamaannya pada manusia ialah bakat akal dan ubun-ubun. Ada juga matahari dan bulatannya yang persamaannya ialah bakat berfikir dan bahagian tengah otak. Ada juga Venus dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan berangan-angan dan roh haiwan. Ada pula Mercury dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan berkhayal dan bahagian hadapan otak. Kemudian ada bulan dan bulatannya yang persamaannya ialah kebolehan indera dan anggota yang ada daya-rasa. Ini adalah kumpulan alam atas dan persamaannya dalam manusia.

Alam perubahan termasuk bulatan ether yang rohnya panas dan kering. Ia adalah bulatan api dan persamaannya pada manusia ialah cecair perang kekuningan yang rohnya ialah kekuasaan penghadaman. Ia termasuklah udara yang rohnya panas dan basah dan persamaannya ialah darah. Rohnya ialah kebolehan menarik. Ia termasuklah air yang rohnya ialah sejuk dan basah dan persamaannya ialah air liur.Rohnya ialah kebolehan mengeluarkan. Ia termasuk tanah yang rohnya sejuk dan kering dan persamaannya ialah cecair hitam. Rohnya ialah kebolehan menyimpan.

Ada tujuh jenis tanah: tanah hitam, tanah berdebu, tanah merah, tanah kuning, tanah putih, tanah biru dan tanah hijau. Persamaan pada tubuh manusia ialah: kulir, lemak, daging, urat, saraf, otot-otot dan tulang.

Alam kehidupan termasuk makhluk rohani yang persamaannya adalah bakat-bakat pada manusia. ia termasuk alam haiwan yang persamaannya apa yang ditangkap oleh deria pada manusia. ia termasuk alam tumbuh-tumbuhan yang persamaannya apa yang tumbuh pada manusia. ia termasuk alam yang tidak bernyawa yang persamaannya ialah apa yang tidak dapat ditangkap oleh deria pada manusia.

Alam asbab termasuklah yang tidak perlu yang persamaannya ialah hitam dan putih, warna-warna dan benda-benda (akwan). Kemudian ada pula “bagaimana” yang persamaannya ialah keadaan seeprti sihat dan sakit. Kemudian ada “berapa banyak” yang persamaannya “peha lebih panjang daripada lengan”. Kemudian ada pula “di mana” yang persamaannya ialah tengkuk sebagai tempat bagi kepala dan kaki sebagai tempat bagi peha. Kemudian ada “masa” yang persamaannya “saya gerakkan kepala saya pada ketika tangan saya bergerak”. Kemudian ada pula perbandingan (idafa) yang persamaannya ialah “Ini bapa saya, maka saya anaknya”. Ada pula tempat yang persamaannya ialah “bahasa saya dan loghat saya”. Ada pula kata-kerja yang aktif yang persamaannya ialah “Saya sudah makan”. Ada pula kata-kerja yang pasif yang persamaannya ialah “Saya sudah kenyang”. Sebahagiannya mempunyai bentuk yang berbeza dalam acuan tersebut (tiga yang lain) seperti gajah, keldai, singa dan lipas. Persamaannya ialah kebolehan manusia yang menerima bentuk makna yang wajar dipersalahkan dan juga yang wajar disanjungkan. “Yang ini cerdik, maka ia adalah gajah. Yang itu bodoh maka ia adalah keldai. Yang ini pula berani maka ia adalah singa. Yang itu pula penakut maka ia adalah lipas”.

“Allah katakan kebenaran dan memimpin ke jalan yang lurus” (33:4)

[1] Merujukkan kepada hadis tertentu daripada Nabi s.a.w
[2] Murid Abu Madyan yang meninggal dalam tahun 621H.

07. Permulaan Jasad Manusia
Permulaan Jasad Manusia

[Yang pertama muncul kepada kewujudan dalam Alam Besar dan kumpulan terakhir yang dikeluarkan]

Hakikat dalaman manusia tumbuh
menjadi kerajaan dengan kekuasaan yang nyata

Kemudian zatnya bersemayam di atas singgahsana Adam
sebagaimana Arasy diduduki oleh Yang Maha Pemurah.

Hakikat jasadnya muncul dalam bentuk asalnya,
dan kerajaan bagi kewujudan kedua lengkap dengannya.

Pengenalan ilmunya lahir dalam kenyataannya
di kalangan yang mulia dan yang membenci

Maka mimpinya menjadi remeh-temeh lantaran pengetahuannya
dan syaitan yang direjam menjadi bangga.

Mereka mencari kehampiran Allah dalam Malakut-Nya
tetapi syaitan kecil membawa kesesatan kepada mereka.


[Kejadian alam yang didiami]

Ketahuilah! Semoga Allah membantu kamu! – masa didiami alam semulajadi ini yang dikongkong oleh masa dan dikandung oleh ruang adalah 71,000 tahun yang diketahui dalam dunia ini. Tempuh masa ini adalah 11 hari daripada hari-hari nama-nama yang lain. Dan satu dua perlima hari daripada hari-hari Pemilik Pendakian. Ada berbagai-bagai jenis hari. Allah berfirman,
“Dalam satu hari yang ukurannya 50,000 tahun” (4:70)
dan
“satu hari pada sisi Tuhan kamu seumpama 1000 tahun bilangan kamu”(22:47).
Hari yang paling singkat ialah yang diukur melalui pergerakan sfera yang meliputi yang menyata dalam hari kita 24 jam. Hari yang paling singkat bagi orang Arab, iaitu yang ini, kepunyaan sfera yang paling besar. Itu adalah kerana pengaruhnya terhadap sfera di dalamnya kerana pergerakan apa yang di bawahnya pada malam dan siang pergerakan permukaannya mengheret baki sfera yang diliputinya.


[Pergerakan asas dan pergerakan permukaan sfera]

Setiap pergerakan sfera diikuti oleh pergerakan permukaannya. Setiap sfera di bawahnya ada dua pergerakan pada pergerakan yang sama: pergerakan asas dan pergerakan permukaan. Setiap pergerakan asas pada setiap sfera mempunyai hari tertentu berlaku daripada Sfera Yang Meliputi yang dinyatakan dengan firman-Nya, “menurut kiraan kamu”. Semuanya melintasi Sfera Yang Meliputi. Bilamana ia melintasinya secara keseluruhannya, harinya menjadi kepunyaannya dan lakarannya berpusing. Hari yang paling singkat ialah 28 hari “menurut kiraan kamu”. Ia adalah ukuran lintasan pergerakan bulan dalam Sfera Yang Meliputi.

Allah dirikan tujuh planet di langit supaya pandangan manusia boleh menyaksikan lintasan sfera-sfera dalam Sfera Yang Meliputi
“bagi mengetahui bilangan tahun dan hitungan” (10:5). “Dia tentukannya melalui setesen-setesen supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hitungan” “Kami akan bezakan segala perkara” (17:11) “Ia adalah ketentuan Yang maha Berkuasa, Maha Mengetahui” (6:96).
Setiap planet ada hari yang ditentukan yang membezakan mereka di antara satu sama lain menurut kelajuan pergerakan aslinya atau kecil-besar saiz sferanya.


[Penciptaan Qalam dan Loh Mahfuz]

Ketahuilah Allah kemudiannya menciptakan Qalam dan Loh Mahfuz dan memanggilnya Akal dan Roh. Dia kurniakan kepada Roh dua sifat: sifat ilmu dan sifat amal atau perbuatan. Dia menjadikan Akal sebagai pengajar dan menyampaikan secara menggunakan penyaksiannya, seperti keadaan memotong daripada bentuk pisau tanpa ia mengatakan apa-apa mengenainya. Allah ciptakan unsur (jauhar) tanpa diri iaitu Roh yang telah diceritakan yang dipanggil habuk (debu). Ini adalah istilah yang sampai kepada kita daripada ‘Ali ibn Abi Talib.


[Penciptaan habuk (haba')]

Habuk disebut dalam bahasa Arab. Allah berfirman,
“ia bertaburan seperti habuk” (56:6).
Ia adalah demikian bila ‘Ali ibn Abi Talib menyaksikannya, bermakna unsur ini bertaburan dalam bentuk aslinya, dan tiada bentuk yang terlepas daripadanya kerana anasir yang dipanggil habuk ini membentukkan bentuk rupa.. Ia ada dengan setiap bentuk oleh hakikatnya. Ia tidak boleh dipecahkan ataupun dinyatakan secara pengurangan. Ia seumpama keputihan yang wujud pada setiap benda putih oleh zatnya dan hakikatnya. Tidak dikatakan ada pengurangan keputihan menurut kadar benda itu menerima keputihan. Ini menyerupai keadaan unsur ini.


[Empat peringkat di antara Roh dengan Habuk]

Allah mengadakan empat tahap di antara Roh ini yang dinyatakan oleh dua sifat tersebut dan habuk itu. Dia jadikan setiap peringkat sebagai satu tahap bagi empat malaikat. Dia melantik malaikat-malaikat ini sebagai penjaga kepada apa yang Dia keluarkan pada alam di bawah mereka, daripada ‘Illiyun’ hingga ke “yang paling bawah”. Dia kurniakan kepada setiap malaikat ini pengetahuan yang perlu di bawa ke dalam alam.

Yang pertama Allah bawa kepada kewujudan dalam bentuk asal yang berhubung dengan ilmu dan pentadbiran malaikat-malaikat ini ialah Badan Sejagat (Universal). Bentuk pertama yang Allah bukakan dalam badan ini ialah bentuk sfera (seperti bola) kerana ia adalah bentuk yang terbaik. Kemudian Allah membawanya kepada kewujudan dengan kesempurnaan gubahan, dan jadikan semua yang Dia ciptakan di bawah penjagaan malaikat-malaikat ini. Dia amanahkan kepada mereka urusan berkenaan dalam dunia ini dan juga akhirat dan memeliharanya daripada melanggar apa yang Dia perintahkan kepada mereka. Dia menceritakan kepada kita bahawa mereka,
“tidak menderhakai Allah pada yang Dia perintahkan dan mereka melaksanakan apa yang mereka diperintahkan” (66:6).


[Penciptaan benda-benda (muwalladat)]

Kemudian Dia selesai menciptakan bahan-bahan yang tidak bernyawa, tumbuh-tumbuhan dan haiwan pada akhir 71,000 tahun dunia yang kamu hitung dan aturkan dunia ini dalam keadaan yang paling rapi. Daripada ciptaan yang pertama hinggalah yang terakhir, iaitu haiwan, Dia tidak menggunakan kedua-dua tangan-Nya dalam ciptaan apa sahaja kecuali manusia. Manusia adalah bentuk habuk yang berjasad. Segalanya kecuali untuk itu Dia ciptakan daripada perintah Ilahi atau dengan sebelah tangan. Allah berfirman,
“Apabila Kami berkehendak menjadikan sesuatu Kami hanya katakan ‘jadi!(Kun)’ maka jadilah ia” (16:40).
Ini adalah perintah Ilahi. Dalam hadis ada mengatakan Allah ciptakan syurga Adn dengan tangan-Nya, menulis Taurat dengan tangan-Nya, menanam pokok Thuba dengan tangan-Nya dan menciptakan Adam, iaitu manusia, dengan kedua-dua tangan-Nya. Bagi menunjukkan kemuliaan bagi Adam, Allah berfirman kepada iblis,
“Apa yang menghalang engkau sujud kepada apa yang Aku ciptakan dengan tangan-tangan-Ku?” (38:75).


[Sfera paling rendah dan Buruj Dua Belas (zodiak)]

Bila Allah ciptakan sfera yang paling rendah, iaitu yang pertama dinyatakan di atas, Dia membahagikannya kepada 12 bahagian dipanggil “Buruj”. Allah berfirman,
“dan langit dengan buruj-buruj” (85:1).
Setiap bahagian ada buruj dan bahagian-bahagian tersebut ada empat suasana. Dia ulangi setiap bahagian daripada empat bahagian itu pada tiga tempat. Dia jadikan bahagian-bahagian ini seumpama tempat perhentian dan takungan air di mana pengembara berhenti, dan dalamnya pelayar yang dalam pelayaran mengembara maka pada perhentian inilah sampainya perjalanan planet-planet yang melalui mereka. Apa yang Allah adakan dalam sfera planet-planet ini yang laluannya melalui buruj-buruj tersebut supaya, melalui lintasan dan perjalanan mereka, diadakan apa yang Dia berkehendak pada alam anasir dan semulajadi. Dia jadikan mereka sebagai tanda perjalanan bagi kesan pergerakan sfera buruj-buruj, maka ketahuilah akan yang demikian!


[Alam semulajadi dan empat anasir]

Alam semulajadi pada satu bahagian daripada empat bahagian itu ialah panas dan kering; keduanya sejuk dan kering; ketiganya panas dan basah; dan keempatnya sejuk dan basah. Dia jadikan bahagian kelima dan kesembilan seperti bahagian yang pertama, yang keenam dan kesepuluh seperti yang kedua, yang ketujuh dan kesebelas seperti yang ketiga, dan yang kelapan dan kedua belas seperti yang keempat dalam keadaan semulajadinya. Jadi Allah isikan badan semulajadi menurut perbezaan, dan badan anasir tanpa perbezaan, dalam yang empat ini iaitu: panas, sejuk, kering dan basah. Walaupun mereka empat acuan, Allah jadikan dua daripadanya sebagai asas kepada kewujudan dua yang lain. Haba mengeluarkan kekeringan dan sejuk mengeluarkan kebasahan. Ini dinyatakan oleh Allah dengan firman-Nya,
“Tidak ada yang basah atau yang kering melainkan sudah ada dalam Buku Yang Nyata” (6:59)
lantaran sebab itu, oleh kerana ia dikeranakan, mesti ada kewujudan sebab, atau jika ia adalah kesan, maka ia mesti ada sebab, bagaimanapun kamu meletakkannya. Kewujudan sebab tidak memerlukan kewujudan sesuatu akibat.


[Al-Falak al-Atlas]

Bila Allah ciptakan sfera yang pertama ini, ia berpusing dengan lakaran yang penghujungnya hanya Allah sahaja mengetahuinya kerana tiada badan terhad di atasnya untuk melintasinya. Ia adalah badan tipis (jarang) yang pertama. Pergerakan menurut perkiraan dan dijadikan jelas. Allah tidak ciptakan apa-apa dalamnya. Kemudian pergerakan menjadi jelas dan berakhir pada sesuatu yang berada di dalamnya. Jika tidak demikian, pergerakan di dalamnya tidak akan menjadi jelas samasekali kerana tidak ada planet dalam al-Falak al-Atlas, dan ia menyerupai dirinya sendiri. Jadi ukuran satu pergerakan dalamnya tidak diketahui dan tidak juga ditentukan. Sekiranya ada sebahagian daripadanya di dalamnya ia adalah berbeza daripada bahagian yang lain, maka tanpa keraguan pergerakannya akan dikira dengannya. Tetapi Allah mengetahui ukurannya, akhirannya dan ulangannya. Hari terjadi daripada pergerakan itu. Di sana tidak ada malam atau siang pada hari itu.

Kemudian perjalanan sfera ini berterusan dan Allah ciptakan 35 malaikat sebagai tambahan kepada 16 malaikat yang telah kami nyatakan. Jadi jumlahnya menjadi 411 malaikat. Malaikat-malaikat ini termasuklah Jibrail, Mikail, Israfil dan Izrail. Kemudian Dia ciptakan 974 malaikat dan tambahkan mereka kepada golongan malaikat yang telah kami nyatakan. Dia bukakan kepada mereka dan perintahkan mereka menurut bakat mereka yang Dia ciptakan. Mereka berkata,
“Kami tidak turun, melainkan dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya apa yang di hadapan dan apa yang di belakang kita, dan yang di antara keduanya. Dan Tuhanmu tidak pernah lupa” (19:64).
Allah berfirman kepada mereka,
“Mereka tidak menderhakai Allah pada apa yang diperintahkan kepada mereka,” (66:6).
Mereka adalah malaikat yang khususnya menjadi penjaga. Allah ciptakan malaikat yang menjadi penghuni langit dan bumi untuk beribadat kepada-Nya. Tidak ada tempat di langit dan di bumi yang tidak ada malaikat padanya. Allah terus menciptakan malaikat daripada nafas dunia selagi ia bernafas.


[Penciptaan Kediaman yang paling hampir]

Bila pergerakan sfera ini, yang tempuhnya 54,000 tahun menurut kiraan kamu, sudah lengkap, Allah jadikan dunia ini dan tentukan baginya ketentuan yang jelas yang mana ia akan berakhir dan bentuknya akan terhapus. Ia akan ditukarkan daripada menjadi tempat kediaman kita dan menerima bentuk tertentu, iaitu apa yang kita lihat hari ini, kepada
“bumi digantikan dengan bumi lain, dan langit juga”.
Bila 36,000 tahun kiraan kamu mencukupi bagi pergerakan sfera ini, Allah jadikan alam baharu: Syurga dan Neraka yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya, kedua-duanya yang bahagia dan yang celaka. Di sana 9,000 tahun kiraan kamu di antara penciptaan alam ini dan penciptaan alam akhirat. Sebab itulah ia dinamakan “yang kemudian” kerana ciptaannya diperlambatkan sehingga selepas penciptaan alam ini yang dipanggil “yang pertama” kerana ia diciptakan sebelumnya. Allah berfirman,
“Yang kemudian adalah lebih baik bagi kamu daripada yang terdahulu” (97:4).
Dia menyampaikan kepada Rasul-Nya s.a.w, dan tidak mengadakan ketentuan binasa bagi Alam Akhirat. Ia adalah abadi.


[Bumbung Syurga ialah al-Falak al-Atlas]

Allah jadikan sfera ini sebagai bumbung Syurga. Kita panggilnya Arasy yang pergerakannya tidak khusus dan tidak juga jelas. Pergerakannya berterusan, tiada kesudahan. Tidak ada ciptaan yang telah kami nyatakan diciptakan tanpa matlamat kedua, iaitu menghubungkan dirinya kepada kewujudan manusia yang menjadi Wakil Raja dalam dunia ini. Saya katakan “matlamat kedua” kerana matlamat pertama penciptaan ialah mengenal Allah dan beribadat kepada-Nya kerana inilah tujuan seluruh alam maya diciptakan. Tidak ada apa kecuali yang meninggikan puji-pujian-Nya. Makna matlamat kedua dan pertama ialah hubungan kehendak, bukan dalam ruangan masa berkehendak, kerana kehendak Allah adalah sifat mutlak sebagaimana Zat-Nya di ceritakan seperti juga semua sifat-sifat-Nya.


[Pegerakan langit dan Pegerakan bumi]

Kemudian Allah ciptakan sfera-sfera ini dan langit-langit, dan mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya dan mengaturkan cahaya-cahaya dan lampu-lampu di dalamnya, dan mengisikannya dengan para malaikat dan menjadikannya bergerak. Jadi semuanya bergerak kerana mentaati Allah, datang kepada-Nya, mencari kesempurnaan kehambaan yang layak bagi masing-masingnya, kerana Allah perintahkan kepada langit dan bumi, “Datanglah dengan rela atau terpaksa” dengan perintah yang ditujukan kepada mereka. Mereka menjawab, “Kami datang dengan rela”. Jadi, mereka terus menerus datang dan terus bergerak, sekalipun pergerakan bumi tersembunyi daripada kita. Ia bergerak mengelilingi pusat kerana ia berpusing. Bagi langit pula, ia datang dengan rela apabila Allah perintahkan. Bumi datang dengan rela apabila ia mengetahui akan dipaksa dan Allah mesti membawanya bila Dia berfirman, “atau dengan terpaksa”. Itulah yang dimaksudkan dengan firman-Nya, “atau dengan terpaksa”. Ia datang dengan rela secara terpaksa!
“Dia dirikan tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya” (41:12).


[Penciptaan bumi dan ketentuan makanan padanya]

Allah ciptakan bumi dan tentukan makanan padanya menurut bahan-bahan keluarannya. Dia sediakan khazanah bagi keperluan pemakanan mereka. Kami telah sentuh mengenai aturan pembentukan dunia dalam buku al-’Aql al-Mustawfir. Sebahagian daripada ketentuan makanannya ialah kewujudan air, udara dan api, begitu juga apa yang dikandungi sebagai wap, awan, kilat, guruh, dan kesan-kesan daripada langit.
“Itu adalah ketentuan Yang Maha Gagah, Maha Mengetahui” (6:96).
Dia jadikan jin daripada api, dan burung, reptilia di darat dan di laut, dan serangga daripada kereputan bumi agar udara menjadi bersih bagi kita, bebas daripada wap kereputan. Jika wap kereputan itu bercampur dengan udara yang dalamnya Allah amanahkan kehidupan dan kesejahteraan manusia dan haiwan, akan membuatkan mereka jatuh sakit, lemah dan kepayahan. Jadi Allah sucikan atmosfera untuknya sebagai kasihan belas-Nya bila Dia jadikan makhluk ini daripada benda-benda reput. Dengan demikian hanya kedapatan sedikit penyakit.


[Penciptaan manusia]

Dan kemudian Kerajaan siap disusunkan dan disediakan, namun tidak ada makhluk yang mengetahui daripada jenis apakah Wakil Raja itu akan diwujudkan, sedangkan demi kewujudannya Allah sediakan kerajaan ini. Apabila masa yang ditentukan menurut ilmu-Nya sampai bagi mengwujudkan Wakil Raja tersebut, 17,000 tahun sesudah dunia ini didiami dan 8,000 tahun selepas alam kemudian, yang tidak ada kesudahan, didiami, Allah perintahkan malaikat membawakan segenggam tanah yang berbagai-bagai jenis daripada bumi. Berbagai-bagai kisah yang panjang diceritakan mengenai perihal malaikat mengambil tanah tersebut. Allah mengambilnya dan mengulinya dengan tangan-tangan-Nya. Ini adalah perkataan-Nya,
“apa yang Aku ciptakan dengan tangan-tangan-Ku” (38:75).

Allah mengamanahkan setiap malaikat yang telah disebutkan dengan amanah bagi Adam. Dia berfirman,
“‘Aku ciptakan manusia daripada tanah liat” (38:71).
Amanah ini yang ada dengan kamu adalah miliknya. Bila Aku ciptakannya, setiap kamu berikan kepadanya apa yang kamu ada yang Aku amanahkan kamu baginya.
“Bila Aku siap menciptakannya dan Aku tiupkan daripada roh-Ku kepadanya, maka sujudlah kepadanya” (15:29).
Kemudian Allah uli tanah liat bagi ciptaan Adam dengan kedua-dua tangan-Nya, sehingga ditukarkan baunya iaitu kebusukan tanah liat. Itu adalah bahagian yang udara berada di dalam binaannya. Dia jadikan bahagian luarnya sebagai tempat bagi anak-cucunya yang bahagia dan yang celaka. Dia amanahkan apa yang ada dalam tangan-tangan-Nya. Allah menerangkan bahawa yang bahagia di dalam tangan kanan-Nya dan yang celaka di dalam tangan kiri-Nya. “Kedua-dua tangan Tuhanku adalah tangan kanan yang suci”. Dia berfirman, “Itu adalah bagi syurga dan yang melakukan kebaikan ahli syurga. Itu adalah untuk neraka dan mereka yang melakukan amalan ahli neraka”.

Dia amanahkan keseluruhannya dalam tanah liat Adam, dan gabungkan yang bertentangan di dalamnya secara prinsip anggaran. Dia bentuknya atas pergerakan lurus, dan ia di bawah penguasaan Virgo. Dia jadikan enam arah baginya: atas, iaitu yang melepasi kepalanya, bawah yang bertentangan dengannya iaitu di bawah kakinya, kanan yang berada di sebelah bahagiannya yang kuat, dan kiri yang bertentangan dengannya yang disebelah bahagiannya yang lemah, hadapan ialah yang sebelum mukanya, dan belakang yang bertentangan iaitu yang di belakang tengkuknya. Dia bentukkan, seimbangkan dan susunkannya. Kemudian Dia tiupkan daripada roh-Nya kepadanya. Bila ia sudah ditiupkan kepadanya, apabila ia menjalar ke seluruh bahagian tubuhnya, empat perkara muncul . Empat perkara itu ialah: cecair kuning (hempedu), cecair hitam, darah dan air liur.

Cecair kuning dari anasir api yang daripadanya ia dijadikan, firman-Nya,
“daripada tanah liat seumpama pembuat periuk (dari tanah liat yang dibakar)” (55:14).
Cecair hitam daripada tanah, firman-Nya,
“Dia ciptakannya daripada tanah” (15:26).
Darah daripada udara, dan daripada perkataan-Nya, “tanah liat yang busuk”. Air liur daripada air yang dengannya tanah diuli dan menjadi tanah liat. Kemudian Allah datangkan kuasa daya tarikan yang dengannya haiwan menarik makanan, kemudian kuasa mencengkam yang dengannya haiwan memegang apa yang menjadi makanannya, kemudian kuasa penghadaman yang dengannya makanan dihadamkan, dan kemudian kuasa membuang yang dengannya dia mengeluarkan daripada dirinya – peluh, wap, udara, najis dan lain-lain.

Bagi penyebaran wap dan pembahagian darah di dalam urat daripada hati dan setiap bahagian haiwan, ia dengan kuasa penarikan, bukan kuasa pembuangan. Bahagian kuasa pembuangan hanya apa yang ia keluarkan, iaitu bahan-bahan buangan. Kemudian Allah datangkan kuasa memberi makan, membesar, deria-deria, imaginasi, ilusi, kebolehan menyimpan dan ingatan. Semuanya ini dalam manusia sama sahaja dengan yang dalam haiwan, tidaklah meletakkannya pada taraf manusia melainkan kerana empat kebolehan: kebolehan imaginasi, ilusi, kebolehan menyimpan dan daya ingatan. Kebolehan ini lebih kuat dalam manusia daripada dalam haiwan.

Kemudian Dia kurniakan kepada manusia bakat atau kebolehan untuk mengerti, pemikiran dan akal, dan ini menjadikannya berbeza daripada haiwan. Dia letakkan sekalian bakat-bakat ini pada jasad manusia sebagai alat bagi Diri Zahir memperolehi segala manfaat daripadanya.
“Kemudian Dia bentuknya kepada makhluk yang lain” (23:14),
iaitu kemanusiaan. Dia jadikan manusia mengenal melalui bakat-bakat tersebut, dan dia menjadi hidup, mengetahui, berkuasa, berkehendak, berkata-kata, mendengar dan melihat menurut sempadan yang dimilikinya.
“Segala puji bagi Allah, sebaik-baik Pencipta” (23:14).

Kemudian Allah tidak menamakan Diri-Nya dengan sebarang nama tanpa meletakkan sebahagian daripada sifat nama tersebut kepada manusia sebagai bahagian yang daripada-Nya yang menyata dalam dunia menurut apa yang wajar baginya. Kerana itulah ada orang yang memahamkan perkataan Rasulullah s.a.w, “Allah ciptakan manusia dalam rupa-Nya” sebagai membawa maksud ini. Dia hantarkan manusia sebagai Wakil Raja iaitu wakil-Nya di bumi kerana bumi merupakan sebahagian daripada alam perubahan dan pertukaran, yang bertentangan dengan Alam Tinggi. Pengadilan berlaku di kalangan penghuni bumi menurut perubahan yang berlaku pada alam langit. Dengan demikian prinsip-prinsip bagi semua nama-nama Ilahi menyata. Maka Adam lebih tepat merupakan khalifah di bumi daripada di langit dan syurga. Di sana apa yang Dia perintahkan adalah: pengetahuan Nama-nama, sujudnya malaikat-malaikat, dan keingkaran iblis sebagaimana yang akan dibicarakan pada bahagian yang sesuai nanti, Insya’ Allah.


[Jasad manusia dan jenisnya]

Tajuk ini dikhususkan untuk membicarakan tentang permulaan jasad manusia. Ada empat jenis: jasad Adam, jasad Hawa, jasad Isa dan jasad keturunan Adam. Setiap jasad ini berbeza daripada pembentukan jasad-jasad lain menurut hukum sebab musabab, sekalipun bersamaan dalam bentuk zahiriah dan rohaniah. Kami katakan ini, dan membicarakan mengenainya agar akal yang lemah tidak terdorong untuk membayangkan kuasa Ilahi atau hakikat sebagai tidak cukup berkuasa, dan menganggapkan bahawa makhluk bangsa manusia ini muncul daripada hanya satu penyebab yang zatnya memperkenankan pembentukan ini. Allah menyangkal keraguan ini lantaran pembentukan manusia ini muncul pada Adam dengan cara yang ia tidak muncul pada Hawa; jasad Hawa muncul melalui perantaraan yang jasad Adam tidak muncul melaluinya; dan jasad keturunan Adam muncul melalui cara yang jasad Isa tidak melaluinya. Setiap daripada semua ini dipanggil manusia menurut istilah. Ianya begitulah seharusnya diketahui bahawa Allah mempunyai ilmu mengenai segala perkara dan bahawa Dia berkuasa berbuat apa sahaja.

Kemudian, Allah gabungkan semua empat jenis makluk ini dalam satu ayat Quran, Surah al-Hujurat (49:13) Dia berfirman,
” Wahai manusia, Kami yang ciptakan kamu”
bermaksud Adam, “daripada lelaki” bermaksud Hawa dan “daripada perempuan” bermaksud Isa, dan digabungkan “daripada lelaki dan perempuan” bermaksud melalui perkahwinan dan kelahiran. Ayat ini adalah sebahagian daripada “semua perkataan” dan “ungkapan yang jelas” yang disampaikan kepada Rasulullah s.a.w.


[Jasad Adam dan jasad Hawa]

Kemudian jasad Adam muncul sebagaimana yang dinyatakan, dan dia tidak ada keinginan untuk berkahwin. Allah sudah mengetahui ketentuan untuk kelahiran, pembiakan dan perkahwinan dalam kewujudan ini. Perkahwinan pada tempat ini adalah bagi kesinambungan kewujudan jenis-jenis. Kemudian Dia ciptakan Hawa daripada tulang rusuk Adam yang paling kecil. Oleh sebab itu perempuan berada pada peringkat yang lebih rendah daripada lelaki seeprti firman Allah,
“Lelaki ada kelebihan di atas perempuan” (2:228).
Jadi perempuan tidak dapat mengatasi lelaki. Hawa memiliki kebengkokan yang ada pada tulang rusuk, maka dengannya dia mempunyai kecenderungan kepada anak-anak dan suami. Kecenderungan lelaki (=kemesraan) kepada perempuan adalah kecenderungannya terhadap dirinya sendiri kerana perempuan adalah sebahagian daripadanya. Perempuan tertarik kepada lelaki kerana dia diciptakan daripada tulang rusuk, dan tulang rusuk ada kelengkungan dan kecenderungan.


[...cinta Adam dan cinta Hawa]

Allah isikan bahagian Adam yang daripadanya muncul Hawa dengan keinginan terhadapnya (Hawa) kerana tidak seharusnya ada kekosongan pada kewujudan. Bila Dia isikan pada Adam keinginan, Adam merindui Hawa sebagaimana dia merindui dirinya sendiri kerana Hawa adalah daripadanya. Hawa merindui Adam kerana Adam adalah asalnya di mana dia diciptakan. Cinta Hawa adalah kecintaan kepada asal usul, dan kecintaan Adam adalah cintakan diriny sendiri. Kerana sebab itu, kecintaan lelaki kepada perempuan menyata kerana perempuan adalah sama dengannya, dan perempuan pula diberikan bakat yang ditentukan dengan sifat pemalu dalam menyintai lelaki. Perempuan mampu berahsia kerana asal usulnya tidak disatukan kepadanya seperti Adam disatukan kepada Hawa.

Allah gubahkan dalam tulang rusuk itu semua yang Dia gubahkan dan ciptakan pada jasad Adam. Pembentukan jasad Adam dalam bentuknya sama seperti pembuat periuk menggubahkan daripada tanah liat dan bakaran. Pembentukan jasad Hawa sama seperti tukang kayu gubah ukiran pada kayu. Bila dia ukirkan Hawa dalam tulang rusuk dan tentukan bentuknya, sempurnakan pembentukannya, ditiupkan padanya daripada roh-Nya. Hawa mendapat tempat sebagai perempuan yang hidup dan boleh berkata-kata, mengambil tempatnya dalam pembiakan. Adam berasa tenteram dengan Hawa dan Hawa berasa tenteram dengan Adam. Hawa adalah “pakaian Adam dan Adam pakaian Hawa” Allah berfirman,
“Mereka adalah pakaian kamu dan kamu pakaian mereka” (2:187).
Keinginan menjalar kepada seluruh bahagian jasadnya dan dia mencari Hawa.


[Kejadian jasad jenis ketiga]

Kemudian Adam menutupi Hawa dan menuangkan air ke dalam kandungannya dan dengan setitik air itu, darah haid yang Allah tentukan untuk perempuan mengalir, dan dalam jasad itu terbentuk jasad ketiga yang berbeza daripada cara pembentukan jasad Adam dan Hawa. Inilah jasad jenis ketiga. Allah peliharakan pembentukan di dalam kandungan itu seperingkat demi seperingkat dengan perubahan daripada air mani kepada darah beku kepada segumpal daging kepada tulang. Kemudian Allah pakaikan daging kepada tulang. Bila pertumbuhan kehaiwanan ini lengkap, Dia bentukkan makhluk lain dan dengannya meniupkan roh manusia ke dalamnya.
“Segala puji bgai Allah, Pencipta yang paling baik” (23:14).

Sekiranya bukan kerana terlalu panjang, tentuk mai terangkan pembentukan manusia di dalam kandungan seperingkat demi seperingkat, dan malaikat yang menjaga yang mengawasi pembentukan janin dalam kandungan sehinggalah ia keluar. Tetapi kami mahu perkatakan tentang tubuh manusia. Walaupun sama menurut takrif, kenyataan, perasaan dan bentuk yang khusus, sebab bagi komposit berbeza agar tidak ada orang yang membayangkan bahawa ia kepunyaan zat penyebab. Maha Tinggi Allah! Itu merujuk kepada Pelakun yang dipilih yang melakukan apa yang Dia kehendaki bila Dia kehendaki tanpa larangan atau tidak berupaya dalam satu perkara berbanding dengan perkara lain.
“Tiada Tuhan melainkan Dia, Maha gagah, Maha Bijaksana” (3:18).


[Kejadian jasad Isa]

Pengkaji haiwan dan tumbuh-tumbuhan mengatakan mani perempuan tidak mempunyai apa-apa yang dibentuk daripadanya – walaupun janin yang dalam kandungannya datang daripada mani lelaki. Oleh yang demikian kami jadikan pembentukan Isa sebagai pembentukan yang lain, sekalipun peraturannya di dalam kandungan menyamai peraturan bagi jasad-jasad bayi yang lain. Kejadian jasad Isa adalah daripada mani perempuan kerana Roh zahir kepadanya tanpa menyalahi peraturan, atau ianya daripada tiupan nafas tanpa air. Jasad Isa adalah jasad jenis keempat, yang berbeza cara kejadiannya dengan jasad-jasad yang lain. Allah berfirman,
“Sesungguhnya, kesamaan Isa” (2:56)
iaitu kejadian Isa,
“dengan Allah adalah umpama kesamaan Adam. Dia ciptakannya daripada habuk”.
Gantinama itu merujukkan kepada Adam. Kesamaan itu merujuk kepada kejadian Isa tanpa bapa, iaitu keadaan kejadiannya menyerupai kejadian Adam, sekalipun Dia ciptakan Adam daripada habuk. Kemudian Allah katakan, “Jadi!”.

Isa tidak berada dalam kandungan Maryam selama tempuh kandungan biasa. Pembentukannya berlaku dengan cepat kerana Allah berkehendak menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan menjadikannya sebagai penafian kepada anggapan mereka yang berpegang kepada hukum alam yang biasa, tidak dengan kejadian yang rahsia dan ajaib yang Allah pertaruhkan dalamnya. Sebahagian mereka yang berakal merumuskan hal ini sebagai hukum alam dan berkata, “Kami hanya tahu apa yang Engkau beritahu, dan ia mengandungi perkara-perkara yang kami tidak tahu”.


[Manusia di bumi seperti akal di langit]

Inilah sebabnya kami nyatakan permulaan kejadian jasad manusia dan kenyataan bahawa terdapat empat jenis jasad yang terbentuk secara berbeza dan manusia merupakan kejadian yang paling akhir. Maka ia adalah seumpama akal dan berhubungan dengannya kerana kewujudan ini adalah bulatan. Permulaan bulatan ialah kewujudan Akal Awal seperti yang dinyatakan dalam hadis: “Yang pertama Allah ciptakan ialah Akal”. Ia merupakan jenis pertama. Kejadian berakhir pada jenis manusia, maka bulatan menjadi lengkap dan manusia dihubungkan degan akal, sebagaimana titik akhir bulatan disambungkan dengan awalnya. Begitulah keadaannya. Di antara dua hujung bulatan itu adalah semua jenis atau bangsa yang Allah ujudkan dalam alam ini, di antara Akal Awal, iaitu Qalam, dan manusia, iaitu kejadian terakhir.

Kemudian garisan muncul daripada titik yang berada di tengah-tengah bulatan kepada garis lengkung bulatan yang muncul daripadanya, dan muncul bersamaan pada setiap bahagian garis lengkung. Ia serupa dengan hubungan Allah dengan semua yang wujud. Ia adalah hubungan yang sama. Perubahan tidak berlaku sama sekali. Semua perkara bergantung kepada-Nya dan menerima apa yang Dia kurniakan seperti bahagian garis lengkung bergantung kepada titik pusat.

Allah binakan bentuk manusia secara pergerakan lurus seumpama bentuk kayu pemyokong kepada khemah. Dia jadikan manusia sebagai penyokong bumbung langit. Allah menahannya daripada jatuh kerananya. Jadi manusia adalah seumpama kayu penyokong khemah. Bila bentuk manusia ini dihapuskan, dan tiada seorang manusia yang masih ada di muka bumi, maka langit pun runtuh, pada hari itu ianya akan jatuh kerana kayu penyokongnya iaitu manusia sudah terhapus.

Kemudian kehidupan akan berpindah ke Alam Kemudian kerana manusia sudah berpindah ke sana. Dunia ini akan menjadi satu keruntuhan disebabkan manusia telah meninggalkannya. Jadi kita ketahui dengan jelas bahawa manusialah yang menjadi tujuan diwujudkan dunia ini dan manusialah khalifah-Nya yang sebenar dan manusia itulah bekas yang menyatakan nama-nama Ilahi. Manusia membawa bersamanya semua hakikat-hakikat alam – malaikat, sfera (cakerawala), tubuh, alam semulajadi, bahan-bahan galian dan haiwan. Ini adalah menurut apa yang hanya diberikan kepadanya daripada pengetahuan tentang nama-nama Ilahi, sekalipun saiz dan jisimnya yang kecil. Allah berfirman,
“Tentunya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia” (40:57)
kerana manusia dihasilkan daripada langit dan bumi, maka mereka menyerupai ibu bapa mereka. Allah menaikan darjat mereka kerananya,
“tetapi kebanyakan manusia tidak tahu” (7:187).
Dia tidak maksudkan lebih besar pada ukuran kerana yang demikian dapat ditangkap oleh pancaindera.


[Ujian bagi Manusia yang paling utama (al-Insan al-Akbar)]

Walau bagaimanapun, Allah menguji manusia dengan ujian yang tidak dikenakan kepada makhluk yang lain, samada Dia akan jadikannya bahagia atau Dia akan jadikannya celaka menurut apa yang Dia benarkan dia menggunakannya. Ujian yang Dia gunakan bagi menguji manusia ialah Dia jadikan pada manusia itu bakat atau kebolehan berfikir dan jadikan bakat ini berkhidmat kepada bakat lain yang dinamakan akal. Dia jadikan akal, seklipun ia tuan kepada fikiran, mengambil apa yang fikiran berikan kepadanya. Dia tidak berikan kepada fikiran sebarang bidang kecuali kebolehan berimaginasi. Dia jadikan bakat imaginasi sebagai bekas yang mengumpulkan apa yang bakat-bakat pancaindera berikan kepadanya. Dia juga berikan kepadanya bakat yang dinamakan pemahaman. Jadi dalam bakat imaginasi, tidak ada apa yang diperolehi kecuali apa yang diberikan oleh deria atau apa yang bakat pemahaman berikan. Anasir pemahaman datangnya daripada benda-benda yang berhubung dengan deria. Ia mengumpulkan bentuk-bentuk yang tidak ada sumber, sekalipun semua bahagiannya wujud dalam deria.

Itu kerana akal dijadikan bersih tanpa tipudaya dan tanpa pengetahuan yang agak-agak. Fikiran diberitahukan, “Bezakan di antara yang benar dan yang salah yang ada dalam bakat imaginasi ini.” Fikiran mengkaji menurut apa yang ia ada. Ia mungkin memperolehi keraguan dan ia juga mungkin menemui pembuktian tanpa ia mengetahui yang demikian, sekalipun ia mengakui yang ia mengetahui bentuk keraguan daripada pembuktian. Ia memperolehi pengetahuan sementara ia tidak mengambil kira kekurangan anasir yang ia jadikan asas perolehan pengetahuannya. Akal menerima daripadanya dan membuat keputusan dengannya. Jadi kejahilannya boleh jadi lebih besar daripada pengetahuannya.

Kemudian Allah perintahkan akal supaya mengenali-Nya agar ia boleh merujuk kepada-Nya, tidak kepada sesuatu yang lain. Akal memahami yang bertentangan daripada apa yang Yang Haq kehendaki daripadanya, bila Dia berfirman,
“tidakkah mereka fikirkan?” (7:184) “kepada mereka yang berfikir” (10:24 dll).
Ia bergantung kepada fikiran dan jadikannya penghulu yang diikuti dan mengabaikan apa yang Allah maksudkan bila Dia sebut fikiran. Dia memberitahunya supaya berfikir agar ia dapat melihat bahawa tiada cara untuk mengetahui Allah melainkan dengan kurniaan makrifat Allah. Oleh kerana itu perkara yang sebenarnya akan disingkapkan kepadanya. Tidak semua akal memiliki pemahaman ini – ianya hanya akal yang dipilih oleh Allah dari kalangan anbia dan aulia.

Sekiranya saya ketahui jika mereka telah berkata, “Ya, bahkan!” dengan pemikiran mereka bila Allah bawakan mereka mengaku dengan diri mereka [terhadap ketuhanan Allah sebelum mereka diciptakan] di dalam genggaman keturunan anak-cucu Adam! Dia buat mereka mengakui demikian bila Dia mengambil mereka daripada pinggang-pinggang mereka adalah lantaran kekhuatiran. Walau bagaimanapun, bila mreka beralih kepada kebolehan berfikir mereka mengenai makrifat Allah, mereka tidak bersetuju sama sekali walaupun kepada satu keputusan mengenai makrifat Allah. Setiap kumpulan menubuhkan pengajiannya sendiri, dan kenyataan mereka mengenai kehadiran Ilahi yang dilindungi bertambah-tambah. Ahli-ahli fikir ini bertindak terlalu berani terhadap Allah. Semua ini menjadi sebahagian daripada ujian yang kami katakan bila Allah jadikan fikiran pada manusia.

Ahli Allah memerlukan Allah dalam mempercayai-Nya yang Dia pertanggungjwabkan kepada mereka mengenai makrifat-Nya. Mereka mengetahui bahawa yang dikehendaki daripada mereka ialah mereka merujuk kepada-Nya dalam hal tersebut, dan dalam segala hal. Sebahagian daripada mereka berkata, “Maha Suci Dia yang tidak mengadakan jalan untuk mengenali-Nya melainkan ketidakupayaan untuk mengenali-Nya!” Ada yang berkata, “Ketidakupayaan mencapai pengertian itulah pengertian”. Rasulullah s.a.w bersabda, “Aku tidak berupaya menghitung puji-pujian-Mu!” Allah berfirman,
“Mereka tidak berupaya melingkungi-Nya dengan ilmu mereka” (20:110).
Mereka kembali kepada Allah dalam mengenali-Nya dan meninggalkan anggapan mengenai darjat-Nya dan melaksanakan tuntutan-Nya. Mereka tidak meletakkan-Nya pada apa yang tidak harus difikirkan mengenai-Nya. Telah dinyatakan bahawa adalah ditegah daripada memikirkan tentang Zat Allah. Allah berfirman,
“Allah memberi amaran kepada kamu tentang Diri-Nya” (3:28,30).
Allah kurniakan makrifat-Nya kepada mereka iaitu kurniaan-Nya dan menjadikan mereka saksi bagi makhluk-Nya dan kenyataan apa yang Dia jadikan mereka saksi. Jadi mereka tahu apakah yang secara logiknya mustahil melalui fikiran, adalah tidak mustahil melalui hubungan Ilahiah. Sebahagian daripada yang tersebut akan diketahui dalam tajuk “Bumi dijadikan daripada baki tanah liat Adam” dan tempat yang lain.

Iaitu yang manusia berakal berhutang budi kepada Allah lantaran dirinya mengetahui bahawa Allah berkuasa berbuat apa sahaja, mungkin atau mustahil – dan bukan segalanya mustahil. Dia memiliki kuasa yang berkesan dan kurniaan yang melimpah. Tidak ada ulangan pada apa yang Dia bawa kepada kewujudan – lebih tepat perkara yang serupa berlaku dalam anasir yang Dia bawa kepada kewujudan dan inginkan kesinambungan. Jika demikian kehendaknya, ia akan dihapuskan dengan tiupan.
“Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Gagah, Yang Bijaksana” (3:18).

9: KEWUJUDAN MAKHLUK ROHANI


[Kewujudan makhluk rohani yang diciptakan daripada api yang tiada asap (jin)]

Dia campurkan api dan tumbuh-tumbuhan, maka bentuk jin dijadikan
sebagai ruang di antara dua keadaan.

Ia adalah di antara roh yang berjasad dengan tempat yang dalam
dan roh yang tiada “di mana”.

Yang menerima jasad mencari makanan
untuk pembesaran tanpa kepalsuan,

Dan yang menerima malaikat-malaikat, menerima hati bagi
mengambil bentuk dalam keasliannya.

Kerana sebab ini, ia mentaati pada satu ketika dan menentang pada ketika lain
Dia akan balas mereka yang tidak taat dengan dua api.


[Penciptaan Jin, malaikat dan manusia]

Allah berfirman,
“Dia ciptakan jin daripada pucuk api yang tiada asap” (55:14).
Hadis menceritakan,
“Allah ciptakan malaikat daripada nur, dan Allah ciptakan jin daripada api, dan Dia ciptakan manusia daripada apa yang telah dikhabarkan kepada kamu”.
Apa yang Rasulullah s.a.w katakan mengenai ciptaan manusia “seperti yang telah diceritakan kepada kamu”, baginda memberi ketegasan dan tidak menjelaskannya seperti yang baginda lakukan pada menceritakan ciptaan malaikat dan jin. Rasulullah s.a.w “diberikan segala perkataan”. Ini adalah sebahagian daripadanya. Asas ciptaan malaikat dan jin tidak berubah. Asas ciptaan manusia berubah kerana ada empat kategori kejadian manusia. Kejadian Adam tidak menyerupai kejadian Hawa. Kejadian Hawa tidak meneyrupai kejadian keturunan Adam yang lain. Kejadian Isa tidak menyerupai yang lain. Di sini Rasulullah s.a.w memberi penjelasan. Baginda menyampaikan kepada kita perincian kejadian manusia. Adam diciptakan daripada tanah liat, Hawa daripada tulang rusuk, Isa daripada tiupan Roh, keturunan Adam daripada
“air yang hanyir” (77:20).


[Konsep perkaitan langit dan bumi]

Bila Allah dirikan empat anasir asas dan asap naik ke bahagian bawah Sfera Bintang-bintang Yang Tetap, tujuh langit dibentangkan di dalam asap itu, setiap satu berpisah daripada yang lain. Dia
“bukakan pada setiap langit ketentuannya”
selepas
“Dia adakan dalamnya rezekinya”
dan semua ini
“dalam empat hari”.
Kemduian Dia berfirman,
“kepada langit dan bumi: Datanglah dengan rela atau terpaksa”. (41:9-11).

Kemudian Allah adakan perkaitan di antara langit dan bumi dan arah yang dengannya Dia berkehendak mengadakan benda-benda di bumi dalam bentuk bahan galian, tumbuh-tumbuhan dan haiwan. Dia jadikan bumi seumpama isteri dan langit seumpama suami. Langit menyalurkan perintah Allah kepada bumi sebagaimana suami memindahkan air mani kepada isterinya. Dengan demikian bumi membawa keluar jenis-jenis pembentukan yang Allah sembunyikan di dalamnya.


[Empat anasir dan pembentukan manusia dan jin]

Bila udara dinyalakan dan dipanaskan, ia membakar seperti pelita. Pembakaran api itu adalah nyalaan udara dan ianya tidak berasap (marj, bercampur-aduk) kerana ia bercampur dengan udara dan adalah udara yang terbakar. Marj adalah campuran dan daripada ini yang tidak berasap itu adalah marj kerana tumbuh-tumbuhan bercampur di dalamnya.

Jin adalah campuran dua anasir iaitu api dan udara, sebagaimana manusia merupakan campuran dua anasir iaitu air dan tanah diuli bersama yang menjadikannya tanah liat. Begitu juga campuran udara dan api dinamakan ‘api yang tidak berasap’. Allah ciptakan bentuk jin dalam api yang tidak berasap itu. Oleh kerana anasir udara ada dengan jin, maka jin boleh mengambil berbagai-bagai bentuk yang mereka mahu. Oleh kerana ada anasir api dengannya maka ia menjadi tidak nyata dan seni, dan mereka mencari kekuasaan, kemegahan dan kekuatan kerana api merupakan bahagian yang paling tinggi dalam anasir-anasir itu dan ia mempunyai pengaruh yang kuat untuk menukarkan sesuatu sebagaimana hukum alam kehendaki. Inilah sebabnya jin iblis menyombong dan enggan sujud kepada Adam bila Allah memerintahkannya berbuat demikian lantaran pandangannya yang tinggi terhadap dirinya. Dia berkata,
“Aku lebih baik daripadanya” (7:12),
bermaksud menurut dasar bahawa Allah lebih menyukai api daripada anasir-anasir yang lain.

Jin tidak tahu bahawa anasir air yang daripadanya Adam diciptakan lebih kuat daripada api kerana air boleh memadamkan api dan tanah adalah lebih teguh daripada api melalui kesejukan dan kekeringan. Adam memiliki kekuatan dan kemantapan melalui penguasaan dua anasir tersebut yang Allah jadikannya. Walaupun dia juga memiliki anasir-anasir yang lain – udara dan api, anasir tersebut tidak ada kekuasaan atasnya. Jin juga memiliki anasir-anasir selebihnya….

Adam dikurniakan sifat rendah diri berdasarkan sifat tanah yang ada dengannya. Bila dia menjadi megah, itu hanyalah yang datang kemudian (bukan sifat semulajadinya). Dia menerima sifat tersebut kerana anasir api yang ada dengannya sebagaimana imaginasi dan keadaannya menerima berbagai-bagai suasana kerana anasir udara dengannya. Jin bersifat menyombong kerana sifat api yang ada dengannya. Jika mereka merendah diri, itu adalah yang datang kemudian (bukan sifat asli), ia boleh datang kerana anasir tanah yang ada dengannya. Mereka juga menerima ketetapan dalam menggunakan tipu daya jika mereka syaitan, dan menerima ketetapan untuk berbuat taat jika mereka bukan syaitan.

[Keadaan jin bila surah ar-Rahman (surah 55 dalam Quran) dibacakan]

Bila Rasulullah s.a.w membacakan surah ar-Rahman kepada para sahabat baginda, baginda bersabda, “Aku membacakannya kepada kumpulan jin. Mereka mendengarkannya lebih baik daripada kamu. Bila aku katakan,’Nikmat Tuhan kamu yang manakan kamu nafikan?’ mereka melafazkan,’kami tidak nafikan sebarang nikmat Tuhan kami!’ Ia meneguhkan mereka dan tidak menggeletar bila dibacakan,’Nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu nafikan?’ dalam bacaannya. Ini adalah cetusan sifat jin yang keluar daripada aanasir tanah dan air yang memadamkan nyalaan api. Sebahagian daripada mereka adalah taat kepada Allah dan sebahagiannya menderhaka, seperti manusia: tetapi mereka boleh mengambil berbagai-bagai bentuk seperti malaikat.


[Bentuk asasnya ialah rohani]

Allah jadikan mereka tidak kelihatan kepada pandangan manusia melainkan bila Allah angkatkan tutupan kepada orang-orang tertentu untuk mereka melihatnya. Oleh kerana jin tidak nyata dan seni, mereka boleh mengambil apa juga bentuk yang boleh dicapai oleh pancaindera menurut kemahuan mereka. Bentuk asasnya ialah kerohanian yang merupakan bentuk pertama yang diterima oleh jin pertama tatkala Allah membawanya kepada kewujudan. Kemudian ia mengambil berbagi-bagai bentuk menurut apa yang Allah kehendaki. Jika Allah bukakan pandangan kita sehingga kita dapat melihat bentuk-bentuk yang dapat disaksikan pancaindera melalui khayal, maka pada masa yang berlainan kamu akan dapat melihat manusia dalam berbagai-bagai bentuk yang tidak serupa antara satu sam alain.


[Pembiakan jin dan manusia]

Kemudian Allah tiupkan roh ke dalam nyalaan api yang bergolak lantaran keadaannya yang tidak pejal itu. Tiupan menambahkana pergolakan tersebut dan udara menguasainya dan ia tidak tinggal dalama keadaan yang sama. Alam jin muncul dalam bentuk demikian. Sebagaimana persetubuhan berlaku dalam kehidupan manusia secara memasukkan air ke dalam kandungan lalu menghasilkan pembiakan dan kelahiran dalam bangsa Adam yang fana, begitu juga dengan pembiakan berlaku pada jin secara memindahkan udara ke dalam kandungan perempuan dan pembiakan serta kelahiran berlaku pada jin. Mereka keluar melalui Sagittarius dan keadaannya yang berapi-api. Ini telah diceritakan oleh orang yang telah sampai – semoga Allah melindunginya!


[Tempuh di antara penciptaan jin dan penciptaan manusia]

Tempuh di antara penciptaan Jann (jin pertama) dengan penciptaan Adam ialah 60,000 tahun. Ini adalah perlu menurut dakwaan sesetengah orang bahawa kelahiran jin berakhir selepas 4,000 tahun dan kelahiran manusia berakhir selepas 7,000 tahun. Walau bagaimanapun, ianya tidak berlaku berdasarkan yang demikian. Ianya akan berlaku menurut kehendak Allah. Jin masih membiak dan akan terus membiak. Jadi bilakah manusia bermula, berapa tahun pembiakannya yang masih tinggal, berapa lama lagikah sebelum berakhirnya dunia ini dan bangsa manusia terhapus dari muka bumi ini dan mereka dipindahkan ke Alam Kemudian? Ini bukanlah pegangan mereka yang kukuh dalam ilmu. Ia dikatakan oleh sebilangan kecil sahaja dan tidak akan diulangi.


[Jin adalah ruang di antara malaikat dengan manusia]

Malaikat adalah roh yang ditiupkan ke dalam nur (cahaya). Jin adalah roh yang ditiupkan ke dalam angin. Manusia adalah roh yang ditiupkan ke dalam bentuk. Ada yang mengatakan bahawa yang perempuan tidak berpisah daripada jin yang mula-mula wujud, seperti Hawa berpisah daripada Adam. Salah seorang daripada mereka mengatakan Allah ciptakan anggota pada jin pertama, maka satu bahagiannya bersetubuh dengan bahagiannya yang lain dan keturunannya dilahirkan seperti keturunan Adam dilahirkan: lelaki dan perempuan berkahwin. Jadi sifat jin ialah memiliki kedua-dua jantina. Oleh kerana itu jin merupakan sebahagian daripada ruang di antara: mereka menyerupai manusia dan menyerupai malaikat kerana kedua-dua jantina menyerupai lelaki dan perempuan.


[Makanan dan perkahwinan jin]

Anasir udara dan api menguasai kejadian jin. Oleh kerana itu makanannya ialah apa yang di bawa oleh udara iaitu lemak di dalam tulang. Allah jadikan persediaan ini dalam mereka. Jadi kita dapati bahawa tulang dan dagingnya tidak berkurangan sama sekali dan kita tahu bahawa Allah berikan kepada mereka zat dalam tulang itu. Inilah yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w mengenai tulang, “Tulang adalah makanan saudara kamu dari golongan jin”. Dalam satu hadis, “Allah taruhkan zat pemakanan mereka di dalamnya”. Orang yang hal ini dibukakan kepadanya menceritakan kepada kami dia telah melihat jin mendapatkan tulang dan menghidunya seperti haiwan menghidu mangsanya. Kemudian mereka pergi sesudah mengambil makanannya. Makanannya diambil melalui penghiduan itu. Segala puji bagi Yang Maha Lemah-lembut (al-Latiff) dan Yang Maha Mengerti!

Bagi penyatuan mereka dalam perkahwinan, ia dalam bentuk berpusing – seperti apa yang kelihatan pada asap yang keluar dari tempat bakaran. Asap itu bercampur-gaul dan setiap individu jin itu menikmati kemasukan yang berbalas-balasan itu. Pancutan maninya seperti biji palma dan dalam bentuk bau yang asli, sama seperti makanannya.


[Puak dan kumpulan jin]

Mereka berpuak-puak dan berkumpulan. Dikatakan mereka tergolong kepada dua belas puak dan kemudian bercabang kepada puak-puak yang lebih kecil. Biasa berlaku peperangan besar di antara mereka, dan sebahagian daripada angin puting beliung adalah sebenarnya di tengah-tengah pertempuran mereka. Puting beliung itu merupakan perlawanan yang berbalas-balasan di antara dua angin yang bertentangan, masing-masing menghalang yang satu lagi daripada melepasi. Jadi penahanan itu membawa kepada bulatan yang dapat disaksikan oleh mata sebagai debu yang nyata yang merupakan kesan kepada perlawanan dua angin itu. Pertempuran mereka adalah seperti itu, tetapi bukanlah pula setiap puting beliung itu pertempuran mereka. Kisah jin ‘Amr merupakan kisah yang terkenal. Ia terbunuh di dalam puting beliung yang kelihatan. Ia pecah daripadanya ketika ia hampir mati. Ia tidak mengambil masa yang lama untuk mati. Ia adalah jin yang salih. Jika asas buku ini adalah untuk menceritakan sejarah dan budaya kami tentu ceritakan sebahagian daripadanya, tetapi buku ini adalah mengenai maksud ilmu pengetahuan. Kamu boleh mencari ceritanya pada tempat yang lain, dalam buku sejarah dan puisi.


[Cara alam makhluk rohani muncul dalam rupa bentuk]

Bila alam rohani mengambil bentuk dan muncul dalam bentuk yang boleh ditangkap oleh pancaindera, mata mengurung makhluk rohani itu kerana makhluk rohani itu tidak dapat melepaskan bentuk yang ia muncul itu kerana mata terus melihat kepadanya walaupun yang melihat itu ialah manusia. Bila mata manusia jelas mengenai makhluk rohani itu, ia tidak mempunyai tempat untuk menghilangkan diri, maka makhluk rohani itu menjelmakan bentuk yang ia gunakan untuk menutupi dirinya. Kemudian makhluk rohani itu membuat manusia mengkhayalkan yang bentuk itu telah meninggalkannya pada satu arah, lalu mata mengikuti arah tersebut. Bila mata mengikutinya, makhluk rohani itu meninggalkan kurungan mata tadi dan menghilang. Bila ia menghilang, bentuk itu hilang dari pandangan orang yang sedang memandang kepadanya dan mengikutinya dengan pandangannya. Dalam hubungan dengan makhluk rohani itu, bentuk itu adalah umpama cahaya yang di dalam bekas lampu yang cahayanya dihamburkan di penjuru-penjuru. Bila badan lampu itu tiada cahaya pun hilang. Beginilah keadaan bentuk itu. Jika seseorang mengetahui hal ini, dan mahu mengurung makhluk rohani itu, dia tidak harus mengikuti makhluk rohani itu dengan matanya. Ini adalah salah satu rahsia Ilahi yang hanya diketahui oleh mereka yang mendapat petunjuk Allah. Bentuk itu tidak lain daripada makhluk rohani itu. Sebenarnya ia adalah sama, sekalipun ia berada pada seribu tempat, atau pada setiap tempat, dengan bentuk yang berlainan.

Andaikata salah satu bentuk itu dibunuh dan kelihatan mati, makhluk rohani itu meninggalkan kehidupan dunia ini dan pergi ke ruang antara sebagaimana kita pergi apabila kita meninggal. Tidak ada maklumat mengenainya tinggal di dalam dunia ini, seperti keadaan kita juga. Bentuk yang boleh ditangkap oleh pancaindera yang diambil oleh makhluk rohani itu dinamakan ‘tubuh’. Allah berfirman,
“Kami adakan hanya jasad di atas singgahsananya” (38:34)
dan
“Kami tidak berikan kepada mereka tubuh yang tidak memakan makanan” (21:8).
Perbezaan di antara jin dengan malaikat, walaupun secara kerohaniannya mereka serupa, ialah makanan jin mengandungi makanan yang didapati dalam tubuh asli. Malaikat tidak demikian. Itulah sebabnya Allah ceritakan tentang tetamu Nabi Ibrahim a.s,
“Bila dia melihat tangan mereka tidak mengambilnya, dia mencurigai mereka” (11:70),
iaitu malaikat tidak menjamah daging panggang dan mereka tidak memakannya yang membuat Nabi Ibrahim a.s curiga.


[Pembentukan alam jin]

Apabila sampai masa dijadikan alam jin, Dia memerintahkan tiga daripada malaikat yang kepercayaan dalam sfera pertama yang membawa pembantu-pembantu mereka yang diperlukan untuk tugas ini dari langit kedua. Mereka turun ke langit-langit dan mengambil dua pembantu dari langit ke dua dan ke enam. Mereka turun ke anasir dan menyediakan tempat tersebut. Tiga lagi penjaga mengikuti mereka, dan mereka membawa apa juga pembantu yang diperlukan daripada langit kedua, kemudian turun ke langit ke tiga, dan daripada sana kepada yang ke lima. Mereka mengambil dua malaikat. Mereka melalui langit ke enam dan dan mengambil dua pembantu daripada malaikat. Kemudian mereka turun ke anasir bagi melengkapkan pembentukan itu. Enam yang lebihnya turun dan mengambil pembantu yang selebihnya di dalam langit ke dua dan langit-langit. Semuanya dikumpulkan bagi susunan kejadian ini dengan izin Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Bila kejadian alam jin selesai, Allah perintahkan roh daripada Alam Pemerintahan dan tiupkan kepada bentuk yang telah sedia itu dan kehidupan pun mengalir ke dalamnya. Ia pun berdiri mengucapkan puji-pujian kepada Penciptanya: ini merupakan ketentuan semulajadi yang Dia aturkan. Terkandung di dalamnya ialah kekuatan dan kebesaran yang penyebabnya tidak dikenali dan tidak ditemui kerana pada masa itu tidak ada makhluk lain yang wujud dalam alam semulajadi ini selain ia. Ia beribadat kepada Tuhannya, memperakui kekuasaan-Nya, merendah diri kepada Tuhannya yang telah mewujudkannya sebagai satu makhluk sehinggalah Adam diciptakan. Bila jin ini melihat lembaga Adam, salah seorang daripada mereka yang bernama al-Harith, dikuasai oleh kebencian kepada lembaga tersebut dan kemarahannya menyala-nyala tatkala menyaksikan lembaga Adam itu. Puaknya yang lain melihat keadaannya dan mengkeritiknya lantaran mereka melihat ia bersedih dan berdukacita di atas kejadian Adam itu. Bila kejadian Adam telah siap, al-Harith menunjukkan apa yang tersirat dalam dirinya dengan mengingkari perintah Penciptanya supaya sujud kepada Adam dan ia menjadi angkuh terhadap Adam berbangga dengan asal usulnya (daripada api yang ia rasakan lebih mulia daripada tanah). Ia gagal melihat rahsia kekuatan air yang daripadanya Allah jadikan setiap makhluk yang hidup ini, dan daripadanya juga datangnya kehidupan jin sekalipun ia tidak menyedarinya.


[Penciptaan Adam dan kejadian manusia]

Jika kamu terdiri daripada mereka yang tidak disingkapkan, fikirkanlah tentang firman Allah,
“dan singgahsana-Nya di atas air” (11:7).
Jadi, singgahsana dan makhluk di sekelilingnya memperolehi kehidupan melalui air.
“Tidak ada yang tidak meninggikan puji-pujian terhadap-Nya” (17:44).
Dia menggunakan yang negatif. Hanya yang hidup mengagungkan. Dala satu hadis yang baik Rasulullah s.a.w bersabda, “Malaikat berkata,’Wahai Tuhan (dalam hadis yang panjang)!adakah Engkau ciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada api?’ Dia menjawab,’Iya, air.’” Jadi, Dia jadikan air lebih kuat daripada api. Sekiranya anasir udara dalam struktur jin tidak dinyalakan oleh api, maka jin tentunya menjadi lebih kuat daripada keturunan Adam, kerana udara lebih kuat daripada air. Dalam hadis ini malaikat bertanya, “Wahai Tuhan, adakah Engkau ciptakan sesuatu yang lebih kuat daripada api?” Dia menjawab, “Ya, keturunan Adam.” Allah jadikan organisma manusia lebih kuat daripada udara. Air lebih kuat daripada api, dan ia merupakan anasir utama dalam manusia sebagaimana api menjadi anasir utama dalam jin. Inilah sebabnya Allah katakan tentang syaitan,
“Sesungguhnya tipu daya syaitan itu lemah” (4:76).
Ia tidak menganggap berkekuatan terhadapnya sama sekali. Ia tidak menafikannya kepada Gobernor Mesir tatkala ia bertkata,
“sesungguhnya tipu daya kamu kuat” (12:27)…

Sebab bagi yang demikian ialah organisma manusia memiliki kesesuaian untuk melahirkan sikap berhati-hati, keteguhan hati, bertafakur dan berfikir lantaran pengaruh anasir tanah dan air dalam sifat manusia. Jadi manusia memiliki akal yang lebih kerana tanah memegangnya dan menahannya sementara air menjadikannya lemah-lembut dan mudah. Jin tidak demikian. Akal jin tidak memiliki yang demikian yang boleh membuatnya berpegang kepada sesuatu sebagaimana manusia boleh lakukan. Sebab itu kita katakan, “Si anu ‘ringan’ akalnya dan ‘malap’ fikirannya” bila dia berkelakuan bodoh dan dungu! Ini merupakan sifat jin, dan dengannya jin sesat daripada jalan petunjuk kerana sifat aslinya yang dungu dan kurang kecerdasannya dalam berfikir. Jadi ia berkata,
“Aku lebih mulia daripadanya” (7:12)
dan menggabungkan kejahilan dan akhlak yang buruk kerana sifat dungunya.


[Syaitan pertama dari golongan jin]

Mana-mana jin yang derhaka adalah syaitan, iaitu yang tercampak jauh daripada rahmat Allah. Al-Harith adalah jin pertama yang dipanggil syaitan. Allah menghalaunya dalam keadaan putus asa, iaitu menghalaunya keluar dari rahmat-Nya dan mengharamkan rahmat ke atasnya. Daripadanya cabang-cabang syaitan muncul. Mana-mana jin yang beriman, seperti Hama ibn Alham ibn Laqis ibn Iblis, bergabung dengan jin yang beriman. Mana-mana yang tinggal dalam keingkaran adalah syaitan. Ia hanya merupakan sedikit perselisihan pendapat di kalangan ulama Syariat. Ada yang mengatakan syaitan tidak pernah tunduk, berpandukan daripada apa yang Rasulullah s.a.w katakan tentang syaitan yang menjadi sahabatnya, “Allah berikan daku kekuatan ke atasnya maka dia tunduk (aslama).” Mereka yang mentafsirkan baginda sebagai berkata “aslamu” mengambil kefahaman “Daku selamat daripadanya” dan ia tidak mempunyai jalan ke atasku. Jadi, terjemahannya berbeza. Jika ia diterjemahkan sebagai “aslama” maka ia tunduk. Ia bermakna ia tunduk walaupun ia menjadi musuh maka ia tidak menyuruhku melainkan kepada kebaikan, dipaksakan berbuat demikian oleh Allah dan sebagai perlindungan kepada Rasulullah s.a.w. Yang bertentangan berkata bahawa “aslama” bermakna bahawa ia percaya kepada Allah seperti yang tidak percaya bertukar menjadi Muslim dan beriman. Ini adalah lebih tepat dan diterima.


[Iblis adalah jin celaka yang pertama]

Kebanyakan orang berpendapat al-Harith adalah jin yang pertama, dan ia merupakan jin yang sama kedudukannya dengan jin-jin yang lain seperti umat manusia dengan Adam. Kami tidak berpendapat demikian. Al-Harith adalah salah satu daripada jin, tetapi yang menyamai seperti kedudukan Adam bagi umat manusia adalah jin yang lain. Inilah sebabnya Allah berfirman,
“Iblis adalah salah satu jin” (18:50),
iaitu ia adalah dalam kategori penciptaan ini. Sama juga Qabil adalah salah seorang manusia, tetapi Allah catitkannya di kalangan yang celaka. Dia adalah yang pertama dari kalangan manusia yang celaka, dan iblis adalah yang pertama yang celaka di kalangan jin. Kebanyakan seksaan bagi syaitan bangsa jin di dalam neraka ialah dengan kesejukan yang amat sangat, bukan dengan kepanasan, walaupun mereka mungkin diseksa dengan api. Kebanyakan seksaan untuk keturunan Adam ialah dengan api.

Satu hari aku berjumpa dengan seorang wali yang meracau. Dia menangis dan berkata kepada orang ramai,
“Jangan berhenti dengan perkataan-Nya, ‘Aku akan penuhkan Jahannam dengan kamu’” (38:85)
dan memaksudkannya dengan iblis sahaja. Perhatikan bagaiamana Dia menyampaikan kepada kamu secara tidak langsung bila Dia berfirman, ‘…jahannam dengan kamu.’ Iblis dijadikan daripada api maka dia kembali kepada asal usulnya – semoga Allah melaknatinya! Jika iblis diseksa dengannya, seksaan bagi periuk belangan dengan api adalah lebih lagi, maka ambillah perhatian!

Bila Jahannam disebutkan, wali ini hanya memikirkan api secara khusus, dan lupa akan kenyataan bahawa Jahannam adalah nama bagi kedua-duanya iaitu panas yang bersangatan dan sejuk yang bersangatan. Ia dipanggil jahannam kerana rupanya yang masam (jahama. Jahuma bermakna ‘memiliki rupa yang hodoh’) kerana rupanya yang menimbulkan rasa kebencian. Jaham adalah perkataan bagi awan yang sudahpun mencurahkan air yang dikandungnya. Hujan yang lebat merupakan rahmat Allah. Bila Allah sudah mengeluarkan hujan daripada awan, maka nama jaham digunakan baginya kerana rahmat iaitu hujan yang lebat sudah tiada lagi. Begitu juga, Allah telah menghilangkan rahmat daripada Jahannam yang dibenci menurut pandangan dan lapuran. Ia dinamakan Jahannam kerana ia terlalu dalam. Ada yang mengatakan, “sedalam Jahannam” bila menyatakan sesuatu yang sangat dalam. Kita bermohon kepada Allah Yang Maha Besar agar dikurniakan kepada kita dan sekalian orang yang beriman keselamatan daripadanya!
13. Penanggung Arasy
[Mengenai Penanggung Arasy]

Dengan Allah, Arasy menanggung ar-Rahman, dan mereka menanggungnya -
kenyataan ini mudah dimengerti.

Apakah kuasa yang ada pada makhluk dan apakah kekuatannya
sekiranya bukan kerananya yang akal dan Penyingkapan bawakan?

Tubuh dan roh dan makanan serta kedudukan
tiada apa lagi yang pembahagian aturkan.

Itulah Arasy, seandainya engkau ketahui kemuliaannya!
Yang bersemayam di atasnya dengan nama ar-Rahman yang diharapkan.

Mereka berlapan, dan Allah mengetahui mereka. Kini di sana adalah empat,
dan tiada kesalahan pada mereka:

Muhammad, kemudian Ridwan dan Malik, Adam
dan Khalil (Ibrahim) dan kemudian Jibrail,

Diikuti oleh Mikail dan Israfil. Hanya lapan di sini -
mendapat kekuatan daripada “La ilah illa Llah”.


[Arasy (singgahsana) dalam bahasa Arab]

Semoga Allah membantu wali-Nya! Ketahuilah dalam bahasa Arab singgahsana membawa maksud sesuatu yang menunjukkan kepada kewujudan kerajaan. Dikatakan, “Singgahsana raja diruntuhkan,” bila berlaku kekacauan di dalam kerajaannya. Singgahsana (takhta) juga membawa maksud kerusi. Bila singgahsana dimaksudkan sebagai penunjuk bagi sesuatu kerajaan, pembawanya adalah penanggungnya. Bila singgahsana itu adalah kerusi, penanggungnya ialah kakinya yang menanggungnya, ataupun sesiapa sahaja yang membawanya di atas galas mereka. Bilangan ditentukan bagi penanggung singgahsana Arasy. Rasulullah s.a.w mengatakan ada empat di dalam dunia ini, dan lapan pada Hari Kebangkitan. Rasulullah s.a.w membacakan,
“Pada hari itu lapan akan membawa Arasy Tuhan kamu” (69:17)
dan kemudian baginda bersabda, “Kini mereka adalah empat,” maksudnya dalam dunia ini. Firman Allah, “Pada hari itu mereka menjadi lapan”, bermaksud Hari Kebangkitan.


[Arasy terkandung dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat]

Kami bawakan daripada Ibn Masarra al-Jabali, salah seorang yang terkemuka dalam bidang kerohanian, mengatakan, dan menyingkapkan, “Arasy yang dibawa itu adalah kerajaan. Ia terkandung di dalam tubuh, roh, penyuburan dan darjat. ” Adam dan Israfil dari golongan bentuk; Jibrail dan Muhammad dari roh; Mikail dan Ibrahim dari pembekalan; dan Malik dan Ridwan dari Janji dan Ancaman. Dalam kerajaan itu hanya ada apa yang dinyatakan. Penyuburan, iaitu pembekalan, adalah yang boleh dicapai dengan pancaindera dan juga rohaniah. Apa yang akan kami nyatakan dalam tajuk ini ialah satu cara, yang membawa makna kerajaan, melaluinya segala manfaat berhubung. “Penanggungnya” mengatur mereka yang menjalankan urusan. Satu pengurus dalam bentuk anasir atau bentuk yang bercahaya; satu pengurus dalam bentuk roh; satu pengurus kepunyaan bentuk anasir; satu pengurus adalah roh dan satu diuruskan dan dikuasai oleh bentuk yang bercahaya. Penyuburan adalah kepunyaan bentuk anasir dan penyuburan ilmu dan makrifat roh. Ada darjat kebahagiaan yang boleh dialami oleh pancaindera dengan memasuki syurga dan ada darjat kecelakaan yang boleh dialami oleh pancaindera diperolehi dengan memasuki Jahannam dan darjat ilmu secara kerohanian.

Tajuk ini berdasarkan empat isu. Persoalan pertama ialah bentuk; keduanya roh; ketiga ialah penyuburan; dan keempat ialah darjat, iaitu penghujung. Setiap persoalan ini ada dua bahagian, jadi semuanya menjadi lapan. Mereka adalah penanggung Arasy, iaitu apabila yang lapan itu hadir, kerajaan pun didirikan dan muncul, lalu Raja bersemayam di atasnya.


[Badan yang bercahaya dan Malaikat Utama]

Persoalan pertama menyentuh bentuk dan ia mempunyai dua bahagian: bentuk tubuh beranasir yang mengandungi bentuk tubuh khayali, dan bahagian lain ialah tubuh fizikal yang bercahaya. Kita mulakan dengan tubuh yang bercahaya. Tubuh-tubuh pertama yang Allah jadikan adalah tubuh roh kemalaikatan bergerak dengan cinta dalam keagungan Allah. Ia termasuklah Akal Awal dan Diri Sejagat (Universal) dan tubuh yang bercahaya, diciptakan daripada cahaya keagungan berakhir di sana. Tidak ada daripada malaikat ini yang diciptakan melalui cara lain kecuali melalui Diri (an-Nafs) yang di bawah Akal. Setiap malaikat yang diciptakan selepas malaikat-malaikat ini adalah dibawah taklukan alam semulajadi. Mereka adalah daripada keturunan sfera-sfera yang daripadanya mereka diciptakan dan padanya mereka menghuni. Ia sama juga dengan malaikat anasir. Malaikat darjat terakhir ialah yang diciptakan daripada amalan dan nafas ahli ibadat. Kami akan nyatakannya sedarjat demi sedarjat dalam tajuk ini, Insya’ Allah.

Ketahuilah bahawa telah ada Allah sebelum Dia ciptakan makhluk dan di sana tidak ada masa sebelumnya. Itu adalah ungkapan secara ‘ada-hubungan’ yang menunjukkan perhubungan yang melaluinya matlamat dicapai pada pendengar. Allah berada di dalam ‘ama’ yang di bawah dan di atasnya tidak ada udara. Ia adalah kenyataan Ilahi yang pertama muncul yang dalamnya mengalir cahaya Zat, seperti dijelaskan oleh firman-Nya,
“Allah adalah cahaya langit dan bumi” (24:35).
Bila ‘ama’ itu diwarnai oleh cahaya, Dia bukakan dalamnya rupa malaikat yang terpukau oleh kecintaan yang di atas daripada badan alam semulajadi. Tidak ada singgahsana atau malaikat yang mendahului mereka. Bila Dia bawa mereka kepada kewujudan, Dia berikan mereka kenyataan. Kenyataan itu menjadi tidak kelihatan kepada mereka, dan yang tidak kelihatan itu menjadi roh mereka, iaitu bagi rupa-bentuk itu. Dia berikan kepada mereka kenyataan dalam Nama-Nya, Yang Maha Indah, lalu mereka kehairanan dan kebingungan dengan kecintaan dalam keagungan keindahan-Nya, dan mereka tidak pulih daripadanya.


[Akal Awal adalah Paksi bagi Alam Catatan dan Rakaman]

Bila Allah berkehendak menciptakan alam catatan dan penulisan, Dia khususkan salah seorang daripada malaikat Karubiyun. Ia adalah malaikat pertama daripada cahaya itu yang dinamakan Akal dan Qalam. Ia dikurniakan tajalli dalam tempat di mana ilmu yang dikurniakan menyata menurut kewujudan yang Dia kehendaki terhadap makhluk-Nya, bukan untuk akhiran dan batasan. Dengan zatnya, Akal menerima apa yang sepatutnya dan Nama-nama Ilahi yang yang inginkan kemunculan alam ciptaan. Daripada Akal ini muncul kewujudan lain yang dipanggil Loh. Dia perintahkan Qalam agar turun kepadanya dan mengamanahkan kepadanya hanya apa yang akan berlaku sehingga Hari Kebangkitan. Dia kurniakan kepada Qalam 360 tahun penulisan, iaitu menjadi Qalam. Bermula daripada ia menjadi qalam, Allah kurniakan kepadanya 360 tajalli atau raqa’iq (berus). Setiap tahun atau raqa’iq mengeluarkan 360 jenis ilmu yang lengkap, dan Qalam memperincikannya dalam Loh. Ini meliputi ilmu mengenai alam semesta sehingga Hari Kebangkitan. Loh mengetahuinya apabila Qalam menyerahkan pengetahuan itu kepadanya. Ini adalah sebahagian daripada alam semulajadi, dan ia adalah ilmu pertama yang Loh terima mengenai ilmu yang bersangkutan dengan apa yang Allah kehendaki pada makhluk-Nya. Ini adalah lebih tepat dikira sebagai semulajadi daripada diri. Semua itu berada di dalam alam cahaya yang murni.

[Arasy dan malaikat yang menghuninya]

Kemudian Allah bawa kepada kewujudan kegelapan yang murni yang bertentangan dengan cahaya ini, yang berada dalam keadaan ketiadaan yang menyeluruh bertentangan dengan kewujudan yang menyeluruh. Bila Dia membawanya kepada kewujudan, cahaya itu mengalir ke atasanya dengan pengaliran keluar yang perlu dengan bantuan semulajadi. Maka cahaya memperbaiki keadaannya yang berselerakan dan badan muncul yang ditunjukkan sebagai Arasy. Kemudian nama ar-Rahman bersemayam di atasnya dengan nama, Kenyataan Zahir. Itu adalah kemunculan yang pertama bagi alam ciptaan. Daripada cahaya yang bercampur itu, yang seumpama cuaca subuh, Dia ciptakan malaikat yang mengelilingi Singgahsana itu. Inilah firman-Nya,
“Kamu akan lihat malaikat mengelilingi Arasy sambil membesar dan memuji Tuhan mereka” (39:75).
Mereka tidak mempunyai tugas lain kecuali mengelilingi Arasy, membesar dan memuji-Nya. Kami telah terangkan tentang penciptaan alam maya dalam buku kami, ‘Uqla al-Mustawfiz. Kami gunakan prinsip berkenaan dalam tajuk ini.


[Kursi dan malaikat yang mendiaminya]

Kemudian Dia bawakan Kursi ke dalam kewujudan Arasy ini dan meletakkan padanya malaikat yang dari jenisnya. Setiap sfera merupakan asas penghuninya yang diciptakan di dalamnya sama seperti anasir yang daripadanya penghuninya diciptakan. Adam diciptakan daripada tanah maka keturunannya menghuni bumi. Dalam Kursi yang mulia ini, Perkataan dibahagikan kepada rakaman dan pengadilan: ini adalah dua kaki yang turun daripada Arasy sebagaimana dinyatakan oleh hadis. Kemudian di dalam Kursi itu Allah ciptakan sfera-sfera, satu di dalam yang lain. Dalam setiap sfera Dia ciptakan alam daripadanya yang mereka diami, yang dinamakan malaikat iaitu utusan. Dia hiaskan sfera-sfera dengan bintang-bintang, dan mengilhamkan kepada setiap langit dengan perintah-Nya sehingga Dia ciptakan bentuk benda-benda (muwalladat).


[Roh bentuk yang bercahaya, bentuk khayali dan bentuk anasir]

Bila Allah lengkapkan bentuk-bentuk yang bercahaya dan anasir ini yang tidak mempunyai roh yang tidak kelihatan oleh bentuk-bentuk tersebut, Dia kurniakan kenyataan kepada setiap golongan bentuk-bentuk tersebut menurut asas masing-masing. Roh bentuk-bentuk itu muncul daripada bentuk-bentuk tersebut dan daripada tajalli. Ini merupakan persoalan kedua. Allah ciptakan roh-roh dan perintahkan mereka menguruskan bentuk-bentuk tersebut dan Dia jadikan mereka ghaib, zat yang satu tetapi dijadikan berbeza di antara satu sama lain. Mereka berbeza menurut bentuk yang mereka terima daripada tajalli itu. Bentuk-bentuk itu bukanlah kepunyaan roh-roh secara kenyataannya menurut “di mana berada”. Bentuk-bentuk ini dimiliki oleh roh-roh sebagai kerajaan berhubung dengan bentuk anasir, dan seumpama tempat menyatakan berhubung dengan semua bentuk-bentuk.

Kemudian Allah hasilkan bentuk khayali fizikal melalui tajalli lain di antara lataif (yang seni) dan bentuk, dan bentuk bercahaya dan menyala muncul kepada pandangan dalam tubuh fiikal itu. Bentuk yang dapat ditangkap oleh pancaindera yang menyata itu membawa bentuk maksud dalam bentuk fizikal ini di dalam tidur, selepas kematian dan sebelum dibangkitkan – ia adalah bentuk di antara ruang (barzakh). Ia adalah tanduk cahaya yang atasnya luas dan bawahnya sempit. Bahagian tertingginya ialah ‘ama’ dan bahagian terendahnya ialah bumi. Badan-badan bagi bentuk ini yang mana jin, malaikat dan bahagian batin manusia muncul adalah arah ke luar semasa tidur dan bentuk-bentuk Taman Syurga. Bentuk inilah yang menghuni bumi khayali yang sudah kami katakan dalam tajuk yang sesuai ini.


[Penyuburan roh-roh dan penyuburan bentuk-bentuk]

Kemudian Allah tentukan penyuburan bagi bentuk-bentuk dan roh-roh ini. Ia termasuk dalam persoalan ketiga. Mereka hidup dengan penyuburan itu. Ia mengandungi penyuburan pancaindera dan penyuburan maksud. Penyuburan maksud adalah penyuburan ilmu pengetahuan, tajalliyat dan hal-hal (ahwal) atau suasana. Penyuburan pancaindera sudah diketahui umum. Ia adalah apa yang bentuk-bentuk itu makan dan minum yang membawakan maksud kerohanian, iaitu bakat-bakat. Setiap bentuk, samada yang bercahaya, haiwan atau fizikal, disuburkan oleh apa yang sesuai dengannya. Ia mengambil tempat yang panjang untuk diperincikan di sini.


[Darjat alam dalam kebahagiaan dan kecelakaan]

Kemudian Allah kurniakan kepada setiap alam darjat dalam kebahagiaan dan kecelakaan dan satu setesen; dan perinciannya tidak terhitung. Kebahagiaannya menurutnya: sebahagiannya kebahagiaan nafsu, kebahagiaan kesempurnaan, kebahagiaan kerana dipenuhi, dan kebahagiaan tempat, iaitu Syariat. Kecelakaan adalah seperti itu dalam pembahagian apa yang tidak disetujui oleh nafsu, kesempurnaan, kelakuan (iaitu tidak dipenuhi), dan bukan Syariat. Semua itu boleh ditangkap oleh pancaindera dan akal. Bahagiannya yang ditangkap oleh pancaindera berkait dengan Kediaman kecelakaan, kesakitan pada dunia ini dan alam kemudian, dan berkait dengan Kediaman kebahagiaan bagi kesenangan dalam dunia ini dan alam kemudian. Sebahagiannya murni dan sebahagiannya bercampur. Yang murni berhubung dengan Alam Kemudian. Yang bercampur berhubung dengan Kediaman sekarang. Jadi yang bahagia mungkin muncul dalam bentuk yang celaka dan yang celaka mungkin muncul dalam bentuk bahagia sementara mereka akan menjadi jelas berbeza pada Kediaman Kemudian. Boleh jadi yang celaka menyatakan kecelakaannya dalam dunia ini dan ia berhubung dengan kecelakaan di Alam Kemudian. Begitu juga dengan keadaan bahagia. Walau bagaimanapun, mereka tidak diketahui dalam dunia ini, tetapi mereka menjadi jelas dalam Alam Kemudian:
“Sekarang asingkan diri-diri kamu, wahai mereka yang berdosa, pada hari ini!” (35:59).
Jadi darjat dihubungkan dengan orang berkenaan dengan hubungan yang tidak akan putus ataupun berubah.


[Penanggung Arasy dalam alam ini dan alam kemudian]

Jadi maksud lapan, iaitu jumlah kerajaan ditunjukkan oleh Arasy, sudah dijelaskan kepada kamu. Ini adalah persoalan keempat. Maksud lapan sudah jelas bagi kamu. Lapan ini kepunyaan lapan asbab Ilahi yang melaluinya Allah diceritakan. Mereka ialah: kehidupan, pengetahuan, kuasa, kehendak, pertuturan, pendengaran, penglihatan, dan kesempurnaan kecapan, bau dan rasa dengan sifat yang berhubung dengannya. Pengertian ini mengenai mereka ada hubungan, seperti pendengaran menyaksikan benda-benda yang didengar dan penglihatan menyaksikan benda-benda yang dilihat. Jadi kerajaan itu terkandung di dalam lapan. Empat daripadanya menyata dalam alam ini: bentuk, makanan dan dua darjat itu. Pada Hari Kebangkitan, kesemua yang lapan itu akan kelihatan pada pandangan. Allah berfirman,
“Pada hari itu lapan akan menangung di atas mereka Arasy Tuhan kamu” (69:17).
Rasulullah s.a.w bersabda, “Kini mereka berempat”. Inilah penjelasan mengenai Arasy sebagai Kerajaan.

Bagi Arasy, iaitu singgahsana, ia kepunyaan Allah dan malaikat-malaikat membawanya di atas belakang mereka. Hari ini mereka berempat, dan esok mereka berlapan berhubung dengan tanggungan di bumi yang dikumpulkan. Ia berhubung dengan empat yang menanggungnya kira-kira menyamai apa yang Ibn Masarra katakan. Dikatakan satunya mempunyai rupa manusia, satu singa, satu helang dan keempatnya lembu. Itulah yang dilihat dan dikhayalkan oleh Samiri sebagai Tuhan Musa. Jadi dia bina anak lembu untuk kaumnya dan berkata,
“Inilah Tuhan kamu dan Tuhan Musa” (20:88),
menurut kisahnya. Allah menceritakan yang benar dan memimpin ke jalan yang benar.

19. Ilmu darjat & pangkat
Sebab bertambah dan berkurangannya ilmu dan firman Allah,

“Katakanlah:’Wahai Tuhan, tambahkanlah ilmuku!”
dan sabda Rasulullah s.a.w,
“Allah tidak menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari dada ulama, tetapi Dia menghilangkannya dengan mematikan ulama.”

Tajalli wujud Yang Haq dalam sfera diri
kenyataan bagi berkurangannya ilmu.

Jika seseorang tidak menyedari hal tersebut dengan dirinya
mampukah dia menyaksikan Tuhannya melalui penyelidikan dan pertanyaan?

Seandainya kepelbagaian ilmu lahir dalam diri,
penutupan yang disedari ditetapkan oleh kata-kata tersebut.

Tiada apa kecuali cakra matahari kewujudan muncul
dan cahayanya jatuh ke atas alam arwah.

Yang Asal hanya disaksikan bila ada kenyataan
sekalipun manusia dimusnahkan oleh kekuatan tamak.

Tidak syak lagi pada kenyataan yang aku bukakan
dan ianya bukan gambaran kebohongan yang salah atau dugaan.


[Ilmu: darjat dan peringkatnya]

Ketahuilah bahawa setiap benda yang hidup dan setiap orang dinyatakan oleh pengertian, berada dalam pengetahuan baharu pada setiap nafas menurut pengertian tersebut. Walau bagaimanapun, boleh jadi individu yang menyaksikan itu bukanlah seorang daripada yang berpengetahuan penuh mengenainya. Sebenarnya, ilmu, maka ilmu boleh dinyatakan sebagai berkurangan berhubung dengan orang yang berilmu. Ia terhasil daripada fakta bahawa seharusnya ada pengertian sekiranya penghalang mengganggu di antaranya dan benda-benda yang dia lihat, seperti keadaan orang yang buta atau pekak atau seumpamanya.

Oleh yang demikian ilmu naik dan turun mengikut apa yang diketahui. Kerana itulah apabila himma berhubungan dengan ilmu yang mulia yang melaluinya manusia dinyatakan, dirinya (nafs) dipersucikan dan darjatnya dipertingkatkan. Tahap ilmu yang tertinggi ialah ilmu mengenai Allah. Jalan tertinggi kepada ilmu mengenai Allah ialah ilmu tentang tajalliyat. Di bawahnya ialah ilmu tentang penyelidikan akal (nadhar). Tidak ada ilmu Ilahi di bawah penyelidikan. Ia adalah kepercayaan atau pendapat bagi manusia umum, bukan ilmu.

Ilmu-ilmu ini ialah apa yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya supaya menambahkannya.
Allah berfirman,
“dan jangan terburu-buru dengan Quran sebelum pembukaan kepada kamu selesai dan katakan, ‘Wahai Tuhan, tambahkan bagiku ilmu’” (20:114),
iaitu tambahkan bagiku dengan Perkataan-Mu yang Engkau kehendaki aku mengetahuinya. Di sini pertambahan ilmu ialah ilmu tentang penyingkapan secara perlahan, di luar adab dengan guru yang membawakannya kepadanya daripada Tuhannya. Kerana sebab ini, Dia letakkan ayat ini sesudah perkataan-Nya,
“dan segala muka merendah diri kepada Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri,” (20:111)
iaitu merendah diri. Dia maksudkan ilmu tentang tajalli. Tajalli adalah jalan yang paling mulia bagi memperolehi ilmu – ia adalah ilmu yang dirasai dengan segera.


[Ilmu: bertambah dan berkurangan]

Kami akan nyatakan pertambahan dan pengurangan ilmu dalam tajuk lain, Insya’ Allah. Allah mengurniakan segala-galanya – dan diri (nafs) manusia salah satunya – zahir dan batin. Diri manusia secara zahirnya menyaksikan dengan mata, dan batinnya dengan ilmu. Allah adalah Yang Zahir dan Yang Batin. Adalah dengan-Nya pengertian diperolehi. Bukanlah kuasa sesuatu yang selain Allah untuk menyaksikan sesuatu dengan sendirinya. Dia menyaksikan dengan apa yang Allah letakkan padanya dan tajalli Allah. Sesiapa yang memperolehi tajalli daripada mana-mana alam, baik alam ghaib dan tidak kelihatan, adalah daripada Nama, Yang Zahir. Bagi nama, Yang Batin, sebahagian daripada hakikat hubungan ini ialah tidak pernah ada tajalli dalamnya, tidak dalam alam ini ataupun alam kemudian kerana tajalli menunjukkan kenyataan Allah kepada seseorang yang menerima kenyataan itu. Itu kepunyaan nama Yang Zahir. Hubungan yang mudah difaham oleh akal tidak berubah, sekalipun mereka tidak mempunyai sumber yang melaluinya mereka keluar. Walau bagaimanapun, mereka mempunyai kewujudan yang lojik, maka mereka adalah mudah difahami.

Apabila Allah kurniakan tajalli, samada sebagai kurniaan semata-mata ataupun sebagai jawapan kepada permohonan, tajali itu dikurniakan kepada diri yang zahir, dan pengertian oleh indera berlaku dalam bentuk itu, dan ia mengambil tempat pada ruang antara (barzakh) dan membentuk gambaran. Maka orang yang menerima kenyataan itu akan mendapat pertambahan pengetahuan jika dia seorang ulama dalam Syariat, bertambah pengetahuan dalam kriteria maksud jika dia seorang ahli dialek, dan bertambah pengetahuan dalam ukuran ucapan jika dia seorang ahli bahasa. Ianya menjadikannya pakar dalam setiap pengetahuan mengenai makhluk dan bukan makhluk. Ilmunya bertambah dalam bidang yang dia ceburi.

Mereka yang di atas jalan ini mengetahui bahawa pertambahan ini datangnya daripada tajalli Ilahi kepada kumpulan-kumpulan tersebut, agar mereka tidak dapat menafikan apa yang telah dibukakan kepada mereka. Penangkapan deria orang yang bukan ahli makrifat bertambah dan ia disandarkan kepada pemikiran. Pengalaman bagi yang selain dua ini bertambah tetapi tidak mengetahui yang mereka menjadi bertambah dalam perkara apa. Dalam gambaran
“gambaran mereka adalah seperti keldai yang membawa buku yang tebal. Betapa buruknya gambaran mereka yang menafikan ayat-ayat Allah!” (62:5).
Ayat-ayat itu adalah pertambahan ini dan sumber pertambahannya. Keajaiban diungkapkan bagi mereka yang menyandarkannya kepada pemikiran mereka! Mereka tidak tahu bahawa pemikiran mereka, renungan dan kajian dalam sebarang persolan adalah pertambahan pengetahuan dalam diri mereka yang datangnya daripada tajalli tersebut yang telah kami nyatakan. Pemikir sibuk dengan hubungan pemikirannya dan penghujung pencariannya. Dia terhijab daripada pengetahuan mengenai hal yang sebenar. Pengetahuannya bertambah tetapi dia tidak menyedarinya.

Apabila tajalli berlaku, ianya melalui nama Yang Zahir kepada bahagian batin seseorang. Pengertian berlaku tentang dalaman mengenai alam hakikat dan maksud melepaskan perkara fizikal. Ini ditunjukkan sebagai “catatan-catatan” lantaran catatan-catatan Ilahi tidak mempunyai kekeliruan atau kemungkinan dalam aspek tertentu. Ia hanya berlaku dalam maksud. Maka orang yang ada maksud bebas daripada pemikiran yang berat, dan dalam tajalli dia menjadi bertambah dalam pegetahuan ketuhanan, ilmu tentang rahsia-rahsia dan ilmu tentang batin, dan apa yang berhubungan dengan Alam Kemudian. Ini dititikberatkan oleh mereka yang di atas jalan kami – ia adalah jalan ilmu.


[Ilmu: pengurangannya]

Ilmu boleh berkurangan kerana dua sebab, samada melalui sifat buruk dalam asas organismanya atau ketidak-sempurnaan sampingan dalam bakat yang berhubung dengan itu. Sifat buruk dalam asas organisma tidak boleh diubah, sebagaimana kata al-Khidr tentang seorang kanak-kanak,
“sifatnya ialah ingkar” (18:80).
Ini adalah asas organisma. Bagi ketidak-sempurnaan sampingan, ia boleh hilang – jika ianya dalam bakat itu – dengan ubat. Jika ianya dalam diri, sebagaimana apabila kecintaan kepada kepimpinan dan menurut hawa nafsu mengalih dia daripada menambahkan ilmu yang mengandungi darjat dan kebahagiannya, ini boleh dihilangkan apabila Hakikat menyeru dari dalam hatinya dan dia kembali kepada tafakur yang benar, dan dia mengetahui bahawa dunia ini adalah salah satu pentas bagi pengembara dan jambatan yang perlu diseberangi, dan seandainya manusia tidak menghiaskan dirinya dengan ilmu, kelakuan yang mulia dan sifat-sifat Alam Malakut di sini dalam bentuk penyucian dan pembebasan daripada hawa nafsu yang menghalang dia daripada renungan yang benar, tiada jalan untuknya memperolehi kebahagiaan yang abadi. Maka dia mulakan dengannya. Ketidak-sempurnaan ini juga sebab bagi pertambahan ilmu.

Saya tidak maksudkan apabila ilmu itu berkurangan ia adalah semata-mata kesalahan manusia – kecuali ilmu ketuhanan. Kebenarannya menunjukkan bahawa tidak ada pengurangan sama sekali dan manusia itu sentiasa dan terus menerus bertambah ilmunya dan dalam hubungan apa yang inderanya berikan kepadanya, turun naik suasana dan aliran pemikiran dalam dirinya. Ilmunya bertambah, tetapi tidak ada manfaat dalamnya. Pendapat, keraguan, spekulasi, kejahilan, kelalaian dan kelupaan: semua ini dan perkara-perkara seumpamanya tidak disertai oleh ilmu yang apa yang kamu di dalamnya dalam hubungan pendapat, keraguan, spekulasi, kelalaian atau kelupaan.


[Ilmu tajalli: pertambahan dan pengurangannya]

Bagi pertambahan dan pengurangan ilmu tajalli, manusia itu samada berada dalam salah satu suasana: bagaimana anbia bawakan mereka muncul keluar secara pancaran, atau aulia melalui prinsip menjadi pewaris anbia. Inilah seperti yang dikatakan kepada Abu Yazid al-Bistami apabila jubah perwakilan dipakaikan kepadanya, “Pergilah kepada makhluk-Ku dengan sifat-sifat-Ku. Sesiapa yang melihat kamu melihat Aku!” Tidaka ada apa yang boleh dia lakukan kecuali mentaati perintah Tuhannya. Dia maju selangkah ke arah dirinya dan dia pengsan. Kedengaran jeritan, “Kembalikan Kekasih-Ku kepada-Ku! Dia tidak dapat menahan perpisahan dengan-Ku!” Dia telah larut ke dalam al-Haq, seperti Abu ‘Iqal al-Maghribi, maka roh-roh diamanahkan dengannya dan sesiapa yang membantunya apabila dia diperintahkan keluar kembalikan dia kepada setesen penyerapan (istihlak) dalam-Nya. Dia dikembalikan kepada Allah dan pakaian rendah hati, kemiskinan, dan kehinaan dipakaikan kepadanya. Hidup ini menggembirakan dan dia menyaksikan Tuhannya dan bertambah dalam keakraban dan memperolehi kerehatan daripada
“amanah yang dipertaruhkan” (33:72)
yang perlu diangkatkan daripadanya.


[Kenaikan (Mikraj) manusia atas Tangga Makrifat]

Sejak saat saat permulaan seseorang itu memulakan tangga kenaikan, dia mempunyai tajalli ketuhanan menurut tangga yang dia daki. Setiap orang dari kalangan ahli Allah mempunyai tangga khusus untuknya yang tidak ada orang lain mendakinya. Jika seseorang boleh mendaki tangga orang lain, maka kenabian boleh diperolehi. Dengan zatnya, setiap tangga memberikan darjat khusus untuk orang yang mendakinya. Sekiranya keadaan sebaliknya, ulama boleh memanjat tangga anbia dan memperolehi kenabian dengan berbuat demikian. Keadaannya tidak demikian. ‘Keupayaan ketuhanan’ akan hilang sekiranya perkara itu berulang. Dalam pandangan kami, ianya sah bahawa tidak ada pengulangan dalam kehadiran itu.

Walau bagaimanapun, semua langkah bagi maksud – anbia, aulia, yang beriman, dan utusan – semuanya sama. Satu tangga tidak mempunyai anak tangga yang lebih daripada tangga lain. Langkah pertama ialah Islam. Ia adalah penyerahan. Langkah terakhir ialah penghapusan (fana) dalam kenaikan itu dan berjalan terus dalam perjalanan keluar itu. Apa yang tinggal ialah di antara dua mereka. Ia adalah iman, ihsan, ilmu, kesatuan sejati (taqdis), ‘tiada-hubungan’ (tanzih), kekayaan, kemiskinan, kehinaan, kekuasaan, perubahan (talwin), penetapan dalam perubahan itu, penghapusan (fana) jika kamu keluar dan berjalan terus jika kamu masuk. Setiap langkah yang dalamnya kamu tinggalkkannya mengurangkan pengetahuan tajalli dalam keseimbangan batin kamu dengan apa yang bertambah pada zahir kamu sehingga kamu mencapai langkah terakhir.

Jika kamu keluar dan mencapai langkah terakhir, maka Dia menyata dengan Zat-Nya dalam zahir kamu menurut nilai kamu dan kamu menyatakan-Nya dalam makhluk-Nya. Dalam batin kamu tidak ada apa lagi yang tinggal dan tajalliyat kebatinan meninggalkan kamu secara keseluruhannya. Apabila kamu dipanggil untuk masuk, panggilan ini adalah langkah pertama yang akan dinyatakan kepada kamu melalui tajalli dalam batin kamu menurut apa yang berkurangan bagi tajalli itu dalam zahir kamu, sehingga kamu mencapai langkah terakhir. Kemudian Dia dinyatakan kepada batin kamu dengan Zat-Nya dan tidak ada tajalli sama sekali tinggal dalam zahir kamu. Sebab bagi yang demikian ialah hamba dan Tuhan terus bersama, setiap satu dengan kewujudan yang sempurna bagi dirinya: hamba tetap hamba dan Tuhan tetap Tuhan, sekalipun berlaku pertambahan dan pengurangan ini.

Inilah sebab bagi pertambahan dan pengurangan ilmu tajalliyat dalam zahir dan batin. Sebab bagi itu ialah peraturan. Inilah sebabnya semua yang Allah ciptakan dan bawakan kepada kewujudan dalam keasliannya adalah komposit (dalam keadaan banyak bahagian tetapi merupakan kesatuan) – ia ada zahir dan batin. Apa yang kami rujukkan sebagai anasir yang mudah (basa’it) adalah perkara yang mudah difahami yang tidak ada kewujudan dalam sumbernya. Setiap benda yang wujud, selain Allah, adalah komposit. Kami ketahui ini melalui kasyaf yang benar yang tidak ada keraguan dalamnya. Ia mewajibkan pergantungan yang sesuai kepada-Nya, kerana ia adalah gambaran yang perlu bagi-Nya.

Jika kamu faham, kami sudah jelaskan jalannya untuk kamu mulakan pendakian bagi diri kamu. Maka mengembaralah! Dan naiklah! Kamu akan lihat dan saksikan apa yang sudah kami jelaskan kepada kamu. Kami telah perincikan langkah-langkah pendakian bagi kamu yang kami simpan bagi kamu dalam nasihat yang berguna apabila Rasulullah s.a.w perintahkan kita melakukannya (dalam hadis). Sekiranya kami ceritakan buah dan hasilnya kepada kamu tanpa perincian jalannya kepada kamu, kami akan membuatkan kamu teringinkan sesuatu yang besar yang kamu tidak ketahui jalan memperolehinya. Dengan yang Esa yang diriku dalam tangan-Nya, ia adalah Mikraj.
“Allah katakan yang benar dan membimbing kepada jalan yang benar”.

59. Masa yang ada….
59: MASA YANG ADA MASA DAN MASA YANG DITENTUKAN

[Mengenai masa yang ada dan masa yang ditentukan]

Bila engkau pastikan bahawa bahan masa
ditentukan dan diketahui melalui ilusi,

Seumpama alam semulajadi dalam memberi kesan kuasanya
Sumber alam semulajadi dan masa adalah tidak wujud.

Perkara-perkara ditentukan dengannya, tetapi ia tidak
mmeiliki sumber yang dengannya ia diputuskan.

Akal tidak mampu menyaksikan bentuknya
kerana sebab itu, kami katakan masa adalah ilusi.

Seandainya bukan kerana ‘tiada-hubungan’, kewujudan Allah tidak akan jadi
ditentukan olehnya. Maka Dia meninggi di dalam hati.

Bila kamu adil dengan akar masa daripada sebelum-masa
keputusannya ialah azali, dan ia dikawal.

Seperti kekosongan yang sambungannya tidak ada kesudahan dalam
badan lain melalui ilusi dan penjelmaan dalamnya.


[Kepertamaan Yang Haq dan Wujud-Nya dan kepertamaan alam maya dan wujudnya]

Ketahuilah, mula-mulanya, bahawa Allah adalah Permulaan dan tiada yang lain mendahului-Nya, dan tiada apa yang bergantung kepada-Nya memiliki kepertamaan tidak juga ada sesuatu yang mempunyai sempadan yang sama dengan-Nya. Dia adalah Esa – maha suci Dia! dalam kepertamaan-Nya. Tidak ada sesuatu yang wujudnya perlu dengan dirinya sendiri melainkan Dia. Dia Kaya dengan Zat-Nya, tidak memerlukan kepada sesiapapun. Allah berfirman,
“Allah itu Kaya daripada sebarang keperluan daripada sesiapa” (3:97) melalui bukti lojik dan Syariat.

Jadi wujud alam ini mestilah samada memiliki kewujudannya yang daripada Allah kepada Diri-Nya, atapun perkara tambahan yang bukan Dia kerana, seandainya itu adalah Dia, maka tidak ada tambahan. Sekiranya itu adalah Dia, ia akan menjadi perkara yang kompleks dalam dirinya dan kepertamaan akan menjadi kepunyaan perkara tambahan itu. Kami telah tetapkan bahawa tiada kepertamaan kepada apa sahaja dengan-Nya dan tidak juga sebelum-Nya.

Oleh kerana perkara tambahan itu bukan Diri-Nya, ia mestilah wujud atau tidak wujud. Adalah mustahil ia menjadi tidak wujud. Yang tidak wujud tidak dapat memiliki kesan untuk membawa kepada kewujudan dalam apa yang dinyatakan sebagai tidak wujud, iaitu alam maya. Jadi tidaklah daripada kedua-duanya itu yang lebih memiliki kesan membawa kepada kewujudan melebihi yang satu lagi kerana kedua-duanya adalah tidak wujud. Yang tidak wujud tidak memberi kesan kerana ia tidak ada.

Adalah mustahil ia menjadi wujud. Maka dalam itu ia semestinya samada menjadi wujud dengan dirinya atau tidak. Mustahil wujudnya terjadi dengan dirinya, kerana bukti sudah dinyatakan tentang mustahil di sana ada kewujudan dua yang wujudnya perlu buat diri mereka. Maka hanya tinggal kewujudannya oleh yang lain daripada dirinya, dan tidak ada makna bagi kemungkinan alam maya melainkan kewujudannya adalah oleh yang lain daripadanyha. Jadi ia adalah alam atau daripada alam.

Seandainya kewujudan alam maya ini adalah daripada Allah melalui hubungan tertentu, sekiranya bukan kerana hubungan itu, alam maya ini tidak mungkin wujud. Hubungan itu dipanggil kehendak atau kemahuan atau ilmu atau apa sahaja yang kamu suka daripada kewujudan itu pada keperluan yang harus. Jadi tanpa keraguan Yang Haq lakukan sesuatu melalui hubungan tersebut. Keperluan tidak memberi makna melainkan ini, dan ia adalah mustahil bagi Allah. Allah berfirman,
“Allah Maha Kaya, tidak memerlukan sesiapapun” (3:97).

Sekiranya dikatakan apa yang dimaksudkan dengan hubungan ini sama seperti Zat-Nya, kami katakan benda ini tidak memrlukan dirinya. Dia kaya dengan diri-Nya. Maka yang memerlukan adalah yang tidak berpunya. Semua itu bagi Allah adalah mustahil. Kami nafikan perkara tambahan. Itu memestikan bahawa kewujudan alam maya ini, oleh kerana ia wujud daripada yang selainnya, terikat dengan Keperluan kewujudan dengan Diri-Nya. Adalah mustahil sumber yang harus memebri kesan kepada Keperluan kewujudan melalui Diri-Nya dengan pembawaan-kepada -kewujudan. Perkara ini hanya mampu difahami demikian.

Kehendak, kemahuan, ilmu dan kuasa-Nya adalah Zat-Nya. Allah meninggi atau melampaui dalam Zat-Nya. Sesungguhnya, Dia memiliki kesatuan yang mutlak, dan Dia yang Esa, yang Tunggal, Allah, as-Samad
“yang tidak beranak”
yang seharusnya menjadi yang terdahulu
“tidak juga diperanakkan”
yang menjadi hasil,
“dan tiada sesuatu menyamai-Nya” (112:3-4),
maka kewujudan alam maya oleh-Nya adalah daripada dua dasar – daripada Yang Haq dan yang bersamaan. Allah melampaui sesuatu!

Demikianlah Dia nyatakan Diri-Nya dalam Kitab-Nya apabila Rasulullah s.a.w ditanya tentang sifat Tuhannya. Kemudian Surah al-Ikhlas diturunkan dan bebaskannya daripada dipersekutukan dengan yang lain. Allah melampaui penyifatan dan gambaran yang murni itu. Tiada apa yang Dia nafikan atau isbatkan dalam surah ini tetapi pengisbatan atau penafian itu adalah apa yang sebahagian orang katakan tentang Allah.


[Hubungan azali dengan Allah seeprti hubungan masa dengan yang fana]

Kami telah terangkan bagaimana kita wajib berkehendak kepada-Nya – dan Dia adalah allah, maha suci Dia! Kami akan perjelaskan lagi. Ketahuilah hubungan azali dengan Allah adalah umpama hubungan amsa dengan kita. Hubungan azali adalah sifat negatif tanpa sumber. Kewujudan bukan daripada hakikat ini. Jadi masa adalah kepunyaan yang harus dengan hubungan yang kewujudannya ilusi, bukan wujud, kerana dalam hal apa sahaja yang kamu boleh bahagikan, kamu boleh tanya “bila” mengenainya. Bila adalah soalan tentang masa, masa mestilah perkara yang ilusi, bukan wujud. Kerana sebab ini, Allah menunjukkan kepada Diri-Nya apabila Dia berfirman,
“dan Allah mengetahui segala perkara” (33:40) “dan kepunyaan Allah segala perintah sebelum dan selepas” (30:4).
Dalam sunnah perkataan penanya disahakan bila dia bertanya, “Di manakah Tuhan kita sebelum Dia ciptakan makhluk-Nya?” Sekiranya masa adalah perkara yang wujud dalamnya, maka Allah yang melampaui pembatasan tidak boleh dipakai kerana prinsip masa mengongkong-Nya. Maka kami perakui bahawa bentuk-bentuk ini tidak ada perkara kewujudan di bawah mereka.


[Masa: mudah difahami dan terbukti]

Kemudian kami katakan manusia mempunyai pendapat yang berbeza tentang ungkapan “masa” dan apa yang difahamkan dengannya dan dibuktikan dengannya. Orang yang bijaksana menggunakannya dalam perkara yang berbeza-beza. Kebanyakan mereka mengatakan ia adalah tempuh ilusi yang disilang oleh pergerakan sfera-sfera. Mutakallimun menggunakannya kepada sesuatu yang lain: perbandingan dalam-masa kepada dalam-masa mengenai sesuatu yang ditanyakan “Bila?” Orang Arab menggunakannya untuk memaksudkan malam dan siang. Ia terkeluar dari tajuk ini. Malam dan siang membahagikan hari. Daripada terbitnya matahari hingga terbenamnya dipanggil “hari siang”, dan daripada terbenamnya hingga terbitnya dipanggil “malam”. Sumber yang dibahagikan ini dipanggil hari. Hari yang diperkatakan ini menyatakan pergerakan yang lebih besar. Ianya hanya dalam kewujudan yang khusus kewujudan Penggerak. ia bukanlah sumber masa. Hasil daripadanya ditujukan kepada masa sebagai perkara ilusi yang tidak ada kenyataan.

Oleh kerana ini sudah dipastikan, yang mudah difahami yang ditentukan ditunjukkan oleh masa yang ada. Dengannya minggu, bulan dan tahun dinyatakan. Mereka dipanggil hari-hari dan ditentukan dengan hari kecil yang biasa yang dibahagikan kepada malam dan siang. “Masa yang ditentukan” adalah apa yang menjadi tambahan kepada hari yang kecil ini yang dengannya semua hari-hari besar ditentukan. Dikatakan,
“pada hari yang ukurannya seribu tahun menurut hitungan kamu,” (32:5)
dan
“pada hari yang ukurannya lima puluh ribu tahun hitungan kamu” (70:4).


[Bagaimana hari dikira pada zaman Dajjal]

Rasulullah s.a.w bersabda,
“Pada hari Dajjal, satu hari seumpama setahun, satu hari umpama satu bulan, dan satu hari umpama satu minggu, dan semua hari-harinya adalah seperti hari kamu.”
Ini mungkin disebabkan oleh ketakutan yang amat sangat. Baginda membuang kesamaran secara zahir pada akhir hadis bila Aisyah berkata, “Bagaimana seseorang lakukan sembahyang pada hari itu?”. Baginda s.a.w menjawab, “Seseorang itu akan tentukan”. Sekiranya bukan kerana perkara itu dalam pergerakan sfera-sfera masih ada apa yang telah ada tanpa diganggu, ianya tidak sah ia ditentukan dengan jam yang melalui bentuknya orang yang berpengetahuan tentang ini bertindak dan melaluinya mereka tahu masa pada hari yang dipenuhi oleh awan bila matahari tidak terbit.

Pada permulaan kemunculan Dajjal, akan ada banyak awan dan ia akan mengikuti yang lain hingga ke tahap kewujudan siang dan malam kelihatan sama kepada pandangan mata. Itu merupakan sat daripada bentuk yang jarang berlaku akan berlaku pada masa hampit kiamat. Awan-awan yang berbondong-bondong itu akan datang di antara kita dengan langit, tetapi pergerakan langit adalah seperti biasa. Jadi pergerakan akan muncul dalam peekrjaan yang sebenar yang akan diketahui oleh mereka yang bertugas dengan ilmu mengenai kemunculan dan lakaran bintang-bintang. Dengannya mereka tentukan malam dan siang dan jam bagi sembahyang tanpa keraguan.

Jika hari itu yang satu tahun seperti satu hari, ianya tidak diwajibkan bagi kita untuk tentukan sembahyang. Kita menantikan tengahhari menurut matahari. Jika ia tidak turun, kita tidak lakukan smebahyang Zuhur. Jika matahari berhenti dan tidak turun selama dua puluh ribu tahun, Allah tidak mewajibkan kita sesuatu yang lain. Bila Pemberi peraturan perintahkan kita beribadat menurut ketentuan, kita tahu bahawa pergerakan sfera-sfera ada dalam kawasan itu dan strukturnya tidak rosak.


[Satu masa (zaman fard) dan satu jauhar]

Kami telah nyatakan apakah masa itu dan apakah maksud hubungan kewujudannya dan hubungan ketentuan. Di sana ada banyak hari-hari, keduadua-nya kecil dan besar. Yang paling kecil di antara mereka ialah satu masa yang berdasarkan kepadanya muncul
“setiap hari Dia di dalam urusan” (55:29).
Satu masa (zaman fard) dipanggil satu hari kerana “hal” yang diperkatakan mengenainya adalah masa yang paling kecil dan paling halus. Tidak ada sempadan bagi hari-hari yang besar yang padanya ia berhenti. Di antara mereka ialah hari pertengahan, yang pertama ialah hari biasa diketahui umum yang dibahagikan kepada jam. Jam dibahagikan kepada minit dan minit dibahagikan kepada saat dan seterusnya sehingga ke infiniti bagi sesetengah manusia. Mereka bahagikan minit kepada saat. Bila keputusan nombor-nombotr memasuki mereka, keputusannya ialah nombor itu dan nombor tidak berakhir maka pembahagian juga tiada kesudahan.

Sebahagian manusia bercakap tentang akhiran dalam yang demikian dan melihatnya dalam hubungan nombor. Merekalah yang menyatakan masa ada sumber kewujudan. Semua yang masuk kepada kewujudan sampai kepada akhirannya tanpa keraguan lagi. Yang berlawanan dengan mereka mengatakan “yang dinomborkan” oleh kerana ia dinomborkan, tidak masuk ke dalam kewujudan maka ia tidak digambarkan sebagai pergi kepada akhiran kerana nombor tidak digambarkan sebagai berakhir. Mereka yang menafikan “zat yang satu (satu jauhar)” membawa ini sebagai hujah. Tubuh dibahagikan terus menerus dalam akal. Ianya hanya perkara yang dipertikaikan oleh mereka yang membuat spekulasi yang kurang dalam pertimbangan yang wajar dan penyelidikan dalam apa yang dibuktikan oleh ungkapan. Ianya berhubung dengan hadis yang sahih bahawa masa (dahr) adalah salah satu nama Allah. Keadaan masa yang mudah difahami sudah diketahui umum dan kami akan nyatakannya, Insya’ allah, dalam buku ini. “Allah katakan yang benar dan memimpin ke jalan yang benar”.

66. Rahsia syariat….
66: RAHSIA SYARIAT DAN NAMA ILAHI

[Mengenai rahsia Syariat, zahir dan batin, dan Nama Ilahi yang membawanya kepada kewujudan]

Yang Memiliki Keagungan menuntut keagungan daripada Yang Memiliki Keagungan.
Lalu Yang Memiliki Keagungan enggan menyaksikan selain keagungan.

Apabila dia menyaksikan kewujudan keperkasaan Allah,
hamba Allah bermain mata.

Dia sejahtera dengan dirinya
bangga, sombong, meninggi diri, bongkak.

Dia beritahunya tentang Syariat yang dipelihara
lalu kuasanya menghinanya sungguh-sungguh.

Hamba menjerit dengan kehilangan dan kehinaan,
“Wahai Engkau yang keagungan-Mu dimuliakan dan ditinggikan!”


[Nama-nama Ilahi adalah bahasa bagi suasana yang sesuai dengan hakikat-hakikat]

Allah berfirman,
“Katakanlah: Sekiranya di bumi ini kedapatan malaikat berjalan dengan aman. Kami tentunya akan utuskan daripada langit kepada mereka malaikat juga yang menjadi Utusan” (17:95)
dan Dia berfirman,
“Kami tidak datangkan hukuman sehinggalah Kami hantarkan Utusan” (17:15).

Ketahuilah bahawa Nama-nama Ilahi mempunyai lidah hal yang sesuai dengan hakikat-hakikat mereka. Penuhilah diri kamu dengan apa yang kamu dengar dan jangan khayalkan yang berbilang-bilang atau perkumpulan yang bebas bertindak sendiri. Dalam tajuk ini banyak daripada hakikat-hakikat yang mampu difikirkan akan disusun menurut hubungan itu, bukan menurut sumber kewujudan. Zat Allah adalah Esa sebagaimana keadaan zat. Daripada pandangan itu kewujudan kita, keperluan dan kemungkinan, kita ketahui bahawa kita mesti ada sesuatu yang harus yang boleh kita pegangi. Dasar yang daripadanya kewujudan kita tuntuti mesti ada beberapa asbab. Nabi memanggil mereka Wahai Nama-nama Yang Paling Indah. Dia memanggil diri-Nya “Berkata-kata” melalui mereka oleh kerana Dia berkata-kata dalam darjat kewujudan bagi Wujud ketuhanan-Nya yang tidak boleh dikongsikan. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Esa. Tiada Tuhan kecuali Dia.


[Pertemuan Nama-nama dalam hadrat Yang Dinamai dan kenyataan keputusan mereka]

Selepas kepastiannya pada permulaan perkara ini dan keutamaan dan penguasaan dalam alam yang mungkin ini, saya katakan bahawa nama-nama dikumpulkan bersama dalam hadrat (kehadiran) yang di Namai. Mereka menyaksikan hakikat-hakikat mereka dan maksudnya dan memintakan kenyataan bagi keputusan mereka agar sumber mereka akan terpisah daripada kesannya. Pencipta adalah Dia Yang Menentukan, Yang Mengetahui, Yang Mentadbir, Yang Membezakan, Yang Membentuk, Yang Memulakan, Yang Mengulangi, Dia yang mengadakan kematian, Yang Mewarisi, Yang Bersyukur. Semua nama-nama Ilahi memandang kepada zat mereka, tetapi tidak melihat apa yang sudah diciptakan, diuruskan, dibezakan atau dibekalkan. Mereka berkata, “Bagaimana ada tindakan kecuali sumber-sumber ini dinyatakan yang dalamnya keputusan kami muncul lalu penguasaan kami menyata?”

Jadi selepas kemunculan sumber bagi alam, Nama-nama Ilahi yang sebahagian daripada hakikat alam tuntutkan mencari perlindungan Nama, al-Bari (Permulaan). Mereka berkata kepada-Nya, “Bolehkah Engkau bawakan kepada kewujudan sumber-sumber ini agar menyata keputusan kami dan penguasaan kami didirikan kerana kehadiran yang kami berada di dalamnya tidak menerima kesan kami?” Al-Bari berkata, “Itu mesti dirujukkan kepada Nama, Yang Berkuasa. Aku di bawah kuasa-Nya”.


[Yang harus dalam suasana mereka yang tidak wujud dan bagaimana sumber mereka muncul]

Asas ini ialah dalam keadaan mereka tidak wujud, ‘yang mungkin’ membuat permohonan kepada Nama-nama Ilahi daripada keadaan kehinaan dan pergantungan. Kata mereka, “Ketidakwujudan membutakan kami daripada pengertian satu sama lain dan kepada mengenali apa yang kami berhutang denganmu. Jika kamu menyatakan sumber kami dan pakaikan kami dengan pakaian wujud, kamu merahmati kami dengannya dan kami akan menanggung kemuliaan dan ketinggian itu kewajipan berhubung dengan kamu. Penguasaan adalah sah bagi kamu dalam kenyataan kami yang sebenarnya. Kini kamu adalah Tuan bagi kami semua melalui kuasa dan keupayaan. Inilah yang kami cari daripada kamu adalah lebih banyak daripadanya dalam hubungannya dengan kami.” Nama-nama menjawab, “Ini, apa ‘yang mungkin’ katakan itu adalah sah.” Mereka bergerak untuk mencari yang demikian.

Kemudian mereka menghadap nama, al-Qadir (Yang Berkuasa). Dia berkata, “Aku di bawah penguasaan Yang Menjadikan. Aku tidak boleh membawa sebarang sumber daripada kamu kepada kewujudan melainkan dengan arahan-Nya. Tidak ada yang mungkin bagi-Ku kecuali perintah daripada Yang Memerintah datang kepadanya daripada Tuhannya. Apabila Dia perintahkannya supaya mengambil bentuk dan berkata, ‘Jadi!’ maka Aku boleh melakukannya dan hubungkannya kepada pembawaannya kepada kewujudan, maka Aku berikannya bentuk dari saat itu. Pergilah kepada nama Yang Menjadikan. Boleh jadi Dia akan berkenan dan jadikan lebih berpengaruh aspek kewujudan di atas aspek tidak wujud. Yang Memerintah, Yang Berkata-kata dan Diri-Ku akan bergabung bersama dan membawa kamu kepada kewujudan.”

Mereka pergi kepada nama, Yang Menjadikan, dan berkata kepada-Nya, “Kami telah bertanyakan nama Yang Berkuasa, untuk membawa sumber kami kepada kewujudan. Dia merujukkan perkara ini kepada kamu. Apakah kata kamu?” Yang Menjadikan berkata, “Yang Berkuasa berkata benar, tetapi aku tidak memiliki berita tentang nama Yang Mengetahui telah putuskan berhubung dengan kamu, samada ilmu-Nya untuk membawa kamu kepada kewujudan sudah mendahului secara khusus ataupun tidak. Aku di bawah penguasaan nama Yang Mengetahui. Pergilah kepada-Nya dan ceritakan hal kamu”.

Mereka kemudian pergi kepada nama, yang Mengetahui, dan menceritakan kepada-Nya apa yang nama, Yang Menjadikan katakan kepada mereka. Yang Mengetahui berkata, “Yang Menjadikan berkata benar. Ilmu-Ku mengenai kamu keluar kepada kewujudan sudahpun mendahului, tetapi adab adalah lebih sesuai. Di sana ada hadrat (kehadiran) yang mengawal kita, dan ia adalah nama Allah. Kita mesti menghadap-Nya, kerana ia adalah kehadiran bagi perkumpulan.”

Semua nama-nama berkumpul dalam kehadiran Allah. Dia berkata, “Apakah keperluan kamu?” Mereka menceritakan kepada-Nya. Dia berkata, ” Aku adalah nama yang mengumpulkan semua hakikat-hakikat kamu. Aku adalah bukti bagi yang dinamakan, dan ianya adalah Zat yang murni yang memiliki sifat kesempurnaan dan ‘tiada-hubungan’ (tanzih). Tunggu sehingga Aku masuk kepada pembuktian-Ku.” Dia pergi kepada pembuktian-Nya dan memberitahu-Nya apakah yang dikatakan oleh ‘yang mungkin’ kepada-Nya dan apa yang nama-nama rundingkan. Dia berkata, “Pergilah dan beritahu setiap Nama itu agar mengikat dirinya kepada apa yang hakikatnya tuntut dalam ‘yang mungkin’ itu. Aku adalah Esa dengan Diri-Ku dalam hubungan Diri-Ku. ‘Yang mungkin’ memerlukan darjat-Ku, dan darjat-Ku memerlukan mereka. Semua Nama-nama Ilahi kepunyaan darjat itu, bukan kepada-Ku, kecuali untuk Yang Esa. Ia adalah Nama khusus bagi-Ku, dan tidak ada yang berkongsikannya dengan-Ku dalam hakikatnya dalam aspek apa sekalipun, samada di kalangan nama-nama, darjat atau ‘yang mungkin’.


[Perseimbangan yang diketahui, had yang ditentukan dan Imam yang dipelihara]

Nama Allah keluar, dan dengan-Nya keluar nama, Yang Berkata-kata, untuk menterjemahkan bagi-Nya kepada ‘yang mungkin’ dan Nama-nama. Dia nyatakan kepada mereka apa Yang Dinamakan nyatakan. Maka Yang Mengetahui, Yang Menjadikan, Yang Berkata-kata dan Yang Berkuasa dihubungkan, dan ‘yang mungkin’ pertama muncul, melalui pilihan Yang Menjadikan dan keputusan Yang Mengetahui.

Apabila sumber dan kesan muncul dalam makhluk, sebahagian mula menekan yang lain dan mengatasi mereka menurut apa yang mereka diasaskan daripada nama-nama dan ini membawa kepada perselisihan dan perbalahan. Mereka berkata, “Kami bimbang susunan kami akan menjadi buruk dan kami akan disatukan dengan yang tidak wujud yang kami berada dalamnya”. ‘Yang mungkin’ mengingatkan Nama-nama tentang apa yang telah diberitahu kepada mereka oleh Nama-nama, Yang Mengetahui dan Yang Mentadbir. Mereka berkata, “Wahai Nama-nama! Jika keputusan kamu di atas perseimbangan yang diketahui, dan had yang ditentukan oleh Penghulu yang kamu rujukkan, kewujudan kami akan dipelihara untuk kami dan kami akan pelihara kesan kamu di atas kami untuk kamu. Itu adalah lebih baik bagi kami dan kamu. Jika tidak, kami akan musnah dan hilang”. Mereka berkata, “Ini adalah pendapat yang berguna dan benar”. Maka mereka lakukan yang demikian. Mereka berkata, “Nama, Yang Mentadbir, adalah yang menentukan hal kamu”. Mereka pergi kepada Yang Mentadbir membawa hal mereka. Dia berkata, “Aku akan lakukannya”.

Dia masuk dan muncul dengan perintah Hakikat kepada Nama, Rab. Dia berkata kepada-Nya, “Lakukan apa yang kemanfaatan perlukan bagi menjadikan sumber kepada yang mungkin ini berkesinambungan”. Dia melantik dua menteri untuk membantu-Nya sebagaimana perintah-Nya. Satu ialah Nama Yang Mentadbir dan satu lagi Nama Yang Membezakan. Allah berfirman,
“Dia mentadbir urusan itu dan membezakan tanda-tanda. Boleh jadi kamu menjadi yakin akan pertemuan dengan Rab kamu” (13:2)
iaitu Imam (Penghulu). Jadi perhatikan betapa bijaknya perkataan Allah bila Dia bawakan ayat menurut suasana yang mewajibkan hal itu didasarkan!


[Polisi (dasar) yang bijak dan peraturan yang lazim]

Nama, Rab, tentukan had bagi mereka dan letakkan peraturan bagi mereka untuk kebaikan kerajaan itu dan sebagai ujian siapakah di antara mereka yang baik amalannya. Allah letakkannya kepada dua lategori. Satu kategori dipanggil polisi yang bijaksana yang Dia letakkan dalam sifat diri-diri mereka yang ternama. Had yang ditentukan dan dan peraturan yang digariskan melalui kuasa yang mereka temui dalam diri mereka dalam setiap bandar, arah dan cuaca, menurut penyusunan tempat itu dan pembawaan mereka perlukan melalui ilmu mereka mengenai apa yang sesuai dengan kebijaksanaan. Mereka panggilnya peraturan (nawamis) yang bermakna “sebab-sebab bagi kebaikan” kerana dalam penggunaan teknikal, Namus adalah yang membawa kebaikan. Pengintai (jasus) adalah yang berurusan dengan kejahatan.


Nawamis adalah peraturan kebijaksanaan yang digubalkan oleh manusia yang bijaksana, datangnya daripada ilham yang dari Allah padahal mereka tidak menyedarinya. Yang demikian adalah bagi kebaikan dunia, peraturannya dan hubungannya dalam tempat-tempat yang Syariat Ilahi tidak sampai, tidak juga ilmu tentang Yang Esa yang menurunkan peraturan ini dan perkara ini membawa hampir dengan Allah, mewarisi syurga atau neraka bukan juga sesuatu daripada asbab Alam Kemudian. Mereka tidak tahu adanya Alam Kemudian dan kebangkitan jasad selepas mati dalam bentuk jasad yang asli dan akan ada makanan, minuman, pakaian, persetubuhan dan keseronokan, dan dalamnya akan ada seksaan dan azab. Kewujudan yang demikian adalah harus, dan ketidak-wujudannya juga harus. Mereka tidak mempunyai bukti yang satu daripada dua itu lebih berat daripada yang satu lagi.
“Mereka melahirkan kependetaan” (57:27).
Oleh sebab itu asas peraturan mereka dan manfaatnya adalah untuk menjadikan faedah terlaksana di sini.

Dalam diri mereka, mereka memiliki ilmu Ilahi: tauhid tentang Allah dan ketinggian serta kemuliaan yang mesti ada dengan-Nya, sifat-sifat tanzih (tiada-hubungan) dan ketidak-wujudan sebarang tara atau persamaan. Orang yang menyaksikan yang demikian dan yang mengetahuinya menceritakannya kepada yang lain. Mereka menggalakkan orang ramai supaya melakukan penyelidikan yang benar dan mengajar mereka bahawa akal, dalam hubungan pemikirannya, ada had yang padanya ia berhenti dan tidak berupaya melepasinya, dan bahawa Allah kurniakan ilham suci kepada hati-hati sebahagian hamba-hamba-Nya yang dengannya Dia ajarkan kepada mereka ilmu yang langsung daripada-Nya agar ia tidak menjadi mustahil bagi mereka. Allah pertaruhkan kepada alam langit perkara-perkara yang dirumuskan melalui adanya kesan mereka pada alam anasir. Dia berfirman,
“Dia bukakan pada setiap langit peraturannya” (41:12).

Mereka mencari hakikat diri mereka melalui apa yang mereka lihat – apabila jasad yang berbentuk ini mati, tidak ada daripada pancaindera yang kurang. Lalu mereka tahu bahawa yang menyaksikan dan yang menggerakkan tubuh fizikal ini adalah unsur lain yang menjadi tambahan kepadanya. Mereka mencari unsur tambahan itu, maka mereka mengenali diri mereka. Kemudian mereka melihat apa yang diketahui sesudah kejahilan. Mereka tahu bahawa sekalipun ianya tubuh yang paling mulia, ianya disertai oleh kemiskinan dan kehilangan. Mereka mencari puncanya dengan penyelidikan, bergerak dari satu benda kepada yang lain. Bila sahaja mereka sampai kepada sesuatu perkara, mereka melihatnya memerlukan sesuatu yang lain sehinggalah pemerhatian membawa mereka kepada sesuatu yang tidak memerlukan apa-apa bukan juga serupa dengan sesuatu yang menyerupai sesuatu dan tidak juga sesuatu menyerupainya. Mereka berhenti padanya dan berkata, “Inilah Yang Pertama”. Ia mestinya Yang Satu dengan zatnya dalam hubungan zatnya, dan kepertamaannya tidak menerima yang kedua, tidak juga keesaan-Nya kerana Dia tidak mempunyai keserupaan dan tidak juga persamaan. Mereka mengesakan-Nya dengan tauhid wujud. Apabila mereka melihat yang demikian, dengan diri mereka, ‘yang mungkin’ tidak memiliki penguasaan dengan zat mereka, mereka tahu bahawa Yang Satu ini memberikan mereka kewujudan. Mereka memerlukan dan bergantung kepada-Nya dan kepada kekuatan-Nya untuk melepaskan daripada mereka semua yang dengannya zat mereka digambarkan. Inilah batas akal (dalam pemikiran).


[Polisi Syariat dan peraturan Ilahi]

Demikianlah kami jelaskan tentang mereka. Apabila seseorang dari kalangan mereka muncul yang mereka anggapkan orang itu tidak mempunyai darjat dalam ilmu untuk mereka percaya, dan mempunyai fikiran yang benar serta perhatian yang wajar, dan kemudian orang itu berkata kepada mereka, “Aku adalah Utusan Aallah kepada kamu,” mereka berkata, “Keadilan lebih sesuai. Lihatlah kepada dasar pengakuan itu. Adakah dia mengaku sesuatu yang mungkin ataupun mustahil?” Mereka berkata, “Sudah teguh pegangan dengan kami bahawa Allah memiliki limpahan suci yang Dia boleh kurniakan kepada sesiapa yang Dia kehendaki sebagaimana Dia limpahkannya kepada roh-roh sfera-sfera dan akal-akal ini. Semuanya berkongsikan kemungkinan. Tidak ada daripada ‘yang mungkin’ itu lebih berhak daripada yang lain dalam apa ‘yang mungkin’. Terpulang kepada kami untuk melihat kepada kebenaran orang yang membuat pengakuan itu atau melihat samada dia berbohong atau tidak. Kami tidak simpulkan salah satu daripada dua pendapat ini tanpa bukti. Ia adalah adab yang buruk dengan ilmu kami”.

Mereka berkata, “Adakah kamu mempunyai bukti tentang kebenaran pengakuan kamu?” Dia membawakan kepada mereka bukti-bukti, dan mereka memerhatikan keterangan dan bukti-buktinya. Mereka memerhatikan untuk mengetahui apakah yang orang ini miliki daripada maklumat-maklumat mengenai hasil pemikiran dan apakah yang dia tidak perakui mengenainya. Mereka mengetahui bahawa sebagaian daripada yang dibukakan dalam setiap langit oleh Yang Esa, yang membukakan pada setiap langit peraturannya, adalah mengenai kedatangan orang ini dan apa yang dia bawakan. Mereka bersegera kepadanya dengan mempercayai dan memperakuinya. Mereka mengetahui bahawa Allah telah memperkenalkannya dengan apa yang Dia telah amanahkan dalam makrifat alam tinggi yang pemikiran mereka tidak sampai. Kemudian Dia berikannya sebahagian daripada makrifat Allah yang mereka tidak miliki.

Mereka melihat bahawa Dia menurunkan ilmu mengenai Allah kepada manusia biasa, pendapat yang lemah, adalah dengan yang demikian sesuai bagi akalnya dalam yang demikian, dan kepada manusia yang berakal cerdas dan pemerhatian yang kuat adalah juga dengan yang demikian sesuai bagi akalnya dalam yang demikian. Mereka tahu bahawa lelaki itu telah menerima wahyu Ilahi yang melampaui tahap akal, dan bahawa Allah telah mengurniakan kepadanya sebahagian ilmu mengenai-Nya dan kekuasaan keatasnya yang Dia tidak berikan kepada mereka. Mereka memperkatakan nikmat-Nya dan kelebihan yang Dia kurniakan kepadanya melebihi mereka. Mereka percaya kepadanya dan perteguhkan dan mengikutinya. Dia adakan bagi mereka amalan yang membawa seseorang hampir dengan Allah dan dia ajarkan mereka apa yang Allah ciptakan dari yang mungkin yang tidak kelihatan bagi mereka, dan apa yang Dia akan bentukkan dalam mereka pada masa akan datang. Dia ceritakan kepada mereka tentang Dihidupkan-semula, Kebangkitan, Dikumpulkan, Syurga dan Neraka.


[Asas pembentukan Syariat yang suci dalam dunia ini]

Kemudian Rasul-rasul diutuskan silih berganti pada masa dan suasana yang berlainan. Setiap mereka memperakui sahabat mereka. Mereka tidak berbeza sama sekali dalam prinsip asas yang atasnya mereka pegang dan yang mereka tunjukkan, sekalipun perutusan berbeza. Undang-undang Tuhan diturunkan dan perutusan juga diturunkan. Perutusan menurut masa dan suasana sebagaimana firman-Nya,
“Kami tentukan peraturan (Syariat) dan amalan bagi setiap orang daripada kamu” (5:48).
Prinsip asas mereka bersamaan tanpa ada percanggahan dalamnya.

Mereka mengadakan perbandingan di antara risalat nabi yang datang daripada Allah dengan apa yang ahli falsafah tetapkan mengenai peraturan kata-kata falsafah yang mereka anggap sebagai hasil proses pemikiran. Mereka ketahui bahawa perkara ini lebih lengkap dan ia daripada Allah tanpa keraguan. Oleh itu mereka menerima apa yang dia ajarkan kepada mereka daripada alam ghaib dan mereka percaya bahawa kepada Utusan-utusan. Tidak ada dari kalangan mereka yang membantah, tetapi sebahagiannya tidak memberikan keyakinan yang penuh kepadanya dan ilmunya dan mereka
“menurut hawa nafsu” (7:178)
dan melantik pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Mereka jahil tentang diri mereka yang sebenar dan nilainya, dan mereka jahil tentang Tuhan mereka.

Akar dan sebab bagi diturunkan Syariat kepada dunia ini ialah untuk menjadikan dunia ini dalam keadaan sejahtera dan perakuan tentang apa yang tidak diketahui daripada Allah yang tidak diterima oleh akal, iaitu apa yang akal tidak miliki sendirinya dalam hubungan pemerhatiannya. Jadi Kitab diturunkan yang mengandungi ilmu ini, dan lidah Nabi dan rasul membacakannya. Dengan demikian orang yang berakal menegtahui bahawa mereka kekurangan dalam perkara penegtahuan mengenai Allah yang Rasul-rasul memilikinya dengan sempurna.


[Manusia berakal yang sebenarnya dan mereka yang memiliki kekhuatiran,
perselisihan dan perkataan-perkataan]

Dengan menggunakan manusia yang berakal, saya tidak maksudkan mutakallimun hari ini menurut kebijaksanaannya. Yang saya maksudkan ialah sesiapa yang mengikuti jalan Rasulullah s.a.w dengan memerhatikan dirinya, membentuk disiplin diri, bermujahadah, berkhalwat dan persediaan untuk kedatangan waridat yang akan datang ke dalam hati mereka apabila sifat mereka menjadi sebahagian daripada alam atas yang dalamnya pembukaan diberikan dalam langit yang tinggi. Mereka ini, iaitu mereka yang berakal, mengadakan celoteh, ucapan dan perbahasan dengan mereka yang menggunakan fikiran dalam perkara yang diperkatakan yang dikeluarkan oleh yang terdahulu. Mereka tidak melihat perkara itu daripada apa yang orang-orang itu perolehi. Begitulah keadaan kita hari ini, mereka tidak ada nilai dengan sebarang manusia berakal. Mereka memperolok-olokkan dan merendahkan hamba-hamba Allah, dan mereka hanya menghormati orang sama taraf dengan mereka. Kecintaan kepada dunia ini menguasai jiwa mereka, begitu juga cita-cita kepada pangkat dan kedudukan. Allah menghinakan mereka sebagaimana mereka menghina ilmu dan Dia merendahkan mereka. Dia jadikan mereka pergi kepada pintu-pintu raja dan gabernor yang jahil. Raja dan gabernor itu menghina mereka.

Perkataan orang-orang seperti itu tidak penting.
“Allah telah metrikan hati mereka” (7:2),
“jadikan mereka pekak dan adakan tutupan atas pandangan mereka” (47:23)
walaupun mereka mengaku merekalah yang terbaik di dalam dunia ini. Ahli feqah dan mufti yang di dalam naungan Allah adalah lebih baik daripada mereka sekalipun mereka kurang ketelitiannya dalam segala aspek. Orang yang mempunyai keyakinan, sekalipun dia mengambilnya melalui tiruan, berada dalam suasana yang lebih baik daripada mereka yang berakal itu dalam apa yang mereka dakwakan. Jauh sekali daripada kedudukan seorang yang berakal dengan keadaan mereka yang demikian!

Kami telah menyaksikan sebahagian daripada mereka yang merupakan orang-orang yang paling mengetahui tentang skop Rasul-rasul dan mengikuti sunnah dengan bersungguh-sungguh, dan sangat memelihara Sunnahnya, ahli makrifat mengenai apa yang perlu mengenai keagungan Yang Haq dalam ketinggian, mengetahui apa yang Allah kurniakan kepada hamba-hamba-Nya di kalangan Nabi-nabi dan pengikut mereka dari kalangan aulia di atas jalan mengenali Allah dari arah limpahan suci yang pilihan yang terkeluar daripada pengajaran yang biasa pada jalan pembelajaran dan mujahadah yang akal tidak mampu mencapainya melalui pemikirannya.

Saya dengar salah seorang daripada orang yang terkenal dari kalangan mereka, yang telah menyaksikan sebahagian daripada apa yang Allah telah bukakan kepada saya mengenai ilmu tentang-Nya tanpa pemikiran dan pembacaan. Ianya daripada khlawat khusus yang saya lakukan dengan Allah ketika saya tidak berada bersama-sama mereka yang mencari. Dia berkata, “Segala puji bagi Allah yang mengizinkan daku berada dalam zaman yang dalamnya daku melihat seseorang yang Allah kurnikan rahmat daripada-Nya dan ilmu daripada hadrat-Nya!” Allah kurniakan rahmat kepada sesiapa yang Dia kehendaki, dan Allah memiliki nikmat yang luas.

“Allah katakan yang benar dan memimpin kepada jalan yang benar”.